Jembatan Kota Intan : Another Indonesia’s Drawbridge


2 minggu yang lalu saya sempat short trip ke Kota Tua. Salah satu destinasi yang saya tuju  adalah Jembatan Kota Intan dan Museum Wayang. Dua tempat ini memang belum saya sambangi meski sudah 4 kali saya kesini (Kota Tua). Dulu pas kesini, museum wayang sudah tutup gara2 saya telat masuknya. Karena kelamaan leyeh2 di museum BI dan Museum Bank Mandiri yang sangat kencang sekali AC nya.

Kali ini saya mencoba trip alone. Sebelum pergi kesana saya cari info dulu di blog tentang perjalanan menuju jembatan intan. Agak keder pas dikasih tau jarak Kota Tua dengan Jembatan intan berjarak 500 meter. Padahal jam 11 siang saya mau ke kota tua. Wah pasti bakal panas-panas dengan matahari. Ya sudahlah. Daripada kepikiran takut panas malah yang ada gak sampe sampe kesana. Jam setengah 12 siang saya tiba di Stasiun Jakarta kota dari Bintaro. Nanya dulu sama abang2 pedagang es yang berjubelan di pintu masuk Kota Tua. Minta petunjuk jalan menuju ke Jembatan Intan. Beberapa dari mereka masih banyak yang gak ngeh dengan Jembatan Intan. Setelah mendapat petunjuk yang jelas dari satu pedagang disitu, saya segera langsung menuju spot. Melewati Kali besar ke arah utara. Ternyata di Tepi Kali besar yang berseberangan dengan toko merah sudah dibangun trotoar. Penghijauan di sekitar trotoar juga lumayan banyak sehingga terik matahari tidak begitu saya rasakan. Pedagang Kaki lima tidak lagi berjualan di sekitar trotoar meski ada sedikit beberapa yang berani berjualan di sekitar trotoar ini. Tidak sampe 5 menit saya sudah sampe ke Jembatan Intan. 500 meter?? Sepertinya gak sampe 500 meter. Perkiraan saya sekitar 150-200 meter. Gak jauh amat dari Kompleks Museum Kota Tua.

Setelah bayar karcis Rp 2000, masuklah saya ke dalam Jembatan Intan. Ada apa disana? Ga ada apa-apa!! Lha terus? Yah Paling cuma berdiri di atas jembatan liat sungai Kali besar yang sangat keruh. Foto narsis gak jelas di atas jembatan. Terus loncat-loncat jumpalitan di atas jembatan sebelum saya kena tegur petugas penjaganya😀. Meski begitu jembatannya keliatan vintage. Khas Gaya belanda Tempo doeloe. Lantai kayu jembatannya tersusun rapi. Saya ngerasa seperti berada di Negeri Kincir Angin, melewati jembatan jembatan kanal di belanda (mulai sarap).

Di zamannya, pembangunan Jembatan ini sudah dipastikan membuat orang berdecak kagum. Jembatan ini bisa dijungkit ke atas kalo ada kapal lewat. Tapi sayang sekali sodara-sodara disini jembatannya udah gak bisa dibuat kayak begitu lagi. Mungkin karena sudah faktor lansia dan kegemukan sehingga susah diangkat😀 hehe.

pic dari google

Jembatan Intan begitu orang menyebutnya. Ada juga yang menyebut Jembatan Kota Intan. Yang lebih parah ada yang bilang Jembatan Merah. Agak sounds lebay. Tapi emang benar kok, kamu disini gak bakal ngeliat batu intan atau batu permata. Jadi, kalau mau cari harta karun jangan pergi kesini. Penamaan intan ini sebenarnya karena dulunya disini terdapat kota yang bernama diamond dimana terdapat kastil batavia yang sekarang sudah gak ada lagi. Padahal yang saya baca dari literatur sejarah Jakarta, Kastil ini mirip Kastil Istana Terlarang bergaya eropa. Jadi abad ke 16 di Jakarta sudah  ada sebuah puri yang melindungi Gubenur Jenderal Belanda. Sayangnya puri atau kastil ini dihancurkan gara-gara wabah penyakit akibat sanitasi yang buruk dan akhirnya Pusat Pemerintahan Batavia dipindahkan ke Weltevreden atau Daerah sekitaran Istana Merdeka sampai menteng.

Jembatan ini dibangun pada tahun 1628 dengan nama awalnya Engelse Burg yang berarti “Jembatan Inggris” karena jembatan ini menghubungkan Benteng Belanda dan Benteng Inggris yang terletak berseberangan dibatasi oleh Kali Besar – Kali Ciliwung. Pada tahun 1628 dan 1629 terjadi penyerangan dari Banten dan Mataram terhadap Benteng Batavia yang mengakibatkan jembatan ini rusak, namun dibangun kembali oleh Belanda pada tahun 1630 dan pada saat itu dikenal dengan nama De Hoender Pasarbrug atau “Jembatan Pasar Ayam” karena lokasinya berdekatan dengan Pasar Ayam. Aduh ganti namanya yang lebih keren dong.

Selanjutnya pada tahun 1655 jembatan ini diperbaiki kembali oleh Belanda karena mengalami kerusakan akibat sering terkena banjir dan korosi akibat air asin, dan namanya diganti menjadi Het Middelpunt Brug atau “Jembatan Pusat”. Pada April 1938 jembatan ini dirubah menjadi jembatan gantung agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan untuk mencegah terkena banjir yang sering terjadi, namun bentuk dan gayanya tetap dan tidak pernah dirubah. Lagi-lagi namanya diganti menjadi Ophalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard. Waktu itu Ratu Juliana memang lagi memegang tampuk kekuasaan sebagai Ratu belanda. Sebelumnya, jembatan ini juga pernah dinamai Jembatan Wilhelmina (Wilhelmina Brug), salah satu Ratu Belanda. Jadi kesimpulannya brug = Jembatan dalam bahasa belanda??

Setelah proklamasi kemerdekaan RI nama jembatan ini diganti menjadi ”Jembatan Kota Intan”, disesuaikan dengan nama lokasi setempat. Letak Jembatan Kota Intan berada dekat dengan salah satu bastion Kastil Batavia yang bernama Bastion Diamont (Intan). Kastil Batavia yang merupakan kota tua Batavia sering disebut sebagai Kota Intan. Jadi sepanjang hidupnya, jembatan ini sudah berkali-kali ganti nama. Yeah mungkin Pemerintah Belanda juga percaya sama kepercayaan nenek moyang kita. Biasanya kalo ada seorang anak sakit-sakitan, banyak dukun yang bilang kalau nama anak tersebut harus dirubah. Dan setelah dirubah namanya, Anak tersebut tidak menderita sakit lagi. Ajaib. Mungkin juga jembatan ini dulunya sering memberikan kesialan kepada Pemerintah Belanda sehingga terpaksa-paksa ganti nama. who knows?

Pada bagian sisi tepi Jembatan Intan terdapat sorot-sorot lampu yang kalau malam akan menyinari jembatan ini. Sekedar Sebuah Romansa. Kalau malam hari mungkin suasananya akan terasa hidup dan bisa menjadi romantis. ah andai Jembatan ini bisa dijungkit naik turun saya rasa banyak orang yang akan kesini selain pergi ke Kompleks Museum Kota tua. Atraksi yang bakal menarik. Mirip terusan Suez dan terusan Panama yang katanya bisa dijungkit naik turun. Kalau sudah begitu mungkin perlu rasanya diubah namanya menjadi Terusan Intan haha.

Batavia Hotel

Batavia Hotel di sebelah Jembatan intan

Info seputar Jembatan Intan saya ambil disini dan wikipedia

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s