Dieng, Sebuah Negeri di atas Kawah (Part 1)


Keberangkatan ke dieng kali ini saya awali dengan kondisi badan yang kurang fit. Waktù itu saya baru saja selesai traveling dari bandung dan sampai kosan di bintaro Jam 3 pagi. Dengan hanya istirahat tidur selama 3 jam, pukul 6 pagi saya berangkat lagi ke terminal lebak bulus untuk mencari bus yang akan membawa saya ke dieng. Alhasil di dalam bus,  dengan badan yang masih jetlag, saya pun  terserang demam panas dan tidak bisa tidur nyenyak. Whoaaaaaa. Oh iya harga tiket busnya 85 rb dengan fasilitas AC dan televisi yang suka muterin cewek binal bergoyang dangdut asololee hehehe. Nama busnya kalo ga salah ingat “Sinar Jaya”. Tuh bus dah terkenal banget untuk rute Jakarta-Jateng selain Bus Sumber Alam.

Setelah melewati perjalanan membosankan yang hampir memakan waktu 13 jam dari jakarta, akhirnya saya tiba di kabupaten Wonosobo jam 9 malam. Saya menginap di rumah teman saya yang asli Wonosobo. Suhu udara Wonosobo di waktu malam tidaklah terlalu dingin. Saya pun bisa tidur terlelap tanpa takut kedinginan sekalipun. Keesokan harinya sakit panas saya tak kunjung reda. Karena masih sakit saya memutuskan untuk melakukan traveling ke dieng besok. So, Daripada saya cuma bengong di kamar, saya coba putuskan jalan-jalan sorenya di sekitar kota wonosobo. Pertama saya pergi ke alun-alun kota dengan naik mobil teman saya. Alun-alunnya sih ga beda jauh dengan alun-alun yang pernah saya temui di semua kota di pulau jawa. Pada waktu itu, alun-alun tampak kerumunan anak SD berseragam Pramuka. Sepertinya ada acara adu bakat dan ketangkasan di lapangan alun-alun oleh anak pramuka SD di seluruh kabupaten Wonosobo. Acaranya berlangsung semarak meski yang nonton cuma dikit.

Setelah itu saya mengunjungi salah satu restoran kuliner khas Wonosobo. Menu kuliner andalannya apalagi kalo bukan mie ongklok.  Mie ongklok ini selalu direkomendasikan sebagai makanan khas yang wajib dicoba bagi para backpacker yang datang ke wonosobo. Mie ongklok agak beda dengan mie goreng rumahan atau mie indomie. Bumbu dan kuahnya aja sudah beda. Kuahnya agak kental gimana gitu. Mungkin ada tepung kanjinya. But the taste of Mie ongklok enak kok di mulut seperti mie-mie lainnya. Cuman mesti dimakan dalam keadaan hangat, karena kalo dingin jd ga enak di lidah. So, Ga ada salahnya buat kamu2 yang datang ke Wonosobo mencicipi sajian mie ongklok khas ini.

Mie Ongklok

Nama Mie Ongklok ternyata bukan tanpa alasan. Nama tersebut didasarkan pada proses memasaknya yang di ongklok-ongklok yakni diaduk dengan cara dilempar-lempar ke atas menggunakan wadah. Isi wadah tersebut akan dihambur keatas kemudian terkumpul lagi tanpa ada yang tumpah atau berhamburan. Proses ini tentu hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah memiliki keahlian tersendiri.

Pada dasarnya mengolah kuliner ini tidaklah sulit karena hampir sama dengan proses pembuatan mi ayam. Mie kuning dengan irisan kucai dan kubis direbus dan diongklok-ongklok dalam sebuah wadah. Jika mie dan sayuran telah layu, campuran dituang ke dalam mangkuk dan diberi bumbu serta kuah kental berwarna coklat. Kuah tersebut merupakan campuran adonan bawang merah, bawang putih, tepung tapioka serta ebi. Untuk menambah cita rasa, mie tersebut ditambah sambal kacang dan juga bawang goreng. (sumber: http://palingindonesia.com/nikmatnya-mie-ongklok-khas-wonosobo/)

Selain menyantap mie ongklok, rasanya belum lengkap kalau ke Wonosobo belum menc0ba minuman teh purwoceng. Purwoceng ini merupakan salah satu tanaman herbal yang katanya hanya tumbuh di dataran Wonosobo dan sekitarnya. Purwoceng ini diyakini masyarakat setempat memiliki khasiat sebagai penambah stamina atau viagra alami. Asal usul katanya aja sudah ngeres, maaf dari kata “ngaceng” yang artinya er*ksi. Meski umumnya dianjurkan bagi para pria yang akan menjadi penganten baru, Purwaceng ini juga bisa diminum bagi penderita cacingan. Biasanya ekstraknya dicampur dengan kopi atau juga dengan teh. Berhubung stok teh purwoceng lagi abis di restoran tersebut, saya mencoba menggantinya dengan Kopi purwoceng. Harapan saya setelah minum kopi ini, semoga demam panas saya menjadi hilang dan menambah stamina buat besok mendaki di bukit sikunir.

Gila nih kopi ini enak banget. Karena ada purwoceng di dalamnya, rasa dan aromanya seperti jamu. Badan saya mengeluarkan keringat. Efek abis minum jamu kopi purwoceng. Saya merasakan seperti ada energi baru memancar dari dalam tubuh saya. Saya seperti orang yang baru saja bangun pagi. Badan saya menjadi bugar. Demam Panas yang saya rasàkan seperti berkurang. Hebat juga nih kopi purwoceng.

Keesokan harinya, Jam Setengah 4 subuh saya berangkat dari kota wonosobo menuju dieng. Seperti umumnya jalan di daerah pegunungan, daerah menuju dieng medannya juga berliku-liku. Teman saya yang bernama bayu, anàk wonosobo punya, yang didaulat sebagai sopir, sepertinya sudah cukup hafal medan jalan menuju dieng. Pemandangan di luar cukup gelap. Hanya nyala lampu dari rumah rumah penduduk yang tidak begitu ramai di pinggir jalan. Dari sorot lampu mobil, tampak kebun kentang menghampar di kanan-kiri. Tanaman kentang di wonosobo ini hampir memasok seluruh kebutuhan kentang masyarakat jawa. Makanya dimana-mana kalau ditanya orang, daerah penghasil kentang pasti kabupaten wonosobo

Setelah hampir 45 menit perjalanan, sebuah gapura bertuliskan selamat datang di Kota Dieng tampak berdiri megah, menandakan bahwa saya sudah sampai di Kota Dieng. Di dalam mobil, saya belum merasakan dinginnya hawa pegunungan. Baru setelah turun ke masjid dekat daerah bukit sikunir, Angin yang suhunya seperti es menampar nampar wajah saya. Saya langsung merapatkan resleting jaket ke leher saya. Bener-bener dingin di luar bro. Ketika ambil air wudhu, gigi saya gemeletukan menahan dingin. Lebih dingin daripada di Gunung Bromo.

Setelah salat subuh, saya melanjutkan perjalànan lagi menujù bukit sikunir. Di lereng bukit, tempat sekaligus untuk memarkir mobil tampak masyarakat setempat yang sudah membangun kemah-kemah. Dari menjelang subuh mereka sudah bersiap siap jualan senter, topi rajut dan jaket. Selain itu mereka juga menawarkan jasa menjadi guide untuk mendaki bukit. Berhubung kita semua anak yang hobi naík gunung (minus saya) tawaran itu saya tolak.

Mendung di Bukit Sikunir

Mendung di Bukit Sikunir

Petualangan dimulai. Kesan pertàma ketika naik bukit ini, jalanannya lebih menanjak daripada Gunung Penanjakan Bromo. Angin yang menerpa tubuh saya bahkan lebih dingin daripada yang saya rasakan di bromo pagi-pagi buta. Naik Gunung tuh benar2 capek, padahal ini cuma masih kelas bukit. Napas saya sudah ngos-ngosan. Cuaca di Langit di atas pun tidak mendukung. Mendung. Sepertinya saya bakal gagal menikmati sunrise di bukit sikunir. Mana katanya ada dua bentuk sunrise di sikunir mulai dari silver sunrise dan golden sunrise. Entah apa  bedanya, saya pun tdk tahu gara2 mendung. Hopeless dan hilang semangat. Setiba di atas, seperti orang gak mau kecewa, saya pun mulai bernarsis ria. Jepret sana sini. Foto dengan pemandangan persawahan yang tampak jelas dari atas bukit sikunir plus background langit yang tampak masih malu malu menampakkan warna keemasannya. Betenya di atas ga ada orang jualan susu, kopi atau teh hangat lagi😦 . Padahal saya sudah dehidrasi banget. Baru pukul 6 pagi, ada penjual minuman yang naik ke atas bukit. Telat. Saya pun waktu itu sudah buru-buru mau turun bukit.

Golden Sunrise di Sikunir kurang lebih seperti ini katanya..like somewhere over rainbow

Silver Sunrise di sikunir seperti ini katanya…sayangnya I couldn’t see it😦

Turun dari bukit sikunir, kita akan disuguhkan pemandangan telaga yang katanya namanya telaga kecebong. Bentuknya sih memang mirip kecebong sih. Padahal saya waktu naik bukit tadi gak ngeh kalo ada telaga disitu. Mungkin karena masih gelap. Baru setelah agak siangan kelihatan telaganya. But Anyway, ga ada yang spesial dengan telaga kecebong. Lagi-lagi saya gagal mendapat impresi sebuah negeri dieng.

Telaga Kecebong

Telaga Kecebong

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Dieng, Sebuah Negeri di atas Kawah (Part 1)

  1. isnasaragih berkata:

    hahahaha … ditunggu purwocengnya. dimana kalo mau beli wkwkwkwk

  2. Siti Maimunah berkata:

    Owalah si kk jauh bener jalan jalan nya
    Negeri Dieng ya.. kapan ya bisa travel ke sana😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s