Senja di Teluk Kalianget


Sudah hampir sebulan saya berada di ibukota sejak pulang kampung bulan lalu. Entah kenapa tiba tiba saya kangen dengan pantai di kampung. Rasanya mau gila bila dalam seminggu ini saya tidak melihat pantai. Sejak kecil saya sudah akrab dengan pantai. Rumah saya berdekatan dengan pantai. Kalau pagi hari setelah salat subuh, keluarga saya selalu jalan pagi sambil mencari oksigen segar. Biasanya di saat-saat itu kami akan selalu menuju pantai. Meratapi denyut kehidupan perkampungan nelayan. Sebelum fajar usai, Para nelayan mendayung perahunya ke tepian. Tampak dari kejauhan anak-anak berlarian menyambut ayahnya yang pulang habis melaut. Membantu ayahnya membawa jala dan hasil tangkapan semalam. Lihatlah senyum dan tawa mereka. Begitu polos. Mensyukuri takdir indah bahwa laut telah menjadi bagian dari hidupnya. Berbantal Ombak dan berselimut angin. Dalam momen ini, saya akan terbius untuk merasakan sebuah semangat baru. Setelahnya, kami menunggu detik detik matahari terbit mengintip dibalik garis horizon. Menyaksikan Sinarnya yang jingga berpendaran di penjuru lautan dan menyapu permukaan bagai ladang emas. What a wonderful world !!!

Hari minggu adalah hari yang paling ramai. Orang tua dan anak-anak dari desa sebelah turut menyerbu pantai desa kami. Dahulu ketika kecil, saya dan kakak saya selalu bangun pagi-pagi. Di luar rumah, teman teman sudah menanti kami. Kami langsung berlarian kabur ke pantai. Bermain kejar-kejaran di hamparan pasir. Memahat sebuah istana dan boneka dari pasir. Mencari kerang di tepian. Kalau sudah hilang kewarasan, kami akan menyerbu kawasan hutan bakau di barat pantai. Di dalam rerimbunan hutan bakau, kami mengganggu orang orang yang duduk jongkok sedang buang hajat besar hahahaha. Pernah lihat juga ada ikan lumba-lumba tersangkut di akar hutan bakau. Senang juga akhirnya bisa menyelamatkan nyawa lumba lumba itu dan membawanya kembali ke pantai.

Sehabis pulang sekolah SD, abang becak yang biasa menjemput saya di gerbang sekolah akan mengantar saya ke Mbok ahma. Mbok Ahma ini adalah yang mengasuh saya sampai sore hari, sebelum mama dan papa menjemput saya sehabis pulang kerja. Kebetulan ipar mbok ahma adalah seorang nelayan. Namanya pakde Noh. Saya sering diajaknya menjaring ikan di pantai, meski cuma disuruh menunggunya di tepi pantai. Tapi itu sudah membuat saya senang. Apa coba yang akan dilakukan anak kecil seperti saya. Membuat rumahan dari pasir. Menggali lubang berharap ada seekor binatang  anthropoda keluar dari persembunyiannya. Membuatnya sebagai bahan mainan. Detik selanjutnya, mencari ranting kayu kering dan menggambar tokoh-tokoh kartun di atas pasir. Pernah juga saya kaget ketika ada kapal besar menuju tepi pantai. Saya berteriak sambil lompat lompat melambaikan dua tangan, memanggil kapal itu singgah ke tepian. Kapal itu membawa kayu-kayu. Entah darimana asalnya. Ketika seorang awak buah kapal turun, saya sempat mencegat orang itu dan menanyakan asalnya.

“Abang darimana?

“Dari Kalimantan, dek.

Saya cuma melongo. Takjub. Teringat pelajaran IPS di sekolah. Kata Pak Musrawi, Guru SD saya kelas dua, bahwa Pulau Kalimantan itu sangat jauh sekali. Pulau yang dilalui garis khatulistiwa.

“Bang, Kalimantan dekat gak dari sini?

“Wah dekat dek.

“Kalau begitu saya ikut abang deh.nanti anterin saya lagi kesini yah. Gimana Bang?” tawar saya.

“Tunggu kamu sudah dewasa”

Dalam hal ini saya sudah melanggar peraturan dari orang tua bahwa “Never talk to stranger”. Tapi tak apalah, namanya juga anak kecil yang selalu diselimuti rasa penasaran. Jadi lucu kalau mengingat ini semua. Kepolosan seorang bocah. Untung saya tidak diculik hehehe.

Ketika SMP dan SMA saya sudah jarang ke pantai . Saya harus bersekolah di kota yang jarak tempuhnya 15 Km. Pulang sekolah di siang harinya, sorenya harus kembali lagi ke sekolah mengikuti les-les dari guru. Kalau tidak ikut les-les dari guru, biasanya nilainya jelek di rapor. Belum lagi kalau ulangan harian, hampir semua soal-soalnya adalah yang didapat dari les, beuh. Dulu sempat terpikir ingin berhenti ikut les agar saya mempunyai waktu bermain yang banyak. Tetapi orang tua melarang saya. Those are just for your future”. Selalu dengan kalimat itu.

Sehabis pulang dari les, saya terkadang mampir sebentar ke pantai di kampung. Menghabiskan waktu senja disana. Berjalan di sepanjang tepian. Tidak ada yang berubah. Terkadang saya sering tersenyum sendiri melihat anak kecil dengan tangan mungilnya sibuk membuat rumah-rumahan dari pasir. Hanyut dalam dunia mereka. Sementara itu, di sisi lain, segerombolan bocah bergulingan di hamparan pasir sepanjang pantai. Bermain kejar-kejaran sambil mencipakkan air ke muka. Baju mereka basah dan penuh noda pasir.  Tetapi mereka tetap ceria. Seolah tidak ada yang menghalangi kegembiran terus menyelimuti wajah mereka. Kalau kenakalan merasuki mereka, mereka biasanya mencoba menggangu sepasang kekasih yang asyik berkencan bahkan berciuman hahaha. Kenangan yang menyegarkan kembali ingatan kecil saya bahwa saya dulu pernah mengalaminya.

Menghabiskan waktu senja sambil duduk di bangku kosong adalah kesukaan saya. Menikmati semilir angin laut dalam keheningan. Mendengarkan syahdunya melodi ombak. Menatap burung-burung laut berterbangan di kaki langit-pulang ke peraduannya. Menanti matahari terbenam di perairan Jawa dan menunggu sinarnya menyilaukan wajah saya. Sejak itu, Pantai bukan lagi hanya tempat bermain, tetapi lebih dari itu. Tempat bertapa. Entah kenapa kalau mata lagi memandang ke pantai dan suasana begitu hening, semua tabir peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan saya terkuak begitu saja. Di hadapan saya seolah ada sebuah layar yang memutar kembali adegan-adegan di masa kecil hingga ke masa masa saya telah dewasa. Dalam tahap ini, saya sering merenungi sendiri. Khilaf dalam hati kalau saya pernah berbuat salah. Kalau lagi jenuh dan stress, pantai adalah tempat terbaik mengasingkan diri. Tempat menyalakan kembali api semangat. Rasanya malu begitu memyaksikan ombak yang tak pernah henti berkejaran di pantai. Berlari ke tepian dan kembali ke tengah. Begitu dinamis. Terjebak dalam romantisme alam, membuat saya tahan dan betah berlama-lama di pantai. Sakingnya telah menjadi sebuah kebiasaan, saya sering kali lupa diri bahwa hari telah larut petang. Biasanya Papa atau mama akan menyuruh kakak saya menjemput dengan sepeda. Tak ada yang lebih Indah selain Musim Panas di Pantai Kalianget.

Saya juga suka mencari ilham di pantai. Biasanya saya bisa berpikir lebih baik disini. Entah kenapa. Saya juga sering curhat sendiri mengenai masa depan saya. Dulu saya pernah bingung ketika akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya tidak tahu apa yang menjadi cita-cita saya. Tidak pernah terpikirkan dalam benak saya sekalipun bahwa suatu hari akan menjadi akuntan. Cita-cita kecil saya ingin menjadi ilmuwan yang selalu sibuk di laboratorium atau menjadi direktur di sebuah perusahaan. Tapi takdir tetap tak terbendung melawan keinginan manusia. Kaget juga begitu mendapat pengumuman bahwa saya harus kuliah di Kalimantan. Saya jadi teringat potongan-potongan masa lalu saya, dimana saya bertemu dengan seorang awak kapal.

“Tunggu kamu sudah dewasa. Kamu kelak akan kesana. Ke Kalimantan”.

Bintaro, 20 Juli 2011

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Senja di Teluk Kalianget

  1. Ping balik: Barokah Karena Membaca Basmalah « Bani Madrowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s