My Country : Kalianget


Saat ini saya tinggal di Kecamatan Kalianget. Salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep. Kalau dilihat dari peta, kalianget tuh posisinya di ujung timur pulau Madura bagian pojok kanan bawah. Kecamatan Kalianget letaknya sangat strategis. Dari zaman belanda sampe sekarang masih sebagai tempat bandar pelabuhan.  Saat ini kalianget memiliki 3 pelabuhan. Hampir semua jenis penyebrangan ke pulau-pulau terluar Kabupaten Sumenep dilayani disini. Pulau sapudi, Pulau Raas, Pulau Talango, Gili Labak, dan Kepulauan Kangean. Dulu pelabuhan kalianget digunakan sebagai pelabuhan perdagangan dan juga untuk mengekspor garam-garam oleh VOC. Karena itu jangan heran disini masih banyak bangunan bersejarah peninggalan belanda. Ada Gereja, benteng pertahanan dan Kantor Pemerintahan Belanda yang mengurus masalah ekspor garam yang saat ini penggunaan bangunannya menjadi milik PT Garam Persero. Karena lokasinya sebagai tempat perdagangan, masyarakat kalianget telah lama menjalin hubungan dagang dengan pedagang dari timur tengah. Hal ini bisa dilihat dengan adanya penduduk berwajah arab yang mendiami kecamatan kalianget dan kota sumenep.

Zaman belanda dulu, ada jalur kereta api yang melayani jurusan Kalianget – Kamal. Kereta api dengan tenaga batu bara ini digunakan untuk mengangkut karung-karung garam ke Pulau Jawa. Sayangnya, saat ini hanya tinggal relnya dan kereta apinya dibiarkan terbengkalai menjadi rongsokan. Padahal kereta tersebut bisa dimuseumkan dan menjadi harta sejarah bagi anak cucu kita. Relnya juga sebagian telah diambil oleh penduduk untuk dijual sebagai besi tua kepada pedagang besi. Lengkap sudah !!! Tidakkah mereka menyadari bahwa barang tersebut adalah “harta karun”. Meski cuma benda fisik “biasa” tapi justru  dengan benda tersebut merupakan rantai yang bisa menyambung kita dengan kehidupan masa lalu, yang membuat kita lebih menghargai perjuangan para pahlawan kita di masa lalu. Bangsa kita memang suka “telat” untuk menyadari dan terkesan menutup mata untuk hal hal yang dianggap remeh temeh. Tragedi mesuji yang sudah lama kasusnya, hebohnya baru baru ini dan sedang ditangani pemerintah sekarang. Tidak cuma Mesuji, Jembatan kukar sepertinya pun mengalami nasib yang sama. Yeah, Only Indonesian people in this world that obviously destroy their lovely country.

Here where I live

Kecamatan Kalianget

Ketika saya berumur 3 tahun atau sekitar tahun 1991, ortu saya memutuskan untuk menetap di kecamatan kalianget dan bikin rumah disana. Profesi papa saya yang  seorang insinyur pertanian dan ibu saya seorang bidan membuat hidup kami awalnya nomaden karena sering dimutasi ke kecamatan-kecamatan untuk mengisi kekosongan posisi tersebut. Era 80-an, Sumenep sedikit memiliki tenaga lokal untuk profesi seperti ortu saya sehingga banyak didatangkan dari Jawa seperti ortu saya. Awalnya ortu saya menetap di rumah dinas atau nebeng tinggal di rumah kepala desa atau juga di kantor balai desa. Kalau tinggal di kantor balai desa, biasanya ada sebuah ruangan yang disulap jadi kamar pribadi plus tempat praktek bidan dan terpisah dengan ruangan administrasi pemerintah desa. Biasanya kepala desa menawarkan secara cuma-cuma atau sukarela kepada bidan yang belum memiliki tempat tinggal tetap.


Alasan ortu saya memilih menetap di kalianget karena yah tempatnya memang asik banget. alasan yang cukup klise. pertimbangan sebenarnya karena lokasinya yang emang  strategis. Mau beli ikan laut, murah banget karena 100 meter dari rumah saya ada tempat penjualan ikan. Jadi mama kalo mau beli ikan gak usah pergi ke pasar. ntar ada pedagang lewat depan rumah karena rumahku juga jalur menuju pasar tradisional. Ikannya juga still fresh from the oven atau masih segar. Kalau mau liburan, sekeluarga tinggal aja maen ke pantai dekat rumahku. Disana bisa manja-manja di pasir sambil melihat matahari terbit dan terbenam. Menyaksikan kapal dan perahu datang ke tepian. Kalau sore hari, di pantai ini selalu ada atraksi rakyat yaitu lomba adu cepat lari burung merpati. Dalam permainan ini, burung merpati pria dibuang dari jarak kejauhan yaitu di pantai ujung timur, sementara burung merpati wanita dipegang oleh dalang di ujung pantai barat-untuk memanggil burung merpati pria agar cepat menemuinya dan singgah di pundak burung merpati wanita. Burung merpati pria yang terbang dan larinya paling cepat akan menjadi juara. Saya pernah sukarela menjadi anak dalang. Tugas anak dalang yaitu membawa burung merpati pria di tempat yang telah ditentukan. Jadi begitu aba-aba bunyi, burung merpati pria dilepas dari tangan saya. Selanjutnya burung merpati pria terbang ke udara mencari pasangannya. Lumayan jadi anak dalang bisa dapat uang lima ratus rupiah. Uang zaman segitu udah lumayan. bisa beli  permen 20 biji. waktu itu belum krismon.

Yang dilingkari warna merah adalah rumah saya🙂

Alhamdulillah, Selama saya hidup disini  tidak pernah mengalami kekeringan air. Debit air selalu ada dan tidak pernah habis. Hebatnya lagi, meski 100 meter dekat pantai, sumur di rumah tetap tawar. Penduduk kalianget juga cukup maju, mungkin karena pengaruhnya sebagai kota pelabuhan sehingga banyak menerima pengaruh dari luar. Tingkat anak yang melanjutkan pendidikan sampai SMA pun tinggi dan nomor dua setelah  kota Sumenep. Karena banyaknya siswa yang sekolah hingga jenjang SMA sampai kuliah, di kalianget tidak pernah ada carok atau pembantaian berdarah. Kamu tahu sendirilah kalau tingkat pendidikan seseorang juga mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan.

Sejak ortu saya tinggal menetap di kalianget, mama saya sudah jarang dimutasi. Paling cuma pindah puskesmas induk ke Puskemas Pembantu yang masih dalam satu kecamatan. Padahal dulunya, sebelum melahirkan saya, mama saya suka dimutasi sampe ke kecamatan-kecamatan yang pelosok banget jauh dari kota. Zaman itu, orang desa lebih percaya dukun daripada Bidan apalagi kalau ada ibu hamil melahirkan. Mama saya sering dimusuhin sama dukun beranak. Tapi seiring perkembangan zaman dan tingkat kesadaran masyarakat yang lebih maju sekarang, orang-orang madura zaman sekarang sudah lebih percaya kepada tenaga medis.

Sesuatu lain yang masih memorable di ingatan saya, pernah suatu ketika mama bertugas di Puskesmas di Pulau Gili Genteng yang listrik aja belum masuk waktu itu. Saya masih ingat dulu, kalau malam hari di rumah dinas selalu gelap-gelapan. Paling ditemani dengan lampu minyak. Orang Madura tradisional umumnya hidupnya berkelompok. Dalam satu petak tanah biasanya didiami rumah-rumah yang masih memiliki kekerabatan dekat. Jadi dari rumah buyut sampe rumah cicit tuh rumahnya kadang masih dalam satu petak tanah. Jadi kalau malam hari, semua keluarga besar kadang ngumpul di satu rumah sambil ditemani lampu petromaks. Ortu saya kadang ikut nimbrung bersama mereka meski ortu saya orang jawa. Bertetanggaan baik kata papa saya. Namanya juga hidup di tanah orang, yah wajiblah bertetangga baik dengan penduduk asli. Ikut gaya budaya mereka. Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak.

Santai di Pantai Dekat Rumah

Kata mama, saya adalah berkah. Karena kelahiran saya, mama sudah jarang dimutasi. Kalau papa lain lagi. meski sudah tinggal menetap di kalianget, ngantornya selalu pindah-pindah. Mungkin karena papa saya seorang pegawai negeri pertanian, tugasnya sering berpindah kecamatan dan sering ngelurug-ngelurug ke desa-desa beri penyuluhan. Saya sering diajak papa saya ketemu sama petani petani di desa kalau pas liburan caturwulan sekolah. Asik banget. Ketemu dengan warga lokal apalagi kalo desa yang saya datangi alamnya asri banget. Kalau abis pulang dari penyuluhan, biasanya papa selalu dapat duren, semangka, nangka, mangga, sukun, kacang kedelai dari petani-petani. Dulu kalo saya pengen duren, papa saya akan cari di desa. Mau beli ke petani eh malah dikasih. Katanya gak enak sama papa yang sudah sering ngasih penyuluhan. Jadi  di rumah yang namanya meja makan gak pernah sepi dari buah-buahan. Karena sering diajak papa saya jalan-jalan ke desa, sejak itulah saya menyukai yang namanya traveling atau jalan-jalan. Ah, jadi teringat papa. Terima kasih Papa. Papa memang juara satu sedunia. Yang suka ngajak inder jalan-jalan dan mengajari banyak hal tentang indahnya dunia perjalanan. Papa juga yang ngajarin inder memahami dunia beserta orang-orang didalamnya. Ngajarin inder untuk lebih memperlakukan alam dengan manusiawi. Papa is the best. Rest in Peace, Papa. I always miss U.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke My Country : Kalianget

  1. siham berkata:

    woe cak
    lek teko sby nang kalianget pirang jam&jarakx brp kilo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s