Pengalaman Pertama Naik Pesawat (Part 2)


Berhubung saya baru akan pertama kali naik pesawat akhirnya saya ikut latah-latahan seperti adegan adegan di film televisi dengan latar bandara. Biasanya orang kalo mau ke bandara, bawaannya koper beroda. Berhubung saya gak punya koper beroda, saya meminta ke mama untuk dibelikan koper di pasar.

” Ngapain bawa koper. Kita punya juga tas ukuran big yang biasa kita pakai buat mudik”

“Mama gimana sih. Indra mau naik pesawat. Bukan naik bus. Dibedain dong ma. Kayaknya Indra gak pernah lihat di tv kalo bawa tas macam itu. Adanya yang pake roda”

Tapi bu haji tetangga kita ke mekkah lho gak bawa koper. Cuman bawa tas jinjing yang model tas kita kalo mau mudik. Kayaknya boleh bawa tas macam itu masuk pesawat”.

“Beda ma mereka kan naik haji. Lha aq cuma ke balikpapan. Mama jangan malu-maluin saya di bandara. Ntar kalo saya dilihat seperti orang udik kayak baru tahu naik pesawat gimana. Pokoknya bawaannya harus koper beroda. Titik

“Iya deh”

“Nah gitu dong ma”

Akhirnya saya dibelikan tas koper beroda dan berwarna biru. Kata penjualnya bisa menampung sampe 20 kg. Langsung saya isi tas tersebut dengan pakaian yang akan saya bawa ke balikpapan.

“Indra, ini barang-barang lainnya kayak indomie, sabun, sampo dll masukin pake kardus aja yah?

“Apa!! kardus?? eh emang penumpang pesawat ada bawa kardus yah. bukannya koper. Ah sudahlah ma masukin koper aja..ntar saya kalo bawa kardus-kardus ntar kayak orang kampungan gimana gitu”

dan sekali lagi mama saya menurut. Keesokan harinya saya berangkat dengan mas saya ke bandara dan saya termasuk penumpang yang patuh sama peraturan. Di tiket pesawat tertulis bahwa penumpang harus datang 2 jam sebelum keberangkatan. Dan saya pun datang jam 8 pagi dengan keberangkatan pesawat jam 10 pagi.

Pas sampe di lantai bandara, saya dan mas saya kebingungan. Mau ngapain yah abis ini. Biar gak terlalu kelihatan udik, saya dan mas saya mempelajari suasana bandara. Dan disana saya kecele. ternyata banyak juga lho penumpang yang gak bawa koper model beroda. Malah banyak juga yang bawa travel bag model jinjing. Kupikir travel bag model jinjing adanya cuma buat penumpang bus atau kereta. Dan kekinya eh ada juga yang bawa kardus kardus segede gaban. Jadi teringat mama.

Setelah mengamati orang-orang disitu dan jelalatan kanan kiri, akhirnya saya dan mas saya mengambil kesimpulan : kita harus melapor ke counter lion air dulu. Kesimpulan ini saya ambil ketika melihat penumpang yang di tangannya membawa tiket lion air. Penumpang itu menuju counter lion air. Dan akhirnya saya ikut-ikutan datang ke counter tersebut. Sampe disana ketemu sama petugas mbak yang cantik.

“Ada yang bisa saya bantu”

” Ya..ini 2 tiket saya ke balikpapan”

” Kenapa memangnya mas”

” Hm saya mau naik lion air. Ini saya lapor.

“Owh lapornya di dalam mas.

“Dalam mana mbak” saya bingung

“nanti mas ketika sudah masuk pintu keberangkatan, nanti ketemu counter lion air kami. Jangan lupa tunjukkan KTP dan tiketnya mas sama petugas”

Jadi kalo pas datang ke bandara dan sudah dapat tiket, langsung saja menuju pintu masuk.

Pas mau masuk ke pintu masuk, tiket saya di check lagi. Setelah itu saya diperbolehkan masuk. Seperti penumpang lainnya, saya pun memasukkan koper, tas gendong ke dalam rel pemindaian barang.

“Ini tas siapa?

” Saya pak” Aduh ada apalagi dengan tas saya. Perasaan saya tidak bawa bom.

” Anda membawa benda tajam”

” Hah, Saya orang madura, tapi  saya gak bawa celurit.

” Silahkan tasnya dibuka”

Petugas akhirnya menyita gunting. Heran juga kenapa gunting masuk kategori senjata tajam yang gak boleh masuk pesawat. Beruntung gunting kuku saya tidak kena sita.

Ketika melapor di counter check in, semua barang bawaan penumpang akan ditimbang sebelum masuk bagasi. Kalau lebih dari 20 kg akan terkena tambahan fee/denda sebesar 20 rb per kg. Lupa menimbang koper pas di rumah, akhirnya saya dengan mas saya sepakat ngeluarin beberapa baju untuk masuk dalam tas lain yang akan saya bawa ke kabin. Jadi yang namanya koper dibuka lagi. Saya tidak peduli tatapan aneh beberapa orang ketika kami membongkar barang bawaan. Semua demi agar tidak terkena denda. Akhirnya setelah ditimbang, berat koper dan seluruh tas saya cuma 39,9 kg. Hufff. karena berdua berarti berat maksimum 40 kg. Kesel juga sih sama mama disuruh bawa rinso, bawa sabun satu lusin, bawa indomie, bawa saos sambal, bawa rendang kelapa, dan banyak baju. Kata mama disana barang mahal semua, jadi saya bisa berhemat untuk beberapa bulan karena bawa banyak stok dari jawa. Padahal setelah dipikir-pikir paling beda 1000-an antara harga di jawa sama di kalimantan. Tapi begitulah cinta mama. Ternyata dengan bawa barang seabrek, saya justru terbantukan ketika lagi kekurangan disana. Bahkan ada beberapa teman mengeluh begitu mahalnya komoditas yang dijual disana.

Setelah selesai check in, saya dan mas saya bingung abis ini mau ngapain. Sambil membaca petunjuk papan di dalam bandara dan melihat penumpang yang selesai check in akhirnya saya mengikuti beberapa penumpang yang selesai check in. Ternyata mereka menuju ruang tunggu. Belum sampai menuju ruang tunggu, tiba-tiba seorang petugas asuransi jasa penerbangan menyetop kami.

Saya yang baru pertama kali masuk bandara, nurut aja pas disuruh bayar asuransi 30 ribu.  Dalam hati saya mengatàkan bahwa tidak mungkin di bandara ada pungutan liar. Karena semua penumpang disini adalah berkelas, mungkin ini biaya peron plus tambahan asuransi, pikir saya. Dan saya baru tahu dari teman kalo asuransi ini optional. Boleh bayar, boleh gak. kalau tahu dari awal, saya pasti tidak akan ikut asuransi tersebut. Sesudah nebus asuransi, saya masuk ke ruang tunggu. Eh masih disuruh bayar lagi karcis boarding pass. Apaan lagi nih karcis. Boarding pass?? Terjemahannya apa ya? Board = papan, pass = jalan. Karcis jalan papan hmm? apaan sih. Maklum bahasa inggris saya pas-pasan. Disuruh bayar 30 rb, nurut juga saya.

Setelah tiba di ruang tunggu, dari kaca jendela saya melihat pesawat lion air sedang terpakir malas di luar. Saya dan mas saya langsung menuju pintu keluar ruang tunggu menuju pesawat. Soalnya saya melihat penumpang dengan tiket lion air di tangannya mengantre di pintu tersebut dimana masing2 dari tiket boarding pass mereka disobek. Pas giliran tiket boarding pass saya mau dirobek, si petugasnya bilang

“Maaf mas. Ini pesawat lion air keberangkatan menuju jakarta. Bukan balikpapan. Mas tunggu dulu di ruangan ini. nanti ada pengumuman informasi mengenai keberangkatan pesawat dengan kode penerbangan ini.

Tuh kan saya udik lagi. Tapi tidak apa. Justru gara-gara katrok atau udik membuat seseorang bisa belajar hal-hal yang baru. Terkadang sesuatu yang pertama dan baru dicoba, seseorang harus melewati kekatrokan dulu sampe dia benar benar mumpuni mengenai sesuatu tersebut.

Balikpapan dalam suatu kenangan with my friends

Balikpapan dalam suatu kenangan with my friends

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Pengalaman Pertama Naik Pesawat (Part 2)

  1. gordonlevitt berkata:

    wakakak.. bener2 ngakak baca ceritanya, apalagi yang maksain mamanya beli koper beroda😀

  2. ulfa nurrofingah berkata:

    seperti pengalaman teman saya,
    dia dari daerah Sumatera utara.😉

    • Indra berkata:

      seneng ada juga yang memiliki pengalaman yang sama. We all believe surely, experience is the great teacher, right? terima kasih sudah berkunjung.

      • isna saragih berkata:

        wkwkwkwk … pertama kali naik adam air bareng si adam (anak surabaya) n gunting ku harus dimasukin bagasi n aku harus tanda tangan bahwa akau membewa senjata tajam😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s