Film Mestakung : Film dengan Warna Lokal Madura


Tanpa sengaja saya nyasar ke blog orang. Di blog tersebut tertulis bahwa buku Mestakung (baca : Semesta Mendukung) karya Yohanes Surya akan diadaptasikan ke layar lebar. Ingatan saya pun kembali melayang ke lima tahun yang silam. Saya pernah membaca buku penuh inspirasi ini. Buku tentang perjuangan siswa siswa Indonesia dalam ajang Olimpiade Fisika Tingkat Dunia. Saya masih ingat bahwa salah satu tokoh dalam buku ini adalah seorang siswa yang berasal dari Pamekasan Madura bernama Andy Octavian Latief. Penasaran sekali dengan setting film ini. Mengingat banyak tokoh di dalam buku ini salah satunya misalnya anak dari Makasar yang masih duduk SMP tetapi bisa meraih medali perak Tingkat dunia, Anak pemahat Patung dari Bali yang juga menuai sukses di ajang olimpiade Fisika dunia. Alhamdulillah ternyata pilihan Mizan sebagai rumah produksi layar lebar ini memilih Andy Octavian sebagai tokoh utama. Horeee. Jadi film ini mengambil lokasi syuting di Madura dunk. Senang juga ada film layar lebar yang mengangkat tema warna lokal. Tapi kok gak ada casting pemain yah. Saya kan anak asli Madura.  Kalo ada saya kan pengen ikutan. Gini-gini gw ngimpi jadi artis lho hehehe. Rencananya film ini akan diputar serentak di Bioskop bulan Oktober. Bintang Utamanya Revalina S. Temat, Feby Febiola, Lukman Sardi, Ferry Salim, dan Sujiwo Tejo. Wah semua pemain beken nongkrong di film ini, apalagi ada mas Lukman Sardi yang kualitas aktingnya gak usah diragukan lagi. Jadi gak sabar nontonnya nih. Setidaknya film ini bisa mengobati kekecewaan saya terhadap film Indonesia terutama film horor yang mutunya gak jelas seolah hanya mengejar pasar. Semoga film ini sukses seperti film lainnya yang mengangkat warna lokal yang sudah sukses sebelumnya seperti Serdadu Kumbang, Denias, Tanah Air Beta serta Laskar Pelangi.

Behind The Scene 

behind the scene film ini saya copas dari blog sebelah http://shofiyatun.multiply.com/journal/item/321/Film_Semesta_Mendukung_di_Tanah_Madura

Mizan production yang saat ini sedang menggarap film Mestakung melakukan syuting terakhirnya di kabupaten Pamekasan kemarin (25 mei). Film yang dibintangi Revalina S. Temat, Lukman Sardi, Ferry Salim, dan Sujiwo Tejo ini juga mengambil lokasi di tambak garam desa Bunder.

Terinspirasi oleh kisah nyata seorang siswa Madura, Andy Octavian Latief asal SMAN 1 Pamekasan, yang menjuarai olimpiade fisika di Singapura 5 tahun lalu. Menariknya, tokoh sentral film ini diperankan oleh anak Madura berumur 13 tahun, Sayev Muhammad Billah yang merupakan cucu budayawan Madura asal Sumenep, D. Zawawi Imron.


Menunggu Revalina S. Temat – Warga sekitar yang hanya bisa menyaksikan dari pinggir jalan.

Panasnya terik matahari tidak mengurangi antusiasme warga sekitar yang hanya bisa menyaksikan proses syuting dari jarak kurang lebih 200 meter. Tampak Revalina mengenakan busana muslimah berwarna merah membawa sepeda onthelnya sambil berjalan di area tambak garam, memerankan sosok guru asal Minang yang memiliki idealisme tinggi dan memilih mengabdi di pelosok Madura. Rupanya karakter peran Revalina mewakili sosok asli bapak Purwedi, guru fisika Andy di SMAN 1 Pamekasan pada waktu itu. Tentu saja, di film ini Revalina akan menunjukkan kemampuannya berbahasa Madura.


Rangkaian syuting di Madura dilakukan sejak 10 hari lalu, yang sebelumnya sudah mengambil gambar di kabupaten Sumenep. Kota yang terletak di ujung timur ini memang memiliki pemandangan alam paling menarik di Madura.

Menjelang kemarau – Tambak Garam di desa Bunder, Pamekasan

“Setelah Sumenep dan Pamekasan, kami akan melanjutkan syuting di jembatan Suramadu besok (hari ini). Jadi hari ini terakhir kami syuting di sini”, kata salah satu kamerawan.


Mengambil 3 ciri Madura yang menarik, seperti kerapan sapi, tambak garam, dan jembatan Suramadu dipermaklah kisah nyata sedemikian rupa sehingga film Mestakung bisa menampilkan ketiganya. Diceritakan, si anak cerdas berasal dari keluarga tidak mampu dan tidak dipedulikan oleh ayahnya yang suka berjudi di arena kerapan sapi. Si anak pada akhirnya bersedia mengikuti kejuaraan fisika setelah tahu bahwa final olimpiade diselenggarakan di Singapura sehingga termotivasi untuk bertemu dengan ibunya yang bekerja sebagai TKW di Singapura.


Mungkin karena alasan inilah film yang disutradarai John de Rantau memilih lokasi di Madura. Selain Andy yang muncul sebagai juara dunia tahun 2006, Pamekasan masih memiliki siswa-siswi berprestasi lainnya sebut saja Mohammad Sohibul Maromi (SMAN 1 Pamekasan) yang meraih medali perak olimpiade fisika tingkat Asia tahun 2010 dan kakak beradik Alyssa Putri Mustika-Alyssa Diva Mustika (SMPN 1 Pamekasan) yang meraih tiga medali emas dan perak pada International Young Mathematic Convention tahun 2010. Mestakung dijadwalkan akan tayang di bioskop pada bulan september tahun ini. Film yang inspiratif dan mendidik di tengah maraknya film bertema misteri yang hanya mengandalkan aurat dan permainan musik latar.

Foto-foto lainnya:

Kru film – Dokumentasi sebelum meninggalkan lokasi.



Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

23 Balasan ke Film Mestakung : Film dengan Warna Lokal Madura

  1. ayyciiplukz berkata:

    anak madura ya? tanya donk.. lokasi pantainya itu di slopeng bukan?

    • Indra berkata:

      yah saya anak madura. km juga y?? yah itu di salopeng

    • Dedy Candra A berkata:

      waduchh…… bukan di salopeng tuch itu daerah tambak sebelah timur Desa Marengan 30menit perjalanan dri kota sumenep…. klo pantai madura paling indah di sumenep ad 2 pantai lombang (pantai pohon cemara udang) dan pantai selopeng….klo mau tau lebih nyak add aj FB q slalam😀

  2. sinollah berkata:

    Salut. masih ada sutradara yang mau membuat film tidak hanya mementingkan pasar saja. karakter mendidik generasi penerus bangsa ternyata masih ada di dada sutradara tanah air ini. kita tunggu film berikutnya yang layak di tonton dan doceritakan kepada penerus bangsa ini. karena generasi penerus bangsa ini bukanlah penerus kebobrokan dan kelaliman.

    • Indra berkata:

      terima kasih testimoninya. semoga pendapat anda didengar oleh sutradara di seluruh tanah air. Tidak hanya sutradara, tetapi penikmat bioskop di Indonesia juga harus bisa memfilter dirinya untuk memilih film berkualitas. Film film dengan nuansa erotisme masih menjamur karena masih banyak yang nonton, sehingga wajar bila PH gak mau rugi

  3. LyViea Octha berkata:

    gag sabar nunggu film ni tayang perdana di layar televisi…………….

  4. diyah berkata:

    sebagai anak madura saya turut bangga dengan film ini semoga saja anak2 negri ini terinsipari oleh film yang mengusung tema pendidikan ini dan mengagkat budaya lokal madura

  5. wahyu berkata:

    meskipun sudh banyak tokoh2 dari madura sayang masih sedikit orang madura yang peduli akan pulaunya…terbukti meski sudah banyak yang jadi “orang” tapi pembangunan di madura tetap tertinggal

    • Indra berkata:

      wah anda anak pulau yah?? Kangean?? Saya kebetulan ingin mencari informasi ttg akomodasi kesana. ada gak travel agent di pulau sana yang nyediain baju pelampung untuk melihat karang di dasar ;laut..saya bersama teman2 ingin trip kesana.

  6. wachcaw berkata:

    anak pulau?? mksdnya?? bukannya anak madura itu semua anak pulau ya? pulau madura..

    wah saya kurang paham kalo travel agent, coba aja langsung ke kangean…saya belum pernah ke sana juga

  7. mufa berkata:

    mas ada link yang buat download film.a gk ku penasran nih mau download…
    kan ku jga anak madura hehehehehehe

  8. Wahyu Alam berkata:

    Waaahhh,,
    baru tau postingan ini. saya juga nonton film ini di bioskop dan posting di blog saya juga http://wahyualam.com/mestakung-laskar-pelangi-nya-madura/
    so cool!
    keren kancah!
    Salam kenal dari Nak-kanak Blogger Madura Plat-M (http://plat-m.com)

  9. Budi Cahyono berkata:

    Kalo dari gambar behind the scenenya, kok kayak panas banget ya, kasian si tomat. pengen nonton film ini gak jadi-jadi. dan rupanya sekarang sedang trend juga film yang mengangkat kisah di daerah seperti tendangan dari langit dan sebagainya, hanya saja, bila perlu suatu saat dibuat juga film tentang kerajaan majapahit plus gajah mada nya.

    • Indra berkata:

      Wah ide anda kok sama yah. saya juga rindu film tutur tinular dan saur sepuh. Di Indosiar ada sinetron tutur tinular versi 2011, sayangnya jauh dari harapan saya. terima kasih sudah berkunjung.

      • Budi Cahyono berkata:

        Indonesia terlalu banyak kisah yang bisa diangkat ke layar lebar, jangankan cuma tentang kerajaan yang jumlahnya ratusan, lah kisah pahlawan saja belum banyak yang ngangkat. Mungkin masalah biaya, tapi jika kerja samanya bagus, pasti bisa.

  10. Anonim berkata:

    gimana caranya download filmnya?

  11. raihan rivai berkata:

    download dimana nih???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s