Kidung Anak Pulau


“Ma, mau kemana?”

Tiba-tiba minggu pagi itu Mama sudah siap dengan travel bagnya. Seperti hendak berpergian jauh. “Mama ada acara di Surabaya. Ada pelatihan dua hari bagi bidan-bidan di seluruh kabupaten sumenep. Baik-baik yah sama papa di rumah. Kalau lapar minta uang sama papa”.

“Hah? Mana undangannya mama!! Indra boleh ikut?”

“ Gak boleh sayang. Tuh ada undangannya di Meja”. Saya mengambil undangan tersebut di Meja. Di Lembar kertas kedua ada list nama-nama bidan yang ikut pelatihan. Tiap kecamatan di kabupaten Sumenep mengirimkan bidannya. Ada beberapa nama-nama kecamatan yang membuat saya penasaran. “Ma, kecamatan  Arjasa, Sapeken, Kangean,Masalembo tuh dimana yah ma? Kok kita gak pernah kesana yah ma”

“Itu di pulau, sayang?? Kalau naik kapal bisa 10-15 jam ke kangean. Kalo ke masalembo bisa lebih dari 1 hari.

“Waooo jauh banget ma…kok Indra liat di peta Madura ga ada pulau ini yah ma?”.

“Yah itu tergantung skalanya..tapi biasanya di peta tuh kepulauan kangean dikasih peta sendiri di dalam peta induknya. Atau dalam bahasa geografinya pake inset. Coba buka atlas kamu yang baru mama beli.”

“Wah Jadi sumenep punya banyak pulau yah ma. Pikir inder Cuma pulau Talango, Pulau Gili Raja, Pulau Gili Genteng, Gili Iyang, Sapudi, Raas dan Gili Labak.

“Sumenep banyak pulaunya sayang, hampir seratusan”

Aku melongo takjub “wah kayak kepulauan seribu dong ma. Asik itu dong Ma. Kayak serial anak seribu pulau”.

“Hahaha. Kamu ada-ada saja”.

Saya  mengambil buku atlas yang tergeletak di meja belajar. “Ma mana pulau kangean?”

Lantas mama buka peta bergambar wilayah Indonesia. “Letaknya disini !!” Jari telunjuk mama mendarat di kanan selat jawa dekat dengan Pulau Bali dan Pulau Lombok.

Pulau Kangean
Pulau Kangean

“Ya ampun ma, pulaunya dikepung laut. kalau dekat dengan pulau Bali, kenapa kangean masih bisa masuk kabupaten Sumenep? Kalau ditarik garis lurus harusnya bisa masuk provinsi Bali dan Nusa tenggara barat.”

“Bukan masalah besar. Karena cuma beda batas di dalam negeri. Kalau sudah menyangkut antar negara, maka batas-batas pulau terluar wajib diperhatikan.”

“Trus kalau pulau Masalembo yang mana ma?

“Kalau masalembo letaknya disini !!

Pulau Masalembu
Pulau Masalembu

“Ya ampun ma!! dekat dengan Pulau Kalimantan. Gila ma, ini lebih serem lagi. Pulaunya sendirian di selat Jawa”

“Disini pernah tenggelam kapal Tampomas. Malah orang-orang Masalembo tuh lebih dekat dengan Kalimantan kalo mau beli barang keperluan rumah tangga”.

Sekali lagi saya takjub. Kabupaten Sumenep ternyata memiliki banyak pulau. Indonesia sungguh kaya dan Indah. Tidak salah lagi kalau negeri kita dibilang zamrud khatulistiwa. Terlepas dari kondisi carut marutnya negeri kita, masih ada yang bisa untuk dibanggakan  dan patut disyukuri.

Itulah sekilas pembicaraan saya dengan mamaku 17 tahun yang lalu. Masa ketika saya masih duduk di bangku SD. Kenangan ini belum hilang di pikiran saya. Kangean, Masalembo, Sapeken, nama nama pulau yang membuat saya penasaran ingin tahu. Saat itulah saya bermimpi dalam hati, kalau saya kelak akan kesana dengan kaki saya sendiri. Saya masih penasaran dengan kehidupan orang-orang disana. Benak saya memikirkan bagaimana anak-anak disana menempuh pendidikannya. Seringkali saya melihat kalau di Serial anak seribu pulau di tv, anak-anak yang hidup di pulau terpencil, akses pendidikannya begitu minim. Kadang masih nyebrang ke pulau sebelah yang ada sekolah dasarnya. Itu yang membuat saya salut dengan perjuangan mereka. Keprihatinan ini yang saya alami mungkin juga sama dengan keprihatinan anak-anak lainnya yang masih seumuran saya. Bahwa anak-anak pulau tersebut juga masih saudara kita. Mereka juga punya impian. Mungkin agak sedikit aneh, kalaupun saya dibilang sok peduli, tetapi itulah yang saya rasakan 17 tahun lalu.

Hingga saya sekolah SMA, akhirnya saya bisa memiliki teman-teman dari pulau-pulau terpencil tersebut. Kata mereka, disana sekolah sulit. Mau sekolah SMA harus pergi ke Bali kalau tidak ke Kabupaten Sumenep. SMP saja baru bangun. Udah gitu disana sedikit tenaga pendidik. Tenaga Pendidik di Pulau tersebut mayoritas berasal dari sumenep daratan. Udah gitu tiap tahun di sekolahnya sering ganti guru, karena banyak guru yang tidak betah hidup di Pulau, sehingga sering terjadi mutasi. Pernah juga waktu teman saya yang SD di pulau, gurunya cuma tiga orang dengan satu kepala sekolah. Mereka mengajar secara bergiliran. Misal dua guru masuk bulan pertama untuk ngajar dari kelas satu sampai kelas enam. Maka satu guru lainnya libur sebulan untuk balik ke daratan. Baru pada bulan kedua guru yang tinggal di daratan balik lagi ngajar di Pulau. Sementara guru lainnya mengambil jatah liburan yang sebulan. Seterusnya seperti itu. Belum lagi para guru di pulau tersebut juga sering mendapat gaji terlambat karena harus menunggu kapal datang dari sumenep daratan. Listrik memang masuk belum kesana. Transportasi juga kurang memadai, kadang sekali seminggu baru berangkat. Lantas kalau begini siapa yang disalahkan?? Guru?? Guru juga manusia. Ia juga bukan superhero yang harus dikungkung dengan slogan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Pernah dalam suatu kesempatan, saya bertanya suka dukanya seorang guru yang pernah ngajar di pulau.

“Hidup di pulau serba terbatas. Mandi pake air asin. Air tawar juga sulit. Malam-malam yang ada cuma gelap-gelapan. Asiknya suka bakar ikan laut di tepi pantai. Sekarang denger2 sudah enak, pulau itu sudah banyak pembangunan. Ada listrik di Malam hari. Gaji guru naik dua kali lipat bagi yang mengajar di pulau itu. Baguslah kalo sistemnya kayak gitu.”

Saya bersyukur banget waktu SMA punya teman anak pulau. Meski jumlahnya sedikit, gak sampe sepuluh anak dari 320 siswa, tapi dah sesuatu banget. Rasanya iri kalau melihat perjuangan mereka yang pengen banget sekolah. Trus kuliah setinggi-tingginya dan balik membangun pulaunya. Mereka-mereka bagi saya adalah Laskar Pelangi. Punya mimpi kalau daerahnya bisa lebih maju dari sumenep daratan. Mereka termasuk anak yang jarang pulang kampung. Kalau gak setahun sekali. Itupun kalau ada liburan panjang. Malah ada yang bapaknya bilang “Jangan balik ke pulau sebelum kamu bisa hadiahi bapak dengan ijazah SMA”. Wah !!

Saya baru menyadari kalau anak pulau-pulau tersebut keturunan suku bajo, suku bugis dan suku banjar. Bukan suku Madura sebagaimana mayoritas menghuni Kabupaten Sumenep. Ini dilihat kalau mereka lagi ngumpul sesama anak pulaunya pas istirahat sekolah. Bahasa yang digunakan berbeda. Tidak ada kedekatan dengan bahasa Madura sama sekali. Meskipun begitu mereka juga bisa bahasa Madura karena bahasa madura masuk dalam pelajaran muatan lokal mulai dari SD hingga SMP. Jadi mereka menggunakan bahasa ibunya ketika bercakap di rumah atau bergaul dengan teman satu sukunya. Saya saja geli mendengar bahasa mereka yang terdengar aneh.

Anak pulau itu umumnya polos-polos. Faktor akses pendidikan mungkin yang menyebabkan perbedaan gap antara siswa daratan dengan siswa pulau. Kalau masalah akademis, memang agak tertinggal dengan siswa daratan, meski ada beberapa yang menonjol. Saya disini tidak ada maksud mengatakan premis bahwa anak pulau itu bodoh. Kalau mereka dapat fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan yang sama, mungkin gap ini sama sekali tidak ada. Mereka mungkin akan sama pintarnya dengan anak-anak yang hidup di daratan yang mendapatkan pendidikan yang lebih maju.

Well!! Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki membuat mereka lebih mawas dan sadar diri. Di pundak merekalah, pulau-pulau itu berkeluh kesah. Berharap kelak dengan tangan mungilnya  menghapus duka yang telah lama karam. Tiada lagi nestapa. Tiada lagi air mata.

Ceria Anak Pulau
Ceria Anak Pulau

Mereka anak pulau

Punya mimpi dan asa

Harapan setinggi bintang

Melihat pulaunya elok

Tempat kedamaian

Mereka anak pulau

Ingin menebar jala di lautan

Bermain di atas hamparan pasir

Tetapi mereka juga ingin melangkah di atas awan

Memeluk Cakrawala.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s