Akhirnya Mimpi Kugapai


Kejadian ini terjadi beberapa bulan lalu, ketika saya mudik ke kampung halaman saya. Waktu itu saya tengah menikmati senja bersama adik sepupu saya di pantai dekat rumah saya. Tak lupa juga saya mengambil beberapa gambar disana.Tiba-tiba ada seseorang memanggil saya dari kejauhan. Sekejap saya langsung menoleh ke arah suara.Seseorang berlari menghampiri ke arah tempat saya berdiri. Sepintas dari wajahnya, saya mengetahui kalau dia adalah kawan masa kecil saya di kampung, panggil saja namanya mariyana.

‘Hai friend bagaimana kabarmu?’ sapanya dengan ramah

‘Hei kamu’ ucapku seraya mengeluarkan tanganku dari saku jaket untuk berjabat hangat dengan dia.

“lama tidak berjumpa kawan. Saya baik baik saja”kataku

“wew, baru pindah ke singkawang. Sudah dapat amoy belum?.” aq tertawa simpul mendengar pertanyaanya.

“kok kamu tahu saya bekerja di kalimantan?” “ibumumu banyak cerita kepadaku. ibumu tidak pernah menyangka kalau kamu harus berkerja di kalimantan”

‘Oooo…

…………………………..

Ceritapun terus mengalir dari bibir kami. kami bercerita tentang apa saja yang telah kami lewati di tahun tahun sebelumnya.sesekali kami tertawa lepas mengingat kelucuan kami di masa lalu. Sementara itu, di kejauhan Matahari membenamkan tubuhnya di permukaan pantai. ombak terus berkejar-kejaran mencipta buih. Menyanyikan sebuah simponi indah di Langit sore.

Kuajak dia menikmati secangkir teh di kedai yang tak jauh dari tempat kami. Saya berkawan baik dengan kawan saya ini ketika saya masih SD. Sebenarnya Sudah tujuh tahun kami tidak pernah berjumpa dan menjalin komunikasi, terutama ketika saya pindah sekolah ke kota waktu SMA. Dulu di kampung saya, mayoritas banyak anak laki-laki daripada perempuannya. Jumlah anak perempuannya masih bisa dihitung dengan jari tangan. Mau tidak mau kawan saya yang wanita ini ikut bergaul dan bermain bersama anak laki-laki. Kawan saya ini cukup mahir bermain permainan pria sebut saja layang- layang, panjat pohon, kelereng, kaleles, sepak bola, kejar-kejaran, naik sampan, bahkan berkelahi. Pokoknya tomboy abis. Dia juga bisa berlari cepat layak umumnya pria. Hal ini yang membuat dia selalu jadi juara lomba lari di kota saya dari tingkat SD sampai SMA. Dia menguasai semua jenis lomba lari mulai dari jarak 100 meter sampai maraton. Dia memang memiliki bakat dalam olahraga, tapi dari sisi akademis, tidak terlalu mengecewakan dan tidak bodoh amat. Begitu yang saya tahu dari kawannya. Dia pun juga tidak pernah ketinggalan kelas.

Ada momen yang masih membekas dalam hati saya sampai sekarang. Pernah Suatu hari saya dan kawan kawan beristirahat duduk di atas pohon mangga di dekat pantai sembari memandang langit sore yang cerah. Waktu itu kami baru saja selesai bermain petak umpet. Lazimnya anak kecil, kami membicarakan film film dan pemainnya yang kami tonton di televisi. Film Power Rangers menjadi topik pembicaraan kala itu. Lalu tiba-tiba diantara kami mengalihkan pembicaraan tentang cita-cita kami andai dewasa nanti. Saya masih ingat, waktu itu saya menjawab ingin menjadi dokter. Maklumlah waktu itu, ibu saya seorang bidan dan satu satunya di kampung saya. Tenaga medis begitu sedikit sekali. Ini juga yang membuat saya migrasi dari tanah jawa, berpisah dengan kakek-nenek karena ibu mendapat tugas pengangkatan PNS sebagai bidan di kalianget, sebuah desa kecil di Madura yang kelak menjadi kampung di mana masa kecil saya dihabiskan. Cita-cita kawan kawan saya bervariasi mulai dari menjadi superman, robin hood, pilot, tentara dan lain lain. Yang Unik cita-cita kawan saya yang wanita ini (mariyana). Dia ingin menjadi seperti pak Saleh , tetangga dekat rumah yang berprofesi sebagai guru olahraga di Sebuah Sekolah Dasar di kampung kami. Anak-anak langsung tertawa begitu mendengarnya. Maklumlah perempuan kok menjadi guru olahraga bukannya perawat, bidan ataupun guru dan di kampung kami saat itu memang tidak ada guru olahraga wanita. Sebagian besar penduduk di kampung kami bermata pencaharian sebagai nelayan. Tanah kampung kami tidak cocok menjadi lahan bercocok tanam karena tanahnya yang tandus dan dekat pantai, paling paling cuma bisa ditanami tembakau atau jagung. Saya sendiri berasal dari orang tua kalangan terdidik dan ini yang membuat saya mengerti tentang pentingnya pendidikan. Ibu saya seorang bidan dan Papa saya pegawai di sebuah balai pertanian.

Kebanyakan dari kawan kawan saya di kampung hanya sanggup menyelesaikan studinya hingga jenjang SMP atau paling tinggi SMA. setelah lulus, ikut orang tuanya berkerja menjadi penangkap ikan di laut, atau buruh pengasinan ikan ataupun kuli bangunan di kota. begitulah potret kemiskinan di kampung kami. Sekolah tinggi hanya bisa menjadi impian utopia bagi anak anak di kampung. Saya sendiri hanya bisa nelangsa melihat kawan saya putus sekolah. Tidak bisa berbuat banyak. kadang keadaan begitu menyakitkan bagi mereka yang tidak pernah mereguk manisnya kehidupan. ortu saya selalu bilang “kamu harus bersyukur lahir dari keluarga ini dan kamu jangan menyiakan kesempatan yang ada,kamu saya sekolahkan tinggi tinggi untuk masa depan dan kebaikan kamu”.kata kata ibu saya ini masih terus terngiang di telinga hingga saya dewasa.

Pada Suatu Malam hari ibu mariyana datang ke rumah karena sakit. Waktu itu ibu saya masih membuka praktek untuk pasien. Sambil disuntik, ibu mariyana bercerita ke ibu saya kalau anaknya tidak mau makan karena permintaannya melanjutkan sekolah SMA tidak dikabulkan. Ibu saya waktu itu hanya bisa memberi saran agar sekolahnya tetap dilanjutkan dam orang tua harus bisa mencari biaya buat tambahan buat anaknya bersekolah. Sesekali juga ibu saya mengkritik ibu mariyana agar ikut KB, Maklumlah anaknya sudah enam.

Ibu saya memandang bahwa gairah kawan saya ini untuk mengenyam bangku sekolah belumlah padam. Berbeda dengan kawan saya yang lain yang hanya bisa pesimis untuk bersekolah tinggi begitu melihat orang tuanya miskin. Ibu saya sering juga mengatakan bahwa paradigma ini yang membuat orang orang di kampung kami kehilangan motivasi. Setelah mendapat saran dari ibu saya, akhirnya bapak-ibu mariyana memberi izin kepada anaknya.

Keesokan harinya, Saya masih ingat waktu itu Mariyana membuatkan nasi jagung dan sayur daun maronggi, makanan favorit keluarga saya sebagai tanda terima kasih. Sejak saat itu dia bersekolah di SMA negeri di desa kami, sedangkan saya bersekolah di kota karena NEM saya lolos dari daftar pagu yang ada. Sejak itu kami tidak pernah tahu kabar yang terjadi diantara kami. kabar terkahir yang kudengar, dia menjuarai POPDA di kota kami dan masuk seleksi PON.

tujuh tahun berlalu…kini dia menjadi PNS dan mengabdi di Sebuah SMP di kampung kami. Yeah. menjadi Guru Olahraga, Impian Masa kecilnya. Yang bikin saya heran ternyata dia menyandang sarjana keolahragaan. bagaimana mungkin dari Keluarga Pas-pasan, untuk makan saja sudah susah,tapi ia masih bisa kuliah.

“Itulah Rahasia Allah. Allah Selalu memberi kemudahan jalan bagi setiap hamba-hambanya yang ingin mengejar ilmu. Setiap kesulitan pasti selalu ada kesempatan kalau kamu menyadarinya.” Aku tertohok mendengar jawabannya. Ada Rasa haru menyelinap dalam tubuh saya. “Uang yang saya dapatkan dari lomba atletik, saya simpan di tabungan termasuk bonus lain dari guru dan bapak bupati. memang tidak seberapa. setidaknya saya bisa membayar uang kuliah pada semester awal. Untuk menjamin hidup saya selama ngekos, saya mencoba bekerja sambilan menjadi penjaga toko di dekat kampus. Saya juga mencari tambahan dengan mencuci dan menyertrika baju baju kawan saya. Berat memang pada awalnya, Tapi saya percaya Tuhan akan menggantikannya yang lebih. Di saat saya sedang terjepit dengan kondisi keuangan, Saya selalu mendapat Ilham. this like message from universe”

Sambil menahan air matanya, Ia kemudian melanjutkan “Saya juga jarang pulang kampung. Jarak yang jauh dengan kampungku dan mahalnya akomodasi jadi pertimbangan saya. kamu pasti bisa menebak dimana saya merenda hari hari ketika musim lebaran tiba. Dan kemudian tahun tahun terus berlalu, saya berhasil menyelesaikan kuliah dengan tepat waktu hingga akhir tiba saatnya saya diwisuda. Saya memboyong orang tua dan adik adik saya dari kampung dengan sisa tabungan saya. Ada kebahagiaan bercampur aduk di hati saya, ketika orang tua saya menyaksikan saya diwisuda. Ini seperti tidak mungkin.” “Saya hanya bisa terharu melihat perjuangan kamu” Kata saya ketika ia menyelesaikan cerita tentang sekelumit perjalanan hidupnya.

“Tetap semangat” kata saya lagi sambil tersenyum.

“Saya berterimakasih banyak kepada orang tua kamu terutama ibu kamu. Kalau tidak,mungkin saya sudah menjadi buruh pembawa pasir laut seperti orang tua saya. Kemiskinan bukanlah penghalang dan saya telah membuktikan itu”. Well, sekarang dia menjadi inspirasi bagi masyarakat kampung kami,murid murid di sekolahnya dan juga keluarganya terutama adik-adiknya. Kini ia tengah menikmati metamorfosa hidupnya. Rumahnya yang dulu berdindingkan dengan kayu sudah berganti dengan tembok.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Akhirnya Mimpi Kugapai

  1. pangeran berkata:

    nice posting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s