Jangan buang Sampah Sembarangan kalau gak mau dibilang Monyet !!!


Suara petugas informasi memberitahukan bahwa kereta api akan segera berangkat. Saya buru-buru turun dari sepeda motor.

“Indra Cepat turun. keretanya mau berangkat” teriak teman saya yang mengantarkan saya ketika tiba di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Saya berlari ke arah peron. Mengejar kereta yang dengan perlahan meninggalkan stasiun. Hiatttt.. Sekali loncat akhirnya saya bisa mendarat di gerbong dengan selamat. Syukurlah saya tidak ketinggalan kereta. Saya mendapat bangku nomor 17 c di  gerbong 3 Kereta Sri Tanjung. Kereta yang nantinya akan membawa saya menuju kota pahlawan, Surabaya.

Jam menunjukkan setengah 8 pagi. Saya rebahkan ransel ke rak yang berada di langit-langit kereta. Saya duduk bersebelahan dengan seorang bocah mungkin umurnya sekitar tujuh tahunan bersama ibunya di sampingnya. Aku tersenyum ramah kepada mereka sembari menanyakan tujuannya kemana. Mereka berdua akan pulang ke Banyuwangi. Sungguh perjalanan yang sangat jauh. Mereka akan tiba di banyuwangi jam 9 malam. hm hampir 12 jam lebih lamanya.

Karena malamnya saya kurang tidur, mata saya tak kuasa menahan rasa kantuk. Badan saya masih capek. Dua hari sebelumnya saya menjelajah kota yogyakarta bersama teman kampus saya yang asli yogya. Saya diterima dengan baik oleh ortunya di rumahnya, bahkan merelakan kamarnya digunakan saya sendiri untuk menginap. Hari pertama saya mengunjungi pantai glagah di Wates, daerah selatan jogja sekalian mengunjungi sahabat saya disana. Sore harinya, saya melihat pertunjukan atraksi budaya kuda lumping di satu desa di kabupaten sleman. Hari kedua saya mengunjungi Museum Kereta Kencana, Keraton Yogyakarta, Masjid Agung Kuno, Pemandian taman sari, Candi Prambanan dan Candi Istana Ratu Boko. Meski melelahkan tapi saya menikmatinya. Banyak hal-hal baru yang mempengaruhi pandangan saya selama ini ketika berada di kota Yogyakarta. Travel is not about a place but a new seeing of things. Salah satu kutipan traveler yang saya benar merasakan selama di Jogja. Biar lebih spesifik, saya akan membahasnya nanti di postingan yang terpisah.

Bocah di samping saya tak berhenti berceloteh dengan ibunya. Topik mereka gak jauh2 tentang kisah liburannya selama di Jogja seperti uniknya bangunan monumen jogja kembali dan Candi borobudur. Tidak berselang lama, Saya tertidur pulas di bangku kereta dengan kepala bersandar di bingkai jendela. tidak sampe 30 menit, Suara2 pedagang yang menjajakan barang dagangan di gerbong membangunkan saya. Duh..tidak bisa lihat orang tidur yah!! Pekik saya dalam hati. Kepala saya masih cenat cenut. Terantuk-rantuk dengan kaca jendela sewaktu tertidur. Seorang pedagang menawarkan buah melon segar yang telah dikupas kepada saya. Saya membelinya 2 buah. Lumayan untuk mengisi perut.

“Ma, adek pengen makan nasi ??” Rengek bocah di sebelah saya.
Ibunya membeli bungkusan nasi yang telah lengkap dengan lauknya yang dibungkus dengan mika plastik. Si anak menolak.

“Ma, adek pengennya nasinya yang dibungkus dengan daun”

Buset..anak ini rewel banget. Tadi mau makan nasi. Hanya gara-gara sebuah bungkusan nasi dari mika plastik dia tidak jadi makan. Ibunya pun meminta maaf pada pedagang karena tidak jadi membelinya.

“Ma, adek pengen beli susu itu” Kata si bocah ketika melihat seorang pedagang air mineral. Kemasan susu ini juga dibungkus dari bahan semacam plastik. Tapi kali ini, bocah tersebut meminumnya sampai habis. Padahal kalau bungkusan makanannya dari plastik tadi, dia tidak mau memakannya. Aneh. Tak lama kemudian, Seorang pedagang nasi dengan bungkusan daun melewati bangku kami. Si ibu bocah tersebut buru-buru mencegat pedagang tersebut. Ia membeli satu bungkus nasi pecel buat anaknya.Kali ini anaknya mau makan nasi tersebut.

Setelah selesai menyantap habis makanannya, si bocah membuang bungkusan daun tersebut melalui celah jendela. Srrrr…daun tersebut beterbangan di udara sebelum akhirnya mendarat di sebuah petak sawah. Si bocah menatap cengengesan ke arah saya. mamanya segera menegur anaknya.

“Nduk, jangan buang sampah sembarangan”

“Kan daun ma..nanti kan jadi tanah juga”

“tetap aja ga boleh”

Si anak sedikit merengut. Patuh.

“Mas, gak makan nasi juga??”tanya si ibu bocah

“Masih kenyang” Jawab saya

“Ma adek mau jalan cari tempat sampah. Mau buang bungkusan susu ini” si bocah tiba2 nyolot

“Hati-hati yah”

Si bocah tersebut bangun dari bangkunya dan melenggang entah kemana. Tak lama kemudian ia kembali ke bangku. Tangannya masih menggenggam bungkusan susu tersebut.

“Ma, gak jadi dibuang. Gak ada tempat sampah” Si bocah tersebut mengumpulkan sampah tersebut dalam sebuah kresek dan menaruh di pangkuannya. Melihat aksi bocah ini, saya jadi teringat dengan tukang cuci baju saya di kosan. Sebut saja namanya mbok Minah. Ia sering mengeluh, karena kantong celana saya terkadang isinya sampah, entah itu bungkusan permen, snack ataupun tisu. Sampah-sampah ini sengaja memang saya simpan bila di jalan saya tidak menemukan tempat sampah atau dustbin. Seperti bocah itu, saya juga belajar untuk menghargai diri saya dengan melakukan sesuatu yang sederhana. Belajar mencintai dan tidak mengotori bumi serta menjadikannya sebagai rumah yang nyaman bagi penghuninya. Ketika seseorang memberikan contoh yang baik, maka itu adalah sebuah sumbangan yang tak ternilai harganya apabila mempunyai tujuan yang mulia dan mampu merubah orang lain menjadi lebih baik. Ketika kita mulai menghargai diri sendiri untuk hal hal yang kecil maka kita akan merasakan respek dari orang-orang disekitar kita. Lebih daripada itu -yang membuat saya sedikit terhenyak dari peristiwa ini bahwa Seorang anak kecil begitu mudah patuh terhadap orang tuanya. Omongan orang tua seolah virus bermikron sangat kecil yang begitu saja masuk ke dalam benak anak. Orang tua selalu menjadi cerminan anak. Apa yang dilakukan orang tua selama hidupnya akan juga mempengaruhi kehidupan anaknya. Dan seorang anak kecil selalu meniru perbuatan orang tuanya yang secara tidak langsung tertanam di alam bawah sadar mereka. Segala tindakan/perilaku orang tua selalu benar di mata anak kecil karena anak kecil belum memiliki filter atau menyaring mana yang baik atau salah. Ketika melihat orang tuanya membuang sampah di tempat sampah, si anak kelak mengikutinya.

Pemandangan terasa berbeda di bangku sebelah. 3 bangku diisi seorang ibu, bapak dan anaknya yang masih balita. Si bapak merokok dan menyesedekahkan asapnya secara gratis di penjuru gerbong. Si ibu terlihat sedang mengemil sebuah camilan kacang rebus. Jarinya begitu berirama membuang kulit kacang ke lantai setelah berhasil memasukkan butir kacang ke lahar mulutnya. Dengan ekspresi muka tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tak peduli dengan balitanya yang menyaksikan perilaku kedua orang tua tersebut. Si balita merengek meminta kacang rebus. dan anyway si balita pun melakukan hal yang sama seperti orang tuanya. Setelah berhasil melepas kulitnya, ia lantas membuang kulitnya ke lantai. Persis seperti orang tuanya. Rasa marah, jengah berfusi jadi satu di benak saya. Kalo bumi ini tidak ada hukum, ingin rasanya jitak kepala mereka. Andai saya punya keberanian, ingin rasanya menegur mereka. Dulu pernah menegur seseorang yang buang sampah sembarangan di stasiun, eh orang yang kena tegur malah belagu bilang “Ini Jakarta Bung”. Saya pun diam. Memang benar di kehidupan yang serba permisif, ketika salah dan benar beda tipis, banyak orang baik cenderung menyelamatkan diri dan hilang rasa kepedulian terhadap kebobrokan di hadapan mata mereka. Mereka lebih mendiamkan sebuah perbuatan buruk karena mungkin pembelaan yang dirasakannya kurang dukungan dll.

Saya sejenak berpikir. Apa yang salah. Baru saja kemaren-kemaren orang berkoar menolak UNAS. Mungkin bisa jadi sistem pendidikan kita yang salah. Alih2 membangun kepribadian siswa yang berkarakter luhur, memiliki moral yang baik malah banyak menjadikan siswa seperti robot yang pandai berhafal atau jago membaca menghitung. siswa Jepang saja mapelnya sedikit. Buat apa banyak mapel kalo pelajaran kepribadiannya bukan menjadi hal yang utama. Buat apa jadi orang pinter kalo ujung-ujungnya berbuat korupsi. Coba kalo kurikulum PAUD, TK, SD lebih ditekankan pendidikan kepribadian yang bermoral, mana yang baik dan salah, rasa cinta tanah air misal dengan hal hal yang kecil seperti budaya antre, budaya menyapa dan budaya membuang sampah di tempatnya dll semacamnya. Saya pengennya kalo di TK atau PAUD, Orang tua tidak usah  menyediakan kotak makanan untuk anaknya dari rumah. Cukup disediakan kantin yang membagikan minuman/makanan  yang disukai anak anak dan syarat mendapatkan makanan tersebut, anak-anak berbaris rapi antre. Terus disediain tempat sampah di setiap sudut sekolah. Dengan begini anak-anak belajar menghargai hak-hak orang lain dan tidak main serobot. Anak anak belajar buang sampah di tempatnya. Kalo hal ini ditanamkan sejak dini, generasi 20 tahun kemudian mungkin bisa mewujudkan masyarakat yang teratur dan sebuah keniscayaan jika tiba-tiba jakarta bebas banjir. Tapi yah itu sekolah. Sekolah hanya parenting penunjang. Bukan alat utama yang membenuk kepribadian seorang anak. Kalo orang tua “smart” mendidik, “smart” juga anaknya. Anak itu ibarat sebuah bangunan. Membangun interior lebih susah dibanding eksterior. Jadi perlu hal hal yang baik ditanamkan sejak dini sebelum terlambat. hm.. boro-boro punya anak, gw sudah koar koar sok smart parenting haha🙂

Ok Last but not least, Mari kita wujudkan dunia ini, Keep it Clean !!!  if not, U are Simply Monkey .

source : google.com

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jangan buang Sampah Sembarangan kalau gak mau dibilang Monyet !!!

  1. Bang Uddin berkata:

    JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN

    Manusia buang sampah sembarangan
    Hingga suangai penuh dengan sampah
    Lalat semakin banyak berterbangan
    Wabah penyakit melanda bagai musibah

    Alamku kotor tiada terkira
    Karena khilapnya manusia yang disengaja
    Bumiku tak lagi ceria
    Menanggung kotoran yang tiada terkira

    Wahai kawan jagalah lingkungan
    Terus berusaha dan cintailah kebersihan
    Jangan buang sampah sembarangan
    Agar indonesia selalu dilimpahi kesehatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s