First Time I Love Badminton


Dulu ketika Indonesia berhasil mengawinkan Piala Thomas dan Uber pada tahun 1994, sejak saat itu demam bulutangkis melanda keluarga kami. Fenomena ini dimulai ketika Mia Audina berhasil memenangkan pertandingan penentuan Uber saat kedudukan imbang 2-2 melawan china. Mia Audina yang saat itu masih berumur 14 tahun menjadi  Hero of the Match. Kami biasanya menyebut Mia sebagai bocah ajaib. Usianya yang masih bau kencur mampu mengalahkan  Wang Chen yang umurnya masih di atas Mia. Rata-rata pemain bulutangkis biasanya memiliki masa keemasannya di atas umur 20 tahun tetapi Mia di usia yang belia telah mengukir sejarah. Pada tahun 1995 dia berhasil menjuarai piala dunia bulutangkis (badminton World Cup). Di era tahun 90-an, Sosok Mia Audina masih berada dibawah bayang bayang Susi Susanti, Sang Mantan Ratu Bulutangkis. Tetapi Mia tetaplah Mia. Mia Audina bagi saya adalah pemain berbakat yang menginspirasi saya pertama kali untuk bermain bulutangkis. Kualitasnya tidak diragukan lagi. Permainan bola bolanya benar benar tak terduga dan tidak mampu dibaca lawan. Memiliki cita rasa seni sendiri. Kalau Susi Susanti terkenal dengan Ratu Lob, maka Mia bagi saya adalah Ratu “the crazy shot”. Belum lagi kepiawaiannya melakukan pukulan overhead, bikin benar benar gak nahan. Bola bola yang seharusnya diambil dengan pukulan backhand, tapi Mia justru berakrobatik meliukkan punggungnya dalam mengambil bola. So, jangan salah kalau permainan saya juga mengadopsi gaya pukulan overhead ala Mia Audina. Saya masih ingat waktu itu, setelah pergelaran piala Thomas uber, ayah saya membelikan dua raket untuk mas saya dan saya sendiri. Pas main pertama kali bulutangkis di lapangan sepakbola dekat rumah, saya sering sulit mengambil bola shuttlecock. Hopeless. Bolanya sering luput mengenai raket. Saya sering dimarahi mas saya karena tidak cepat bisa bermain dan beradaptasi dengan permainan bulutangkis. Sejak saat itu saya males bermain bulutangkis lagi. Ternyata benar benar susah main bulutangkis.

Pada tahun 1996, 14 tahun yang lalu, saya yang masih umur delapan tahun sempat menyaksikan  stasiun TVRI pertandingan final Olimpiade Bulutangkis antara Mia Audina versus Bang Soo Hyun dari Korea Selatan. Sebenarnya keluarga kami sangat terpaksa menyaksikan channel TVRI karena cuma stasiun televisi ini yang bisa ditangkap oleh antena saya. Hal ini bisa dimaklumi karena kami tinggal di pelosok di Pulau Madura. Apalagi di jaman itu, SCTV, Indosiar, RCTI adalah hal yang langka di daerah kami. Padahal sudah tiga tiang ditancapkan sehingga antenna kelihatan tampak tinggi, tetap saja tidak menerima sinyal stasiun televisi swasta. Kalaupun menangkap sinyal, itu tidak akan bertahan lama karena gambar televisi akan menjadi kabur berbintik-bintik, beuh. Kembali ke pertandingan Olimpiade Mia Audina tadi, saya benar benar takjub. Gaya permainannya sangat sabar dan mentalnya telah terasah dengan matang. Meski harus kalah 3 set dan mendapat medali perak, saya tetap salut dan bangga. Sejak saat itu saya mencoba kembali menekuni dunia bulutangkis yang awalnya saya sempat tinggalkan. Cita-cita saya tercipta dalam satu malam pasca menonton penganugerahan medali olimpiade yaitu menjadi atlet bulutangkis. Yeah, sebuah cita-cita yang tidak pernah kesampaian. Meski begitu saya tetap mencintai dunia bulutangkis dan tidak pernah melewati perkembangan  bulutangkis dunia. Saya juga masih menyaksikan turnamen yang disiarkan oleh stasiun televisi mulai dari Uber Cup, Thomas Cup, Piala Sudirman, All England dan Turnamen Super Series lainnya. Saat ini di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, saya masih rutin bermain bulutangkis setiap hari sabtu. Dulu ketika masih SD, mas saya sering menjadi sparring partner. Saya biasanya main di Jalan Raya di depan rumah. Well, Jangan bedakan antara Jalan Raya di kampong dengan Jalan Raya di kota. Arus lalu lintasnya biasanya sepi dan tidak banyak orang berlalu-lalang. Saya akan berhenti sejenak bermain kalau ada kendaraan lewat, lalu bermain lagi setelah kendaraan tersebut telah melintasi jalan di tempat kami bermain. Kalau boleh dibilang, saya dengan mas saya adalah generasi pertama yang mempopulerkan bulutangkis di kampong kami. Gara-gara kami, teman teman saya di kampong ikut-ikutan beli raket.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s