Madura, Akulah Darahmu


Di atasmu, bongkahan batu yang bisu

Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa

Biar berguling di atas duri hati tak kan luka

Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu

Dan aku

Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu

Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah

Bahwa aku sapi kerapan

Yang lahir dari senyum dan airmatamu

 

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,

Sebasah madu hinggaplah

Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat

Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

 

Di sini

Perkenankan aku berseru:

– madura, engkaulah tangisku

 

bila musim labuh hujan tak turun

kubasuhi kau dengan denyutku

bila dadamu kerontang

kubajak kau dengan tanduk logamku

di atas bukit garam

kunyalakan otakku

lantaran aku adalah sapi kerapan

yang menetas dari senyum dan airmatamu

aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan

dan memetik bintang-gemintang

di ranting-ranting roh nenekmoyangku

 

di ubun langit kuucapkan sumpah:

– madura, akulah darahmu.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s