Samurai dari Tanah Madura


Sakera, Samurai Of Madura Island

sakeraMeski saya tidak berdarah madura berdasarkan prinsip keturunan (karena orang tua saya berdarah jawa), saya merasa MENJADI bagian dari orang bumi madura. Di bumi inilah saya menjalankan sebagian takdir saya. Bermula dari ditiupkan roh, dikandung badan, dilahirkan dan tentu saja dibesarkan di sini-di Tanah Madura yang sampai saat ini masih saya cintai dan selalu membuat saya terkenang ketika saya tidak berada di Madura lagi.

Karena itu saya tidak bisa mengingkari kalau saya merasa bangga dengan ke”maduraan”saya. Orang Batak pun bangga dengan sukunya. Orang Bali juga mencintai sukunya. Orang Papua pun begitu dan lain-lain. Bagi saya tidak ada suku yang merasa inferior ataupun dominan terhadap suku lain sebab mereka memiliki ciri khas tersendiri yang telah terpatri dan tercermin dalam setiap jiwa mereka.

Beberapa minggu kemarin teman saya meminta saya mengenakan kostum suku madura untuk diambil foto. Sesuatu yang belum pernah saya lakukan dan terlintas di dalam benak pikiran saya waktu itu. Awalnya saya sangat senang sekali meski sedikit gugup karena saya masih amatir menghadapi kamera. Sebagai bentuk wujud dari  ekspresi kebahagiaan dan interprestasi kecintaan saya, saya berjanji bahwa saya akan atau “harus” menulis sebuah blog nantinya tentang sosok sakera, mengingat masih sedikit yang tahu akan sosok ini.

sampangcarok

Sakera, bagi suku madura adalah sebuah pasukan dan sosok pahlawan yang selalu menentang keberadaan Belanda di tanah leluhurnya. Dia adalah samurai dari Indonesia yang terlahir dari tanah madura. Celurit, Senjata serupa sabit menjadi andalan bagi Sakera untuk mengusir kompeni. Tentunya pusaka ini terus mewarisi dalam setiap nadi orang madura. Dalam kehidupan sehari hari, celurit biasa digunakan petani di sawah untuk bercocok tanam di sawah, namun terkadang bisa menjadi bumerang dan menebar darah ketika “Roh Keadilan” merasuki pusaka ini. Celurit ibarat simbol kedigdayaan ksatria orang Madura. Ia mewakili martabat dan hak seorang Pria. Ketika seorang istri diganggu atau selingkuh dengan pria lain yang bukan suaminya, wajib bagi suaminya membela harga dirinya untuk memberi pelajaran bagi sang pengganggu. Ketika hartanya dirampas oleh orang lain, wajib bagi pria madura melindungi hak hak miliknya. Fenomena ini dikenal dengan carok. Sebuah fenomena yang hingga kini masih tertanam di alam bawah sadar masyarakat madura, bahwa carok memiliki filosofi moral dan “sebuah tindakan yang masih dibenarkan” menurut mereka. Walaupun pada akhirnya sang pembela kehormatan yang berhasil menyelesaikan tugas carok ditangkap dan dijebloskan penjara, dia tetap dipandang baik di mata masyarakat.

Bagi saya, Sakera tidaklah jauh berbeda dengan seorang samurai. Celurit yang digunakan untuk carok bisa saja menuntut harakiri bak pedang samurai. Bedanya harakiri khas madura adalah bentuk perlawanan terhadap kehormatan pria yang merasa dilecehkan. Bisa jadi yang terbunuh adalah si pembela kehormatan atau si pengganggu kehormatan. Harakiri dalam budaya jepang dilakukan ketika seseorang merasa telah kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, dan/atau mengalami kegagalan dalam menjalankan kewajiban, maka ia akan melakukan bunuh diri dengan menusuk belati ke jantung atau perut. Dengan begitu takdir kematian telah ditentukan di tangan pemiliknya. Meski carok terkesan sadis dan berdarah-darah, bahkan tak jarang menyebabkan seseorang kehilangan anggota tubuh, cacat jasmani atau paling parah berujung dengan kematian, Fenomena ini jarang ditemukan lagi di madura, meski di beberapa daerah tradisi ini masih melekat tetapi frekuensinya mulai berkurang. Stereotip inilah yang membuat saya mengalami sedikit diskriminasi. Apalagi ketika saya hijrah bekerja di kalimantan. Mereka menyebut saya “te sate sate”, karena sate adalah kuliner khas madura dan tentunya kesukaan Sakera. Bagi saya tidak masalah. Itu berarti mereka paham dengan budaya madura. Namun ada juga yang bilang ” hei mau carok dengan saya gak??” meski saya menyadari terkadang itu hanya sebuah candaan, tetaplah tidak mengenakkan telinga. Bahkan yang lebih panas lagi dengan menunjuk saya terang-terangan “ah, kamu orang madura, pasti bau sapi” anjritttt. kalau yang ini saya tidak bisa terima karena saya merasa bukan murni suku madura. Tetapi bagaimanapun mengatakan sesuatu yang kasar pada suku lain tetaplah hal yang tidak baik dan bisa memancing gejolak masyarakat. Konon “katanya” masyarakat madura memiliki bau khas dalam tubuhnya yang membuat keberadaan mereka dengan mudah diketahui (yang ini masih perlu pengujian dan pembuktian). Belum ditambah dengan logat mereka yang sedikt kasar membuat orang orang merasa risih ketika berbicara dengan komunitas suku madura. Pengaruh bentuk dan kontur geografis pulau madura yang berbukit bukit ditambah dengan kebiasaan hidup yang berkelompok dimana setiap komunitas tempat tinggal saling berjauhan turut memberi sumbangsih terhadap aksen atau gaya bicara mereka.

Demikian cerita cerita saya tentang sosok sakera. Tulisan yang saya angkat ini sebagian mewakili pandangan saya. Disini saya juga tidak ada maksud untuk “melakukan penyerangan SARA” dan semacamnya. Hingga sampai detik ini, ketika menulis tulisan ini, Saya masih berpegang teguh dengan pendirian saya bahwa menulis merupakan salah satu cara dari sekian banyak cara untuk mengerti dunia ini dan orang orang di dalamnya dengan lebih baik. terima kasih.

sumenep

Salam Damai

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Samurai dari Tanah Madura

  1. kukuh budiharso berkata:

    bagus artikelnya……………. salam kenal http://budiharso.wordpress.com

  2. Anonim berkata:

    tak kusangka indra yg dulu aku kenal dah berbakat jadi penulis neh,,,hehehhe,,,semangat brow,,,,sukses kariernya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s