Pisang Goreng


Pisang Goreng merupakan makanan favorit saya. Dulu ketika saya masih kecil, ayah saya sering membuat Pisang Goreng bila ada uang lebih. Bagi saya membuat Pisang Goreng lebih simple daripada bakwan sayur. Membuat bakwan mesti potong wortel menjadi kepingan kecil kecil, mengiris daun bawang dan lain lain. Membuat Pisang Goreng cukup mengupas kulitnya lalu direndamkan ke dalam tepung yang telah dicampur sedikit air dan gula kemudian digoreng di atas wajan. Biasanya ayah saya membuat pisang goreng dengan dipotong kecil-kecil dahulu pisangnya sebelum digoreng. Kemudian digoreng sedikit gosong. Saya biasanya mengatakan ini dengan sebutan pisang goreng jumput-jumput.  Ketika saya hijrah bekerja di Kalimantan, kebiasaan memakan pisang goreng belumlah luntur. Kalau ada teman teman yang ingin membeli gorengan, saya selalu titip pisang goreng. Teman-teman saya juga heran, saya selalu pesan pisang goreng mulu setiap kali titip gorengan. Tidak pernah memilih bakwan,risoles ataupun singkong goreng. Prinsip saya, sekali saya suka, saya akan mencintai selamanya hehehe. Dulu kalau pulang kerja atau pulang habis kerja lembur, sebelum pulang ke kosan, saya sempetin beli pisang goreng. Di singkawang, tempat saya bekerja, pisang gorengnya berbeda yang saya sering lihat di jawa. Lebih renyah dan pisangnya dibelah dua terus dimampatkan untuk dibentuk pisang model kipas sebelum digoreng. Pisang singkawang ini  membuat saya selalu ketagihan. Bos saya yang asli batak ternyata juga suka pisang singkawang. Kalau hendak pulang kampung ke bekasi, terkadang bos saya beli pisang goreng singkawang sebagai oleh-oleh. Konon kata temanku yang asli singkawang, pisang goreng singkawang ini sampai dibawa ke Taiwan. Biasanya pisang ini dibawa dalam bentuk setengah matang. Adapun tempat favorit beli pisang goreng selama di singkawang yaitu di Jalan Yohana Godang dekat Kantor Bank BCA. Satu pisang harganya seribu rupiah. Mahal sih, tapi sebanding dengan kualitas rasanya. Legit dan renyah di mulut. Ada juga di daerah sekitar Jalan alianyang, harganya cuma lima ratus rupiah. Biasanya kalau lagi bokek, saya selalu beli pisang di sekitar Jalan Alianyang. Harga Pisang ini lebih murah dibandingkan dengan Pisang Kipas yang saya beli di Balikpapan pas jaman kuliah dulu. Satu pisang kipas balikpapan harganya Rp 3000-4000. Gigit jari deh. Selama di perantauan, kalau saya kangen pisang goreng ayah, saya biasanya minta tolong Bang Yadi ataupun mbak Rina yang asli singkawang-kebetulan kami bertetanggaan dan telah saya anggap saudara sendiri-minta dibuatin pisang goreng terutama pas bulan ramadhan.

Frankly, Saya mempunyai sedikit problem dengan badan saya. Saya termasuk orang yang susah menaikkan berat badan. Padahal saudara saya lainnya rata-rata pada gemuk semua. Saya saja sudah rutin makan tiga kali sehari, tetap saja tidak gendut alias nihil. Alhamdulillah kalau sekarang, ukuran berat badan saya sudah ideal. Itupun berkat pisang. Lho kok bisa?? Well, seperti yang saya ceritakan di atas, saya selalu beli pisang goreng sehabis pulang kantor. Saya biasanya membeli sebanyak empat pisang dan dimakan selesai abis makan malam. Ketika berat badan saya masih 54 Kg, dalam tiga bulan berat badan saya naik menjadi 65 kg berkat makan pisang. Itupun saya beli pisangnya tidak setiap hari. Seminggu tiga kali saya rasa sudah cukup.

Saat ini saya sedang menempuh tugas belajar di Jakarta. Kalau musim ujian di kampus, Pisang goreng selalu menjadi teman baik untuk belajar. Rasanya otak seperti mendapat energi sehingga saya mampu belajar lebih baik. Ketika menempuh tugas belajar, berat badan saya melorot jadi 60 kg dari 65 kg. Ibu saya bilang agak kurusan ketika saya pulang kampung kemarin abis UTS. Mungkin ini efek karena saya kembali menjadi mahasiswa. Menjadi mahasiswa, tentunya kita sering dihadapkan dengan aktivitas berpikir. Mulai dari membuat pe-er dari dosen, membuat paper ataupun belajar menghadapi kuis atau ujian. Untuk menstabilkan kembali berat badan, terpaksa saya harus makan pisang goreng lagi. Untung di dekat kosan ada orang yang jualan gorengan, salah satunya pisang. Hasilnya sekarang pas mudik pulang kampung selesai UAS, ibu dan saudara saya bilang kalau saya gemuk lagi. Setelah diukur dengan timbangan berat badan di rumah, berat badan saya kembali menjadi 65 Kg. Mungkin pisang bisa menjadi salah satu alternatif bagi kamu kamu yang punya masalah dengan berat badan. Ketika saya menyaksikan pertandingan Tenis Lapangan, tak jarang para pemain tenis makan pisang ketika jeda istirahat seperti Maria Sharapova, Justine Henin dan Rafael Nadal. Saya berpikir mungkin pisang adalah sumber energi untuk memunculkan kembali semangat baru.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story. Tandai permalink.

5 Balasan ke Pisang Goreng

  1. ruangkelas berkata:

    ane juga suka pisang gorerng gan…wkwkwkwk..nice blog gan thanx
    tukeran link yuk gan…..

    Photoshop n skripsi gratis di…
    http://www.ruangkelas.wordpress.com

  2. Ping balik: Warisan Genetika Pisang Goreng | Beta Cinta Indonesia

  3. Wah, menarik mas. Saya juga seneng pisang goreng tapi nggak suka pisang goreng yang keras. Saya lebih seneng pisang goreng yang empuk, yang pisangnya sudah matang sejak sebelum dijadikan pisang goreng😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s