Serunya Nonton Djarum Indonesia Open Premier Super Series


Begini enaknya kalau hidup di Jakarta. Mau jadi suporter dan teriak teriak untuk mendukung Timnas, tinggal datang aja ke Gelora Bung Karno. Karena saya sudah cinta mati satu dua sampai cinta mati tiga kepada olahraga tepok bulu, kesempatan menonton Djarum Indonesia Open Premier Super Series pun tidak saya sia-siakan. Dulu cuma bisanya lihat lewat layar kaca di rumah. Waktu SD saya ngefans sama mbak Susi, Mia dan Mas Ricky Subagja. Saya paling gak tahan melihat gaya servenya mbak susi yang super melambai dan pukulan overhead mbak Mia. Tidak salah kalau saya sedikit mengadopsi gaya mereka ketika bermain bulutangkis. Waktu SD saya pernah mencoba kirim surat ke Mbak Mia dan Mas Ricky ke pelatnas Cipayung. Karena saya gak tahu detil alamatnya, maka saya hanya menuliskan Pelatnas Cipayung, Jakarta pada alamat suratnya. Entah surat ini sampe atau tidak ke tangan yang bersangkutan. Waktu itu isi suratnya saya  minta dibeliin raket  yonex kayak mereka. Hahaha konyol !!

Tiap kali menyaksikan pertandingan Bulutangkis di televisi, sering kepikiran kapan yah bisa nonton langsung ke Istora Senayan. Karena saya percaya dengan keajaiban mimpi, maka keinginan tersebut saya lekatkan terus di otak saya. Hingga akhirnya, 15 tahun kemudian, Saya bisa menginjakkan kaki di ibukota. Finally, My dream come true. Saya bisa menyaksikan turnamen bulutangkis Indonesia Open dengan mata kepala saya sendiri. Saya memesan tiket nonton semifinal via raja karcis. Alhamdulillah masih ready stock. Karena saya pengen diliput masuk televisi dari bangku penonton, saya mencoba meminjam rumbai-rumbai dari tali rafia pada teman saya. Maunya dijadikan wig. Berhubung rumbai-rumbainya susah dilekatkan ke kepala saya, maka tidak jadi saya bawa. Saya hanya membawa Bendera Merah Putih. Itupun saya pinjam ke bu kos saya. Pada hari-H nya saya berangkat dari bintaro dengan sepeda motor. Dengan bantuan fasilitas GPS, akhirnya sampe juga ke Gelora Bung Karno di senayan. Ketika sampai pelataran istora senayan, saya foto2 dulu. Saya juga datangnya agak awal sekitar jam 11 siang. Padahal turnamennya dimulai jam 2 siang. Ada mbak mbak yang nawarin spidol agar saya mengisi tulisan di  wall/semacam board yang sudah disediakan oleh Panitia. Di wall ini pengunjung bebas mau ngasih comment apa aja. Yah gak jauh jauh tentang penyelenggaraan Djarum Indonesia Open ini. Butet, I Luph U. Kamu pasti JUARA!!! Itu adalah sepenggal kalimat yang saya coret di wall bersama tanda tangan saya. Setelah itu, saya menuju loket penukaran karcis online yang juga loket VIP. Disana saya pun ikut tertib mengantre. Meski begitu, antrean tetap tidak bergerak semakin berkurang. Dasar orang Indonesia yang tidak mau budaya antri, langsung nyelonong ke depan loket tanpa mau berbaris. Pake acara dorong-dorongan lagi dan teriak teriak. Berisik. Padahal di depan saya, ada bule juga yang antre. Sepertinya mukanya masam. Orang yang gak mw antre ini gak mikir yah! bagaimana kalau pemandangan ini nantinya diingat terus oleh bule tersebut dan kemudian diceritakan kepada kolega mereka di luar negeri. Alangkah lucunya negeri ini. Saya sudah mengantre sejam tetapi masih tetap tak beranjak dari barisan saya. Tidak bergerak ke depan sama sekali. Petugas keamanannya juga tidak terlihat untuk mengatasi antrean ini. Payah!!! Ini turnamen kelas Premier Super Series bukan abal-abal buk!!! Karena sudah tidak tahan, saya menyuruh teman saya Johan untuk gantian mengantre. Saya shalat duhur dulu. Setelah salat saya muter2 dulu di area istora. Di dalam hall istora ada banyak banner bergambar bintang bulutangkis yang good looking seperti Taufik hidayat, Ricky Subagja, Ivana Lie dan lilyana Natsir. Naluri narsis saya pun kumat. jepret sana jepret sini🙂

Me and My Idol (Sama2 Ganteng)

                               ngisi tulisan motivasi di wall             seperti sungguhan

Setelah Puas mengambil gambar, saya pergi ke stan stan yang berderet sekitar pintu masuk stadion. Saya melihat ada antrean orang orang yang menunggu wajahnya digambar icon bendera. Rasanya gak lengkap kalo jd suporter fanatik tanpa gambar bendera di pipi. Sebelum memutuskan untuk menggambar wajah, saya tanyakan dahulu apakah pelayanan ini berbayar. Ternyata kita cuma disuruh bayar gretongan alias gratis tis tis. Sebelum wajah kita dicat, tukang riasnya mengelap muka dengan tissue, karena keringat akan membuat cat menjadi luntur. Setelah dicat, muka kita dibedaki biar cakep hehehe.


Setelah Jam 1 siang, akhirnya Johan telah mendapatkan karcis penukaran tiket online. Kami pun beranjak masuk ke stadion tempat berlangsungnya turnamen djarum Indonesia Open Premier super Series. Sedikit kecewa karena saya tidak akan menyaksikan penampilan Greysia Polii karena sudah tersingkir di babak perempat final. Untung Indonesia masih menyisakan 4 wakilnya di semifinal. Jadi saya masih bisa melihat penampilan pemain Indonesia lainnya. Ketika saya hendak masuk ke arena, ada penjual menawarkan balon lonjong buat di tepuk tepuk. Dari temen temen saya, hanya saya yang tertarik membeli balon tersebut. Saya membeli dua balon. Selesai cek tiket, akhirnya kami masuk. Di dalam, petugas panitia membagikan balon balon secara gratisan. Wah ternyata di dalem juga dapet balon gratisan, melayang sudah uang 10 ribuan. Sebel!!! untung saya belum hilang akal. Saya pun meminta dua balon lagi ke panitia. Sebelum berangkat ke istora, anak anak kecil tetangga kos saya meminta dibawain balon balon tersebut.  Akhirnya saya punya 4 balon. Yah lumayanlah buat diberikan kepada mereka.

Sebelum acaranya dimulai, ada acara pembuka yaitu tarian yang dibawain oleh cheerleaders dan Badut DIO. Saya pun terbius dengan suasana meriahnya stadion. Ternyata ruang stadion di dalamnya gak seluas seperti yang saya bayangkan. Partai pertama dilakoni oleh Pasangan😄 Indonesia melawan Pasangan😄 Denmark. Ya ampun ternyata emang benar penonton Indonesia tuh berisik bin heboh. Sampai ada yang bawa drum band segala ke tribun penonton. Alhamdulillah Butet dan Owi berhasil mengalahkan Thomas/Kamilla dari Denmark dengan straight set. Sedikit kecewa karena bangku penonton tempat saya duduk tidak diliput oleh kamera Kru Broadcasting. alhasil wajah saya tidak jadi nampang di televisi :p . Capek juga udah pake ngibar bendera lagi, tapi gak di-shoot. Padahal saya sudah sms orang rumah di kampung kudu liat TV kalo saya bakal masuk televisi hihihi. Mungkin penampilan saya yang agak kurang unik sehingga lolos dari tayangan kamera. Ada salah satu penonton unik yang gak pernah luput dari kamera kru TV. Penonton tersebut berpakaian ala Mbah dukun dan lengkap dengan shuttlecock yang memenuhi baju dan topinya. Seharusnya saya duduk di samping dia biar muka saya bisa mejeng di televisi hehehe.

Butet dan Tantowi

Hendra Setiawan dan Markis Kido

Partai kedua yaitu Hendra/Markis Kido melawan Caiyun/Fu Haifeng dari China. Astaga ternyata orang cina tuh bening sekali. Kalau lihat dari TV, kulitnya tidak sebening bila saya saksikan langsung di lapangan. Apalagi pas partai Ganda Wanita dimana ada Ganda Wanita Jepang yang gak kalah cantik dengan Miyabi. Menyapa stadion dengan rok pendek dan bodi yang semampai, Mizuki Fujii dan Reika Kakiwa membuat mata saya jadi mbelo. Gak tau yah kenapa kalo liat pemain jepang, enak banget diliat. Feminin. Gak jauh beda dengan aktris aktris dorama. Kontras sekali dengan penampilan Nadya Melati yang tomboy dan macho untuk ukuran wanita. Beruntungnya mulai tahun depan, semua pemain badminton wanita dilarang pakai celana pendek. Semoga aja regulasi ini bisa dipatuhi para pemain wanita biar bisa ada yang kayak sharapova dan hingis di Olahraga bulutangkis. Jadi enak diliat di mata. Meskipun begitu, saya tetep dukung pemain Indonesia. Salut dengan Nadya Melati yang gak bosen bosen melakukan jump smash. Heroik sekali. Akhirnya Vita/Nadya Melati lolos ke Final Djarum Indonesia Open menyusul Pasangan Butet/Owi setelah mengalahkan ganda jepang ini.

Hiruk Pikuk Stadion Istora

Setelah puas nonton sepuluh partai pertandingan, tiba saatnya saya pulang. Jam menunjukan waktu magrib. Sayang sekali pada pertandingan pamungkas, Bona/Ahsan kalah melawan ganda China. Nyesek. Kalah dengan rubber set. Di poin poin kritis mereka banyak melakukan kesalahan yang tidak seharusnya mereka lakukan. Unggul lebih dahulu malah kesalip. Gak seru nih dijadikan kado manis untuk balik ke kosan lagi. Padahal menurut saya, Bona Ahsan maennya sudah bagus. Apalagi sudah dibantu dengan teriakan super heboh para penonton, yang katanya paling berisik daripada penonton bulutangkis di luar negeri. Makanya gak heran siapa yang ingin menjadi juara di Djarum Indonesia Open harus siap siap dengan kehebohan penonton di Istora. Banyak sekali pemain luar yang penasaran untuk menjadi juara disini. Nyali dan mental mereka diuji untuk berhasil menundukkan kehebohan penonton Indonesia yang gak kenal minta ampun.

Mejeng dulu sebelum pulang

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Serunya Nonton Djarum Indonesia Open Premier Super Series

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s