Jalan Jalan ke Semarang (Part 4)


Setelah sejam di kelenteng Sam Po Kong, akhirnya saya melanjutkan perjalanan lagi menuju Kota Tua Semarang. Setelah tanya orang-orang akhirnya saya naik bus terus turun di terminal apa gitu. Saya agak lupa karena cerita perjalanan ini sudah setahun yang lalu. Setelah naik bus kota, ganti lagi dengan angkot untuk menuju kawasan kota Tua.

Hari sudah terik ketika angkot yang saya tumpangi menurunkan saya di gerbang kota tua semarang. Sama seperti kawasan kota Tua Jakarta, Kawasan kota tua semarang juga dilalui sungai yang katanya sering meluap dan mengirim banjir ketika musim hujan. Sayangnya disini tidak ada ruang publik terbuka seperti halnya di kota tua Jakarta yang bisa dimanfaatkan ajang anak muda berkreasi. Satu hal yang sama, kawasan kota tua semarang tidak pernah terawat sebagaimana lazimnya kota tua yang ada di Indonesia. Bangunannya dibiarkan lapuk dilekang waktu. Padahal di Eropa sana, kawasan kota tua selalu dijadikan aset wisata. Meski dibangun di abad 16, masih terawat dengan baik. Sementara di Indonesia, meski sudah mendapat embel-embel sebagai cagar budaya tetap saja tidak terawat dan terkesan Jorok. Hal ini juga diperparah dengan kesadaran masyarakat kita akan warisan kebudayaan yang bernilai tinggi masih sangat rendah. Agak miris memang.

Bangunan Kota Lama Yang Masih terawat

Bangunan Kota Lama Yang Masih terawat

Gereja Blendhunk

Gereja Blendhunk

Di kawasan kota tua semarang ini ada Bangunan yang menarik perhatian saya yaitu GPIB Immanuel atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Blendhunk. Gaya bangunannya cukup unik. Arsitektur kubahnya menyerupai kubah masjid. Saya mengira ini adalah sebuah masjid. Setelah baca plangnya ternyata adalah Sebuah Gereja Peninggalan zaman kolonial. Ada Kejadian lucu ketika saya sampai di gereja ini. saya disapa seorang kakek dengan sapaan berbahasa inggris. Kemudian saya ajak ngomong bahasa inggris, eh si kakek malah bisa jawab. Terus dia langsung ngomong ngalor ngidul in english. Si kakek ini cukup fasih sekali. Saya langsung mati gaya.  Terus udah gitu dia nunjuk terang-terangan ke arah saya bahwa saya cocok jika pacaran dengan pengunjung wanita yang berada di sebelah saya. Saya tertawa mendengarnya. tapi si wanitanya kayaknya ga ngeh apa yang diucapkan si kakek ini. Kakek yang saya tidak sempat tanyakan namanya, ternyata ia bekerja sebagai guide freelance. Emang si kakek ini udah tuir, apalagi ngaku-ngaku hidup pas di jaman belanda, wajar dia agak bisa cas cis cus. Dengan english terbata-bata saya pun langsung mengucapkan permisi sama si kakek.

Semangkok Durian

Semangkok Durian

Di Kawasan Gereja blendhunk saya sempatkan untuk menyeruput semangkok es durian yang dijual pedagang kaki lima di sekitar itu. Sebelumnya saya tidak menyadari bakal ada firasat buruk ketika makan es durian tersebut. Baru setelah ditagih, saya harus merogoh kocek saya sebesar 17 rb buat menebus semangkok es durian. Speechless. Mahal banget. Tapi duriannya gede-gede juga sih. Tapi tetap aja kemahalan. Kapok.

Ga sampe setengah jam berada di kawasan kota tua semarang, saya segera langsung beranjak pergi lagi menuju Masjid Agung Kota Semarang. Setelah tanya bapak-bapak yang saya temui di jalan di kawasan kota tua, akhirnya saya naik angkot seperti yang disaranin bapaknya. Dimana-mana mesti harus bertanya kalo gak mau sesat di jalan. Sebuah peribahasa yang wajib dipegang oleh para backpacker. Mengandalkan peta terkadang tidak cukup menjadi dasar bahwa kita bakal sampe di tujuan wisata dengan cepat.

Lama banget angkotnya di Jalanan. Tapi saya belum melihat sosok bangunan masjid yang megah. Angkot terus melaju ke daerah pinggiran. Saya mulai cemas. Jangan-jangan saya salah naik angkot lagi. Setelah tanya penumpang di sebelahnya, saya dibilang kalo jalan ke arah masjidnya udah kelewatan.

“Masa sih!!kok saya ga liat masjid gede”
“Bukan begitu dek. Kalo adek berhenti di jalan sebelumnya, trus naik angkot lagi nanti bisa turun dekat masjid”.
“Tapi tadi saya tanya orang katanya bisa naik angkot ini”
“Bisa dek tapi jalan kakinya cukup jauh ke arah masjidnya.”
“Owh tidak apa2 itu. Sudah terbiasa jalan kaki bu”ucap saya kepedean.

Akhirnya saya turun di gerbang samping masjid. Dari gerbang tersebut saya harus jalan kaki sekitar 500 meter menuju pintu samping masjid. Sayangnya jalannya belum sepenuhnya di aspal. Kanan-kirinya adalah persawahan yang tampak memanjang ke arah masjid. Mana jam 1 siang lagi. pas matahari lagi terik-teriknya. Gak ada pohon-pohon yang menaungi perjalanan saya. Botol minuman sudah habis sebelumnya pas jalan2 di kota tua tadi. Dehidrasi. Sempat stress juga karena kehausan. Akhirnya setelah sekitar 20 menit akhirnya sampe juga di pintu samping masjid. Sayangnya pintunya lagi digembok. Aduh gimana ini. Kalo lewat pintu depan harus ngangkot lagi dan kembali ke jalan raya. Dengan kata lain jalan kaki lagi sekitar 500 meter lagi. Lemas Tubuh saya.

Akhirnya terbersit pikiran nakal teman saya.

“Bagaimana kalo kita panjati pagar besi ini”

“Hah, Boleh. Tapi takut disangka Pencuri atau maling”

“Bodo ah!! Eh di bawah pintu ada celah. Bagaimana kalo kita masuk aja lewat celah itu.”

Ide keren. Saya mengangguk setuju. Pilihan masuk lewat celah kelihatannya lebih manusiawi dan agak soft crime dibandingkan dengan harus memanjat pagar besi. Kemudian dia merangkak duluan dan masuk lewat celah itu tanpa cela. Pas giliran saya masuk lewat celah tersebut, kepala saya berhasil masuk. Ketika sudah separuh badan, wah perut saya terlalu kebesaran. Gila badan saya terjebak di pagar besi. Tanpa kasihan teman saya langsung menarik tangan saya dengan paksa. Bisa juga akhirnya keluar dari celah. Tapi baju saya sedikit robek di bagian perut. tetapi tidak parah amat. Hanya bolong-bolong kecil di baju saya. Sial.

Masjid Agung Semarang

Payung Raksasa Masjid Agung Semarang

Segera saya menuju masjid yang katanya merupakan masjid kebanggaan masyarakat semarang. Salah satu keindahan Masjid Agung Kota Semarang adalah payung Kubahnya yang bisa dibuka tutup yang terletak di serambi Masjid Agung. 6 payung kubah raksasa ini mirip seperti dengan Kubah Masjid Nabawi yang bisa membuka tutup secara otomatis. Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Berhubung bukan hari Jumat, Payung kubahnya tidak dibuka. Alhasil ketika ingin mencapai bangunan utama masjid, kaki saya kepanasan melewati lantai-lantai marmer di serambi masjid yang begitu luas. Kaki saya seperti dipanggang sinar matahari.

Karena belum shalat duhur, saya langsung mengambil air wudhu yang terletak di bagian Basement. Setelah shalat dan Istirahat sejenak, saya kembali menyusuri bagian-bagian dalam masjid. Siapa tahu ada yang unik. Ketika hendak keluar masjid, saya berpapasan dengan banyak anak kecil dan keluarga yang sepertinya datang berbondong-bondong. Kukira mereka adaalah wisatawan seperti saya. Namun kemudian saya sadari bahwa mereka para suporter kontestan Dai cilik. Itupun saya baru ngeh setelah membaca sebuah spanduk yang bertengger di salah satu bangunan masjid, bahwa hari ini ada acara Pildacil (Pemilihan Dai Cilik) yang disiarkan oleh ANTV. Wow. Kesempatan Masuk TV buat saya. Tapi sayangnya acara baru berlangsung satu jam lagi.

Masjid Agung Semarang

Masjid Agung Semarang

Pilar Bergaya Koloseum

Pilar Bergaya Koloseum

Saya mengeluarkan KameraPoket dari Ransel ketika berjalan-jalan menyusuri pelataran masjid. Dari kejauhan bangunan utama masjid tampak kecil bersahaja. Tidak semegah bangunan-bangunan di luarnya. Sentuhan Nuansa arab bercampur Jawa, Romawi dan Yunani tampak kental mendominasi arsitektur bangunan ini. Pada Bagian atapnya berbentuk limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter. Selain itu, Gaya Romawi dapat terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. Di Masjid Agung Jawa tengah ini terdapat beberapa Wisma atau Hotel yang dapat digunakan oleh pengunjung. Sepertinya Pengelola masjid memang sengaja menjadikan Masjid ini sebagai salah satu wisata religius selain digunakan untuk sarana beribadah. Disini kita juga akan menemukan Convention Hall, Ruang Perkantoran, dan Toko-Toko yang menjual pakaian muslim dan aneka suvenir. Buku-Buku dengan genre berbau Islami dengan mudah dapat ditemukan disini dan tentunya dengan harga yang cukup terjangkau. Well, ini memang sebuah konsep yang sangat bagus dan perencanaan yang matang ketika membangun masjid ini yang baru didirikan tahun 2001 ini.

Setelah Puas Hunting Foto-Foto masjid, saya segera menuju menara yang terletak di depan persis bangunan masjid. Menara yang dikenal dengan Nama Al Husna Tower. Menara dengan tinggi 99 meter. Yah cukup sesuai dengan nama Indah Allah dalam Asmaul Husna yang berjumlah sebanyak 99 buah. Di Lantai pertama menara ada studio Radio Dakwah Islam. Sebelum naik ke lantai selanjutnya, kita bayar karcis dulu di loket di lantai pertama sebesar 3000 rupiah. Setelah itu kita bisa naik lift. Ada pemandu/guide di menara ini. Ketika di dalam lift kita ditanya sama pemandunya, mau ke lantai berapa. Saya memintanya langsung menuju lantai paling atas yaitu Lantai 19. Di lantai 18 kata mbak pemandunya lantainya bisa berputar 360 derajat tiap 15 menit. Takjub saya. hm bisa dicoba nih pas turun dari lantai 19 nanti.

Al Husna Tower

Dari Lantai 19 yang merupakan lantai terakhir menara, saya dapat menyaksikan kota semarang dari ketinggian. Dari sini juga saya dapat melihat dengan jelas eksotisme Masjid Agung yang menjadi kebanggaan masyarakat Semarang ini. Di Lantai paling atas ini terdapat enam teropong yang dapat digunakan melihat wajah kota semarang sampe yang namanya pelabuhan tanjung mas yang terletak di ujung kelihatan. Jangan lupa disini kita mesti bawa uang koin 500 untuk menggunakan teropong ini. Setelah memasukkan uang koin baru kita bisa menggunakan teropong dengan durasi hanya beberapa menit.

Setelah Puas di Lantai 19 kita menuju lantai 18 yang katanya bisa berputar 360 derajat. Di Lantai 18 ini ternyata ada sebuah kafe muslim. Sayang saya tidak tertarik untuk makan disini. Bisa mengurangi budget travel saya hehe. Setelah 15 menit di Lantai 18 ini, yeah lantai ini tiba-tiba berjalan berputar 360 derajat. Keren. Puas melihat ketakjuban Lantai 18 menara ini, saya kembali turun menuju lantai 3 dan Lantai 2 yang merupakan museum Kebudayaan Islam. Kebanyakan artifak yang disimpan di museum ini adalah peninggalan yang berasal dari Kota/Kabupaten di Jawa Tengah. Rata-Rata dari ponpes di sekitar Jawa tengah yang menyumbang benda bersejarah ke museum ini. Di museum ini kita dapat melihat koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm yang ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Wonosobo. Disini juga terdapat Beduk raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm yang Merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Beduk ini Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, yang katanya menggunakan kulit lembu Australia. Wow.

Akhirnya selesai juga perjalanan Ke Kota Semarang kali ini. Sebenarnya ada satu tempat wisata yang belum saya kunjungi yaitu Kuil Vihara Watugong. Saya juga belum sempat mencicipi kuliner khas semarang. Pengennya lanjut lagi ke Museum Kereta Api Ambarawa dan Candi GedongSongo yang terletak di Bukit di daerah Ungaran Kabupaten Semarang. Tapi sayang waktunya telah mepet Jam 3 sore. karena pada saat itu, Saya harus pergi ke Salatiga untuk menginap di rumah teman yang dapat ditempuh 2 jam dari kota semarang. Yeah, Another time I’ll visit here again. bye bye

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s