Sepenggal Perjalanan dari Bandung (Part 2)


Hari semakin petang. Udara Pegunungan semakin menebarkan ancaman hawa dingin. Saya berhenti untuk mandi lebih lama di kolam air panas, karena badan ini semakin menggigil. Malam ini, saya dan teman teman sekelas akan menghabiskan malam di vila. Penyakit saya kembali kumat karena tidak tahan dengan hawa dingin pegunungan. Berkali-kali saya bersin dan terus pilek. Hah, sungguh terasa jengah. Pukul 7 malam, kami berkumpul di ruang tengah menonton televisi dan dinner. Kala itu, kami menyaksikan jalan pertandingan penyisihan sepakbola Sea Games antara Indonesia dan Malaysia di MNC TV Sport. Seperti biasa kalau nonton bola rame-rame pasti heboh. Jeritan suara kami terdengar membahana ketika pemain Timnas nyaris menjebol gawang Malaysia. Di luar sangat gelap mencekam. Karena di dalam ruangan vila semakin dingin, akhirnya kami meminta kayu bakar kepada penjaga vila untuk menghidupkan perapian. Sayangnya, kayu bakar itu kita harus beli lagi sebesar 75 ribu karena biaya ini tidak include dengan biaya sewa penginapan villa, beuh.

Setelah kecewa menonton pertandingan sepakbola dimana kami harus menyaksikan timnas kalah lagi dengan Malaysia, kami melanjutkan bermain kartu UNO. Sementara saya memilih melanjutkan untuk tidur, karena mata saya tidak dapat diajak kompromi. Mungkin karena kelelahan akibat belajar berenang di kolam vila. Kami mendapat jatah dua ruangan dimana satu ruangan cukup menampung 9 anak dengan kasur kasur yang terhampar di lantai. Saya mendapat kamar di lantai atas. Well, disana sudah ada dua teman saya yang ingin tidur malam. Saya merebahkan di atas kasur dan menarik selimut, memejamkan mata. Tapi sayangnya, hawa dingin kembali menunda tidur saya. Saya tidak langsung bisa tertidur. Sambil berusaha untuk tidur, pikiran saya menerawang kemana-mana mengingat hal hal yang telah saya lalui. Lalu ketika mengingat sesuatu yang sangat lucu sekali, saya ngakak keras-keras. Ibnu, teman saya yang tidur tidak jauh dari kasur saya  terbangun. Sambil membuka selimut yang menutup sekujur tubuh saya, dia bertanya, “Indra, kamu sadar kan?”. Dibilang seperti itu, saya semakin ngakak. Biar suasana tambah serem dan mistis, saya memodifikasi gaya ketawa macam orang kesurupan. Dan akting saya pun berhasil membuat mereka ketakutan. Karena perut ini sudah gak tahan karena kebanyakan tawa, saya pergi ke kamar mandi di lantai dasar. Di ruang santai lantai dasar, teman-teman masih bermain kartu UNO, sebagian ada yang menonton televisi. Saya menuju kamar mandi yang terletak paling belakang dan bersebelahan dengan ruang dapur. Dari ruang santai, dapur ini masih dapat terlihat meski terpisah sekitar 12 meter. Di dalam kamar mandi masih ada orang. Sambil menunggu, saya masuk ke dapur, mungkin air krannya masih hidup untuk membasuh muka. Di dapur ini ada jendela dengan kaca yang berukuran besar. Dari jendela tersebut kita bisa melihat perkebunan teh di kejauhan kalau siang hari. Karena ada bayang bayang atau sosok seseorang dengan warna putih di luar jendela, saya mencoba mendekati ke arah kaca jendela untuk memastikan apakah yang saya lihat bukan ilusi. Ternyata di luar tidak ada apa-apa. Berarti saya sedang berhalusinasi. Hanya bayangan saya sendiri yang terpantul di jendela. Ketika mendongak kepala ke atas, barulah saya berteriak keras sekali. Suara saya yang kenceng sampe kedengeran dari ruang santai. Sosok bayangan putih itu tiba tiba berada di samping saya. Teman saya yang berada di ruang santai melihat saya berlari-lari menuju ruang santai. Teman-teman saya bertanya,”Kamu kenapa,dra?”. Saya mencoba tidak menjawab pertanyaan teman saya. Apalagi ini adalah malam hari dan di antara personil kami ada personil cewek yang ikut berwisata ke bandung. Kalau saya cerita, saya takut anak-anak semakin ketakutan di villa ini. Saya langsung pergi ke lantai dua melanjutkan tidur saya. Dari jendela di lantai atas, saya melihat Hantu tanpa kepala berjaket kuning sedang berdiri di pekarangan villa. Hi..seremm. Entah itu ilusi atau tidak, saya mencoba untuk tidak memikirkannya. Entah kenapa, setelah melihat kejadian-kejadian menyeramkan malam itu, saya bisa langsung tertidur pulas hingga pagi keesokan harinya.

Keesokan paginya, Matahari bersinar cukup cerah menerangi hamparan perkebunan teh yang masih diselimuti kabut. Saya turun dari Lantai dua dan keluar vila. Tiga teman saya sedang mandi di kolam renang. Saya tidak ikut berenang bersama mereka karena saya tidak membawa kelebihan baju. Saya berjalan-jalan di pekarangan sekitar villa sambil menghirup udara pagi yang begitu segar. Ketika saya menghembuskan napas, saya merasa ada seperti asap muncul dari hidung dan mulut saya. Owh jadi seperti ini yah kalo orang orang di eropa di kala musim winter. Setiap kali berbicara akan menghembuskan asap yang keluar dari sela-sela hidung dan mulut. Badan saya masih terasa kaku setelah bangun tidur. Sambil menghirup udara segar saya menggerakkan badan dan melemaskan  otot. Tidak ada yang lebih sehat tinggal di desa, dengan menghirup udara yang jernih dan bebas polusi. Tidak perlu merasa takut bahwa udara sejuk pegunungan ini akan mencemarkan saluran pernafasan kita. Di Jakarta, menghirup udara bersih susahnya minta ampun. Belum lagi kalau memakai masker, membuat susah untuk bernapas.

Seorang pedagang asongan bakso melintas di villa. Saya menghentikannya. Lumayan untuk mengusir dingin, pikir saya. Setelah puas menyantap bakso, saya pergi trekking sendirian menjelajahi bukit perkebunan teh yang Nampak di belakang vila. Pengennya ngajak teman, tetapi mereka masih terbuai mimpi di pulau kapuk.

Saya meraba daun teh. Ternyata daun teh mirip daun daun pada pohon yang biasa kita lihat di sekitar kita. Nothing is special with the tea leaves. Jam setengah delapan pagi, Saya belum menemukan petani yang memetik daun teh. Entah apa karena saya terlalu pagi atau mungkin daunnya memang belum siap untuk dipanen. Setelah sekitar setengah jam mendaki bukit teh dan puas mengambil gambar dari ketinggian, saya turun lagi ke bawah. Kemudian saya duduk melepas lelah di pinggir jalan. Ada sungai kecil yang sepertinya menjadi sumber air bagi perkebunan. Sengaja kaki saya selonjorkan ke aliran sungai tersebut. Pada  detik itu saya merasakan sebuah kenikmatan yang begitu sensasi. Syaraf syaraf di otak menjadi sangat ringan dan nyaman. Terbius dengan suasana pedesaan yang hening. Bunyi kecipak air sungai terdengar syahdu menyanyikan sebuah melodi alam. Burung-burung pegunungan sesekali berdendang. Begitu Harmoni. Tempat-tempat seperti ini  cocok sekali untuk menghilangkan stress. Melepas berbagai tekanan pekerjaan di kantor. Melarikan diri dari kesibukan ibukota yang penuh kebisingan. Dan tentunya tempat asyik berlama-lama untuk merenungi sendiri. Diam.

Pukul 09.30 pagi, saya kembali ke kos karena kami akan bersiap-siap ke Situ Patengan. Orang sunda menyebut danau kecil atau telaga dengan sebutan Situ. Kalau air terjun, orang sunda biasa menyebutnya dengan kata Curug. Kalo orang jawa menyebutnya dengan nama Coban terutama untuk daerah sekitar jawa timur. Saya menaiki bus dari vila menuju situ patengan. Teman teman yang masih tertidur pulas terpaksa diseret, Diceburkan ke dalam kolam air panas, disiksa rame rame dengan pecutan (lho kok jadi adegan kekerasan begini #abaikan J). Kebanyakan teman-teman saya belum mandi dan berencana untuk mandi di situ patengan. Termasuk saya. Bus kami melewati jalan jalan yang berkelok-kelok dengan hamparan perkebunan teh di kanan-kiri jalan. Baru sekitar sepuluh menit kemudiah, tampak sebuah danau dari kejauhan. Dari jendela bus, Situ Patengan mirip sebuah danau indah yang tampak perawan. Belum terjamah karena lokasinya seperti tampak menyendiri di sebuah lembah dan tersembunyi di balik lebatnya pohon-pohon pegunungan. Saya merasa takjub. Pemandangan yang sangat eksotis. Tidak rugi kalau saya ikutan acara perpisahan kelas ini.

Ketika sampai di kawasan wisata Situ Patengan, kami tidak jadi mandi dan berenang di danau. Yah, bukan karena kami merasa tidak enak badan, tapi danaunya memang kurang pas untuk dijadikan tempat mandi rame-rame. Malah lebih cocok untuk kegiatan memancing meski danaunya kelihatan luas 65 ha. Kawasan ini sepi pengunjung. Mungkin karena bukan weekend, jadi yang datang waktu itu gerombolan dari kita semua. Di Situ Patengan terdapat boat atau perahu yang dapat disewa untuk muter-muter danau. Saya dan teman-teman tidak tertarik karena kurang menantang. Mungkin sensasinya terasa berbeda kalau kita bermain  boat di pantai atau laut.

Di sekitar kawasan Situ Patengan, banyak terdapat pohon pohon kurus yang menjulang tinggi. Vegetasinya mirip dengan vegetasi Iklim Tundra. Saya merasa seperti berada di musim semi di Rusia atau Kanada. Spring is a hope. Spring is a new beginning. Saya seperti benar benar merasa Horny Spring. Apalagi ditambah danau yang airnya tampak tenang, padang savana yang terhampar luas di pinggir danau dan suhu sekitar yang begitu dingin seolah meyakinkan pelancong seperti saya bahwa ini benar berada di negeri Eropa yang  beriklim dingin. Mungkin yang penasaran dengan negara Norway, Canada, Finland, Sweden, Siberia, Alaska gak usah pergi jauh-jauh kesana, tetapi cukup datang aja kesini dan rasakan feelnya yang hampir mirip. Setelah puas mengelilingi kawasan Situ Patengan selama satu setengah jam, Saya kembali ke kos lagi dan melanjutkan perjalanan ke Kota Bandung. Oh ya, di Situ Patengan saya sempat membeli cinderamata berupa busur dan panah yang biasa dipakai tokoh arjuna atau srikandi. Saya juga membeli buah yang cukup unik di mata saya yaitu buah pepmino. Bentuknya lonjong mirip alpukat dan berwarna belang-belang ungu. Baru pertama kali saya merasakan buah ini. Rasa buahnya mirip Buah Timun Suri tetapi ada sedikit rasa atau aroma pedasnya. Cara makannya cukup gampang, Tinggal ditekan aja dengan dua tangan mirip ketika kita akan menyantap buah manggis dan nanti akan terbelah dengan sendirinya. Hm…Yummy. Setengah kilo bayar goceng.

Jam 11 siang kita check out dari vila. Destinasi berikutnya adalah kota Bandung. Kota yang “katanya” mengatakan dirinya sebagai kiblat fashion Indonesia. Distro distro yang berkembang hingga pelosok tanah air, sejarahnya bermula dari kota ini. Saya baru ngeh kalo distro tuh singkatan dari distribution store. Aduh kelihatan katroknya. Distro ini adalah sebuah toko yang dititipi kaos, celana dan apparel yang berhubungan fashion dari clothing company. Siapa sangka, dari komunitas anak penghobi skateboard di tahun 90-an menjadi cikal bakal berkembangnya fashion dan lifestyle yang membentuk gaya anak muda bandung hingga saat ini. Tahu sendiri khan kalo anak-anak yang suka skateboarding, pakaiannya emang beda sendiri. Dandanannya sedikit nge-punk dengan celana jeans model baggy dan kaos yang extra slebor ditambah aksesoris segala macam yang melekat di badannya. Terkadang mereka menciptakan desain kaos atau celana yang bertabrakan dengan trend fashion saat itu. Proses kreatif dari merekalah yang akhirnya melahirkan clothing label lokal yang gak kalah dengan merk luar.

Dari sebuah skatepark kecil di Taman Ade Irma Suryani, dulunya ada sebuah toko atau ruangan bersama yang menyediakan studio musik serta menjual beraneka poster band asing, CD dan kaset musik, T-Shirt, aksesoris band yang langsung diimpor dari luar negeri. Dari toko inilah, semua beragam komunitas menyatu mulai dari yang punk, grunge, hardcore, emo, rock dan pop, atau komunitas apalah geto yang katanya memiliki keunikan tersendiri. Karena krismon, akhirnya toko tersebut banting setir dengan menjual produk dalam negeri salah satunya adalah kaos, karena tidak memungkinkan lagi untuk mengimpor dari luar karena harga dolar terus menaik terhadap rupiah. Desain kaos dibuat sesuai tuntutan selera pasar anak muda saat itu. Agar mampu merangkul semua berbagai komunitas, dibuatlah kaos untuk anak punk, pencinta skateboard, pop, rock, hip-hop, heavy metal yang kesemuanya menyampaikan pesan-pesan semangat pemberontakan anak muda dan ideologi-ideologi mereka. Sejak saat itu bermunculan clothing company dan clothing store /distro seperti airplane, Ouval, 347, Riotic dan lain-lain.

Tak dapat dipungkiri, Bandung banyak melahirkan musisi.  Nah kegandrungan anak muda bandung terhadap musik menjadikan street culture menjadi lebih kuat. Musik turut memberi warna kepada desain-desain kaos. Kafe-kafe bermunculan. Band-band yang mengusung dengan gaya Indie juga bermunculan. Tempat anak nongkrong semakin banyak. Ruang ruang publik semakin diperluas. Berbagai macam perayaan dan aktivitas musik muncul di jalanan. Fenomena urban culture lahir. Kalau kita ke Jalan Dago, kita akan melihat banyak anak muda yang dengan bebas mengekspresikan diri mereka. Jalan Dago ibarat semacam catwalk publik yang mengundang siapapun untuk memamerkan gaya dandanan fashion mereka. Gak salah memang kalo Bandung jadi kiblat fashion Indonesia. Mau cari sepatu berkualitas, cukup datang aja ke cibaduyut. Sepanjang jalanan banyak toko-toko sepatu. Kualitasnya gak diragukan lagi. Pak Yusuf Kalla, mantan wapres beli sepatunya aja disini. Mau cari celana jeans, cukup datang aja ke Jalan Cihampelas. Bahannya berkualitas ekspor. Cari kaos bisa di Factory Outlet di Jalan Sudirman dekat Gedung Sate atau Juga bisa ditemukan di Jalan Riau yang banyak bertebaran distro-distro. Bandung memang surga yang memanjakan para kaum fashionista. Satu teman sekelas saya yang asli bandung emang penggila fashion. Tiap weekend dia pulang kampung ke Bandung. Kalo besoknya ngampus, entah sepertinya ada  yang berubah dari gaya pakaiannya (meski gak terlalu amat-amat juga sih) tapi kita sepakat kalo hanya dia sendiri di kelas yang dress codenya lebih ngentrend dan beda. Tapi paling sering jaket. Sampe temen saya yang lain ngomong, “Gila tuh anak, bolak-balik bandung cuma jadi model jaket” hahaha. No offense. No mention🙂

ikon Jalan Cibaduyut

 

Ketika sampai di kota Bandung, badan saya lagi kurang fit hari itu. Saya terserang sakit panas. Ketika di Cibaduyut saya tidak membeli sepatu karena saya masih punya sepatu bagus di kos. Meski sakit panas, saya memaksakan diri untuk jalan-jalan di trotoar Cibaduyut. Disini juga ada toko pakaian. Saya membeli kaos bertuliskan “bandung”. Saya borong enam pakaian dengan motif berbeda, yang penting ada tulisan “bandung”nya. Yeah, semacam penegasan kalo saya sudah pernah pergi ke Bandung hehehe (norak yah). Semua oleh-oleh tersebut buat keluarga di rumah. Setelah salat asar di cibaduyut, kita menuju jalan Cihampelas, Pusat Celana Jeans. Sayangnya, badan saya sudah terlalu lemah untuk ikut window shopping di Jalanan Cihampelas. Apalagi di luar jendela, Hujan deras mengguyur kota meski cuma sebentar. Yah dengan terpaksa saya berdiam diri di dalam bus. Ada sekitar empat teman saya yang memilih tetap di dalam bus. Bete juga cuma diem di dalam bus. Gak ngapain-ngapain. Pekerjaan menunggu memang menyakitkan. Gila tuh teman-teman, 3 jam kelayapan baru balik lagi ke dalam bus. Masing-masing dengan belanjaan mereka sendiri. Wah, saya jadi iri hikz…

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s