D Zawawi Imron


D. Zawawi Imron was a loyal poet presented nuances of his birth land, Madura in his poetries. His unique style in pronunciation and his consistency have made him get his own position in the history Indonesian poetry.



Siapa penyair yang terkenal dari Madura? Semua orang Madura pasti akan menjawab D Zawawi Imron.  Tidak salah lagi. Nama yang begitu familiar di jagat tanah Madura. Meskipun saya baru mengenal namanya ketika SMA. Maklum waktu SMA saya lagi suka sukanya sama dunia sastra. Dia lahir di desa Batang-batang, ujung paling timur pulau Madura pada tahun 1946, tanggal dan bulannya tidak diketahui. Saya agak heran bagaimana kok bisa di desa yang begitu miskin dan tingkat pendidikannya rendah, seorang penyair bisa lahir disana. Di sebuah desa yang masyarakatnya  masih memegang teguh nilai-nilai primordialisme serta aksesnya yang begitu terpencil. Bukan maksud under estimate, tapi lebih dari bentuk kekaguman saya. Jarang-Jarang lho anak desa berprestasi. Kalau dengar anak kota berprestasi tentu sudah hal yang biasa.

Seperti kita ketahui sastra Indonesia modern pada dasarnya merupakan bentuk ekspresi baru yang ditransformasi dari peradaban Barat. Oleh karena itu, sejak awal kelahirannya pertentangan atau konflik antara dunia modern dengan dunia tradisi merupakan tema utama yang muncul dalam sastra Indonesia. Jika dilihat dari kedua arus itu, Zawawi Imron dengan jelas berada dalam arus kedua. Itu sebabnya alam-budaya (khazanah) Madura kental terasa.

Buku puisi Bantalku Ombak Selimutku Angin Karya Zawawi Imron terdiri atas 4 bagian atau subkumpulan puisi: Semerbak Mayang (24 sajak), Madura, Akulah Lautmu (11 sajak), Tembang Dusun Siwalan (17 sajak), dan Bantalku Ombak Selimutku Angin (7 sajak).

Kental menghadirkan nuansa alam budaya Madura dalam puisinya, membuat saya merasa rindu ketika berada di perantauan. Bagaimana tidak, hampir dalam setiap bait puisinya membuat saya berkhayal kembali ke masa kecil hidup saya yang dihabiskan di kampung. Lihat saja diksi-diksinya. Siwalan, nira atau lahang, lenguh sapi, bulan purnama, bukit dan lembah, tongkol pisang, kopyor, gula, lokan-lokan dan mutiara, sawah dan petani, laut dan nelayan, musim kemarau, sumur kering, tanah coklat, garam, angin dan  gelombang, misalnya, tersebar dalam puisi-puisinya. Diksi-diksi itu secara khusus mengacu pada keberadaan alam Madura yang dikelilingi laut, dihiasi bukit-bukit dan lembah, dihuni para petani dan nelayan, serta menghasilkan produk pertanian dan hasil-hasil lautan.

Alam dalam ruang kepenyairan Zawawi Imron merupakan inspirasi utama. Inspirasi ini yang kemudian tampil menjadi idiom atau semacam metafora dalam puisinya. Majas-majas itu umumnya digunakan untuk mengungkapkan “sesuatu” yang disandingkan dengan perasaan/kegelisahan pengarangnya. Tentu saja diksi-diksi alam dalam puisi-puisi Zawawi tidak selalu hadir sebagai idiom, tetapi juga sebagai gambaran realitas alam itu sendiri. Susunan diksi alam sebagai idiom/majas yang disandingkan dengan kegelisahan/perasaannya yang dengan sendirinya menghasilkan ungkapan-ungkapan yang segar: nira kecut, mayat semerbak mayang  yang terdapat dalam Sajak “Ungu Lembah Tamidun”, seteguk nira yang bening yang menetes dari matamu (“Pesan”), sedap kopyor susu dan ronta kenakalanku dalam sajak “Ibu” yang saya sudah posting sebelumnya di blog saya, lalu kuteruskan perjalanan/jalan berdebu, aku jalan kaki/pohon siwalan di kanan kiri/lahang atau hatinyakah/yang kuminum barusan ini?/mengapa dadaku semakin dahaga/malam-malam tiba di rumah/hanya tubuhku yang bisa pulang/hatiku tertinggal di kebun siwalan (“Di Kebun Siwalan”), anakku, tumpuan harapanku/wangi hati ayahmu/dimulai di pohon itu (“Senja yang Merah”), jika kini kuteguk air kelapa muda/yang kubeli pada orang dusun yang sederhana/apa kau nanti merasakan seperti aku/dahaga ribuan jiwa? (“Di Pantai Salopeng”), dan varian-varian larik lain yang mengesankan sekaligus menerangkan pada pesan atau makna yang ingin dikomunikasikan. Diksi diksi  alam ini juga berpadu dengan diksi-diksi dari lingkungan budaya, kebiasaan (tradisi) masyarakat Madura, misalnya: saronen (nih gamelannya orang Madura, tapi beda lho dengan yang jawa), kerapan sapi, pisau (belati), celurit, berlayar, merantau, pukat, gong dan gendang, suara bonang, doa, gembala, salampar, dan lesung.

Sebenarnya buku beliau tuh banyak, tapi ini yang paling saya suka. Kalau kamu adalah orang Madura, wajib hukumnya beli buku ini. Bagi saya, buku ini adalah semacam teks yang didalamnya mengakar sebuah filosofi dari Suku Madura. Sarat nilai moral yang dipegang teguh orang madura. Ketika membaca  pertama kali bukunya, Saya langsung jatuh hati dengan kekuatan katanya yang mengiris urat kemaduraan saya. Jujur saja, selama ini saya sedikit malu ketika harus menjawab pertanyaan seseorang tentang asal daerah saya. Ketika seseorang mendengar kata “Madura”, selalu muncul stereotip yang buruk. Mungkin dalam gambaran mereka seperti carok yang berdarah-darah, preman pasar, senjata celurit dan lain-lain. Apalagi dengan adanya kejadian  pertentangan suku Madura dan Suku dayak di Kalimantan seolah mengamini bahwa Suku Madura adalah suku yang ber-image negatif. Kasar. Suku yang suka menjarah tanah orang. Meskipun semua itu tidak benar adanya. Setahu saya, orang madura termasuk orang yang agamis. kalau di desa-desa hampir semua anak-anak madura sekolahnya dihabiskan di pesantren. Dengan demikian tabiat seseorang tidak bisa menggeneralisasi orang-orang lainnya yang terikat berdasarkan pertalian suku. Ketika saya di kalimantan, saya juga pernah bertemu dengan orang madura perantauan. Ada sebagian kecil dari mereka yang menghuni tanah yang seharusnya tidak didiami. Problem di atas menurut saya tak lebih dari problem yang umumnya yang dialami transmigran. Di Jakarta juga banyak lho. Akibat dampak urbanisasi, banyak orang dari luar daerah juga menghuni tanah orang sembarangan dan kemudian mengklaim bahwa tanah tersebut adalah hak miliknya. Hal ini bukan berarti saya membela orang madura. Problem di atas lebih erat kaitannya dengan problem kemiskinan yang akhirnya memancing gejolak antar suku di Indonesia. Setidaknya kehadiran antologi puisi beliau memberikan jawaban dan sedikit cakrawala tentang suku madura seutuhnya. Misal seperti merantau. Bagi Orang Madura, merantau adalah pilihan yang sulit. Kecuali mereka benar-benar miskin. Hidup bersahaja dan betah di tanah kelahirannya adalah hal yang lebih dari cukup bagi mereka.

Di dalam puisi beliau juga dijelaskan bagaimana hubungan antara desa (tradisi) dan kota (modernitas)  yang agaknya memang merupakan masalah sosial yang membelit manusia (masyarakat) Madura dewasa ini. Desa yang sunyi, miskin, dan terlupakan dengan sendirinya mendorong penyair bertanya, misalnya, arti kemerdekaan bagi orang dusun (“Puisi Hitam”), kemiskinan dan nasib menyedihkan di tanah Madura yang kerontang (“Dari Kamal ke Kalianget”), kebiasaan merantau dan kesepian para petani (“Pengembara”), makna dan hakikat merantau untuk menghapus kemiskinan, memperluas persahabatan dan memperdalam pengalaman (“Ayah”), dan nasib tragis yang mengharukan bagi orangtua/kakek-nenek yang ditinggal anak/cucunya mengembara/merantau (“Mawar dan Nenek Tua”).

Seperti umumnya kondisi daerah-daerah di Indonesia, Madura dalam puisi-puisi Zawawi hadir sebagai masyarakat yang dirundung kemiskinan. Sebagaimana juga terlihat dari puisi-puisinya, baik eksplisit maupun implisit,  kemiskinan itu terjadi karena pembangunan di negeri ini terlalu berpusat di kota-kota besar, terutama Jakarta, bahkan ketika era Reformasi atau politik desentralisasi (otonomi daerah) sudah hampir 10 tahun kini bergulir. Di Indonesia kata “daerah” sering langsung berkonotasi negatif karena merupakan tanda kemiskinan, pinggiran, udik, kurang beradab, kurang maju, terbelakang, baik dalam hal pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan. Orang-orang daerah dalam konteks ini dapat dikatakan mengalami semacam perasaan homeless karena di satu sisi berhadapan dengan dunia modern (budaya kota) yang tidak mudah untuk dimasuki, di sisi lain akar budaya (tradisinya) mulai lepas dari jiwa dan raganya. Gambaran kondisi Madura sebagai daerah miskin dan terpinggirkan memang tidak sulit ditemukan dalam puisi-puisi Zawawi Imron. Akan tetapi, meskipun Madura itu miskin, ternyata penduduknya amat mencintainya sehingga mereka yang merantau selalu merindukan untuk kembali ke kampung halaman. Pulang menjadi sesuatu yang dirindukan karena meskipun Madura itu miskin dan kerontang, pada akhirnya merupakan tempat yang kepadanya segala cinta dan luka dilekatkan. Madura –perhatikan puisi “Madura, Akulah Lautmu”, “Madura, Akulah Darahmu”, atau puisi “Ibu”–bagi Zawawi yang rupanya adalah darah, tangis, jantung, dan hati yang senantiasa memompa gairah hidup orang Madura meskipun dalam kondisi miskin, kesepian, dan terlupakan. Dalam penggambaran semacam ini terasa nada umum puisi-puisi Zawawi Imron adalah semacam ode (pujaan) untuk “tanah air” atau “tanah kelahiran” yang bernama Madura itu.

Perhatikan beberapa contoh larik yang menggambarkan kemiskinan Madura dan ketenteraman hati penduduknya: kalau di rantau tak ada rumput menghijau/wahai, sapi kerapanku!/segeralah pulang ke kandang teduh!/ke ribaan bunda yang kosong/nasi ubi dan sayur singkong (“Ibu Bersama Rindu”), tentang merantau sebagai suatu keharusan/kebiasaan, tetapi juga kepulangan yang juga keharusan/kebiasaan (“Nyanyian Kampung Halaman”), di tanah wangi siwalan ada sepi, ada petani yang miskin, ada nyanyian pilu, tetapi di situ pula makna hidup tumbuh (“Musim Labuh”), kalau aku merantau lalu datang musim kemarau,/sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting/hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir (“Ibu”).

Demikianlah, Madura adalah kampung halaman yang dirindukan, sepahit dan sesakit apa pun keadaannya. Itu sebabnya barangkali yang menyebabkan Zawawi Imron senantiasa khusuk mencintai dan memujanya. Gaya ode/pemujaan lebih jelas lagi pada puisi-puisi persembahan untuk pahlawan (baik pahlawan Madura maupun Pahlawan dari daerah lain), misalnya puisi “Kepada Patimura”, “Pertemuan dengan Pak Dirman”, “Pahlawan dari Sampang”, dan tentu sosok ibu yang ditempatkan sebagai “pahlawan paling utama dan pertama” dalam puisi berjudul “Ibu”.

Zawawi Imron dengan demikian adalah penyair yang mencintai dan memuja “tanah kelahiran dan tempat tinggalnya” sebagai kampung yang setia dipuisikan, bahkan dijadikan tempat tinggal jiwa dan raganya. Tentu saja ini tidak berarti Zawawi tidak peduli pada khazanah keindonesiaan. Kecintaannya pada Madura sepatutnya dipandang sebagai bentuk cinta terhadap keberagaman Indonesia yang dibangun oleh kekayaan alam/budaya daerah-daerah di Indonesia, termasuk Madura. Lagi pula, ia sendiri menulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi tanda sekaligus alat persatuan Indonesia.

Selain mencintai dan memuja Madura, Zawawi Imron adalah penyair yang amat mencintai dan memuja sosok ibu, baik ibu sebagai ibu biologis maupun ibu sebagai “spirit” yang dalam hal ini boleh jadi adalah Madura sendiri. Bagi Zawawi, ibu (perempuan) tegas memiliki makna luhur sehingga leluhurnya (kesedihan, penderitaan) adalah nenek moyang (nenek moyangku airmata, katanya!).

Namun, patut dicatat bahwa Zawawi tidak melulu hidup dan menulis tentang Madura. Ia intens menulis khazanah Bugis-Makasar (Berlayar di Pamor Badik, 1994) ketika ia pernah lama di Makasar. Bahkan menulis masyarakat Gorontalo (Zamrud Serambi Madinah, 2004). Dalam kesempatan lain ketika diundang ke luar negeri, ia menulis persentuhannya dengan Eropa (Refrein di Sudut Dam, 2003). Dengan kata lain ia “merantau” juga ke alam budaya di luar Madura, sekaligus mengembara ke banyak kota/daerah, baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s