Museum Bank Indonesia : Not Just another Museum


Ini enaknya jadi mahasiswa, selalu mempunyai waktu libur selain hari minggu yaitu hari sabtu. Seperti biasa, sesuai dengan hobi saya yang menyukai dunia keluyuran, pada hari sabtu kemarin saya berkesempatan menjelajahi Keeksotisan Kota Tua Batavia. Sebenarnya sabtu kemarin saya sedang menganggur di kosan. Karena kaki saya gatel gak bisa diajak kompromi terpaksalah saya menuruti ego, bahwa tiada hari libur tanpa jalan-jalan.

Saya biasanya sedikit males kalau harus ber-solo turis sebab mau foto sendirian mesti pake self timer. Lama-lama saya bisa masuk Rumah Sakit Jiwa. So, terpaksalah dengan sedikit rayuan bin ancaman, saya berhasil mengajak teman saya, Tosa, untuk ikut bernapak tilas ke kota tua. Berawal dari browsing sono sini, baca blog sono sini, ngaskus sono sini, ngopi sono sini, baca buku sono sini sebelumnya, akhirnya saya mendapat spot spot menarik di kota tua yang bakal saya sambangi.

buku wisata kota tua (a must read book)

Sebagai penganut paham low cost travelling, tentu saja menghemat ongkos dan menghemat waktu perjalanan adalah mutlak bagi saya. Yang terpenting esensi mendapat kepuasan jalan jalan yang maksimal merupakan sesuatu hal yang saya utamakan. Belum lagi sabtu ini si Tosa, sahabat saya yang kebetulan hari itu sedang naas alias bokek, terpaksalah saya meminjamnya fulus dengan jaminan wesel tagih no interest, beuh.

Dari kosan saya berangkat naik angkot D09 menuju simpang empat bintaro. Kemudian dilanjutkan jalan kaki sekitar lima menit menuju arah stasiun Pondok Ranji. Dari stasiun ini, saya naik KRL ekonomi AC Ciujung pukul 09.18 WIB menuju stasiun Tanah Abang. Disini saya merogoh kocek sebesar 4500 rupiah, beuh. Kebiasaan menggunakan kereta api ini sudah menjadi langganan atau semacam fardhu ain kalau hendak berpergian ke Jakarta Pusat ataupun Jakarta Utara. Saya selalu mencatat dan menyimpan baik baik semua brosur jadwal kereta api. Semua berawal  dari pengalaman saya yang tidak menyenangkan dengan makhluk bernama angkot, bis PPD atau kopaja, metromini dan semacamnya. Belum lagi kebiasaan supir yang ugal-ugalan (belom lagi kalau supirnya abis selesai teler) dan suka ngetem yang tidak mengenal ampun banget, beuh. So, pilihan berangkat dengan kereta api ekonomi ber-AC, I think it would be better. Saya tidak perlu merasa berkeringat, tidak perlu takut macet di jalanan, tidak perlu menunggu lama di setiap stasiun (paling lama cuma semenit) benar benar menambah kualiatas kepuasan saya. Perjalanan ini hanya menempuh waktu sekitar 15-20 menit ke tanah abang. Dari tanah abang saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Tua dengan angkot 08. Perjalanan dengan angkot ini hanya menempuh waktu sekitar 20 menit dengan tarif 5000 rupiah, beuh.

Tempat pertama yang saya Jelajahi adalah Museum Bank Indonesia. Memasuki Pelataran Museum, kita telah disuguhi dengan bangunan bergaya klasik eropa, Perpaduan gaya Victorian dan Renainsance. Mulanya Gedung Kantor Pusat Bank Indonesia ini adalah bekas bangunan rumah sakit dan De Javasche Bank yang didirikan pada tahun 1828. Dalam perjalanannya, bangunan ini mengalami berbagai renovasi hingga akhirnya diambil alih menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953. Memasuki Pintu Masuk Museum Bank Indonesia, Wow..wow..wow, saya serasa memasuki istana Buckingham. Saya sangat takjub dengan Kaca Patri yang menghiasi dinding bangunan serta Keindahan arsitektur di dalamnya yang tidak bisa saya lukiskan kekaguman saya. Desain interiornya benar-benar memikat. Museum ini memiliki fasilitas AC (baca: air conditioner), sehingga saya tidak perlu khawatir berkeringat di dalam museum ini. Saya jadi membayangkan sendiri seandainya ruangan ini disulap menjadi TPT, WP pasti betah berleha-leha menunggu antrian kalo pas tanggal 20. Di Museum Bank Indonesia, Pengunjung tidak ditarik karcis sepeser pun alias GRATIS. Sebelum kita memasuki lebih dalam ruangan ini, kita akan diberikan selembar kertas berisi pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda oleh receptionist. Setiap Pengunjung wajib mengisi jawabannya dan memberikan hasilnya untuk dinilai sebelum keluar dari museum. Untuk mengisi jawabannya, kita harus membaca berbagai diorama atau panel informasi yang berada di dalam museum ini. Panel ini tersedia dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Menarik khan. Jadi disini  kita berwisata sambil belajar sejarah.

mandi koin

   

—Tv Touchscreen———-Kapal Dagang————-Rempah Rempah—-

Museum Bank Indonesia berbeda dengan museum yang sudah sering saya temui. Kesan kuno tidak akan anda temui disini. Konsep Museum ini menggunakan media peraga multimedia sehingga terkesan atraktif. Nuansa Hi-Tech begitu mendominasi di setiap sudut ruangan. Setelah melewati pintu receptionist kita akan dikenalkan tentang informasi sejarah BI serta bentuk organisasinya dengan menggunakan monitor touchscreen yang dapat dioperasikan sendiri. Setelah itu, kita akan memasuki ruangan Pemandian Uang yang begitu gelap. hm kamu pasti bingung khan membayangkan seperti apa bentuk ruangan ini. Justru di tempat inilah sensasi petualangan mulai terasa. Disini kita akan menangkap koin koin yang berterbangan di layar. Begitu kita menggenggam koin koin ini, akan bermunculan bermacam informasi tentang uang di layar. Mainan dengan menggunakan proyektor istimewa ini merupakan salah satu area paling meriah dan seru. Kita serasa berada di dalam dunia khayalan dengan hujan penuh koin koin. Ruangan ini sebenarnya “No Camera” . Jadi semua pengunjung sudah dilarang mengambil gambar disini. Dasar badung, ternyata banyak pengunjung yang tidak mematuhi rules-rules ini, termasuk saya ;-p . Saya tidak tahu apa kamera saya kurang canggih, ternyata susah ngambil gambar disini, beuh.

Penampakan pertama layar koin jadi putih. Kemudian saya coba matikan lampu flash, hasil yang ketangkep kamera malah burem. kaburrrr. Jadi ngiri lihat pengunjung yang pake DLSR, gambarnya malah nangkep T.T

 

Setelah cukup bersenang senang di ruangan pemandian uang, kemudian saya berlanjut ke tempat bioskop mini. Ruangan ini mungkin cukup menampung sekitar 50 orang. Disini nantinya akan disuguhi film tentang sejarah BI dan perkembangan moneter dari tahun ke tahun dengan durasi sekitar 30 menit. Sayangnya, ketika saya memasuki ruangan bioskop ini, tidak ada penonton sama sekali, Sehingga filmnya tidak diputar. Setelah bioskop mini, saya kemudian memasuki lorong lorong dimana di dindingnya terdapat peta perdagangan kuno di masa lampau. Di situ juga akan dikenalkan dengan repliKa perahu dagang serta bermacam komoditas rempah rempah seperti lada hitam,lada putih, pala dan lain lain. Selain itu disini juga terdapat pigura pigura tentang tokoh tokoh terkenal di zaman perdagangan dahulu seperti alfonso albuqurque, Marcopolo, Laksamana Cheng Ho dan lain sebagainya. Lagu lagu nasional dari speaker mengalun membahana di ruangan ini, Seolah mencoba membangkitkan rasa tanah air setiap pengunjung. Televisi televisi dalam bentuk LCD berbaris rapi di dinding dengan menampilkan berbagai display secara otomatis.

   

Lorong lorong ini kemudian terus berlanjut dengan bermacam panel informasi di setiap dindingnya. Panel ini kalau tidak salah dibagi dalam empat periode sesuai dengan kronologis kehidupan ekonomi politik di masa lalu. Periode sebelum zaman kemerdekaan seperti di masa hindia belanda, masa pendudukan jepang hingga setelah di era kemerdekan seperti di masa RIS sampai masa krisis moneter. Melalui panel informasi ini kita akan membaca sejarah terbentuknya Bank Indonesia pertama kali, Mempelajari Struktur Kelembagaan Bank Indonesia, juga memahami fungsi serta peran Bank Indonesia.

            

                             metamorfosa logo BI

Tidak hanya tentang informasi mengenai BI, panel ini juga berisi informasi tentang masa masa krusial di zaman presiden Sukarno. Pengambilan Kebijakan moneter seperti menaikkan nilai mata uang atau devaluasi misalnya uang Rp 1000 dipotong 90% nilainya sehingga kursnya berubah terhadap dolar. Disini kita juga akan mengenal mengapa di zaman nenek kita dahulu, uang kertas digunting menjadi dua meski dengan potongan tersebut masih sah sebagai alat pembayaran. Saya merasa beruntung tidak hidup di masa Sukarno, karena di zaman tersebut inflasi begitu tinggi. Nilai mata uang berubah ubah bak jamur di musim hujan. Mungkin kalau saya menjadi sebagai pedagang di zaman itu, pasti akan bingung, karena begitu seringnya kebijakan pemotongan nilai mata uang.

Ketika memasuki lorong zaman krisis moneter, saya menjumpai banyak pesawat telepon tersusun berderet deret rapi. Ternyata di masa krismon, Kantor BI sering mendapat telepon bertubi tubi dari rakyat yang panik menanyakan apakah banknya termasuk bank yang ditutup. Di dalam lorong ini juga saya menyaksikan televisi televisi LCD berukuran raksasa yang menampilkan secara audiovisual kejadian di masa krismon, seperti pergolakan antara tentara dan rakyat maupun pergerakan revolusi oleh mahasiswa di masa itu. Suasananya mirip home teather.

Ruang Pamer Batangan Emas dan Numismatika

Banyak ruang pamer yang menjadi tempat favorit pengunjung. Salah satunya ketika memasuki ruang pamer emas batangan. Disini kita akan melihat tumpukan batangan emas yang dilindungi dengan kaca transparan. Tampak begitu berkilau dan mengundang mata setiap pengunjung. Batangan emas ini memiliki kadar emas 99,99% dengan ketebalan 4 cm dan berat sekitar 13,5 kg.Wow. saya sendiri sempat mencoba memegang benda tersebut. terasa begitu berat di tangan saya.

Tidak jauh dari ruang pamer ini, terdapat ruang numismatika. Ruangan ini mewajibkan setiap pengunjung mematikan lampu flash kamera. Disini, saya menyaksikan bentuk bentuk uang yang beredar mulai dari zaman kerajaan sampai zaman kolonial belanda, spanyol, portugis maupun jepang. Yen, Gulden, Peso sampai  mata uang rupiah satu sen, satu rupiah hingga seratus ribu rupiah.

Koin Logam Kerajaan Sumenep

Uang Token

Saya baru menyadari kalau di zaman Soekarno masih mengenal mata uang rupiah berdasarkan konsep kedaerahan. Ada uang rupiah Irian Barat, Uang Rupiah Kepulauan Riau dan Uang Rupiah Lampung. Jadi di masa tersebut, mata uang rupiah belum seragam. Selain itu, di ruangan ini terdapat koleksi mata uang dari berbagai Negara eropa, asia, afrika maupun amerika yang ditata rapi dalam sebuah lemari kaca yang bisa digeser. Tidak kalah menarik, koleksi mata uang kerajaan kerajaan di nusantara pun tersimpan baik di museum ini. Ternyata dahulu kala, Kerajaan Sumenep punya mata uang sendiri lho. So, that means  masyarakat sumenep telah memiliki peradaban yang maju di zaman dahulu, right? telah membuka hubungan dagang dengan dunia luar dan menerapkan sistem perekonomian terbuka. Saya sendiri jadi bangga sebagai putra kelahiran sumenep.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Museum Bank Indonesia : Not Just another Museum

    • ardy brownies berkata:

      terima kasih Arez… btw the main blog kamu yang mana?? karena saya lihat kamu punya banyak blog.

  1. hdy berkata:

    Mulai intens menulis ya. Keep writing. Smoga sukses.

  2. oomgoen berkata:

    artikel yg bagus …
    salam kenal, sy lagi belajar ngeblog nih
    http://oomgoen.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s