Sepenggal Perjalanan dari Bandung (Part 1)


Sudah lama saya gak ngeblog lagi di wordpress. Sebenarnya sudah banyak ide ada di kepala saya, cuma belum ada time untuk nuanginnya. Sibuk dengan banyaknya tugas kuliah dan segala macam yang membuat saya candu tidak mau belajar, dan sekarang saya benar benar lg free. Ujian Akhir Semester dah kelar. Berdoa saja, semoga nilai saya bagus bagus semua, Amin.

Tahun ini benar benar “What a Year” bagi saya. Tahun yang luar biasa. Saya merasakan indahnya kebersamaan dan kekompakan dengan semua teman saya di kelas 2d. Kelas yang sangat beragam penghuninya. Bhineka Tunggal Ika dari Aceh sampai Papua. Semua seperti saudara. Karena kalianlah rasa kangen kampung halaman jd terobati. Belajar bareng, karaoke bareng, dinner bareng, paduan suara bareng, olahraga bareng dan Galau bareng bareng pas musim ujian hehehe. Terima kasih juga kepada semua pihak yang sudah sibuk buat acara perpisahan kelas di ciwidey. Desain kaosnya keren sekali. Buku Tahunan kelasnya juga. ayo, kapanlagi kita seru-seruan? Tahun depan kita akan diacak kelas lagi. Semoga kita merasa nyaman di tempat yang baru nanti dengan teman yang lebih wah lagi.

Pada kesempatan ini, saya ingin menceritakan pengalaman liburan perpisahan saya dengan teman teman sekelas saya di ciwidey, Bandung. Biar serasa kayak komik, saya perkenalkan dulu tokoh utama dalam perjalanan disini. Siapa lagi kalau bukan saya Indra Ardiansyah (saya yang punya blog, situ jangan pada protes yah :p ). Lahir di Sumenep. Kecil dan Besar di Desa kalianget timur, ujung paling timur banget pulau garam. Anaknya unyu, lugu, tapi kadang bisa mature juga. Status masih single (yang terakhir ini abaikan saja hehehe).


Acara liburan kali ini mendadak sekali. Selesai ujian hari rabu, kamisnya dah mesti harus ke Bandung. Berangkat dari kampus jam 8 pagi. Saya sedikit kena semprot teman teman karena saya datangnya ngaret. Janjiannya jam 7 kita dah harus berangkat, tapi saya baru bisa datang jam setengah 8 karena bangun kesiangan jam setengah 7. Tumben kali ini teman-teman saya bisa datang tepat waktu. Biasanya kalo ada acaranya ngumpul-ngumpul, pasti molor dan baru mulai 1 jam dari waktu yang telah disepakati. Mungkin teman-teman sudah gak sabar me-recharge pikiran yang sempat galau gara-gara ujian horor selama seminggu. Ketika bus yang kami tumpangi melewati tol di sektor 7 bintaro, kami baru sadar bahwa kami masih ketinggalan satu personel lagi di bus. Ternyata Aris. Anak yang suka bilang “saya asli Solo”, padahal asli karanganyar. Dari dulu Orang Sukoharjo, Karang Anyar, Wonogiri emang paling suka bilang asalnya dari solo, karena di zaman belanda mereka tuh masuk wilayah kekuasaan keraton solo. Mungkin karena kedekatan historis di masa lampau, membuat orang yang lahir disana tidak pernah bisa melupakan Solo. Ini juga yang membuat saya bingung antara Surakarta dan Solo. Kalau gak salah baca di literatur, Solo itu nama lama dari surakarta yah??

Karena sudah masuk tol, ya sudah kita terpaksa balik lagi ke kampus setelah keluar tol. Kasian si aris sudah bayar mahal cuma buat ikutan acara ini. Untung masih gak kesiangan karena jam 1 kita harus bisa nyampe ciwidey. Untungnya lagi, Tolnya juga masih dekat kampus. Busnya tinggal muter aja. bus yang kami sewa ini memiliki fasilitas karaoke plus AC. Lumayan buat hilangin suntuk selama perjalanan menuju bandung via tol Cipularang yang katanya bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Celakanya, abang supirnya cuma punya lagu lawas macam panbers, lagu barat jadul yang liriknya belum pernah saya denger sama sekali. Diantara lagu-lagu barat lawas tersebut ada My Heart Will Go On nya Celine Dion. Ini kaset tahun 80-an kok bisa terselip lagunya soundtrack Titanic yah ckckckck. Praktis selama 3 jam, mic tuh dikuasai oleh si bisker butar butar anak medan yang emang hapal banget dengan lagu lagu jaman dulu. Pas diputerin lagunya My heart Will Go On, gila nih si bisker langsung bisa menjelma kayak Celine Dion. Meski berdarah batak, suaranya solo banget. Suaranya benar benar sebening embun. Gak heran kalo si bisker dapat julukan Celine Dion atau Mariah Careynya kelas 2D. Dan suaranya lagi sukses membuat saya tertidur selama perjalanan.

Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali

Sebuah lagu perjuangan mengalun dari hape saya ketika bus keluar dari tol Cipularang. Bus telah memasuki wilayah kabupaten Bandung. Mata saya tak henti menyusuri setiap sudut jalanan dari jendela bus. Bandung telah banyak berubah. Bandung yang dulunya dilalap api menjelma menjadi kota kembang. Tapi itu dulu. Sekarang wajah bandung tidak jauh dengan potret ibukota provinsi lainnya. Satu problem yang selalu melanda kota-kota besar apalagi kalau bukan sampah dan polusi. Jangan harap kamu menemukan banyak kembang disini, Penghijauan di kotanya aja minim. Malah sekarang ada kota Tomohon di Gorontalo sana sekarang mengklaim kotanya sebagai ikon kota bunga. Bunga dan kembang bagi saya sama saja.

Wah, ternyata ciwidey tuh masih jauh. Masuk kabupaten bandung selatan. Jadi, kita masih ke arah selatan lagi. Gak salah kalau bandung tuh emang wajib dipecah jadi 4 kabupaten/kota yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat.  Wilayahnya memang sangat luas, karena menuju ciwidey dari Kabupaten Bandungnya masih juga jauh kurang lebih sejam. Satu administrasi pemerintahan gak mungkinlah ngurusin wilayah seluas ini sehingga memang benar wajib dimekarkan.

Ketika memasuki ciwidey, udaranya sejuk sekali. kita disuguhin panorama kebun teh di kanan kiri jalan. Terhampar luas bak permadani hijau. Baru kali ini seumur hidup saya bisa lihat kebun teh dari dekat dengan para petani yang sibuk memungut daun teh. Prend, you know, selama ini saya hanya bisa melihat pemandangan ini lewat tayangan iklan-iklan teh atau juga FTV di SCTV yang banyak mengambil setting di desa desa perkebunan teh. Waktu kecil, saya selalu terkesima “kok ada yah desa yang semuanya hijau sekali. Pasti menakjubkan tinggal disini”. Dan ternyata bayangan semasa kecil ini ga jauh beda dengan yang saya saksikan sekarang. Semua petani lengkap dengan topi khasnya beserta sebuah bakul di badannya.  Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, ciwidey memang pas buat acara rileks dan ngilangin stress. Udaranya begitu asri khas pegunungan. Badan terasa menyejukkan dan satu lagi, disini kita tidak takut akan kepanasan karena hawanya memang sedikit dingin. Kita berada di dataran tinggi dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.

Kita menyewa sebuah villa lengkap dengan kolam renangnya. Arsitekturnya sedikit bergaya eropa klasik. kalau saya lagi santai di pekarangan, saya serasa berada di county-county  di Belanda. Hening. Terpencil ditengah hamparan kebun teh dan agak jauh dari jalan raya. Jauh dari kebisingan. Hanya suara percikan air dari sumber panas pegunungan yang mengalir syahdu di dekat kolam villa yang airnya terus mengalir ke sungai di sebelah vila. Menuju lantai atas vila,  saya berteriak histeris di sudut jendela yang tampak terbuka. “Oh My God, This scenery is so exotic” (yang ini boong, terlalu lebay kalo teriaknya begini hehehe). Well, Yang jelas saya merasa mengharu biru. Terbius dengan suasana sekitar. Takjub sampai gak bisa ngomong apa-apa. Kalau dibawah vila tadi saya serasa berada di belanda, nah di atas saya merasa diri saya berada di verona italy, meski bukan ladang perkebunan anggur yang saya lihat.

Setelah rehat selama 1 jam sambil makan siang, Jam 2 siang kita berangkat ke Kawah Putih dengan naik bis. Cuma 10 Menit dari villa, kita sudah sampe disana. Ada tulisan selamat datang di Kawah Putih.  Setelah markir bis, kita bayar tiket masuk plus sewa angkot yang memang khusus ditujukan untuk wisata kawah putih. Pikir saya setelah turun dari bis, kita bisa langsung liat kawah, eh ternyata masih 5 km kita baru bisa liat kawahnya. Sepanjang jalan menuju kawah putih gak ada rumah sama sekali. Hanya barisan pepohonan yang tinggi-tinggi. Sementara Jalanan terus menanjak. Ternyata kawasan ini merupakan hutan lindung. itupun saya baru ngeh setelah baca suatu plang di jalan.

Akhirnya kita sampe juga di kawah putih. Kawah ini berada di Gunung Patuha. Sebagian ada yang mengatakan Gunung Sepuh. Gunung ini pernah meletus pada abad XII yang dengan letusan tersebut membentuk sebuah kawah seperti yang sedang saya saksikan. Konon katanya, Gunung ini tempat bersemayamnya para roh leluhur dan dianggap angker oleh masyarakat setempat. Pada tahun 1800-an seorang belanda peranakan jerman bernama Dr. Franz Wilhelm mengunjungi daerah bandung selatan. Kata Masyarakat setempat, bahwa burung burung yang melintasi gunung tersebut akan jatuh dan mati. Merasa tidak percaya dengan kepercayaan masyarakat setempat, si doktor ini nekad menerobos hutan belantara. Disana ia menemukan sebuah danau indah. Danau yang terus menyemburkan lava dengan bau belerang. Pantesan si burungnya gak berani memasuki area ini. Pada saat itulah cikal bakal munculnya pabrik belerang di kawasan ini. Dari zaman belanda sampai zaman pendudukan jepang. Tapi sepertinya, sudah tidak ada lagi aktivitas menambang di daerah ini. Tuhkan kenapa sih harus orang luar negeri yang menemukan situs bersejarah. Candi Borobudur, Candi Gedong Songo, Bunga Raflessia yang menemukan tuh raffless. Terus fosil fosil Manusia Prasejarah di sangiran juga orang barat. Hmm..begini kalo percaya hal mistik, selalu menjadi yang terbelakang.

air belerang tampak lebih hijau kalau mendung


 

Kawah putih, sebenarnya gak putih sih, warnanya kelihatan hijau kebiru-biruan malah. Disini emang selalu jadi tempat foto prewedding. Ada tulisan plang dilarang berenang di sekitar kawah. Berenang??membayangkan saja sudah ngeri. Tapi ada sebagian orang yang menyentuh airnya, tapi mereka gak apa apa kok tangannya. Suasana dan hawa di kawah putih tidak panas. Malah sejuk dengan balutan udara pegunungan. Mungkin yang mendidih tuh dibawahnya kali ya?? Gak tau gunung ini masih aktif atau gak, karena gak ada pusat informasi di kawasan wisata ini. Sampe disini, saya bingung mau ngapain. paling jepret sana sini terus foto narsis, berebutan dengan teman teman lain yang mau foto hahahaha. Coba konsep wisata ini dibuat ada unsur edukasinya pasti lebih menarik lagi. Kalau bisa ada guide tour yang memandu pelancong sambil ngobrolin tentang sejarahnya. Apalagi kalo yang datang anak-anak SMA, kawasan ini asyik dibuat belajar ttg pelajaran geologi, biologi dan kimia. Kita bisa belajar apa yang namanya belerang dan sifat-sifatnya. Untuk pelajaran biologi kita bisa belajar pola vegetasi di sekitar kawah. Ada banyak pepohonan yang bisa bertahan hidup di sekitar kawah meski  dengan melepas daun-daunnya. jadi kalo begini akan terasa menyenangkan kalo kita bisa wisata sambil belajar. Jadi gak percuma datang jauh-jauh karena selain dapat pengalaman kita juga dapat ilmu, right?

Jam setengah lima kita break karena jam 5 sudah tutup kawasan ini. Sambil menunggu angkot jemputan, gerimis hujan menyambut kami. Sepertinya hujan lokal, karena ketika saya tiba di villa, malah tidak hujan dan langit sore masih cerah. Karena ngeliat kolam renangnya sudah diisi dengan air hangat, kita semua berhamburan menuju kolam renang. Disini saya sempetin belajar renang dan saya sukses belajar renang gaya batu. Mau mengepakkan tangan, eh nyelem duluan. Parah!!!

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sepenggal Perjalanan dari Bandung (Part 1)

  1. EffanStefan berkata:

    Kpn Part 2 dirilis???

  2. moJanG berkata:

    yah walopun semrawut dan padat saya tetep cintah bgt ama bandung.. horas!!!!!

  3. Indra berkata:

    orang bandung kok bilang horas🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s