Warisan Genetika Pisang Goreng


Sebagaimana dalam artikel sebelumnya di blog ini tentang Pisang Goreng, Disini saya ingin mencoba bercerita kembali tentang dunia pisang. Topik kali ini, Why do I Love Fried Banana the most? Sebuah topik yang dianggap tidak tabu dan menjadi layak untuk diperbicangkan. Semuanya akan dikupas setajam kapak (hahaha maksa banget).


You know, Saya penyuka pisang goreng. Ayah saya juga suka pisang goreng. Kebiasaan ini keterusan hingga saya dewasa seperti saat ini. Dua minggu yang lalu, sebelum saya pulang kampung ke Madura, saya mampir dahulu di rumah kakek saya di mojokerto, mengingat saya sudah lama tidak bertemu dengan kakek. Entah hari itu disengaja atau tidak, saya disodorin pisang goreng oleh kakek saya. Tentu saya sangat senang sekali. Saya juga tidak tahu darimana kakek saya kok tahu-kalau saya sangat suka sekali dengan pisang goreng. Tapi tak apalah, kakek saya sepertinya sudah tahu bagaimana menyenangkan cucunya. Setelah bermain di rumah kakek saya hingga sore hari, Saya berniat untuk menginap di rumah tante Alfiah, adik dari ayah saya. Kebetulan rumahnya tidak berjauhan dengan rumah kakek saya. Karena saat itu saya sedang kelaparan, saya pergi ke dapur rumah tante. Disana saya menjumpai segerombolan pisang goreng yang baru saja dimasak di meja makan. Entah bagaimana kok bisa kompakan antara tante dengan kakek saya. Saya mencoba bertanya dengan keheranan kepada tante saya. “Tante, tumben buat pisang goreng hari ini?”. Tante saya menjawab  kepada saya, “Gak kok. Biasanya Tante terkadang sering buat pisang goreng sebelum petang”. Namun jawaban itu belum menjawab rasa takjub saya. Pasti ada sesuatu. Sesuatu yang belum bisa saya jawab untuk saat ini.

Keesokan harinya, saya bersilaturahmi ke rumah tante Mut, adik ayah saya yang lain. Kebetulan rumahnya juga tidak berjauhan dengan rumah kakek saya. You know, Ayah saya adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Hanya ayah saya satu-satunya yang tinggal di Madura, sementara kakak dan adik ayah semuanya bermukim di mojokerto. Karena itu kalau musim lebaran, saya selalu mudik ke Mojokerto.

Ketika saya bertandang ke rumah tante Mut, tante saya kebetulan saat itu sedang sibuk menggoreng pisang di dapur. Saya terheran-heran dengan keluarga besar dari ayah saya. Rasa takjub saya tidak sampai disini. Pisang Goreng yang dibuat oleh ayah saya sama persis dengan dibuat oleh kakak dan adik ayah. Terutama dari segi rasa. Saya bertanya dalam hati, Apakah mereka memiliki resep yang sama sehingga tercipta kesamaan bahan dan cita rasa. Karena hati saya masih diselimuti rasa penasaran, tiba-tiba saya bertanya kepada Tante Mut.

“Tante, Selama saya di Mojokerto, entah itu di rumah kakek atau rumah tante, saya selalu berjumpa dengan pisang goreng. Kok semua bisa kebetulan yah atau gimana”

“Hah?” Tante saya mengerutkan dahinya,”hehehe, Indra. Kamu seperti tidak tahu saja. Dulu waktu ayahmu dan kami saudara-saudaranya ketika masih kecil, Almarhum nenek kamu selalu membuatkan kami pisang goreng. Terkadang kami berebutan pisang goreng di dapur. Terkadang membantu nenek kamu menggoreng pisang. Jadi lucu kalau mengingat itu lagi”

“Apakah ayah saya waktu itu termasuk orang yang doyan makan pisang?”

“tidak hanya ayah kamu, semua saudaranya penggemar the best pisang nenek. Saya selalu terkenang dengan nenek kamu  kalau saya sedang membuat pisang goreng.

“Oooo..OO.

Akhirnya dari cerita yang mengalir dari mulut tante saya, terkuaklah kemudian misteri mengapa saya menyukai pisang Goreng. Mereka tujuh bersaudara penyuka pisang goreng. Dari sini saya kemudian menyadari-mungkin di dalam diri saya, mengalir gen-gen penyuka pisang dari pihak ayah. Karena Gen-gen inilah saya mempunyai  kebiasaan yang telah mendarah daging dan menyatu dengan jiwa saya. Itu sebab mengapa, terkadang saya tidak bisa mengendalikan kebiasaan membeli ketika kerap kali bertemu pisang goreng. Entah itu di pasar, warung-warung, pedagang asongan di terminal, Pedagang asongan di bus bus atau etalase toko penjual gorengan. Boleh dibilang ini adalah warisan genetika turun-temurun. Sebuah warisan yang tidak mungkin saya bisa cegah dan selalu mewarnai kehidupan saya.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s