Maria Sharapova


Saya mengidolanya ketika dia pertama kali menjadi juara Wimbledon tahun 2004 dengan mengalahkan Serena Wiliams. Keberhasilannya di Wimbledon menjadikannya dia sebagai ikon baru di dunia tenis. Boleh dibilang dia adalah salah satu obat atas lara penggemar tenis yang rindu akan hadirnya Martina Hingis baru. Maria tidak hanya memiliki paras yang jelita tetapi permainannya juga memukau semua penonton yang melihatnya. Salutnya, dia tidak terlalu tertarik dengan dunia modeling dan tetap fokus untuk bermain tenis. Tentunya sebagai  salah satu Maria Sharapova Lovers, saya termasuk penggemar yang sangat kecewa dengan kegagalan Maria menjuarai Wimbledon tahun ini. Sebelumnya saya mengira tahun ini adalah masa comeback Maria setelah hampir cukup lama puasa gelar. Terbukti tahun ini Maria menjadi salah satu kampiun di salah satu turnamen kalender WTA dan beberapa kali menjadi runner up. Meskipun demikian, belum satupun title Grand Slam diraihnya setelah terakhir kali menjadi juara Grand Slam Australia Open. Di Roland Garross, Maria  Sharapova  terpaksa kandas dengan mengecewakan di babak semifinal French Open, satu-satunya Turnamen berkelas Grand Slam yang belum pernah dimenanginya. Sungguh sangat disayangkan mengingat usia Masha sudah tidak muda lagi.

Berkaca dari fenomena di atas , tidak ada yang salah memang. Setiap pemain memiliki Era-nya sendiri. Adakalanya ia berada di masa emasnya. Masa dimana ia mengalami puncaknya dalam meniti karier. Di sisi lain adakalanya ia hidup di masa-masa keterpurukannya. Sejak absen hampir setahun karena cedera bahu, Maria sepertinya kehilangan permainan terbaiknya. Pukulan servisnya selalu double fault dan ia kerap memberi poin dengan begitu mudahnya kepada lawannya karena servisnya yang gagal. Di saat poin poin kritis pun selalu begitu. Ketika menyaksikan pertandingannya, saya melihat Maria begitu memaksakan diri untuk menghasilkan poin dengan servis kerasnya. Dalam dunia tenis, Servis keras selalu menjadi senjata andalan bagi pemain tenis yang memiliki power bertenaga untuk mematikan lawan. Pemain pemain yang mengandalkan kelebihan ini sebut saja William sisters, Amelie Mauresmo, Novak Djokovic, Juan Del Potro, Ivo Karlovic dan masih banyak pemain lainnya. Parahnya Servis Maria selalu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Double Fault mulu. Kalau Maria ingin kembali memenangi Turnamen Grand Slam, mau tidak mau harus memperbaiki pukulan servisnya. Ada opini salah satu penggemar tenis bahwa pukulan maria yang sering error karena problem tinggi badannya. Dulu ketika masih remaja dan menjuarai Turnamen Wimbledon, badannya memang tidak setinggi sekarang. So maria mengalami masalah dalam penyesuaian tinggi badannya. Entah ini benar atau tidak, Bagi saya, memiliki ukuran badan yang tinggi atau melebihi rata-rata tinggi badan manusia umumnya adalah poin plus tersendiri bagi pemain tersebut. Rafael Nadal saja selalu kerepotan mengembalikan servis Juan Del Potro. Entah sampai kapan saya harus menunggu Piringan Trofi Grand Slam bergelayut kembali di tangannya. Semoga saja tidak senasib dengan Justine Henin, Petenis Belgia yang pensiun dari dunia tenis dengan menyisakan Turnamen Grand Slam Wimbledon yang belum dimenanginya. C’mon Maria!!!

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Maria Sharapova

  1. pasang gratis berkata:

    sekarang banyak pemain Tenis duania yang cantik-cantik, dan juga namanya banyak yg aneh seperti Hantu kova hehehe

  2. atidgulagula berkata:

    maria memiliki masalah dgn servisnya karena setelah cedera bahu dan dioperasi saraf di bahunya, kadang dia mengalami ‘mati rasa’ dibahunya sehingga dia tdk bs mengukur berapa kekuatan service yg harus dihasilkan😀,, tetapi kata maria main tennis sangat menyenangkan jd bs dimengerti bahwa dia berusaha, sangat2 berusaha agar bs masuk kembali ke 10 besar dunia walaupun bahunya kadang mati rasa. she is the most inspiring woman for me ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s