Winnetou : Novel Abadi Yang Luar Biasa


Kalau pulang kampung ke rumah ortu, saya biasanya suka mengecek kembali lemari perpustakaan saya di rumah. Merapikan buku dan Membersihkan debu yang berserakan. Terkadang ada keinginan untuk membaca kembali buku-buku tersebut. Ketika menyaksikan buku buku koleksi saya, saya sering terharu sendiri. Teringat bagaimana susahnya memperoleh buku buku tersebut. Mulai dari menabung uang jajan saya ketika waktu SMA dulu. Bahkan saya rela berjalan kaki di siang yang begitu terik dari terminal ke rumah yang berjarak hampir 2 km usai pulang sekolah. Sebenarnya saya bisa naik becak dengan ongkos 2000, tapi demi sebuah perjuangan untuk membeli buku, saya rela menyimpan uang saku saya. Lumayan jika 10 hari saya sudah bisa mengumpulkan uang sebesar 20.000. Uang saku saya waktu itu 3000 rupiah. Buat ongkos naik angkot Rp 1000 bolak balik terminal-SMA). Jadi masih sisa uang 2000 rupiah. Tahun kedua di SMA, saya dibelikan orang tua sebuah sepeda motor. Alhamdulillah dengan adanya sepeda motor saya bisa menabung uang jajan lebih banyak karena ortu memberi uang jajan saya dengan uang bensin secara terpisah. Buku-buku yang biasa saya beli umumnya terbitan Mizan, karena buku-buku inilah yang ramah dengan uang tabungan saya. Sekitar dua puluh ribuan harganya. Begitu selesai membaca sebuah buku, saya akan meminjami buku-buku tersebut ke teman teman di kelas atau teman teman di kampung. Rasanya senang sekali bisa ikut berbagi meski hanya sebuah buku. Teman saya di kampung menjadi semakin luas cakrawalanya dan tidak kolot. Apalagi pas jaman SMA dulu, jarang sekali anak anak di kampung kami bisa mencicipi bangku SMA.  Kondisi demikian membuat saya banyak bersyukur kepada Tuhan karena saya bisa melanjutkan ke jenjang SMA. Jadi saya ini orangnya selalu welcome kalau ada yang ingin meminjam buku koleksi perpustakaan saya asalkan kertasnya tidak robek atau hilang. Meski akhirnya lusuh, tetapi saya tetap senang.

Karena koleksi bacaan saya  banyak yang terbitan dari Mizan, saya menjadi  akrab dengan tulisan dari penulis yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena. Dari novel terbitan Mizan, saya juga untuk pertama kalinya mengenal mbak Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa dan Habiburrahman El Shirazy. Rata-rata novel yang dijual di kota saya umumnya novel bernapaskan islam. Kota saya ini terkenal dengan julukan kota santri di Madura. Sulit sekali saya menemukan novel-novel terbitan luar seperti Harry Potter, Novel Karya Agatha Christie, Enid Blyton, Sidney Sheldon, John Grisham ataupun Sandra Brown. Pernah suatu ketika saya ingin memiliki 4 seri Novel Winnetou :Kepala Suku Indian Apache karya Karl May. Karena harganya sangat mahal, saya selalu bilang sama orang tua kalau rangking saya masuk lima besar di kelas, saya ingin hadiah novel-novel tersebut. Mas saya yang waktu itu sedang kuliah di Jember, dimana ada gerai gramedia, sehingga saya bisa memesan buku tersebut lewat mas saya. Orang tua saya sering geleng-geleng kepala, karena anaknya suka membeli buku novel daripada buku pelajaran sekolah. Kalau membeli buku pelajaran sekolah, orang tua saya biasanya langsung ngasih duit. Tapi kalau beli novel, orang tua saya agak enggan memberi uang. Jadi, kunci satu-satunya yah menabung. Kalau disuruh bapak membeli rokok terus ada kembaliannya, saya biasanya meminta kembaliannya diambil oleh saya. Pokoknya saya selalu ready begitu disuruh beli sesuatu di toko kelontong. Itung-itung kembaliannya buat nambah uang buat beli buku. Saya menyukai semua jenis buku selama nyaman untuk dibaca. Bisa itu komik, novel, kumpulan esai, kumpulan cerpen ataupun biografi. Waktu SD saya suka baca buku sejarah terutama sejarah kerajaan di Indonesia, Legenda, cerita rakyat dan cerita detektif. Beruntungnya saya bersekolah di SD swasta di daerah saya-yang notabene siswanya adalah Anak dari Pak Camat, anak dari Tokoh tentara/Polri, anak dari Tokoh terpandang lainnya di daerah saya serta sebagian besarnya adalah anak dari para karyawan perusahaan PT. Garam Persero. Perusahaan yang pernah memiliki masa keemasan di Madura ketika tahun 1960 sampai tahun 1990-an dan menjadi donatur bagi sekolah saya. Makanya tidak heran kalau koleksi perpustakaan sekolah saya sangat lengkap sekali. PT Garam Persero ini adalah Perusahaan yang bergerak di bidang industri garam dan bekas perusahaan yang dinasionalisasi di era zaman kemerdekaan. Dulunya perusahaan ini adalah milik belanda. Di daerah saya, kalau ada seseorang yang bekerja di Perusahaan PT. Garam Persero, mereka termasuk kalangan orang berada. Umumnya mereka pendatang dari Jawa yang telah bergelar insinyur. Hampir semua karyawan Perusahaan ini mempunyai rumah dinas sendiri. Mungkin ada sekitar ada 300 rumah dinas dan membentuk cluster tersendiri di daerah saya. Lokasinya berdekatan dengan Pantai dan Benteng Peninggalan Belanda yang luasnya hampir 4 hektar. Lokasi yang sangat strategis. Di kompleks ini ada kolam renang, taman bermain, Lapangan tenis, Lapangan Sepak Bola, Lapangan Basket dan Lapangan Badminton, Pelabuhan serta Bioskop. Padahal tempat saya bukanlah daerah kota. Hanya sebuah desa kecil tetapi telah memiliki sarana publik yang memadai. Sementara itu penduduk asli setempat mengadu nasib menjadi buruh kasar tambak garam ataupun mandor. Kalau seorang Mandor prestasinya bagus, biasanya akan diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan ini. Dan tentunya dia akan berubah status menjadi orang terpandang.

Karena siswa sekolah saya adalah anak-anak dari kalangan terdidik, sekolah saya selalu menjadi juara umum dalam setiap Lomba. Tidak Hanya Lomba Cerdas Cermat, Kesenian, Olahraga tetapi juga Lomba Kebersihan. Kalau pulang kampung dan saya melewati jalanan di depan sekolah ini, saya selau teringat jaman esde dulu. kalau istirahat, selalu duduk dan bermain dibawah Rindangnya Pohon Kamboja, Pohon Akasia dan Pohon Lainnya yang cabang cabangnya memanjang. Sekolah kami memiliki taman dan kebun Toga serta Kolam Ikan. Pokoknya enak sekali buat belajar. Apalagi leyeh-leyeh karena begitu hijaunya esde saya. Guru-Guru di sekolah saya adalah Guru teladan di daerah saya. Awalnya mereka adalah Guru Sekolah Dasar Negeri. Mungkin karena tergiur dengan Gaji di Yayasan sekolah saya, mereka akhirnya mengajar di tempat kami. Status mereka adalah Guru diperbantukan di sekolah swasta, sehingga gaji mereka adalah double. Perasaan pertama kali ketika saya masuk sekolah ini adalah minder. Maklum saya bukan anak dari karyawan PT Garam Persero. Karena orang tua saya memiliki khayalan tingkat tinggi, saya akhirnya disekolahkan disini. Prestise. Padahal mas saya hanya disekolahkan di SD Negeri. Jadi Nasib saya gak jauh beda dengan Shancai di Serial meteor Garden. Orang udik bin kampungan nyasar ke tempat anak anak berkelas. Saya sering kurang nyambung kalau diajak cerita film anime. Dulu antenna di kampung saya tidak menjangkau stasiun televisi swasta seperti SCTV, RCTI, ANTV. Meski sudah dipasang tiga tiang tinggi sampe 20 meter, tetap saja tidak mampu menangkap siaran UHF. Hanya TVRI yang gambarnya bening di televisi. Teman teman saya ini memiliki Antena Parabola jadi wajarlah kalau menangkap semua stasiun televisi dalam negeri dan luar dan tentunya layarnya nyaris tanpa bintik. Makanya saya takjub ketika mereka membicarakan film Power Rangers,Yoko, Ksatria Baja Hitam, Casper, Winspector dll. Jadi saya di sekolah hanya menjadi pendengar yang baik ketika teman saya menceritakan  kembali tontonan anime, sembari berusaha mereka-reka seperti apa sosok ksatria baja hitam. Ksatria yang katanya bisa berubah wujud. Sayang sekali Perusahaan PT Garam Persero tahun 1997 dihantam krismon. Nasibnya tidak jauh beda dengan PT. Timah di belitong seperti yang diceritakan dalam buku laskar pelanginya Andrea Hirata. Banyak karyawan yang di PHK dan mengambil pesangon.  Saya banyak kehilangan teman teman saya di sekolah. Mereka kembali ke jawa mengikuti orang tuanya. Rumah-rumah dinas yang biasa mereka tempati pun kosong melompong. Tidak terawat dan hampir bangunannya roboh dimakan usia karena lama ditinggal penghuninya.Padahal rumahnya bagus-bagus. Gede pula. Benteng Belanda yang berada dekat kompleks perusahaan ini pun roboh juga. Benteng belanda tersebut juga dimiliki oleh Perusahaan ini karena sebagian bangunan peninggalan benteng ini dijadikan perkantoran. Benteng ini unik sekali. Arsitekturnya bergaya Victorian. Beda sekali dengan Benteng Vrendeburg Di Yogya. Malah mirip dengan bangunan Benteng Onrust. Kalo saya lihat tuh bangunan ini mirip perpaduan benteng dan perkantoran dagang zaman belanda seperti di Kompleks Kota Tua Jakarta. Ada menara ,ada jam dinding ukuran besar mirip bigben, Lonceng, Gereja Kuno, rel kereta api dan ruang bawah tanah yang memanjang. Padahal kalau benteng ini dirawat, saya yakin banyak orang belanda berdatangan ke Indonesia untuk menyaksikan kejayaan nenek moyang mereka dalam membuat benteng pertahanan. Sedih sekali ketika beberapa tahun kemudian bangunan ini dirobohkan dan batu batanya diambil. Kemudian satu persatu besi besi peninggalan belanda baik yang melekat pada bangunan atau yang tidak melekat seperti  potongan rel, tangki minyak, gerbong kereta ini pun turut dijual. Hanya sedikit yang masih tersisa dari benteng peninggalan belanda ini. Padahal bangunan ini adalah cagar budaya yang perlu dilestarikan dan tak ternilai historinya. Kemarin-kemarin ketika mampir ke situs ini dan mau ambil photo disana, bingung objek mana yang mau diambil. Miris.

Btw, topik saya kok agak melebar yah. Padahal rencananya mau bahas perjuangan saya untuk memiliki koleksi buku tetapi kok bahas Benteng hehehe. Ok kita lanjutkan yah. You know, I have the most favorite book. Meski koleksi saya banyak,  saya punya buku yang menjadi favorit bacaan saya. Bacaan yang saya baca kembali berulang di kala senggang. Apalagi kalau bukan buku karya Karl May berjudul Winnetou. Dulu di Gramedia harganya 120.000. saya beli buku ini tahun 2004. Padahal buku ini ada 4 seri jadi total harganya 480.000. Bingung juga mau menabung sampai uang segitu. Akhirnya ketika kenaikan kelas, saya masuk rangking lima besar. Akhirnya buku seri pertama, saya miliki. Sebagai Hadiah dari ortu saya. Di Ultah saya yang ke 16 saya mendapat hadiah buku seri kedua dari pacar mas saya. Alhamdulillah. Tinggal buku seri ketiga dan keempat. Buku Karya karl May ini mendapat tempat khusus di hati saya. My whole adolescence stood under his sign. Buku yang isinya menurut saya tak akan lekang waktu dan tetap mengikuti perkembangan zaman. Padahal diterbitkan pertama kali di era tahun 1900-an, namun buku ini dicetak ulang lagi sesudahnya sampai sekarang dalam beberapa versi seperti novel, komik, novel bergambar dan cocok dibaca segala usia. Cerita Karl May dalam Winnetou memang mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang luar biasa. Di mana sebuah ide untuk menentang kolonialisme dan pembunuhan suku dan ras dikemas dalam cerita petualangan yang sangat inspiratif dan motivatif. Membaca Winnetou akan mengajarkan kita bagaimana bersikap manusiawi terhadap sesama, melupakan perbedaan-perbedaan, mengasah naluri humanisme. Selain itu bahasa yang digunakan pun cukup ringan dan mudah dicerna. Tidak rugi rasanya saya mengeluarkan uang hanya untuk berburu tetralogi Winnetou. Akhirnya Buku keempat sudah saya miliki dan saya peroleh di Gramedia Pontianak. Stoknya tinggal satu dan terselip tersembunyi di rak. Tinggal buku ketiga yang belum saya dapatkan. Saat ini Winnetou merupakan buku novel yang sudah langka di toko-toko buku. Semoga saja saya bisa membeli novel ketiga Winnetou via website yang bekerja sama dengan Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI).

Tentang karya May yang masyhur itu, fisikawan Albert Einstein pernah memberi testimoninya bahwa buku ini banyak mempengaruhinya di masa remajanya. Testimoni itu adalah satu diantara ulasan tentang karya May yang diyakini sebagai salah satu tulisan fiksi terbaik yang digemari oleh banyak insan di bumi. Termasuk Adolf Hitler. Konon katanya juga para pejuang kemerdekaan seperti Moh. Hatta, Sjahrir, Jenderal Sudirman, mendapat inspirasi kemerdekaan setelah membaca novel Karl May.  Saya mungkin adalah penggemar yang terlambat, mengingat sudah banyak sekali penggemar-penggemar Karl May. Sampai-sampai ada sebuah paguyuban dan yayasan yang khusus melestarikan karya-karya Karl May.


Sudah pasti, tetralogi Winnetou adalah fiksi fenomenal yang meninggalkan kesan dalam bagi pembacanya, termasuk saya. Pertemuan Old Shatterhand dan Winnetou melalui rangkaian cerita pendahuluan yang sangat dramatis, sehingga tumbuhlah persahabatan kekal antara mereka berdua, dan keduanya menjadi saudara sedarah adalah sebuah sifat egaliter yang ditonjolkan May dalam menginspirasi kesetaraan segala ras, suku dan bangsa manusia di bumi. Saya terkesan pada bagaimana May, yang notabene seorang kulitputih, menuliskan semangat kesetaraan ras, sedikit bertentangan dengan arus pada masa itu yang terkadang sering memunculkan penindasan dan diskriminasi.

Nilai kemanusiaan yang kental pada karya May adalah semangat perdamaian dan saling menghormati. Pada era 1800 akhir, suku Indian yang mendiami daerah Amerika sebelum kedatangan bangsa Eropa, tergeser kedudukannya menjadi masyarakat marjinal. Mereka diburu, wilayah kekuasaan adat mereka direndahkan dan disepelekan oleh “mukapucat” yang menjadi pendatang di wilayah “kulitmerah”. Tetapi Old Shatterhand adalah pengecualian. Ia memasuki kawasan kulitmerah dengan sikap penuh persaudaraan. Ia membela hak-hak kulitmerah, termasuk mengubah pandangan mukapucat terhadap kulitmerah.

Lahir dan besar di negeri bangsa Aria tak membuat May menjadi seorang yang merasa superior daripada bangsa lainnya. Bila filsuf Freidrich Nietzsche, Karl Marx dan tokoh-tokoh atheis yang hidup sezaman dengannya mengecam agama sebagai sumber dekadensi dan tragedi manusia, maka May adalah orang yang teguh kepada agama namun bukan seorang yang fanatik pada agama. Seruan Howgh! yang sering diucapkan oleh Winnetou ketika mengambil kebijakan penting atau memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan bersama, adalah pesan May agar manusia lebih dulu berfikir sebelum berkata, dan bertindak konsekuen atas kata-kata yang diucapkan.

Rasanya kita tak perlu ragu pada konten sastra di setiap karya May. Ia menulis detil setting ceritanya seakan ia berada di lokasi penuturan atau kejadian. Saya mengira Old Shatterhand adalah sosok penjelmaan May itu sendiri. Seolah May menceritakan pengalamannya sendiri bertemu kepala suku indian waktu itu. padahal tidak! May baru berkesempatan mengunjungi negeri Paman Sam yang dikenal sebagai Wild West, justru setelah ia merampungkan novel-novelnya. Pun kunjungannya ke Afrika dan Timur Tengah, kawasan yang menjadi tempat petualangan tokohnya yang lain, Kara Ben Namsi. Persahabatan tokoh lintas ras dalam fiksi May adalah simbol egalitarian yang menghapus fanatisme kesukuan. Disini, tentu saja dalam pengertian lebih luas. Kepentingan egoisme kelompok atau individu dialihkan menjadi penghargaan humanisme.

Generasi sekarang mungkin tak begitu faham dengan novel-novel May. Tetapi bukan tak mungkin kekuatan cerita itu membius orang yang mencoba membacanya. May menghidangkan pesan perdamaian lewat Tokoh Old Shatterhand dan Winnetou yang berbeda ras . Sebuah pesan bahwa manusia, pada hakikatnya, dilahirkan dalam kodrat dan kedudukan yang sama. Manusia dilahirkan untuk saling berkerabat, bersaudara satu dengan lainnya. Tetapi ambisi dan egoisme telah menjadikan saling bermusuhan, saling menindas. Karl May menyisipkan pesan kemanusiaan itu pada novelnya yang legendaris. Kini, lebih seratus tahun setelah novel itu ditulis, saya bisa dengan jelas membayangkan Old Shatterhand dan Winnetou berlalu dengan kedua kuda mereka di padang prairie, sejelas saya bisa menangkap pesan kemanusiaan yang dibisikkan May melalui pilihan kata-katanya.

Dari situ saya tahu bahwa Karl May adalah seorang penulis berkebangsaan Jerman lahir pada 25 Februari 1842, penderita penyakit disassosiative identity disorder atau penyakit berkepribadian ganda. Penyakit yang dideritanya itu pun lantas menjadikan sebagian hidupnya berada dalam sebuah ruang sempit penjara. Dalam penjara inilah Karl May banyak membaca buku-buku bertema geografi. Maka dari imajinasinya lahirlah karya besar dan legendaris berjudul Winnetou, menceritakan sebuah persahabatan antara seorang kepala suku Indian Apache bernama Winnetou dengan seorang kulit putih bernama Old Shutterhand dimana kisah persahabatan mereka menceritakan petualangan-petualangan seru dalam pengembaraan mereka dari daerah wild west (Amerika) sampai ke negeri Timur Tengah.


Itulah cerita singkat bagaimana awal mula saya berkenalan dengan Karl May. Luar biasa, dalam kekurangan yang ada pada dirinya Tuhan menganugerahkan kelebihan lain yang jarang dimiliki orang lain. Nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap karyanya pun merupakan nilai-nilai yang abadi sepanjang masa. Bahkan seribu tahun yang akan datang pun, nilai yang terkandung dalam cerita Karl May akan tetap relevan, akan tetap baru meski zaman berganti. Novel abadi yang luar biasa.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s