Indah Pada Waktunya (2)


Indah Pada waktunyaSelaras dengan opini saya di artikel sebelumnya tentang “Indah Pada Waktunya” di blog saya, Pada kesempatan ini saya ingin mencoba berbagi cerita kepada kawan-kawan. Ini adalah cerita tentang kehidupan salah seorang sahabatku. Sempat cerita-cerita dan akhirnya dia mengijinkan aku untuk sedikit berbagi. Mungkin dengan ini ada sedikit hikmah yang dapat diambil

Ini adalah cerita tentang kehidupan salah seorang sahabatku.

Tahun 1998

Saat itu merupakan taun yang sangat sulit, bukan hanya aq yang merasakannya, tapi seluruh bangsa Indonesia. Krisis Moneter yang menerjang membuat aq dan keluargaku hampir putus asa. Ayahku di PHK sehingga kami sekeluarga bingung, karena hanya itulah satu-satunya sumber penghasilan keluarga kami. Sementara harga kebutuhan melambung tinggi, tapi tak ada pemasukan. Belum lagi secara tiba-tiba ibuku harus masuk RS karena sakit. Alhamdulillah dalam cobaan yang terasa sangat berat ini, Allah masih memberikan keimanan sehingga kami sekeluarga masih bisa menghadapinya. Ibu pun berangsur-angsur sembuh dan akhirnya diijinkan pulang dari RS.

Tahun 2000

Ayahku mulai membuka toko kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, hal ini pun tek langsung berjalan mulus. Mungkin karena tempatnya krang strategis sehingga toko pun tak terlalu ramai pembeli. Saat itu tiba-tiba Ibu menderita sakit lagi. Entah apakah merupakan penyakitnya yang dulu atau penyakit yang baru. Akhirnya Ibu masuk RS lagi.Dan yang lebih parah, Ibu harus dirujuk ke RS yang lebih jauh sehingga otomatis memakan biaya lebih besar. Saat itu Ayah sudah kehabisan uang dan tidak tahu lagi harus meminjam kemana. Saudara dekat pun sepertinya enggan untuk meminjami meskipun saat itu mereka tergolong mampu. Alhamdulillah pertolongan Allah masih menghampiri kami, saudara jauh (yang kedaan ekonominya sebenarnya tidak sebagus saudara dekat) mau untuk meminjaminya (bahkan akhirnya mengikhlaskan ketika beberapa tahun kemudian keluarga kami mempunyai cukup rezeki dan akhirnya berniat membayarnya….). Singkat cerita, Ibu akhirnya bisa keluar dari RS dan bisa beraktivitas lagi meskipun masih belum bisa membantu Ayah di toko. Yang paling kuingat jelas adalah keikhlasan kakakku untuk menggantikan Ayah di toko ketika Ayah pulang untuk sholat, meskipun kadang berangkat ke toko sambil menangis karena kecapekan sepulang sekolah (kakakku waktu itu masih SMP). Sementara aq? Aq masih asik dengan masa kecilku, maklum aku masih kelas SD dan masih senang-senangnya main sepulang sekolah.

Tahun 2004

Berangsur-angsur keadaan ekonomi keluargaku membaik, aku mulai mengerti tentang hidup. Saat itu tahun terakhirku di SMP. Aku sebagai anak laki-laki bingung mau melanjutkan kemana setelah lulus nanti. Pertama kali terpikirkan untuk melanjutkan ke SMK favorit, sayangnya terlalu jauh sementara SMK yang dekat rumah kualitasnya kurang bagus. Saat itu Aku hanya berpikir bagaimana bisa secepatnya mendapatkan kerja, sehingga aku memilih SMK supaya aku mempunyai skill yang cukup. Namun karena berbagai faktor, aku malah memutuskan untuk masuk SMA. Untung tahun 2004 ekonomi sudah mulai stabil sehingga biaya sekolah pun masih bisa dijangkau meskipun agak berat karena kakakku pun juga butuh biaya untuk masuk ke perguruan tinggi. Dan lagi-lagi penyakit aneh menghampiri ibuku, sehingga sempat beberapa hari kesulitan untuk berjalan. Akhirnya ibu di bawa ke dokter untuk diperiksa. Dokter mengatakan hanya sakit biasa dan akan sembuh dalam beberapa hari apabila teratur minum obat. dan memang, ibu sembuh beberapa hari kemudian, namun ternyata hanya beberapa saat dan akhirnya penyakitnya kambuh lagi. Sudah dibawa kemana-mana tapi tetap belum bisa menemukan obat yang benar-benar menyembuhkan. Hanya saja penyakitnya mulai berkurang, hanya waktu sholat saja yang agak kerepotan karena tidak bisa dibuat sujud (selalu kesakitan ketika sujud), sehingga akhirnya sholat dengan duduk. Dalam keadaan beliau yang masih belum sembuh, aku merasa ada suatu kebanggaan karena Ibu masih sabar. Sering ku lihat di sepertiga malam terakhir, Ibu masih menyempatkan sholat malam meskipun dengan langkah yang sangat berat (karena sakit) mengambil air wudhlu. Bahkan hal itu akhirnya rutin dilakukan oleh ibuku. Tak satupun keluhan keluar dari mulutnya ketika melayani kami, bahkan kadangkala ibu masih memaksakan bekerja (memasak, mencuci, ataupun menyapu), meskipun keadaannya tidak fit. Ibu sering menasehati kami (aku dan kakakku) untuk belajar dengan giat supaya nanti bisa hidup lebih baik daripada dirinya. Ibuku memang lugu, dan bisa dikatakan agak susah untuk membaca, tapi itu bisa dimaklumi karena beliau putus sekolah karena keadaan keluarga yang kurang mampu, padahal baru memasuki tingat ke dua Sekolah Dasar. Meskipun begitu, aku sangat bangga dengan beliau.Keikhlasannya dalam mengurus keluarga, kesederhanaannya, kesabarannya dan nasehat serta do’anya selalu mengiringi kami kemanapun kami pergi. Ayahpun demikian, kerja kerasnya, kesabarannya ketika mendapat kesulitan, serta do’anya pun senantiasa membuat kami termotivasi. Mungkin juga bila kami tidak mengalami kesulitan kami tidak akan mengerti apa itu kesederhanaan, bagaimana belajar sabar, dsb.

Tahun 2009

Aku dan kakakku sekarang sudah mempunyai pekerjaan, kami bekerja di instansi pemerintah. Terkadang, aku terbayang kembali masa lalu yang penuh kesulitan, yang mungkin jika tidak dijaga keimanan ini olehNYA, niscaya akan jatuh pada lembah keburukan. Ketika terbayang hal itu, wajah ayah dan ibu pasti juga datang mengiringi. Bagaimana perjuangan mereka untuk menjaga kami dari hal-hal buruk ketika lingkungan tidak mendukung untuk melakukan kebaikan. Teringat kembali ketika aku sedikit berdebat dengan mereka ketika aku diminta untuk “ngaji” di pondok. Namun jika sekarang aku pikir kembali, apa jadinya aku sekarang kalau tidak menuruti mereka. Mungkin aku akan terbawa lingkunganku yang buruk, sehingga aku tidak akan mencapai sebuah kesuksesan. Sampai sekarang, ketika dihadapkan pada masalah, Aku selalu teringat mereka berdua. Nasehat yang mereka berikan, dan ilmu agama yang mereka berikan. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku hidup lama dengan mereka sehingga aku tahu apa yang mereka sukai dan tidak. Aku hanya ingin mereka bangga dengan aku, dengan kakakku, dan dengan semua yang aku miliki, sebagaimana aku sangat bangga dengan mereka. Meskipun aku tidak pernah bisa membalas jasa mereka, tapi aku ingin memberikan yang terbaik dari mereka, walaupun hanya dengan sebuah sikap, bukan materi…

(Diambil dari kisah nyata, dari seorang sahabat. Maaf mungkin masih kacau di sana sini, semoga bermanfaat).

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s