Malam Pertama ternyata itu enak ;)


Malam PertamaKetika saya sedang makan mie indomie di salah satu kedai di stasiun Kereta Api Lempuyangan, Teman saya  stefanus yang ikut asyik juga makan indomie-menceritakan bahwa dirinya akan berangkat ke padang-mempersiapkan acara pernikahannya. Obrolan kita semakin menarik diantara deru kereta api ketika membahas isuseputar pernikahan dari sudut pandang agama kita.

Menurut Ajaran katolik, menikah itu hanya satu kali. Pernikahan hanya diakui satu kali. Titik. Dan Perceraian dianggap tabu dan cara yang tidak dianjurkan untuk mengakhiri tali pernikahan. Ketika pasangan telah berjanji setia di depan pastur, maka mereka dianggap telah memegang sumpah menjadi  pasangan sehidup semati. Ketika pasangan memilih jalan cerai, dan diantara pasangan tersebut memperoleh wanita/pria lain pasca cerai maka berdasarkan hukum katolik, orang tersebut tidak diperbolehkan  menikah lagi dengan pria/wanita baru tersebut. kesimpulannya sekali lagi hanya ada satu pernikahan. Tidak ada pernikahan kedua atau ketiga dan seterusnya.

Yang terbesit  dan menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana bila biduk rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan lagi. Sayang banget kalo sudah cerai tetapi tidak bisa menikah lagi. Kita melihat tidak jarang seseorang justru menemukan pasangan sejatinya ketika dia menikah lagi dengan orang lain. Tidak pada pada pasangan pertamanya. Kita juga tidak benar2 tahu apa pasangan kita yang katanya akan setia ketika mengucapkan ikrar pernikahan, justru setelah menikah tiba-tiba menjadi tidak setia lagi, berpaling, membawa bencana dalam prahara rumah tangga dan membahayakan anak-anak. Well, Kita tidak akan pernah tahu yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak bisa meraba perasaan seseorang. Semua adalah rasa. Abstrak.

Menjawab hal tersebut, teman saya mengatakan bahwa carilah pasangan yang agamanya baik, perilakunya baik, dan bener-bener setia. Agak sangsi juga karena kita tidak bisa mengukur kedalaman perasaan seseorang. Manusia itu dinamis. Bisa volatile dan rentan terhadap pengaruh luar. Sebagai bentuk pengendalian internal (emang manajemen),  maka untuk menghindari terjadinya kegagalan membina rumah tangga, sebelum janur kuning berdiri setiap pasangan harus melalui tahap kanonik oleh pastur di gereja. Setiap pasangan masing-masing disidang oleh pastur tentang motivasi dan kesiapan pernikahan. Pastur berhak menyetujui/tidak menyetujui apakah pernikahan boleh dilanjutkan. Begitu yang saya tangkap dari Saudara teman saya yang penganut katolik taat. Correct Me if I’m Wrong.

Beda agama, beda pula tahap yang harus dijalani ketika pra pernikahan. Dalam islam ada proses  ta aruf.  Tahap dimana setiap pria/wanita perlu mengenal lebih dalam sosok yang akan menjadi separuh nafasnya. Pria/wanita dibolehkan menikah lagi setelah bercerai dengan pasangan sebelumnya bahkan bisa berpoligami. Mengenai masalah poligami, saya tidak cukup menguasai masalah ini. Maap yah stef, pertanyaan kamu kapan-kapan saya jawab. Saya juga bukan penganut poligami (nikah aja belom😀 ). Saya benar benar memahami ketidaksetujuan kamu dengan poligami. Ketika perempuan bisa bertahan satu cinta dengan satu lelaki, mengapa boleh ada pintu lain bagi lelaki untuk cinta yang lain? Mumet. Sudah digariskan oleh Tuhan. Pria dituntut untuk adil ketika ia memutuskan membagikan cintanya. Kita tahu bahwa di Dunia ini jumlah wanita memang lebih banyak daripada lelaki. Tetapi mengapa kompromi semacam ini yang diambil oleh Tuhan? Sudah stef, cukup sudahkan pertanyaan kamu tentang poligami. My principle is God knows better than we know. Boleh Jadi kamu tidak suka sesuatu tapi di Mata Allah itu baik.

Seperti katolik, dalam Islam juga perceraian adalah bentuk yang tidak disukai dan dibenci Tuhan. Disini kita menemukan titik yang sama bahwa intinya jangan sampai ada perceraian dalam rumah tangga. Kira-kira begitu yah stef. Ada satu pertanyaan yang menggantung di hati saya, bagaimana kalau salah satu pasangan meninggal. bisakah dia menikah lagi? Sayangnya pertanyaan ini belum sempat saya utarakan, karena makanan kita habis dan kita buru-buru ke Mal Amplas. Hujan di Langit Yogya begitu tak bersahabat.

Dalam perjalanan saya merenungi pembicaraan yang baru saja dibahas. Terdiam diantara rinai-rinai hujan. Bayangan sebuah pernikahan terpantul di atas senja yang menghitam. Pernikahan bukanlah untuk tempat main-main. Mencari sensasi. Bukan juga buat coba-coba kayak bupati Garut kemaren. Pernikahan bukanlah mencari pasangan yang sempurna tetapi cinta yang sempurna. Ketika menemukan satu cinta dan bisa damai bertahan mengapa harus membangun keindahan cinta yang lain. Titik. Titik. Stop. Saya tidak mau bicara lagi. Takut ada yang tersinggung.

and last,………….

Hopefully the best for my friends, Zeppi, Fikar, Stefanus, Nunung dan Sendy. Semoga bijak berumahtangga🙂 . Doakan juga buat jomblowan/wati seperti saya dan teman kelas kamu yang laen agar cepat2 laku dan bisa Melepas keperjakaan dan keperawanan dengan pasangan yang diimpikan. Malam pertama tuh indah coy. Ups kena sensor.

NB : Sori kalo judul dan isinya berbanding jauh antara langit dan bumi. Ga nyambung haha. Peace, bro

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s