Dieng, Negeri Di Atas Kawah (Part 2)


Setelah petualangan mendaki bukit sikunir, perjalanan kami dilanjutkan lagi menuju Telaga Warna. Selama perjalanan, Di dalam mobil saya melihat ada beberapa daratan dieng yang tampak berasap. Rupanya daratan berasap ini adalah kawah-kawah yang muncul di permukaan bumi dataran Tinggi dieng. Di sepanjang tepi jalan, tampak begitu banyak pipa-pipa yang memanjang hingga akhirnya saya sadari bahwa pipa itu berasal dari Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Uap setelah saya melewati sebuah kawasan PLTU. PLTU ini yang menjadi tempat pasokan kebutuhan listrik Masyarakat Dieng. Dari artikel yang saya baca sejak esde, Dataran Tinggi Dieng ini merupakan dataran dengan aktivitas vulkanik yang tinggi. So, penduduk dieng ini sebenarnya tinggal diatas kawasan gunung berapi yang ada dibawahnya. Karena merupakan dataran vulkanik yang masih terbilang aktif, disini banyak ditemukan banyak kawah dan danau dan telaga hasil dari proses vulkanisme. Dengan keadaan ini tentu saja sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni di kawasan semacam ini. Tetapi, Masyarakat Dieng percaya bahwa sang Hyang akan selalu menjaga tempat ini dari bencana. Konon katanya, Kata “Dieng” sendiri berasal dari “di” yaitu tempat dan “eng” yang berarti hyang dari bahasa Sansekerta. Jadi kalau diartikan kurang lebih Tempat bersemayamnya Para Dewa. Saya pikir arti kata tersebut tidak berlebihan dan cukup menggambarkan pesona dataran Tinggi Dieng. Tentu dong Dewa tuh pengennya tinggal di tempat yang eksotis, damai dan Hening dan saya melihat Dataran tinggi Dieng menyajikan semua keajaiban ini di setiap sudutnya dengan luar biasa. Tidak hanya memiliki pemandangan alam pegunangan yang menakjubkan namun juga memiliki kekayaan alam yang melimpah dibawahnya. Dengan tinggal di kawasan yang memiliki banyak kawah, dan memanfaatkan energi hidrotermal atau panas bumi yang merupakan sumber daya yang tidak pernah habis, Masyarakat Dieng tidak perlu cemas lagi dengan kekurangan pasokan listrik. Dieng memang benar benar tempat pilihan  untuk Para Dewa berdiam diri.

Setelah perjalanan sekitar 15 menit, akhirnya kami tiba di Kawasan Wisata Telaga Warna. Teman saya memarkirkan begitu saja mobilnya di pinggir jalan. Karena masih pagi kawasan ini masih sepi. Pas banget timenya. Well, karena ingin dapat view menarik dari landscape telaga warna, lagi-lagi saya harus mendaki bukit. Tidak tinggi amat sih tapi cukup membuat napas saya ngos-ngosan. Konon katanya bukit ini sering dijadikan pilihan bagi backpacker yang ingin menikmati secara gratisan karena kalau lewat bawah mesti bayar karcis masuk lagi. Udah itu, melihat dari ketinggian lebih bagus viewnya karena air telaga warna akan kelihatan tampak seperti hijau kebiru-biruan. Sebenarnya di kawasan Telaga Warna tuh ada dua telaga yaitu Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Namun orang lebih suka bilang Telaga Warna untuk menyebut dua telaga tersebut. Padahal sudah jelas sekali bahwa dua telaga ini memiliki karakter berbeda. Telaga Pengilon letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, dan airnya tampak jernih seperti tidak tercampur berlerang kalau dilihat dari ketinggian. Uniknya yang membatasi Telaga Warna dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa kecil. Dua Telaga ini sangat amazing scenerynya. Dari atas kelihatan sekali bukit-bukit yang mengelilingi kawasan telaga warna. Di atas bukit-bukit ini, ada beberapa kawah yang masih tampak aktif dan mengeluarkan asap. Bukit-bukit ini merupakan garis batas tiga kabupaten. Kalau kita berani mendaki bukit satunya dan sampai dibaliknya, kita akan sampai di kabupaten Wonosobo. Begitu bukit lainnya, kita akan sampai di kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Temanggung apa Kendal gitu. Lupa saya.

silent autumn

silent autumn

Setelah puas melihat dari ketinggian, akhirnya kita turun lagi ke bawah. Rupanya di bawah, penjaga karcis kawasan Telaga Warna belum datang. Karena disini pintu masuknya sangat terbuka dan gampang dimasuki pengunjung, akhirnya saya nyelonong dan jalan-jalan di sekitar tepi telaga. Ekosistem telaga warna memiliki vegetasi cukup eksotis  seperti halnya yang saya lihat di film twilight. Barisan pepohonan memanjang dengan daunnya yang tampak kekuningan, hijau kemerah-merahan berguguran. Dengan suasananya yang masih sepi benar-benar menghadirkan sensasi ketenangan. Such a sweet autumn. Just like a heaven. Pas banget mengusir segala kegalauan kehidupan. Di Telaga Warna ini terdapat Gua cantik bernama Goa Semar. Sayangnya saya tidak mencapai gua ini saking keasyikannya ngelamun dan berlama-lama menikamati pemandangan di sekitar telaga warna. Tak hentinya saya memuji di dalam hati mengagumi Mahakarya ciptaan Tuhan ini. Pokoknya kalau ke dieng, gak nyesel kalo sudah melihat telaga warna.

Telaga Warna

Setelah dari Telaga Warna perjalanan dilanjutkan lagi ke Kawah Sikidang. Hanya 10 menit dari telaga warna saya sudah sampai di Kawasan Wisata Kawah Sikidang. Saya saja sampai kaget karena tiba-tiba sudah sampe. Rupanya objek wisata di sekitar dieng itu cukup berdekatan dari satu objek wisata satu dengan objek wisata lainnya. Jadi sehari mungkin bisa All in one untuk mengunjungi semua tempat wisata di Dieng

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang ini cukup rame juga pengunjungnya terutama wisatawan Mancanegara. Kemaren saya lihat ada banyak Turis Manca yang ikut travel tour dengan satu bus. Rata-rata mereka umurnya sudah tua. Kelihatan sekali mereka tuh bukan bule backpacker, karena mereka semua tampaknya sudah berumur dan cewek-cewek bulenya cuma bawa tas seperti ke kondangan. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang telah pensiun dari bekerja dan menghabiskan masa tuanya dengan jalan-jalan ke berbagai Negara.

Kawah Sikidang ini merupakan kawah yang paling populer dan diminati karena lubang atau semburan gas kawah ini sering berpindah-pindah tempat. Karena keunikannya yang sering melompat lompat seperti Kidang (Kijang), masyarakat setempat menamainya dengan Kawah Sikidang. Sayangnya kawah ini dipagari untuk keamanan pengunjung dan ada tulisannya kalau pengunjung dilarang mendekat ke kawah. Tidak seperti di Kawah Domas di Bandung dimana kita bisa merebus telur dengan air kawah. Dari dalam kawah keluar uap bercampur belerang. Di sekitar kawah juga gampang ditemukan sekali batuan belerang. Anehnya saya hanya menemukan satu penjual batu belerang disini. Tidak seperti di Kawah Ijen, dimana penambangan belerang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat dan banyak dijual.

Setelah puas menikmati Kawah Sikidang, perjalanan dilanjutkan lagi ke kompleks Candi Arjuna. Kalau saya gak salah ingat karcis masuk kawah sikidang jadi satu dengan karcis masuk Candi Arjuna. Di Kompleks Wisata Candi Arjuna terdapat tempat yang menarik untuk dikunjungi yaitu Dieng Plateau Theater Museum. Di Museum ini nanti pengunjung akan disuguhkan layar bioskop yang memutar video tentang Sejarah Dieng, Aktivitas Kegunung Apian serta peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Dieng. Karena saya datangnya masih Pagi, Tempat ini belum buka. Tak ingin berlama-lama di tempat ini, saya segera menuju Kompleks Candi Arjuna. Kompleks Candi Arjuna terdiri dari 8 candi yaitu Candi Arjuna, Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati. Seperti Candi-candi yang saya pernah saya kunjungi, Candi ini letaknya cukup tersembunyi. Seperti tampak sendiri di tengah-tengah pegunungan. Dari sejarahnya, candi memang perlu dibangun di tempat yang agak sunyi dari keramaian, karena masyarakat bisa melakukan sesembahan kepada dewa dengan tenang. Salah satunya dibangun di dekat dan menghadap ke arah gunung seperti Candi Gedong Songo, Borobudur dan Mendut. Biasanya kawasan candi memiliki Bio Energi yang baik seperti Candi GedongSongo di lereng Gunung Ungaran yang katanya diklaim memiliki Bio Energi terbaik di Asia melebihi pegunungan di Tibet dan pegunungan lainnya di Asia. Entah benar apa tidak, saya tidak terlalu memikirkannya. Dibangun sekitar abad 7 M yang merupakan kompleks candi tertua di Pulau Jawa, rasanya takjub melihat bangunan ini masih kokoh berdiri hingga saat ini meski ada 3 candi yang sudah roboh dimakan usia. Candi ini dibangun pada Era Kerajaan Mataram Kuno. Terdiri dari lima candi tersusun dua deret, deret sebelah timur terdiri dari empat bangunan candi yang semuanya menghadap ke barat yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi,Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Deret sebelah barat menghadap ke timur yaitu Candi Semar. Pada Candi-candi ini digambarkan Dewa-dewa pendamping utama Agama Hindu yaitu Brahma, Siwa dan Wisnu.

Kompleks Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna

Turis ini gak mw diajak foto bareng saking banyaknya orang Indonesia mau foto sama dia. Abis cantik sih...Untung setelah dirayu mau juga. Just one shoot :)

Turis ini gak mw diajak foto bareng saking banyaknya orang Indonesia mau foto sama dia. Abis cantik sih…Untung setelah dirayu mau juga. Just one shoot🙂

Setelah Puas mengitari kompleks Candi Arjuna, tiba saatnya saya pulang. Satu hal yang saya masih ingat dan membekas di ingatan saya adalah Pelajaran Geografi SMA yang diajari bu Nana Nadzibah. Kalo dia ngajar, ia selalu bersemangat menceritakan tempat tempat eksotis di Indonesia salah satunya dieng. Cuman waktu itu dia nyeritain dieng dengan ditambahi cerita horor tragedi Kawah Sinila dan Kawah Timbang. Kawah Sinila ini pernah meletus pada pagi hari tahun 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun mereka terperangkap gas racun yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila. Sejumlah warga dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman. Terakhir, Kawah Timbang tahun 2011 sempat menyemburkan asap setinggi 20 meter dan mengeluarkan gas CO2 diatas batas aman. Karena aktivitas kawah Timbang yang tidak sehat tahun lalu, membuat saya menjadi batal melakukan traveling ke dieng. Akhirnya di tahun ini, cita-cita saya ke negeri dieng kesampaian juga. Meski tidak sempat mengunjungi dan penasaran dengan kawah timbang dan Sinila, tidak apa. Toh saya juga sudah cukup terhibur dengan pemandangan alam pegunungan Dieng.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Dieng, Negeri Di Atas Kawah (Part 2)

  1. yoga berkata:

    bagus bagus

  2. Anonim berkata:

    bagus jadi kepengin kesana menghilangkan penat karena bekerja dan bekerja

  3. shie berkata:

    nice blog..nice content..thumps up

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s