Nasi Bukbuk Jagung : Kuliner Khas Madura (Part 1)


Dulu kalau belajar IPS waktu SD dan ditanya apa makanan khas Jogja Pasti serempak menyebut Nasi Gudeg. Nasi Gudeg memang sudah terkenal seantero Indonesia as famous as Nasi Padang. Kita tahu bahwa Warung Nasi Padang telah menjamur dan menggurita dengan kedai khasnya di setiap daerah. Menggunakan etalase kaca yang langsung menghadap ke arah Jalan Raya untuk memajangkan hidangannya. Saya sebagai orang yang dibesarkan di Madura turut bangga bahwa Madura juga memiliki kekayaan kuliner, hm yang mungkin tidak banyak orang tahu. Seringkali makanan khas suku Madura yang terbayang duluan di pikiran orang-orang adalah Sate. Iya khan? Makanya tiap kali bertemu orang baru dan saya memperkenal diri sebagai orang Madura, tak jarang dari mereka langsung berujar, “ Te Satte Te Satte Satte”. Uuh.

Kalau lihat buku RPUL pas Jaman esde dulu, disebutkan Masakan Khas Madura adalah Nasi jagung. Tau khan apa itu buku RPUL. Kepanjangannya kurang lebih “Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap”. Buku ini selalu menjadi buku pegangan wajib ketika saya duduk di bangku esde dulu. Kenapa Nasi Jagung? Yah ini sebenarnya tidak lepas dari Kekayaan Madura itu sendiri sebagai daerah penghasil Utama Jagung selain garam. Tanah Madura yang tergolong barisan pegunungan kapur membuat Lahannya susah ditumbuhi komoditas semacam padi. That’s why nenek moyang Madura sejak dahulu menanami tegalannya dengan Tanaman Jagung. Nah nasi Jagung ini sampai sekarang masih tak lekang dan menjadi makan sehari-hari penduduk yang bermukim di Pulau Madura. Kalau keluarga saya termasuk yang jarang memasak nasi Jagung. Mungkin status keluarga saya yang menjadi “orang merantau” disini sehingga kebiasaan makanan ini tidak menjadi budaya dalam keluarga saya. Tapi bukan berarti keluarga saya tidak suka nasi Jagung lho. Absolutely love it so much. Kalau saya mudik ke Madura, saya selalu meminta ibu saya untuk membeli nasi bukbuk. Sayang tidak banyak dan bahkan sulit mencari penjual Nasi Bukbuk disini. Aneh kan. Semacam Anomali bila tak banyak penduduk lokal yang menjual kuliner yang justru menjadi bagian ciri khasnya. Kata tetangga saya “buat apa jual nasi bukbuk kalo hampir setiap rumah tangga membuat ini”. Benar Juga. Jawaban tetanggaku ini semakin menguatkan bahwa mengapa soto kacang Madura, koceng, kalsot, sate dan campor lebih mudah dicari kedainya. Ibu saya kalo gak sempat membuat nasi bukbuk pas aq datang pulang ke rumah, biasanya minta tetangga sebelah buatin nasi bukbuk. Kemudian ibu saya tinggal membayarnya. Setelah kejadian itu, malah setelahnya saya sering mendapat gratis dari tetangga tetangga sebelah dan lengkap dengan lauknya. Tetanggaku baik sekali yah. Hampir tiap kali ketika saya sedang berlibur di rumah setelah ujian kampus, Para Tetanggaku memberi dengan Cuma-Cuma nasi bukbuk. Kalau sore hari ada orang di luar pagar rumah berteriak “Indra.. Indraaaa…. ” Ini pasti tetangga lagi bawa nampan berisi nasi bukbuk dan semangkok sayur lauk. Dan tebakan saya selalu benar. Begini enaknya kalau hidup di desa. Masih banyak yang mau berbagi.

Nasi Jagung di Madura memiiliki beberapa varian. Ada nasi Jagung murni dan Nasi Katul Jagung (sounds like makanan ternak🙂 . Penduduk lokal disini biasa menyebut Nasi Katul Jagung ini dengan sebutan Nasi Bukbuk. Nasi bukbuk ini memiiliki butiran Jagung yang sangat Halus. Butiran Halus ini berasal dari Butiran Kasar Jagung mentah yang digiling. Masyarakat suku Madura biasanya menggiling butiran jagung mentah tersebut menggunakan alat penggilingan tradisional yang terbuat dari Batu. Kini alat tradisional ini sudah hampir punah. Sudah sedikit generasi yang masih menggunakan alat penggiling tradisional ini. Kebanyakan sekarang orang menggilingnya di Kedai penggilingan yang banyak dijumpai di pasar yang menggunakan bantuan mesin. Selain hemat biaya juga hemat tenaga. Saya masih ingat kalau menggunakan alat ini rasanya capek minta ampun. Pernah dulu saya iseng membantu bibi pengasuh saya yang menghaluskan jagung mentah tersebut di rumahnya. Ya Alloh dengan tangan kecil kanak-kanak saya-muterin alat penggilingan ini sudah membuat bahu saya pengen keseleo. Well, Alat penggilingan ini cukup bergoyang ngebor saja untuk menghasilkan butir-butiran jagung yang halus. Nah muterinnya pake tangan ini yang berat dan bikin capek. Tak mengeherankan kalau saya bilang wanita Madura itu  adalah wanita yang perkasa. Pandangan ini tidak muncul dari saya saja. Saudara-saudara bapak dan ibu saya juga mengatakan demikian ketika berlibur di Madura.

Nasi Bukbuk

Nasi Bukbuk

402991_10200110422754062_1681377999_n

Nasi Bukbuk ini campuran Bubuk Jagung Halus dan beras putih. Persentase beras putihnya mungkin sekitar 30 persen sisanya ditambah bubuk Jagung halus. Kalau tidak memakai beras putih, Maka tidak akan menjadi nasi bukbuk tetapi bubur bukbuk. Cara Pembuatannya cukup mudah. Beras putih dimasukkan dahulu kedalam sebuah panci untuk lemudian direbus dengan air. Begitu setengah matang baru akan dicampur bubuk Jagung Halus untuk kemudian direbus lagi hingga menjadi matang. Jadilah campuran itu menjadi nasi yang dikenal dengan nama Nasi bukbuk. Teksturnya yang lembut akan mengundang selera siapapun yang penasaran mencobanya. Dijamin ketagihan. Termasuk saya hehe.

Sajian nasi bukbuk ini akan terasa semakin nikmat bila ditemani sayur daun maronggi dan Ikan pindang dan Sambal Pedas Tauge tomat. Daun Maronggi ini kata Orang Jawa adalah daun kelor. Beda daerah terkadang berbeda pula namanya. Padaahal sejenis. Daun Maronggi hampir mudah ditemukan di setiap pekarangan rumah penduduk. Orang Jawa lebih mengenal daun maronggi ini sebagai daun untuk memandikan orang yang meninggal dunia. Makanya pakde dan bude serta tante saya ga mau makan sayur Maronggi. Terlalu horror katanya. Apalagi mitosnya kalo ada orang yang meninggal dunianya susah, perlu digebukin seikat daun kelor baru orang itu bisa mati dengan tenang. Entahlah.

daun-kelor

Di tengah modernitas yang semakin melaju, Nasi bukbuk masih menjadi andalan masyarakat Madura hingga kini. Nasi bukbuk dinilai lebih ekonomis daripada membuat nasi yang seluruhnya terbuat dari beras putih. Ditambah predikat sebagai daerah penghasil Utama komoditas jagung menjadikan semua hasil produksi yang terbuat dari jagung disini lebih murah.  Cherioooo.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Nasi Bukbuk Jagung : Kuliner Khas Madura (Part 1)

  1. riaz berkata:

    Assalamu’alaikum…
    Aq jg mo bagi pngalaman…sngkatny aq prnah tgl d madura selama 14 taun.tepatny ϑȋ kabupaten sumenep ambunten.wiuhh,moment yg gak akan lupain smpai skrg.terutama ttg kulinerny.
    Klo nasi jgung+kuar maronggi mmng sdah jd menu wajib stp hari warga setempat.jd aq bisa dengan mudahnya makan setiap hari dg alasan “main” ke tetangga.hehehe….
    Slain menu itu ada rujak soto(siipp),kaldu,rujak lontong yg ditaburi keripik singkong diatasny,dan rujak rok-erok(sejenis rujak kuah pindang khas bali).
    Well,smpai skrgpun aq msh mengkonsumsi makanan2 khas tersebut dg cara bikin sndiri.maklum skrg domisili sdah di jawa.
    Smga lain kesempatan bs lburan kuliner ke pulau madura….Aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s