Bagaimana bila adzan terdengar terlalu Cethar Membahana?


Saya memandang malas ke arloji di pergelangan tangan. Masih 4 jam lagi ke Sumenep. Huh Masih lama. Dengan dongkol saya menghela napas yang sebenarnya tak berat. Saya melongok keluar arah jendela. Bus yang saya tumpangi akhirnya berada di garda terdepan setelah 1,5 jam lamanya mengantri di pelabuhan Tanjung Perak. Agak sedikit Jengkel sama peraturan perusahaan bus yang saya tumpangi.  Satu bus satu kapal. Untuk wilayah Madura semua Bus menjadi milik monopoli PT Akass. Jadi bila ada 4 bus Akass yang sama sama mendarat bersamaan di tanjung perak, tidak semua bus bisa langsung masuk ke dalam perut kapal. Sekali lagi Satu kapal satu bus. Padahal masih banyak space atau ruang kosong  yang tersisa di dalam kapal. Peraturan ini dibuat agar bus  senantiasa dalam keadaan penuh dengan penumpang sebelum memasuki wilayah pulau madura. Ngetem istilah kasarnya, beuh.

Adzan Ashar berkumandang di masjid dekat pelabuhan. Suara muadzin terdengar sayup mendayu di petala langit. Saya ragu  ingin shalat di masjid. Sebentar lagi kapal fery yang akan mengangkut bus saya akan tiba di dermaga. Daripada tiket saya hangus ditinggal bus, akhirnya saya memilih untuk salat di dalam bus dengan tayamum nanti. Saya kembali menekuri hape saya. Ada sebuah pesan masuk dalam hape.

Tiba-tiba…

Dari belakang terdengar sepasang orang tua sedang berteriak cetar membahana. Mencabik keheningan sore. Dengan leher yang masih kaku karena efek jetlag, Saya pun refleks menoleh. Menuju datangnya arah suara. Ternyata sepasang orang tua yang sedang ribut memarahi anaknya yang bersikeras untuk salat di masjid. Anaknya yang kalo saya lihat masih remaja berumur kira-kira 17 tahunan

“Salat di kapal saja le”

“Sayang duitnya hangus”

“Sebentar lagi busnya masuk kapal”

“Kamu akan ketinggalan kapal”

…..

“Sudahlah ga usah menyusahkan. Salat di dalam bus saja”.

Beragam perintah larangan meluncur deras dari bibir orang tua tersebut. Pemandangan tersebut cukup mengusik para penumpang. Ada yang memberi tatapan sinis, ada juga yang nanar bercampur kepo dan ada juga yang cuek  seperti saya. Bukan urusan saya. Toh nyatanya saya sedikit penasaran juga alias kepo dikit mengenai kira-kira keputusan apa yang akan diambil remaja tersebut.

Woowww.

Saya tertegun terpana. Ternyata remaja tersebut nekad turun dari bus dan melangkahkan kakinya dengan percaya diri ke masjid yang tak jauh dari dermaga. Tak diindahkan nasihat orang tuanya ketika dia hendak turun. Orang tuanya geleng-geleng kepala tak berdaya sambil misuh-misuh melihat punggung anaknya yang semàkin menjauh menuju masjid.

Tak lama kemudian, Bus yang saya tumpangi masuk ke dalam kapal fery diikuti barisan sepeda motor dan angkutan lainnya yang hendak ikut menyebrang. Sementara itu remaja yang tadi menunaikan shalat belum kunjung tiba. Orang tuanya yang duduk di bangku belakang pun cemas.

“Pa, anak kita gimana?? Masa ditinggal” Kali ini ibunya khawatir mencemaskan anaknya. “Apa kita turun saja pa. Karcis kita minta tebus balik saja sama tuan kondektur. Mungkin dikasih.”

“Duuuhhh anak ini kok bener2 merepotkan”. Bapaknya pun juga ikut gusar.

“Kita naik bus yang dibelakangnya saja pa. yang belum berangkat.” Bapaknya tak segera menjawab. Secercah keraguan merona di  wajahnya.

“Kita tunggu 3 menit lagi. Nanti kalau dia belum muncul kita turun saja dan keluar dari kapal”. Bapaknya mengambil keputusan.

5 menit kemudian….

Kapal pun belum berangkat juga. Padahal perut kapal sudah penuh dengan berbagai kendaraan. Sirine keberangkatan dari kapal tak kunjung jua belum berbunyi. Penumpang di dalam bus terheran-heran mengapa kapalnya tidak segera berangkat meninggalkan dermaga. Diantara mereka ada yang turun dari bus untuk menanyakan masalah ini kepada kapten kapal fery.

15 menit kemudian…

Kapal pun belum berangkat juga.

“Maaf pak sabar sebentar yah. Mesin kapalnya mati. Sebentar lagi hidup. ” Ucap pak supir bus kepada penumpang seusai mendapat jawaban dari petugas kapal.

Saya terdiam mendengar ucapan pak supir tersebut. Sejenak saya mencoba mencerna apa yang baru saja saya dengar. Merenung. Berpikir keras  dan menutup mata. Yah itu….. Kejadian 15 menit yang lalu itu… Fragmen-fragmen momen yang baru saja berlalu itu kembali berkelebat di kepala Saya. Bayangan itu sedikit menohok hati saya. Hati saya berdesir. Bulu kuduk serasa berdiri.

Subhanallah.

Apakah ini tanda??

Subhanallah.

Saya menyebut AsmaNya berkali-kali dalam hati yang penuh malu tingkat tinggi. Saya merasa malu berada dihadapanNya. Saya merasa kecil dihadapanNya. Dibalik peristiwa ini pasti tidak luput dari campur tangan Tuhan. Kuasa Tuhan tak ada manusia dapat membendungnya. Seperti TanganNya yang menundukkan Semesta dan juga Samudera di bawah kapal ini. Sebuah kebetulankah bila Mesin kapal ini tíba-tiba mati??

Tak lama kemudian remaja tadi muncul dari pintu depan bus. Wajahnya masih segar bekas wudhu. Saya yang berada di bangku depan sempat memandang dia. Rasa Malu menyergap seisi ubun saya. Merasa tersindir tepatnya. Tuhan sepertinya sedang memberi hikmah dan keajaibanNya kepada saya lewat remaja ini. Ketika panggilan Tuhan telah datang, seberapa terbesitkah hati ini untuk bergerak memenuhi panggilanNya? Dalam keadaan sulit dan genting sekalipun? AllahhuAkbar. Maha Besar Allah. Selama ini saya termasuk orang yang suka menunda-nunda waktu salat. Terlena terkadang dengan waktu dan masalah duniawi yang belum sempat saya selesaikan ketika panggilan suci datang misal Pekejaan di komputer dll. Entah kenapa kebiasaan ini sulit saya hilangkan. Begitu sistemik. Padahal saya sudah pernah dengar dari ustad Yusuf Mansur bahwa salat adalah pintu rejeki. Semakin awal semakin cepat pula rejeki ýang bisa dijemput.

adzan

“Ini kapalnya belum berangkat gara gara nunggu anak ini” Seru penumpang yang menggunakan peci haji dan surban di lehernya.

“Enggi pak haji” Jawab penumpang yang lain. “Mon la adzan kodu salat..tak usah etunda-tunda giii “

“Mon Allah terro matee mesin, Mate laju. keta ta bisa apa-apa. Koasa keta terbatas.” Penumpang yang berpeci tadi kembali melanjutkan bicaranya.

Ternyata banyak juga penumpang yang mengambil hikmah dari kejadian matinya mesin kapal ini. Ada yang berbisik-bisik membenarkan  apa yang diucapkan pak Haji. Ingin sekali saya melihat muka kedua orang tua remaja itu. Seperti apa reaksi mereka. Malukah? Ah tiba-tiba saya mengambil rasa tidak peduli. Tak penting juga. Cukup hikmah ini saja toh sudah cukup menusuk ulu hati saya.

Tak lama satu menit kemudian setelah anak tersebut kembali ke bus, mesin kapal kembali hidup. Kapalpun bergerak meninggàlkan dermaga menuju pelabuhan Impian. Mencipta buih diantara deru kapal. Saýa memandang ke arah jendela. Sore begitu  terasa indah. Begitu biru. Harmoni. Langit menyelimuti  hangat seolah tangan Tuhan membelai lembut Pipi saya. Di tengah kekaguman memandang awan sore, saya berbisik dalam hati  “Terima kasih Tuhan atas pelajaran yang Kau beri hari Ini “

Ps : sori yah kalo judulnya gak pas. Emang heheu 🙂

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bagaimana bila adzan terdengar terlalu Cethar Membahana?

  1. Frilia Garlinha berkata:

    Reblogged this on frilia wg.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s