Berselimut Debu di Gunung Bromo


Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti

Liburan UAS kemarin, saya berkesempatan melakukan wisata ke Gunung Bromo. Keinginan ini sudah cukup lama sejak saya masih SD-ketika terinspirasi dengan sebuah buku “Legenda Gunung Bromo” yang saya pinjam dahulu di perpustakaan SD. Saya sangat tersentuh dengan kisah percintaan dan pengorbanan dua anak manusia yaitu Joko Seger dan Roro Anteng, Yang akhirnya diketahui bahwa mereka adalah nenek moyang suku Tengger. Tengger sendiri adalah singkatan dari Roro Anteng dan Joko Seger. Roro Anteng adalah anak dari Raja Majapahit Hindu yang meninggakan negerinya ke Lereng Gunung Bromo karena terdesak dengan munculnya Kerajaan Islam di Jawa. Alkisah, Setelah lama menikah dengan Joko Seger, Roro Anteng tidak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya Joko Seger pun bersumpah kepada dewa “Aku bersumpah, bila kita dikaruniai 25 orang anak, salah satu dari anak kita akan ku persembahkan sebagai sesajen di kawah Gunung Bromo”. Sumpah Joko Seger ini didengar oleh Dewa dan kemudian dikabulkan. Sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan Joko Seger dan Roro Anteng di masa lalu, Penduduk di kawasan Tengger melakukan upacara ritual secara rutin yang dinamakan “Kasadha” yang dilaksanakan setahun sekali. Tahun ini akan digelar pertengahan bulan Agustus di malam purnama (tanggal 14 Agustus).

Keberangkatan menuju bromo dimulai dari rumah eyang di Mojokerto menuju Probolinggo Jam 1 siang. Dari Arah Mojokerto saya naik bus kuning ke arah Pasuruan dan turun di Bangil dengan merogoh kocek sebesar Rp. 7000. Dari Bangil saya menyambung dengan Bus Akas menuju Probolinggo Rp 6000 (kalau gak salah). Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam akhirnya saya tiba di terminal Probolinggo. Disini saya tidak Langsung naik elf (semacam bus mini) ke arah Bromo, karena saya masih menunggu kedatangan teman teman saya dari Surabaya di terminal. Saya sedikit agak cemas, sebab yang saya baca dari blog blog traveling, bahwa elf hanya ada sampai jam 4 sore. Dari arah luar terminal, saya melihat masih tersisa tiga buah elf. Sampai Jam 5 sore teman saya belum kunjung datang sementara elf tersisa satu buah. Akhirnya Jam setengah enam petang, rombongan teman teman dari Surabaya tiba, beuh. Segera kami berangkat dengan elf menuju Desa Ngadisari, Desa yang terletak di Lereng Gunung Bromo.

Hari beranjak Gelap, sementara elf yang kami tumpangi terus melaju melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok. Di luar tampak kabut bagai asap mengaburkan pandangan kami. Tidak ada Penerangan yang memadai di Jalan. Hanya lampu sorot elf, cukup membantu saya menyaksikan pemandangan di Luar.  Jendela elf yang awalnya tersingkap terbuka-saya tutup karena keadaan di luar mulai dingin. Sementara Jalanan terus menanjak. Jurang-jurang di kanan kiri siap menerkam kami. Suasana begitu mencekam, sang Supir masih saja agak sedikit ugalan dan ngebut bagai kesetanan. Padahal Jalanan semakin sempit untuk dilintasi kendaraan sebesar elf. Sedikit tidak hati-hati, kami bisa terlempar dan meninggalkan nama di batu nisan keesokan harinya. Beruntungnya, sang supir sepertinya sudah hafal medan perjalanan.

Kejadian ini mengingatkan pengalaman saya yang mengerikan ketika bersama teman teman bersepuluh naik sepeda motor menuju titik tertinggi tempat Paralayang di Malang. Entah setan darimana yang merasuki kami, setelah puas menikmati malam di Batu Night Spetakuler (BNS) sampai jam 12 malam, tiba tiba kami melanjutkan perjalanan ke arah Pujon. Disana ada tempat Paralayang, yang dari ketinggian tersebut kita bisa melihat kota Malang. Kami memasuki desa-desa, membelah sawah-sawah hingga rumah penduduk tidak tampak oleh kami. Hal ini menandakan bahwa kami sudah sangat jauh dari keramaian. Jalanan beraspal berganti jalanan tanah dan semakin sempit. Karena saking Gelap dan Penuh kabut, saya tidak tahu kalau di kanan kiri jalan ada jurang yang begitu dalam menganga. Saya pikir ada sawah di kanan kirinya. Untung teman saya segera memberitahu karena dia memiliki penglihatan yang baik. Saya sendiri waktu itu hanya duduk ketakutan di jok belakang sepeda motor sambil mengingat dosa saya. Kacamata yang saya pakai  terpaksa saya lepas karena berembun. Salah satu dari teman kami sempat mengurungkan niatnya ke atas mengingat cukup berbahaya menempuh medan perjalanan di tengah malam yang gelap gulita.

——————————————————————————————

Ketakutan saya akhirnya mereda begitu elf yang kami tumpangi sampai di homestay jam tujuh malam. Kebetulan lokasi homestay kami berdekatan dengan tiket loket masuk bromo. Begitu keluar dari elf, wah ternyata di luar lumayan dingin juga. Seolah tak mau hilang rezeki, Pedagang pedagang bersarung mengerubungi kami. Bagai harimau yang menemukan mangsanya, Pedagang-pedagang tersebut menodong kami untuk membeli syal, penutup kepala, kaos kaki dan sarung tangan.

Di homestay kami, ada tempat pembakaran dan cerobong asap sehingga kalau kami kedinginan, cukup menyalakan api pada kayu bakar yang tersedia. Sayang sekali homestay yang kami boking tidak ada fasilitas air panas. Hal ini membuat saya menggigil ketika ambil air wudhu. Setelah menaruh ransel kami dan cuci muka, kami makan malam di salah satu rumah makan dekat homestay. Disini tidak hanya menawarkan makanan dan minuman hangat, tetapi juga suvenir dan perlengkapan pakaian seperti syal dan penutup kepala. Si Ratih sedikit ngomel ternyata harga syalnya yang ia beli dari pedagang bersarung cukup mahal dibandingkan dengan harga syal yang dijual rumah makan ini. Sepertinya rumah makan ini adalah supplier syal dan penutup kepala karena banyak pedagang bersarung menebus dagangannya disini. Jam sembilan malam setelah makan malam dan ngobrol ngalor ngidul, kami kembali ke penginapan. Badan saya agak lelah dan ingin tidur.

Jam 9 malam, suhu udara di Desa Ngadisari tidak terlalu dingin.  Saya hanya tidur dengan Jaket. Baru jam 12 malam saya terbangun lagi. Suhu dingin pegunungan sepertinya mencapai puncaknya. Dengan mengenakan sarung tangan dan menarik selimut tebal, saya langsung tertidur lagi meski sebenarnya saya tidak sungguh tertidur karena sekejap kemudian terbangun lagi menahan hawa dingin. Alhasil malam itu saya tidak tertidur dalam kondisi yang terbaik. Saya agak heran dengan Didat, teman saya yang tertidur pulas cukup dengan celana pendek. Mungkin karena dia gemuk, sehingga lapisan lemaknya cukup membantu menghangatkan tubuhnya (kok jadi ingat beruang kutub, jangan-jangan si didat tuh siluman beruang🙂

“lengkap dengan pakaian gunung. berdiskusi hebat tentang pendakian. halah🙂 Jadi teringat film pendakian mount everest di national geographic”

Jam setengah 4 subuh, kami sudah bangun karena kami akan menuju Gunung Penanjakan. Kami menyewa Jeep Hardtop dengan Rute Penanjakan-Bromo-Sabana. Sebenarnya Jeep Hardtop menawarkan berbagai macam rute misalnya ada yang sampai Semeru atau juga sampai Ranu Pane. Tentunya semakin jauh rute yang ditempuh semakin mahal bayarnya. Karena kami cuma satu hari di Bromo dan harus check out jam 12 siang, akhirnya cukup sampai sabana menjadi pilihan kami.

Ketika sampai Lereng Gunung penanjakan, kami turun. Disana sudah banyak orang-orang yang antre ingin mendaki penanjakan. Disana kami juga telah diserbu oleh Ojek kuda yang akan memberi tumpangan sampai puncak penanjakan. Karena saya ingin mendapat pengalaman mendaki gunung, terpaksa tawaran para ojek kuda saya tolak. Sebenarnya medannya tidak cukup sulit, tapi ternyata saya sedikit ngos-ngosan juga mendakinya, hufff. Kaki saya jadi capek juga. Keringat terus mengucur deras membasahi dahi saya dan di sela-sela jaket. Semakin berkeringat, tubuh saya menjadi semakin dingin. Suhu pegunungan yang dingin mengubah keringat saya seperti es mencair yang menyirami badan saya. Suasana begitu gelap gulita. Hati-hati saya menyusuri jalan setapak menuju puncak. beruntung saya bawa hape yang dilengkapi fitur senter. Abang abang ojek kuda ternyata baik juga, mau menemani pengunjung sampai ketinggian. Kalau melihat sedikit pengunjung capek, mereka akan menawarkan kudanya. Sempat tergoda juga untuk naik kuda, kalau tidak terburu disemangatin si Jaka, kalau yang namanya puncak penanjakan tinggal sedikit lagi sudah nyampe. Kasihan juga lihat si anjeli, uni dari solok yang langkah kakinya tertatih-tatih dari tadi.  Saya pun terjangkit juga yang namanya syndrome kekurangan oksigen di ketinggian. Kepala saya sedikit pusing. Rasanya pengen muntah. Biasanya kalau kondisi seperti ini, ada baiknya sang pendaki berhenti sejenak untuk beradaptasi dengan ketinggian.  Tidak sampai 20 menit, saya sampai juga di Puncak Penanjakan. Para Fotografer udah bejibun ngendon disitu sebelum saya datang, siap siap mengambil gambar sunrise di Penanjakan yang sebentar lagi tiba. Termasuk saya, Fotografer kelas kacangan dengan kamera seadanya, walau akhirnya  terdeteksi kemudian bahwa saya banyak foto narsis daripada mengambil gambar disana🙂


—————————————————————————————–

Suasana Alam Pegunungan Desa Ngadisari

Suku Tengger Bersarung. Kalau siang hari, pipi mereka akan merona merah.

——————————————————————————————-

Setelah Puas menyaksikan matahari terbit sambil minum susu milo untuk mengusir dingin, kami turun lagi ke Lereng. Ternyata menuruni gunung penanjakan lebih mudah daripada mendakinya. Kaki saya seperti meluncur menuruni gunung. Rasa capai hampir tidak terasakan oleh saya. Setelah sampai di bawah, si abang Jeep Hardtop yang sedari tadi menunggu di bawah, membawa kami ke gunung bromo dan gunung batok. Di areal lereng Gunung Bromo terdapat Pura Umat Hindu Tengger. Sayang sekali Puranya ditutup dan ada larangan masuk bagi pengunjung.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju kawah Gunung Bromo. Disini kita akan disuguhin dengan pemandangan padang Pasir. Belum lagi padang pasirnya yang tampak berbukit-bukit menyerupai sebuah gurun. Kalau begini bagusnya naik onta. Mungkin Lebih lengkap lagi kalau pakai jubah shalwar qamiz dan sorban di kepala biar serasa jadi suku suku yang hidup di tanah Arab. Sayang sekali disini anda tidak akan menemukan makhluk bernama onta, so akhirnya naik kuda pun jadi juga. Sengaja saya memperlambat langkah kuda saya karena saya ingin mencoba merasakan seperti yang dialami Mas Agustinus Wibowo, Penulis buku travelling “Selimut Debu”. Buku yang berkisah tentang petualangannya di negeri afganistan. Bedanya debu disini tidak beterbangan menampar muka seperti di gurun-gurun di afganistan, jadi saya kurang dapat “feel” nya. Coba saja, saya bawa kipas angin ukuran big size hahahaha.

—————————————————————————————–

Setelah sampai di Pos tangga menuju kawah, saya turun dari kuda. Tangga semennya  diselimuti oleh gundukan pasir bekas letusan bromo bulan-bulan kemarin. Sebenarnya aktivitas bromo telah mencapai siaga tiga, tetapi tidak membuat surut niat kami dan para petualang naturalis atau pengunjung lainnya untuk menaiki kawah. Cuman waktu itu aktivitas bromo mulai menurun pasca letusan bulan desember sehingga kami tidak terlalu cemas. Berjalan dengan posisi berdiri dengan kemiringan yang curam membuat kaki saya sedikit goyah. Paha saya menjadi pegal. Belum lagi Gundukan Pasir yang tebal semakin memperlambat jalan saya ke atas kawah. Sementara dari arah berlawanan, orang orang bagai papan meluncur menuruni tangga. Hampir saja saya bertabrakan dengan mereka.

hore…akhirnya bisa menaklukan bromo!!!

————————————————————————————-

Lonely Pura in Desert

Gunung Batok yang mirip mangkuk. Konon katanya Gunung Batok ini adalah Mangkuk milik Raksasa Kyai Bima yang tertinggal setelah gagal membuat danau permintaan Roro Anteng dalam semalam karena mendengar bunyi ayam berkokok.

————————————————————————————

Bunga Bunga Gunung. Entah ini edelweiss atau bukan.

——————————————————————————–

Rute selanjutnya, kami mengunjungi padang prairie. Pengunjung umumnya mengenal lokasi ini sebagai padang sabana / savana. Letaknya mengarah ke arah Gunung semeru dan agak jauh dari Bromo. Setelah muter-muter di lautan padang pasir dengan jeep, akhirnya saya sampai juga di Padang Sabana. Disana ada bukit yang cukup eksotis di mata saya. Biasanya pengunjung yang pernah ke bukit ini menamakan dengan julukan Bukit teletubies, Karena Bukit ini memang mirip bukit yang ada di serial teletubies yang cukup melegenda itu. Pengen nyoba narsis dengan gaya para teletubies di bukit ini, tapi sayangnya teman teman  saya enggan menaiki bukit teletubies. Ya sudahlah.

Pengen leyeh-leyeh disini, sambil tidur terlentang menatap langit.

lihat bukit ini, pengen loncat jumpalitan kayak daisy,po,Lala dan Tinky Winky

Kawasan Pasir Berbisik.

Setelah cukup berlama-lama di Padang sabana, rute kami selanjutnya menuju Pasir Berbisik. Kawasan Pasir berbisik ini merupakan lembah berpasir yang cukup luas. Disini sepi dan lengang sekali-hampir tiada orang dan pepohonan malah. Suhu di kawasan ini agak sedikit panas. Dari sini kita bisa menyaksikan Pegunungan Tengger  sejauh mata memandang. Ada banyak Gunung yang berkumpul di Tengger salah satunya Gunung Bromo, Semeru, Widodaren, Penanjakan, Batok dan masih ada banyak gunung lainnya yang saya tidak hafal namanya. Makanya tidak heran dengan lokasi gunung gunung yang saling berdekatan, membuat para pecinta alam yang telah mendaki bromo, akan melanjutkan perjalanannya menaklukan Gunung Semeru.

Seandainya salju turun disini, pas banget jadi lokasi olahraga musim dingin seperti ice skating, ice hockey dan snowboard. Kalau lihat Lautan berpasir seperti ini enaknya teriak teriak sambil nyanyi lagu Snow On the Sahara-nya Anggun C.Sasmi. Cuman liriknya sedikit saya ubah dengan tengger hehehe.

If your hopes scatter like the dust across your track
I’ll be the moon that shines in your path
The sun may blind your eyes, I’ll pray the skies above
For snow to fall on the Tengger

If that’s the only place where you can leave your doubts
I’ll hold you up and be your way out
And if we burn away, I’ll pray the skies above
For snow to fall on the Tengger

Silent in the desert

Artis dan Para Kru “Pasir Berbisik”.

Keren Banget gayanya

Last Scene before Go Home

Telah lama sendiri
Dalam langkah sepi
Tak pernah kukira bahwa akhirnya
Tiada dirimu di sisiku
Meski waktu datang dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takkan mampu mengubahku
Hanyalah kau yang ada di relungku
Hanyalah dirimu
Mampu membuatku jatuh dan mencinta
Kau bukan hanya sekedar indah
Kau tak akan terganti

Tak pernah ku duga bahwa akhirnya
Tergugat janjimu dan janjiku

Bromo, 8 Juni 2011

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Berselimut Debu di Gunung Bromo

  1. Budi Cahyono berkata:

    Wah yang bikin kurang bagus sampean ke bromo pasca meletus, coba kalo belum, jauh lebih bagus dari ini mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s