Bus Bertingkat


Kemarin waktu liburan UAS saya sempat mengunjungi kota Solo-meskipun cuma sekedar lewat saja naik bis jurusan solo-surabaya. Di tengah perjalanan pulang menuju arah Surabaya, saya tidak sengaja bertemu bis bertingkat melintasi jalanan kota solo. Saya yang saat itu sedang dalam posisi setengah tertidur di dalam kursi bis dekat jendela-akhirnya terjaga juga-melihat pemandangan di depan mata saya. Saya tertegun sebentar dan hal yang pertama kali terlintas di benak saya “sejak kapan Indonesia mempunyai bus bertingkat?”. Bus yang selalu menjadi mimpi anak Indonesia-yang keberadaanya sering muncul ketika kita menyaksikan film ataupun sinetron dari luar negeri.

Tiba-tiba saya teringat dengan pengalaman saya menaiki bus transjakarta di Jakarta. Mungkin model bus bertingkat semacam ini lebih efektif untuk mengangkut penumpang dalam jumlah lebih banyak. Pernah saya juga menaiki dua bus transjakarta yang digandeng jadi satu mirip kereta gandeng. Menurut saya, bus bergandengan sedikit lebih berisiko dalam keselamatan dan lajunya sedikit agak lambat. So I imagine, maybe bus transjakarta  bisa mengadopsi model seperti ini. Seandainya metromini atau kopaja dipaksakan untuk diremajakan, ada baiknya diganti dengan model bus bertingkat plus ditambah AC dengan pengenaan tarif yang lebih ekonomis. saya yakin kemacetan di Jakarta yang sudah mencapai taraf membahayakan bisa dikendalikan dengan keberadaan bus seperti ini. bus model ini juga bisa menarik animo massa. Tentunya tidak hanya saya, semua penduduk Indonesia juga bakal berlomba-lomba menaikinya sebab mereka tentunya penasaran dengan bus yang hanya bisa mereka saksikan dari film terbitan luar negeri.

Dalam suatu kesempatan, teman saya pernah menceritakan pengalamannya naik bus di singapura, dimana faktor kenyamanan penumpang lebih diutamakan. Tentunya busnya juga lebih terasa manusiawi dengan dilengkapi Air Conditioner, belum lagi sistem paymentnya menggunakan kartu gesek yang digesek di pintu bus-yang kartunya bisa diisi ulang di counter sehingga mirip pembelian pulsa prabayar. Benar-benar user friendly. Itu sebab mengapa saya sedikit males kalau naik angkot, bus metromini, kopaja ataupun makhluk semacamnya di Jakarta. Panas, sumok berkeringatan, Muaceet dan asap merokok meluber mengudara di dalam angkutan-meracuni penumpang. Andai saja larangan merokok di tempat publik bisa ditegakkan!!

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s