Stop Psytrap !!!


Psytrap!!! Hah!

Yah, salah satu teman saya mengatakan bahwa saya salah satu tokoh yang menggunakan psytrap di kelas. Kaget juga dibilang seperti itu. Saya yakin teman teman saya mungkin cuma seru-seruan saja memberi tuduhan ini kepada saya. Saya cuma tertawa saja menyikapi hal ini dan kata ini memang lagi populer karena bulan ini mahasiswa di tempat saya berkuliah sedang menghadapi musim ujian. Ketika seseorang ngomong psytrap, orang mungkin akan mengidentikkan dengan kata Psywar. Yeah, Psytrap tidak jauh berbeda dengan psywar, cuma psytrap lebih ekstrem karena melibatkan aksi dari si tokohnya. Lantas apakah psytrap merupakan perbuatan tercela? Hm, saya juga bingung mengatakan. Karena ada beberapa modus psytrap yang menurut saya masih etis. Psytrap ini biasanya sering dijumpai dan “malah” dianjurkan ketika seseorang menghadapi situasi yang melibatkan unsur kompetisi.  Dalam dunia olahraga, mungkin pelatih sepakbola Jose Mourinho bisa dikatakan sebagai tokoh psytrap. Umumnya tokoh psytrap selalu menggunakan teknik menjatuhkan lawan dengan menyerang secara psikologis. Lantas apakah psytrap akan berhasil diterapkan untuk merobohkan tembok psikologis lawan? Pandangan saya, ada beberapa aspek-aspek lainnya untuk mendukung psytrap. Suasana dan kondisi hati lawan yang akan dituju mungkin salah satunya. Jika lawan tidak hati hati dalam menyikapi psytrap, mungkin dia akan jatuh ke dalam jebakan yang telah disiapkan oleh si tokoh psytrap.

Menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi kedinasan yang menerapkan seleksi ketat di setiap semesternya membutuhkan strategi yang tidak asal-asalan. Pilihan untuk ‘hanya belajar’ atau menambah aktivitas lain kembali ke pribadi masing-masing. Akan tetapi, apapun pilihan itu, konsekuensinya adalah manajemen waktu dan manajemen psikologi adalah hal yang harus ditata sebaik mungkin.

Tiga tahun menjadi Mahasiswa STAN, saya mendapati kenyataan bahwa ada orang-orang tertentu yang melancarkan trik-trik tertentu kepada teman-temannya sesama Mahasiswa STAN dalam rangka persaingan. Pada umumnya bukanlah trik ‘rendahan’. Misalnya dengan dengan memberikan makanan/minuman yang membahayakan kesehatan. Tidak! Trik seperti itu tidak dilakukan oleh Mahasiswa STAN.

Mental, ya mental, itulah yang selalu menjadi titik serang untuk ‘mengalahkan lawan’ sesama Mahasiswa STAN. Disadari atau tidak, ada banyak para pelaku psy-trap  di kalangan Mahasiswa STAN. Seperti apakah modusnya? Mari kita mulakan dengan Bismillah.

Modus Satu

Seperti sebuah kebiasaan, mahasiswa-mahasiswa tertentu akan melancarkan strategi psy-trap dalam penyelesaian tugas. Ketika sudah mengerjakan separuh tugas, rehat sejenak untuk sekadar sms atau mention twitter.

 “Eh, ada tugas apa aja ya?” Memberi kesan bahwa ia tidak tahu ada tugas atau tidak.
Sang teman pun akan menjawab bahwa tugasnya ini dan itu, halaman sekian dan sekian.

Lalu sang pelaku psy-trap  akan mendiamkan sms itu terlebih dahulu. Ketika ia berhasil menyelesaikan tiga per empat tugasnya, barulah membalas sms.
“Duh, gue baru tau. Ajarin donk!” Memberi kesan bahwa dia tidak lebih pintar dari temannya itu.
“Tapi gue nggak ngerti.”
“Sama.” Padahal tugas hampir selesai.
“Ya udah besok aja kita nyalin punya si X, katanya sih pendek.”
“Oke.”

Besoknya, ketika mata kuliah yang bersangkutan akan dimulai, dia pura-pura ikut sibuk menyalin jawaban tugas dari temannya. Modal banget! Kertas folio, pulpen, dan segenap piranti lainnya. Lalu tibalah waktu tugas harus dikumpulkan. Tadaaa! Ia pun mengeluarkan bundelan kertas rapi berisi jawaban tugas yang sudah ia persiapkan dengan baik. Tertipulah temannya yang dia tanyai tadi malam. Sementara itu, yang memang bingung dan ikut menyalin jawaban malah melongo, jawaban tugasnya hanya sepersekian.

 Modus Dua

Ini tentang ujian. Malam sebelum ujian, biasanya banyak yang bertanya.
“Eh, lu belajar dari mana?” Niatnya mengecek persiapan temannya.
“Aduh, bingung gue. Belajar apa? Kalo elu?” Jebakan dipasang.
“Baru baca IMMSI doank nih.” Jujur. Yang dimaksud adalah paket soal bahas yang disediakan IMMSI.
“Oh, bagus ya? Ya udah deh gue baca IMMSI juga deh.” Padahal bukunya Warren-Fees, Kieso, dan lain-lainnya lengkap dan sudah dipelajari.

Si jujur beranggapan ada teman yang juga belajar hanya dari paket soal bahas IMMSI. Sudah itu saja. Dan ia pun tertipu.

 Modus Tiga

Masih malam sebelum ujian. Apapun info yang kemungkinan bisa disebut kisi-kisi, ia sebarkan ke sebanyak mungkin teman. Tanpa pilih-pilih, yang penting terlihat banyak. Efeknya? Yang bingung semakin bingung, lantaran materinya terlihat sangat banyak. Padahal intinya sama, itu-itu juga.

Modus Empat

Sesaat sebelum ujian. Ketahuilah, ada yang pura-pura bingung membaca materi di kelas sebelum ujian itu, ternyata sudah hapal di luar kepala! Mahasiswa yang benar-benar bingung ikut-ikutan belajar sesaat sebelum ujian, berusaha menghapal sebanyak mungkin. Hasilnya otaknya nge-hank, malah jadi banyak blank.

Lalu datang juga pelaku psy-trap lainnya.
“Aduh, gue ketiduran deh semalem. Cuma baca lima halaman.”
“Gue muter-muter belajar dari IMMSI, kagak ngerti juga.”
“Udahlah gue pasrah aja deh.”
“Saya nggak baca sama sekali.”
Hasilnya? Itu empat-empatnya nilainya A.

 Modus Lima

 Saat ujian, ekspresi kebingungan luar biasa.  Bolak-balik toilet, lap keringat, dan sebagainya. Hal ini menularkan kegugupan kepada teman-temannya. Dia sendiri dengan leluasa menjawab soal dengan hati penuh kemenangan.

 Modus Enam

 Setelah keluar dari ruang ujian di hari pertama. Sibuk bertanya.
“Eh, lu balance nggak?”
“Nggak tuh, tadi kayaknya ada yang salah.” Jujur.
“Gue balance.” Ini yang lain, jujur juga.
“Kayaknya sengaja dibikin nggak balance deh, tadi gue pake asumsi.” Psy-trap.

Dan yang tadinya balance dan seharusnya benar, meragukan jawabannya sendiri. Besoknya, psikologinya menurun drastis, tidak percaya diri.

 Modus Tujuh

Setelah keluar dari ruang ujian. Sibuk bertanya ini-itu, menggamangkan hati teman-temannya.
“Tadi jawaban nomor dua apa ya?”
“Aduh, gue nggak bisa jawab sama sekali!”
“Pasrah aja deh.”
“Aku? Mengarang indah.”
“Wah, ke-DO deh gua kayaknya.”
Saat pengumuman kelulusan, ee masuk papan atas.

Mungkin masih ada beberapa modus lainnya. Tapi saya rasa ini sudah cukup untuk mengutarakan sedikit maksud yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini. Terutama kepada teman-teman saya yang masih aktif sebagai Mahasiswa STAN. Modus-modus di atas saya copas dari blog teman saya disini

Setelah membaca modus-modus di atas, Saya jelas bukan seorang yang menggunakan psytrap. Alasannya, saya memiliki prinsip hidup bahwa If I know, I Know but If I don’t know, I really don’t know.  Modus di atas bagi saya sangat murahan sekali. Saya tidak memiliki nilai IP kuliah yang tinggi. Cumlaude saja masih mimpi. Sering iseng menulis status “Psywar” di grup facebook kelas,tetapi IP tetap yah gitu deh. Kok susah banget dapat IP tinggi, untungnya saja saya tidak kena Drop Out dan hal ini yang masih patut disyukuri oleh saya, Alhamdulillah. Saya memiliki konsep diri bahwa saya orangnya periang dan tidak suka merumitkan hidup. Dapat nilai buruk yah disyukurin saja. Memang segitu saja kemampuan saya. So what must I do again? Saya orangnya tipe “let it flow” yang senantiasa mencoba memperbaiki diri kalau mendapat nilai nilai merah dari dosen.

Lantas apa saya kecewa dengan tokoh psytrap?? Jawabannya tidak. Berperilaku Psytrap adalah pilihan seseorang. Selama dalam batas kewajaran dan tidak mengabaikan nilai nilai etika di dalamnya, it must be no problem. Tetapi memang tidak mengenakkan apabila orang tersebut mengabaikan prinsip-prinsip moral salah satunya berbohong. Oleh karena itu, bagi pihak yang merasa dipecundangi oleh si tokoh psytrap, sudah saatnya anda membangun benteng psikologis yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh oleh segala bentuk tindakan yang dilakukan si tokoh psytrap. Saya pernah memiliki pengalaman buruk dengan tokoh psytrap yaitu ketika saya ingin konsultasi sebuah mata pelajaran yang saya sulit pahami menjelang ujian. Si tokoh psytrap menolak mentah-mentah. Alasannya belum memahami juga dan belum belajar. Saya mencoba berpikir positif bahwa dia jujur dengan perkataannya dan tidak hanya saya saja yang tidak mengerti materi tersebut. Tetapi dalam kesempatan yang sama, saya memergoki dia sedang mengajari teman saya yang lain yang nilai rapornya jauh jauh di bawah saya. Saya kemudian menyadari mungkin karena alasan persaingan dia berbuat seperti itu kepada saya.

Seperti kata pepatah, Padi semakin tinggi semakin merunduk. Semakin tinggi ilmu seseorang harusnya semakin rendah hati, sikapnya menjadi lebih bijaksana. Ini mengapa proses pendewasaan seseorang bisa berbeda-beda antara orang satu dengan orang lainnya. Tingginya gelar dan ilmu juga tidak menentukan bahwa perilaku seseorang menjadi lebih berbudi. Tetapi  memang tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang terdidik umumnya lebih bijaksana dalam menyikapi suatu masalah. Dalam kepercayaan agama saya, Ilmu merupakan amalan yang akan terus mengalir abadi dan menjadi amalan yang akan memudahkan seseorang ketika hari pembalasan tiba. Hal ini dapat dipahami karena orang yang menyebarkan ilmunya, Ilmu-ilmu tersebut akan terus diwariskan hingga membentuk rantai panjang generasi. Karena itu bersyukurlah anda orang orang yang berilmu terutama apabila ilmu anda sangat bermanfaat bagi orang banyak dan memiliki tujuan yang mulia. So, kepada tokoh psytrap, alangkah baiknya jika anda menggunakan trik-trik yang sehat dan jujur. Jangan sampai teman-teman anda kecewa dengan perilaku anda. Terima kasih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Stop Psytrap !!!

  1. bukanperantau berkata:

    wow.. keren ini… dan ini sepertinya saya baru sadari bahwa teman saya di STAN sering melakukanya, tp saya tidak sadar…

    salam hangat bukanperantau

  2. Eko Wardoyo berkata:

    If I know, I Know but If I don’t know, I really don’t know.
    yang ini pecis engan milik saya, d(^o^”)

    semoga para pelaku menyadari bahwa semakin ia memberi maka semakin banyak ia menerima- takut kalah bersaing maka ia telah menjadi seorang yang terkalahkan oleh dirinya🙂

    terima kasih infonya bang d(^o^”)

  3. Anonim berkata:

    emang banyak orang kayak gitu di dunia ini -______-

  4. koenzhoer berkata:

    ada juga orang yang ingin merendah sebenernya (biar ga dibilang sombong) melakukan trik yg pertama. Dan saya rasa rasa itu tidak merugikan orang lain.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s