Jalan Jalan ke Semarang (Part 3) : Kelenteng Sam Poo Kong : Antara Toleransi dalam Harmoni


Jam masih menunjukkan 10 siang ketika saya keluar dari Lawang Sewu. Masih ada 3 tempat wisata lagi yang harus saya kunjungi dalam 1 hari ini. Kelenteng Sam Po Kong, Kota Tua Semarang dan Masjid Agung. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang saya temui di trotoar, akhirnya saya memutuskan naik taksi menuju Kelenteng Sam Po Kong. Tidak kurang sekitar 30 menit akhirnya saya tiba di pelataran kompleks kelenteng Sam Po Kong. Perasaan haru biru dan asa bercampur aduk menjadi satu. Penantian selama 10 tahun akhirnya terjawab sudah. 10 tahun lalu yang lalu saya ingin sekali memiliki Buku Sam Poo Kong Karya Remy Sylado. Sebuah buku biografi dan cerita perjalanan Laksamana Cheng ho. Waktu itu harganya dibanderol sekitar 400 ribuan di Gramedia. Dengan harga yang meski tidak selangit, Saya cuma bisa gigit jari. Sebagai siswa yang masih baru masuk SMA mana ada saya memiliki duit sebanyak itu. Harus menabung uang saku untuk beberapa bulan untuk mencapai uang sejumlah tersebut. Sedih sekali memang. Meski begitu, tetap tak pernah lekang kekagumanku terhadap Laksamana Cheng Ho dan keinginan untuk mengunjungi kelenteng Sam Poo Kong.

Arca Laksamana Cheng Ho

Arca Laksamana Cheng Ho

Berbicara kelenteng ini, tentu ada sosok kharisma di balik bangunan tempat peribadatan ini. Siapa lagi kalau bukan laksamana Cheng Ho, Pemimpin kapal dinasti Ming yang cukup populer di jamannya. Konon menurut beberapa literatur Sejarah, Laksamana Cheng Ho cukup banyak melakukan hubungan kerjasama yang baik dengan Negara Kita. Tercatat dia mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali dalam ekspedisinya. Dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Karena ada awak kapalnya yang sakit, ia memerintahkan mendarat dengan menyusuri sebuah sungai yang sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa bernama Simongan, Semarang. Setelah sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan bersembahyang. Cheng Ho memutuskan menetap untuk sementara waktu ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu. Laksamana Cheng Ho kemudian melanjutkan perjalanannya lagi sementara itu ada beberapa awak kapalnya yang menikah dengan penduduk setempat dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Simongan. Awak Kapal Armada Cheng Ho inilah yang akhirnya diketahui menjadi cikal bakal munculnya etnis Tionghoa di Kota Semarang. Para Pengikutnya kemudian membangun sebuah Kelenteng di dekat gedung Batu tersebut. Untuk mengenang jasa-jasa dari Laksamana Cheng Ho, Kelenteng ini dinamakan Kelenteng Sam Poo Kong atau Sam Poo Thay DJin yang sedang saya kunjungi saat ini. Sejak saat itulah, Semarang menjadi salah satu pusat kebudayaan China yang ada di Indonesia. Tak mengherankan jika kita menjumpai pecinan-pecinan di salah satu sudut kotanya.

Di pintu masuk saya membayar karcis. Disini tersedia 2 karcis. Karcis yang pertama  3000 rupiah hanya boleh digunakan pengunjung untuk melihat kelenteng dari plasa luar. Tidak mengasyikkan bila hanya mengeksplorasi kelenteng dari sisi yang agak jauh. Jika masuk ke dalam tempat peribadatan, maka harus membayar karcis lagi sebesar Rp 20.000. Naluri backpacker saya pun protes. So expensive. Saya hanya bisa menggigit jari. Kemudian saya cancel membeli karcis tersebut. Saya memutuskan melihat dari plasa luar saja. Plasa luar Komplek Kelenteng Sam Po Kong merupakan sebuah lapangan yang luas. Disini terdapat pendopo-pendopo bergaya china yang bisa digunakan untuk beristirahat. Kalau hari besar keagamaan, Bagian Plasa kerap ramai dikunjungi wisatawan. Biasanya upacara sakral keagaamaan dan atraksi barongsai sering dilakukan di Lapangan Plasa Luar. Disini juga kita bisa melihat Patung Raksasa Laksamana Cheng Ho yang menjulang tinggi dengan jubah kebesarannya. Tinggi arca ini sekitar lebih dari 10 meter.

Gerbang Pintu Selatan

Gerbang Pintu Selatan

     

Di sekitar plasa ini juga terdapat patung patung para pengawal Cheng Ho dengan baju besinya. Digambarkan bahwa mereka seperti sedang berperang karena di tangannya menggenggam sebuah pedang dan tongkat. Tak luput patung-patung itu lepas dari jepretan kamera saya. Setelah puas mengitari bagian plasa dan Pintu Gerbang Selatan, saya masuk ke dalam sebuah pendopo yang ternyata merupakan toko toko suvenir. Disini dijual berbagai cinderamata dan pernak pernik khas China. Ada juga yang menjual kertas-kertas dan Hio. Di toko suvenir ini juga terdapat persewaan busana adat China. Ketika saya tanya berapa harga sewanya, saya membatalkan untuk menyewa baju tersebut. Harga Sewanya Rp 75.000. Sangat Mahal. Harga itu sudah termasuk dengan jasa pemotretan dengan menggunakan background view kelenteng ini. Sebenarnya keren sih apalagi pas liat hasil album pemotretannya. Bagus-bagus. Tapi sayangnya mahal banget untuk tipe traveler seperti saya. Lagi-lagi gigit jari saya.

Setelah dipikir-pikir, rasanya belum lengkap bila tak  mengunjungi bagian dalam kelenteng ini. Melihat lebih detail arsitektur bangunan ini yang tampak begitu megah. Setelah melalui pergulatan batin, saya memutuskan untuk membeli karcis masuk ke bagian dalam kelenteng. Selembar uang 20 ribuan pun melayang dari kantong.  Sreett…..Robekan karcis dari tangan petugas karcis sedikit bermuka masam mendarat di tangan saya. Semua ini saya terpaksa saya beli daripada akhirnya masih mengundang penasaran ketika balik ke rumah nanti. Ketika saya hendak menyerahkan karcis kepada petugas masuk, beberapa orang dibelakang main selonong. Tidak bayar karcis lagi. Naluri saya pun kembali protes. Tak segan kemudian saya menegur petugas tersebut.

“Semua karcis masuk ini hanya digratiskan bagi pemeluk agama konghucu yang ingin beribadah di tempat ini.”

Oalaaa.

Saya pun masuk ke dalam. Semilir angin menyapa ayunan langkah saya ketika tiba di pelataran kelenteng. Tidak banyak orang yang beribadah saat itu. Dengan menggengam lidi Hio, mereka khusuk berdoa. Begitu tenang. Sendirian saya menyusuri setiap sudut kelenteng. Semerbak aroma dupa menguap di udara. Begitu Menusuk hidung.  Serenada air mancur tampak begitu harmoni. Mencipta Syahdu ditengah keheningan. Di dalam suasana tersebut tak henti saya mengagumi dalam hati. Terpesona dengan kemegahan kelenteng ini. Saya pun menghentikan langkah saya. Entah Kenapa tiba-tiba saya merasa seperti menjelma  sosok Elizabeth Gilbert seperti dalam filmnya Eat, Pray and Love. Terseret dalam pencarian keseimbangan hidup yang selama ini saya cari. Sebuah Pencarian Jati diri. Sisi batin ini begitu mengusik  spiritualitas saya. Agak lama saya terdiam diri dan terjebak dalam aura  kesunyian ini. Untung Gerak langkah kaki  seseorang dibelakang  segera menyadarkan lamunan saya. Seorang Bapak paruh baya yang setiap harinya bekerja membersihkan kelenteng ini menyapa saya dengan ramah. Dari beliau kemudian akhirnya saya mengetahui Sejarah Kelenteng Sam Poo Kong.

Kelenteng Dewa Bumi

Kelenteng Dewa Bumi

Di kompleks ini terdapat 3 kelenteng yang bernama  Kelenteng Dewa Bumi, Kuil Kyai Juru Mudi, dan Kelenteng Sam Poo Kong. Setiap bagian kelenteng memiliki ciri khasnya tersendiri. Ketika pertama kali masuk tempat peribadatan dari sisi utara, maka kita akan disambut Kelenteng Dewa Bumi. Orang etnis Tionghoa biasa menyebutkan dengan nama kelenteng Tho Tee Kong. Kelenteng ini biasa lazim didirikan oleh orang etnis tionghoa dimana-mana. Karena dulunya China adalah daerah agraris, sehingga wajar dibangun kuil tempat untuk memuja dewa bumi yang menguasai tanah.  Kelenteng ini biasa diziarahi untuk mengharapkan berkah dan kesuksesan. Biasanya ketika atau setelah musim panen banyak orang yang bersembahyang di kelenteng ini sebagai rasa terima kasih atas musim panen yang sukses dan karunia hasil panen yang melimpah.  Patungnya digambarkan dengan orang tua berjenggot putih dengan membawa sebongkah emas yang merupakan lambang kemakmuran dan kekayaaan.

Kuil Kyai Juru Mudi

Kuil Kyai Juru Mudi

Di sebelah kelenteng Dewa Bumi, terdapat kuil Kyai Juru Mudi. Dinamakan Kyai Juru Mudi, karena di kuil ini digunakan sebagai tempat untuk menyembahyangkan arwah  Wang Jing hong, salah satu awak kemudi kapal dan orang kedua armada Laksamana Cheng Ho. Di dekat kuil ini juga terdapat makam yang diperkirakan milik Wang Jinghong. Wang Jinghong menurut beberapa literatur sejarah adalah nama lain Dampo Awang. Sosok Dampo Awang hingga sekarang namanya masih melegenda dan masih diceritakan secara turun temurun oleh masyarakat di pesisir utara Jawa Tengah. Ingin tahu seperti apa sosok Dampo Awang silahkan google sendiri🙂

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Sam Poo Kong

Bersebelahan dengan kuil Kyai Juru Mudi, berdiri megah Kelenteng Sam Po Kong. Bangunan yang paling indah dan menarik daripada kelenteng kelenteng di sebelahnya.  Tulisan Aksara China dan Lambang Naga tampak menghiasi bagian ornamen di dalam Bangunan Kelenteng Ini. Pada bagian atapnya sejumlah lampion berbaris rapi semakin menyemarakkan  nuansa orientalnya. Arsitekturnya sendiri merupakan Kolaborasi Gaya China Klasik, Islam (katanya, padahal gak. Mungkin perlu tanya anak arsitektur) yang dipadu dengan Mitos mitos Jawa. Perpaduan ini melambangkan bahwa toleransi kebhinekaan telah mengakar sejak lama sejak kedatangan laksamana Cheng Ho. Bagian Gentengnya beratap susun 3 lapisan, dimana desain atap semacam itu biasanya digunakan hanya untuk istana tempat tinggal kaisar di Negeri China di jaman dulunya. Desain atap susun 3 lapisan ini hanya terdapat pada kelenteng Sam Po kong, sementara kelenteng lain disampingnya hanya menggunakan atap susun 2 lapisan. Pembedaan ini dapat dipahami  bahwa Kelenteng Sam Po Kong merupakan Pusat atau tempat utama dari tempat pemujaan yang ada Disini. Dibagian atapnya terdapat beberapa deretan patung hewan yang saya kira awalnya adalah hewan-hewan menurut Shio China. Ternyata Patung tersebut merupakan makhluk pelindung kelenteng ini. Patung Patung tersebut dipercaya melindungi kelenteng dari bencana. Entah itu banjir, Tsunami atau Gempa Bumi. Ada satu hal yang baru saya sadari ketika mengamati kelenteng ini. Kelenteng Sam Po Kong tidak memiliki serambi sebagaimana layaknya bentuk kelenteng pada Umumnya. Ketika saya hendak masuk  ke bagian dalam kelenteng, saya ditegur oleh seorang petugas kebersihan yang kebetulan sedang menyapu. Pengunjung dilarang masuk lebih dalam dan  hanya diperkenankan melihat-lihat dari teras. Shooting gambar disini juga tidak diizinkan. Larangan ini diberlakukan untuk menjaga ketenangan orang yang sedang beribadah. Padahal spot di dalam kelenteng lebih bagus. But sekali lagi, Everybody must have sense  of tolerance to others.

.     

  

Di dalam Kelenteng Sam Poo Kong terdapat Gua pada bagian lantainya yang dinamakan Goa Batu yang dulunya merupakan tempat bersemedi  Laksamana Cheng Ho. Sayangnya Pintu Masuk Gua ini diterali sehingga saya tidak bisa melihat bagian sisi dalamnya yang agak spooky bila dilihat dari luar.Di belakang Kelenteng Sam Poo Kong terdapat Gua yang juga dinamakan Gua Batu yang ternyata merupakan duplikat dari Gua yang ada di kelenteng Sam Poo Kong tadi. Gua yang asli sering kebanjiran sehingga dibuat gua duplikat. Pintu Guanya terbuka. Sayangnya untuk memasuki gua ini hanya diperbolehkan bagi mereka yang bersembahyang atau melakukan ritual ciamsi. Ritual ciamsi adalah ritual untuk meramal nasib seseorang yang dilakukan oleh seorang biokong. Biasanya pengunjung dikasih Hio terus ditaruh di wadah Hiolo. Terus masuk ke dalam gua untuk mendapat jawaban ramalan. Di dalam gua ini juga terdapat sumur yang merupakan aliran dari gua lama. Sumur ini tidak pernah surut dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Beberapa orang keluar lalang dengan kendi kecil dari dalam gua. Di dalam gua ini juga terdapat patung Sam Poo Kong disemayamkan untuk dipuja, bersama dua pengawalnya untuk dihormati dan mengenang jasa-jasanya. Dalam kepercayaan KongHucu biasanya orang yang baik yang telah mati dipercaya bisa memberikan pertolongan. Sebenarnya saya sangat penasaran isi di dalam gua tersebut yang rada agak spooky dan remang-remang. Pengen masuk ke dalam bagian gua. Untung saya masih bisa mengendalikan akal sehat saya. Yeah Everytime kita harus saling toleransi dan tidak mengganggu umat lain beribadah. Salah satu etika yang wajib dipegang para traveler. sok banget dah gw🙂

    

Gua Batu

Gua Batu

Bersebelahan dengan Gua Batu terdapat diorama berbentuk relief yang dipahat di dinding. Diorama sepanjang 50 meter ini mengisahkan cerita perjalanan Laksamana Cheng Ho di Indonesia. Yah ceritanya tidak jauh-jauh dari cerita zaman dulu. Cerita perang-perangan dengan bajak laut ataupun pemberontak. Disini saya sempat kepikiran kenapa gak ada produser yang buat film Pirates of Carribean versi Cheng ho. Cerita pembajakan di laut Cina Selatan dan Selat Malaka pasti gak kalah seru dengan para pembajak di kepulauan Karibia.

Diorama Ekspedisi Laksamana Cheng Ho

Diorama Ekspedisi Laksamana Cheng Ho

Kuil Kyai Jangkar

Kuil Kyai Jangkar

Tersembunyi dari pohon yang sangat rimbun, di bagian bawah dan bersebelahan dengan kelenteng Sam Po Kong terdapat Kuil Kyai Jangkar dan Kuil Kyai Tumpeng. Kuil kyai Jangkar ini terdapat tiga altar pemujaan. Altar Pertama Kyai Jangkar merupakan tempat disemayamkan sebuah Jangkar. Jangkar besar ini hanya merupakan lambang yang mewakili kapal-kapal Cheng Ho dan digunakan sebagai alat konsentrasi dalam sembahyang atau semedi, bukan jangkar asli yang berasal dari kapal Cheng Ho. Di bagian Tengah Kuil Kyai Jangkar terdapat Altar untuk memuja Nabi Konghucu, Seorang filsuf besar Tiongkok yang meletakkan dasar ajaran moral Konghucu. Untuk mengenang dan menghormati Jasa beliau, Altar ini diharapkan menjadi teladan bagi Umat yang beribadah di tempat ini. Altar sebelahnya merupakan Altar  tempat sembahyang Arwah Hoo Ping. Setiap tahun biasanya diadakan sembahyang besar yang biasanya disebut King Hoo Ping atau secara umum dikenal “Sembahyang Rebutan”. Sembahyang atas arwah para leluhur, saudara dan sahabat yang telah mendahului kita. Selain itu juga untuk menentramkan Arwah-arwah yang tidak bersanak keluarga ahli waris, yang mungkin belum memperoleh tempat tinggal di alam baka, dipuja dan disembahyangi disini, termasuk para pelaut anak buah Cheng Ho yang gugur dalam menunaikan tugasnya. Satu hal yang unik di bagian luar kuil ini terdapat pohon yang telah meneduhi selama berabad-abad lamanya. Rantingnya menyerupai  tali-tali berwujud rantai kapal atau tali besar yang banyak melilit pohon-pohon di sekitar komplek ini. Konon tumbuhan-tumbuhan seperti ini belum pernah dijumpai ditempat lain. Lilitan akar-akar rantai dan tali ini memanjang terus dari bagian atas Gua Sam Poo Kong hingga tempat Mbah Kyai Jangkar.

Kuil Kyai Tumpeng

Kuil Kyai Tumpeng

Diujung selatan dan agak terpencil dari komplek lainnya terdapat Kuil Kyai Tumpeng. Konon dahulu para pelaut atau pengikut Sam Poo Kong sering bersantap disini dan mengadakan upacara selamatan bersama-sama penduduk setempat. Di kuil ini  juga dimakamkan Kyai dan Nyai Tumpeng. Sehingga Tidak heran nama Kuilnya adalah Kuil Kyai Tumpeng untuk mengenang jasa juru masaknya. Bangunan ini sebenarnya lebih mirip pendopo daripada sebuah kuil.

Tak terasa akhirnya sudah sejam saya mengitari Kompleks Sam Poo Kong. Sebersit kerinduan membuncah di dada. Memandang Kelenteng ini mengingatkan saya pada sebuah kota kecil tetapi Indah di Kalimantan. Kota yang juga penuh dengan guratan sejarah kebudayaan Tiongkok. Kota itu adalah Kota Singkawang, tempat dahulu saya pernah bekerja. Tempat yang mengajarkan saya bahwa perbedaan adalah suatu rahmat. Mengajarkan saya pentingnya  toleransi kerukunan umat beragama. Semua orang bebas menganut agamanya masing-masing. Tidak boleh ada luka lagi. Tidak boleh ada bom di tempat ibadah. Biarkan mereka bersembahyang khusuk pada Tuhannya.

Semarang,  Juni 2011

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Jalan Jalan ke Semarang (Part 3) : Kelenteng Sam Poo Kong : Antara Toleransi dalam Harmoni

  1. joyolandoh berkata:

    semoga semakin penuh dengan rasa toleransi

  2. Ping balik: Semarang Trip : Klenteng Sam Poo Kong | Miftakh Zein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s