Pengalaman Pertama Naik Pesawat (Part 3)


Setelah keluar dari pintu ruang tunggu menuju lapangan ground dimana semua pesawat terparkir disana, saya segera menuju pesawat lion air yang akan membawa saya ke balikpapan. Waktu itu belum ada avio bridge : jembatan yang menghubungkan langsung pesawat dengan pintu keluar ruang tunggu penumpang. Kesan pertama kali ketika akan menuju pesawat, saya tidak percaya terhadap apa yang ada di hadapan saya. Saya menepuk pipi saya dengan keras. Memastikan saya sedang tidak bermimpi. Benarkah saya akan menaiki sebuah pesawat? Benarkah? Tiba-tiba Rasa haru biru menyelimuti diri saya. Rasa Dingin menyergap tubuh saya. Darah seolah berkumpul di otak. Menciptakan sebuah sensasi yang tidak dapat saya lukiskan. Saya cepat-cepat mengambil napas lagi karena saking takjubnya saya jadi lupa untuk bernapas. Saya kembali mencubit pipi saya. Oh tuhan ternyata Saya sedang tidak berhalusinasi. Ini sungguhan. Saya mencoba meyakinkan diri dalam hati. 12 tahun penantian perjalanan mimpi itu pun menjadi nyata. Subhanallah Walhamdulillah. Ya Allah terima kasih atas nikmatmu yang kau berikan hari ini. Lihat Tuhan, Aku akan terbang mengangkasa”.

“Hai ngapain kamu mematung disitu” Seru mas saya yang baru menyadari bahwa adiknya sedari tadi tertinggal di belakang. Entah kenapa sewaktu itu kaki saya seolah terpaku. Mungkin terserang sensasi khayalan tingkat tinggi saking takjub melihat sebuah benda raksasa pesawat terpajang di depan mata saya. Saya yakin semua orang di dunia ketika merasakan hal yang baru dan pertama kali pasti mengalami semacam haru biru di benaknya. Seperti yang saya baru saja alami. Hanya tingkat mengekpresikannya setiap orang bisa berbeda-beda.

Akhirnya saya segera tersadar dari lamunan dan kembali melanjutkan langkah saya menuju pesawat. Ketika berpas-pasan dengan mas saya, saya mengatakan

“Akhirnya kita bisa juga naik pesawat yah mas”.

“Gak nyangka yah. Mimpi apa yah kita semalam haha”

Kami berdua pun dirundung rasa kebahagiaan tidak terkira. Seperti anak kecil yang tersenyum ketika menemukan mainannya yang hilang. Entah kesambet setan darimana, saya tiba-tiba meloncat kegirangan

“Hore akhirnya saya bisa naik pesawat. Terima kasih ya Allah.

Penumpang lainnya yang berpas-pasan dengan saya di tangga ada yang tersenyum, ada juga yang geleng-geleng dan mungkin juga tidak ada yang ambil peduli. Saya pun sudah siap tidak ambil peduli kalo pun nantinya dibilang norak atau kampungan. Karena bagi saya, kata-kata tersebut tidak bisa menandingi kebahagiaan saya di saat itu.

“Baru naik pesawat yah dek”

“Haha iya pak”.

Seneng ya?

Alhamdulillah.

Lion air

Lion air

Hari itu langit begitu cerah dan Bersahabat. Saya pun duduk di kursi 15 E bersebelahan dengan mas saya. Ketika pesawat mulai take off, hal yang pertama kali diingat saya adalah zikir. Terngiang di telinga, nasihat mama untuk senantiasa berzikir di atas pesawat.

Wwuuuu..ssss…ssssss

Dalam Sekejap pesawat terlepas dari cengekeraman bumi. Dan posisi duduk saya pun miring ke atas ketika pesawat sedang berusaha menggapai ketinggian. Entah kenapa di saat itu kaki saya merasa kaku. Mendadak ruangan kabin hening membeku. Semoga tidak terjadi apa-apa. Tak berselang lama akhirnya saya bisa terduduk lurus ketika pesawat sudah berjalan lurus. Di luar awan tampak putih bagai gulungan kapas. Siluet langit begitu indah. Biru. Pantulan sinar matahari di atas kaki langit memendarkan bayangan di jendela. Kutemukan potongan wajahku terpantul disana. Mata saya tak berkedip melihat suasana di ketinggian. Awan-awan berbaris rapi. Terkadang kelihatan bergerak menggeliat. Kupikir awan ini adalah sebuah es batu yang mengapung di udara. Eh ternyata hanya uap air. Padahal saya sangat cemas takut pesawatnya menabrak awan-awan es hihi. Dari jendela, pandangan saya menuju ke bawah. Daratan surabaya hilang berganti laut jawa. Karena perjalanan ke balikpapan melintasi selat jawa, praktis saya hanya melihat laut. Laut. Laut. Dan laut yang tersaji nun jauh dibawah sana begitu indah di mata saya. Laut kelihatan begitu tenang disepuh emas. Kapal yang berlabuh diatasnya bagaikan setitik noda hitam di atas samudera. Ngeri juga membayangkan bagaimana bila pesawat ini jatuh. Seringkali setiap naik pesawat, perasaan bahwa akan mengalami kecelakaan di udara selalu hinggap di pikiran. Itu mengapa terkadang ada beberapa penumpang senantiasa berdoa dan berzikir meski cuma di dalam hati. Karena masih sejam lagi sampe, saya mencoba mengusir kebosanan saya dengan membaca majalah travel terbitan maskapai lion air yang disediakan di saku belakang bangku. Dari situ saya mengetahui maskapai Lion air melakukan 5x perjalanan surabaya-balikpapan PP. Berarti ada 1000 orang sekali berangkat dari surabaya dengan asumsi satu pesawat dengan jumlah 200 kursi terisi penuh. Belum ditambah maskapai lainnya yang turut meramaikan rute surabaya-balikpapan. Wow. Saya takjub. Seperti apa yah kota balikpapan hingga hampir ribuan orang berdatangan setiap harinya. Saya juga baru tahu kalo balikpapan adalah kota minyak. Info ini saya dapatkan dari ayah ketika melepaskan saya pergi di rumah. Saya berharap semoga balikpapan bukanlah kota tertinggal. Menyandang predikat sebagai kota minyak, harusnya kotanya kelihatan lebih maju seperti kota timika di papua sana.

Setelah menempuh perjalanan selama sejam, akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat selamat di Bandar Udara Sepinggan, Balikpapan. Di saat penumpang lainnya sudah turun dari kabin, hanya tinggal saya yang belum turun. Saya masih terjebak di seat belt. Mas saya yang sudah lepas dari seat belt mencoba membantu saya melepaskan seat belt yang melilit perut saya. Ternyata mas saya lupa bagaimana  cara unlock seat beltnya. Untungnya seorang pramugari dengan segera mendatangi kursi saya.

 “Maap mbak, bisa dibantu bukain seat beltnya”

Dengan lincah tangannya membuka seat belt. Begitu mudah.

“Owh jadi begini cara buka seatbeltnya. Pelajari sekali lagi dong mbak”

Alhamdulillah Pramugarinya merespon dengan baik hati. Dengan sabar dia mempelajari saya membuka seat belt. Setelah paham, saya kemudian berpamitan dengan mbak-mbak pramugarinya.  Senyum mereka semacam oase di padang pasir. Begitu menyejukkan. Dan lion Air adalah maskapai pesawat yang pertama kali dirasakan oleh saya. berharap saya suatu saat saya bisa mencoba jenis maskapai lainnya. Aminn.

Hari sudah siang di luar. Arloji menunjukkan jam 11 siang. Padahal di Balikpapan waktu sebenarnya sudah menunjukkan jam 12 siang. Begitulah angka jam yang tertera di papan dasboard kedatangan di bandara. WIB dan WITA selisih satu jam. Saya segera mengganti waktu yang tertera di arloji.

Terima kasih Tuhan, saya tidak akan melupakan pengalaman ini. Bumimu sungguh luas. Ijinkan saya suatu hari menjelajahi bumiMu yang begitu luas.

Balikpapan dalam suatu kenangan with my friends

Balikpapan dalam suatu kenangan with my friends

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Pengalaman Pertama Naik Pesawat (Part 3)

  1. my is moon berkata:

    Alhamdulillah …. terbanwaktu umur berapa… unyu2 amat foto nya hahaha

  2. isna saragih berkata:

    iyah, perubahan kata dari saya ke aku sangat mencolok .. oya, kata mempelajari seatbelt aneh nder, harusnya mengajari cmiiw😉

  3. giri boedoyo berkata:

    Penulisan yang manis sungguh menghibur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s