Singkawang : Oriental Taste of Chinatown


Besok adalah malam perayaan tahun baru cina atau Imlek, begitu orang cina menyebutnya. Kalo mendengar Imlek, saya jadi terkenang dengan kota Singkawang. Salah satu Kota menawan di Provinsi Kalimantan Barat. Kota yang pernah mengisi ruang di satu lembaran hidup saya. Salah satu kenangan yang paling membekas dalam ingatan saya adalah menyaksikan perayaan tahun baru Imlek secara live di Kota Singkawang. Singkawang dapat dikatakan memiliki ciri khas dari kehidupan etnis Tionghoa yang ada di seluruh Indonesia. Kekhasan ini dapat dilihat dengan jumlah penduduknya yang mayoritas berasal dari keturunan Tionghoa, mungkin sekitar 80% dari total jiwa yang mendiami kota singkawang. Mereka begitu dominan dalam berbagai setiap aspek kehidupan misal sosial, budaya, agama, dan perdagangan. Kekhasan inilah yang membuat sebagian besar etnis Tionghoa di Singkawang sangat berbeda dengan etnis Tionghoa di seluruh Indonesia. Karenanya, Kota Singkawang dijadikan salah satu ikon kekayaan budaya yang ada di Kalbar.

lampion raksasa

Hiasan Lampion di Pohon Beringin

Menyaksikan malam imlek di kota singkawang, semaraknya lebih terasa dibandingkan perayaan Imlek di kampung pecinan di Pulau Jawa. Tradisi leluhur Nenek Moyangnya dari negeri Tirai Bambu disana masih tampak mengakar begitu kuat. Maka, tak salah kalau saya serasa bertualang ke negeri cina🙂. Mendekati Lebaran Imlek, Kota Singkawang mulai menghias diri. Balon-balon lampion menggantung di sepanjang jalan raya dari daerah pinggiran sampai ke pusat kota. Kalau malam hari, lampion-lampion tersebut akan menyala sehingga mencipta suasana syahdu dalam nuansa keremangan. Pemandangan menarik ini tentunya menyedot perhatian para pendatang seperti saya dan wisatawan untuk mengabadikan momen ini dengan kamera. Tidak hanya di jalanan saja. Rumah rumah penduduk seakan tidak mau kalah menyambut gema imlek. Biasanya selain lampion, di teras rumah mereka juga digantung kertas-kertas berwarna merah nan cantik dengan gambar gambar boneka yang lucu dan dihiasi kerlap kerlip lampu aneka warna dengan warna merah sebagai warna dominasi. Beberapa kertas seperti banner ditempel di sekitar dinding teras atau ruang tamu. Mungkin isinya kurang lebih tentang sebuah doa dan harapan untuk tahun baru yang akan mereka lewati. Ada juga pohon-pohonan Mei Hwa menghiasi halaman dan teras rumah mereka. Rumah satu dengan rumah sekitarnya seakan-akan berlomba-lomba menampilkan wajah terbaik mereka dalam menyambut imlek. Hal ini ternyata diperlombakan. Setiap ruas jalan atau gang yang paras imleknya paling menarik, maka akan mendapat hadiah dari walikota Singkawang. Begitulah suasana kota singkawang di pergantian tahun.

Ruas Jalan Sejahtera

Ruas Jalan Diponegoro

Ruas Jalan Diponegoro

Menjelang pergantian tahun, seperti halnya tahun baru masehi, maka tahun baru cina ini juga disambut dengan pesta kembang api. Tepat pukul 12 malam, Langit singkawang akan bertaburkan penuh warna warni kembang api. Masyarakat tionghoa menyambutnya dengan suka cita. Mereka yang menunggu momen ini berteriak di jalanan, halaman rumah, warung kopi bahkan kafe-kafe. Semua Keriuhan bercampur menjadi satu dengan deru suara bubuk mesiu yang menguap di udara. Beberapa masyarakat tampak terlihat membakar dupa/hio dan mengayunkannya di atas kepala sebanyak tiga kali. Doa awal tahun mereka panjatkan. Usai itu mereka akan menaruh hio di salah satu sudut rumah atau di depan pintu. Sebagian ada juga yang tampak sedang membakar jagung di beranda rumah mereka. Bercengkerama dengan keluarga sampai pagi.

Banyak sekali momen menarik selama imlek di Singkawang yang tak boleh dilewati. Imlek yang merupakan Hari Besar Orang China seperti halnya Lebaran Idul fitri nya orang Indonesia, maka banyak warga Tionghoa Singkawang yang tersebar di seluruh Indonesia  juga ikutan mudik, merayakan tahun baru bersama keluarga serta menziarahi makam leluhur. Karena itu mendekati Imlek, Harga barang-barang kebutuhan pokok dan tiket pesawat pun ikut melonjak naik. Agen travel perjalanan pun turut sibuk dan Hotel selalu full booked. Wisman dari Taiwan, Hongkong, Singapura dan negara tetangga seperti malaysia terutama Malaysia Timur pun berdatangan ke Singkawang. Hal ini tidak dilepaskan dengan mudahnya transportasi seperti bus antar negara yang menghubungkan kota-kota di kalbar dengan kota Kuching, Sarawak, Sabah dan brunei. Sadar bahwa Imlek merupakan komoditas wisata, Walikota Singkawang beserta jajaran Orang tionghoa Singkawang memang tidak selalu setengah-setengah untuk memeriahkan imlek. Setiap Tahun memang ada yang selalu beda. Terakhir saya meninggalkan kota singkawang akhir bulan desember 2010. Dua tahun sudah berlalu, tetapi ingatan ini masih melekat jelas di dalam benak saya tentang Imlek terakhir di kota Singkawang. Sesuatu yang saya masih ingat yaitu Lampion Raksasa yang berdiri di tengah stadion Kridasana dan Kue Keranjang terbesar untuk memecahkan rekor MURI. Tahun kemarin 2011 menghadirkan ratusan tatung dan pesta kembang api untuk memecahkan rekor MURI juga. Selain itu, Mereka juga menyulap Stadion Kridasana menjadi Hutan Mei Hwa. Mei Hwa ini merupakan bunga nasional Rakyat China. Bentuk Bunganya mirip bunga sakura. Tahun ini 2012 katanya ada atraksi naga barongsai terpanjang dan replika tembok raksasa China yang bisa muat sampai 300 orang. Wah sedih saya, tidak bisa nonton huhu.

Berikut momen tahun baru Imlek dibawah ini yang sempat saya saksikan di Kota Singkawang :

1. Pawai Lampion

Pawai ini diikuti semua elemen masyarakat Singkawang. Etnis tionghoa dan Non Tionghoa turut berpartisipasi dalam karnaval lampion ini. Walikota juga mengundang semua instansi dan institusi lainnya termasuk lembaga pendidikan mulai dari SD sampai universitas untuk ikut memeriahkan pawai lampion dengan membuat lampion-lampion yang menarik. Lampion didesain sedemikian rupa untuk membedakan hasil kreasi lampion dari peserta lainnya. Hal ini terkadang dimanfaatkan sebagai media promosi bagi institusi bersangkutan seperti perbankan dengan menempel sebuah tagline pada sebuah mobil yang ikut diarak-arak dalam pawai ini. Ada juga mobil berhiaskan lampion yang digunakan sebagai arak-arakan yang didalamnya berisi orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam acara ini sambil melambaikan tangan ke arah penonton. Biasanya mereka adalah para pejabat penting di Singkawang.

2. Pawai Naga

Pawai ini berisi arak-arakan naga hias. Naga, salah satu makhluk mitologi yang paling terkenal di dunia. Seluruh dunia memiliki legendanya masing-masing. Wujud naga dalam setiap versi kebudayaan banyak yang berbeda-beda. Namun tidak bisa disangkal, Naga menurut legenda China tetaplah yang paling menarik. Bila di Eropa, Makhluk Naga selalu disimbolkan sebagai makhluk jahat seperti yang kita bisa saksikan di Film Eragon, Harpot, tidaklah demikian dengan Orang China. Naga yang hidup dalam kepercayaan Orang China selalu dikaitkan dengan kekuasaan, Pelindung dan keperkasaan. Begitu besarnya penghormatan Bangsa China terhadap makhluk ini, tak mengherankan bila kaisar-kaisar China yang gagah perkasa selalu mengenakan naga sebagai simbol mereka.

3. Festival Pop Mandarin dan Tarian Multietnis

Nah ini atraksi yang saya paling suka. Masyarakat Singkawang diunjuk kebolehannya menyanyikan lagu mandarin. Etnis Tionghoa Singkawang Jago berbahasa mandarin karena bahasa sehari-hari mereka memiliki kedekatan dengan bahasa mandarin. Selain Festival Pop Mandarin, Ada juga pentas tari yang melibatkan semua etnis yang hidup di Singkawang. Karena merupakan perayaan Imlek, maka tarian China yang lebih dominan ditampilkan. Harmoni tidak selalu melulu muncul dalam toleransi di dalam pergaulan sehari-hari tetapi juga bisa diwujudkan dalam sebuah gerak dan tarian. Hal inilah yang ingin ditampilkan kota Singkawang kepada seluruh khalayak bahwa kita bisa hidup damai dalam berbagai corak etnis dan budaya. Tidak ada lagi pertentangan dan pertumpahan darah.

4. Pemilihan Miss Shanghai

Pagelaran Miss Shanghai merupakan salah satu Festival yang diadakan untuk memeriahkan Perayaan Imlek. Pagelaran ini dilaksanakan di salah satu tempat rekreasi terkenal di Singkawang yaitu Bukit Bougenville. Pesertanya merupakan Amoy-amoy Singkawang yang berwajah chinese. Mereka tidak hanya diadu dalam hal kecantikan, berbusana etnis tetapi juga talenta dan brain.

5. Kue Keranjang

Tidak lengkap kalau merayakan imlek tidak membuat Kue Keranjang. Saya pun membelinya di salah satu toko kue karena penasaran untuk mencicipinya. Rasanya manis. Karena ukurannya besar (padahal ini sudah kue paling small tetap aja gak habis) akhirnya saya bagi-bagiin ke teman satu seksi di kantor.

Kue keranjang (sering disingkat Kue ranjang) yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵) , yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang , adalahkue yang terbuat dari tepung ketan dan gula , serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaantahun baru Imlek. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).

Kue Keranjang Terbesar

Tempat Penyimpanan Kue Keranjang Terbesar

Tempat Penyimpanan Kue Keranjang Terbesar

Antrean warga berebut Kue Keranjang

6. Barongsai Jalanan

Barongsai

Barongsai

Pengamen Barongsai

Biasanya sekali mengamen pertunjukan barongsai, mereka bisa mendapatkan pendapatan sebesar 1 juta atau lebih. Rezeki benar benar nomplok ketika perayaan imlek. Mereka biasanya mengincar toko dan perumahan juragan juragan cina yang kaya dan melakukan pertunjukan di sekitar jalanan tersebut. ide yang brilian.

7. Pasar Lelang Kaget
Pada Festival Cap Go Meh di salah satu ruas jalan di Singkawang terdapat Pasar Kaget yang melelang benda-benda “hoki” menurut kepercayaan orang tionghoa. Salah satu yang menarik perhatian saya disini adalah Pohon Tebu yang dijual sampai Ratusan hingga Jutaan rupiah. Semakin panjang tebunya maka semakin berlipat harganya. Tebu ini digunakan untuk keperluan Sembahyang. Setelah itu biasanya tebu tersebut akan ditaruh di lokasi tempat usaha atau rumah. Fungsinya untuk memudahkan rezeki dan mengusir roh-roh jahat.

Suasana Pasar Lelang

Suasana Pasar Lelang

Babi pun dilelang

8. Festival Cap Go Meh

Cap Go Meh merupakan Puncak Perayaan Imlek dan yang paling ditunggu oleh Wisatawan dan pendatang seperti saya. Setelah Cap Go Meh berakhir, secara praktis berakhir pula perayaan Imlek disana. Perayaan Cap Go Meh diadakan secara rutin tanggal 15 hari Imlek menurut penanggalan China. Cap Go Meh ini merupakan salah satu ritual dalam membersihkan suatu kota dari gangguan roh-roh jahat. Ritual ini dilakukan oleh seorang Tatung yang menurut kepercayaan Orang Tionghoa mengalir darah keturunan dewa. Karena itu Tatung juga disebut juga Orang Suci. Sebagian ada yang mengatakan orang “pintar” atau dukun. Sebelum melakukan atraksi tatung, mereka akan bersembahyang dahulu kepada leluhur dan menjaga perilaku seperti di kelenteng. Setelah menjalani ritual, mereka akan kerasukan arwah leluhur atau roh dewa. Setelah kerasukan roh, seorang tatung tersebut akan melakukan berbagai atraksi di luar kemampuan manusia sadar, seperti berdiri atau duduk di atas sebilah pedang tajam, Menusuk pipinya hingga tembus ke pipi sebelahnya dengan Jarum / Potongan kayu yang ujungnya sudah diruncingkan bahkan tidak segan-segan menggigit seekor binatang hidup, seperti, anjing, ayam dan lain-lain. Mereka diarak dengan tandu yang diangkat oleh beberapa orang dengan iringan musik alat tetabuhan tradisional yang memekakkan telinga dan disertai dengan pembakaran hio di sepanjang jalan. Di dalam tandu tersebut, seorang tatung duduk di atas sebilah pedang dengan jubah kebesarannya tanpa terluka sedikitpun.

ilustrasi diambil dari http://youfy.multiply.com/journal

Tidak semua orang bisa menjadi Tatung. Yang saya ketahui, Semua ilmu yang didalami oleh Tatung hanya bisa diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya. Menjadi Tatung dalam sebuah keluarga yang telah digariskan hidupnya sebagai Tatung bukanlah suatu paksaan. Disinilah sebuah dilemanya. Jika anak-anak mereka tidak ingin menjadi tatung maka bisa punahlah salah satu budaya ini. Oleh sebab itu mereka akan dibayar mahal oleh Panitia Imlek, selain untuk memeriahkan imlek juga untuk menjaga kelestarian budaya ini.

Atraksi Tatung menjadi Daya Tarik Festival Cap Go Meh

Mereka diarak di sepanjang jalan kota singkawang dan tempat perhentian terakhir setelah pawai Cap Go Meh adalah di kelenteng yang terletak di jantung kota. Disini biasanya para tatung akan melakukan semacam ritual sebagai penghormatannya kepada kelenteng. Keberadaan kelenteng ini tidak bisa dilepaskan dari bagian sejarah kota singkawang, karena disinilah peradaban kota singkawang hidup. toko toko pedagang bermunculan di sekitar kelenteng ini dan menjadi pusat sentra strategis perdagangan rakyat. Kelenteng ini biasanya sangat ramai diziarahi oleh masyarakat tionghoa pada hari hari suci umat khonghucu. Umumnya penduduk kota singkawang menyebutkan kelenteng ini dengan kata “pekong”.

Kelenteng di Jantung Kota

sebagian foto dibawah ini saya ambil dari album teman saya.

mbak Deny sangat menikmati perayaan imlek diantara deretan pohon Mei Hwa
narsis di depan replika kelinci
Patung Kelinci menyambut tahun kelinci

Boneka Kelinci ( Jadi teringat Majalah Playboy🙂

Hutan Mei Hwa

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Singkawang : Oriental Taste of Chinatown

  1. andi berkata:

    tulisannya tentang singkawang sangat bagus……..cuma tempat wisatanya dikupas juga yah………biar pada tahu singkawang tuh kota yang unik dalam segala hal……………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s