Sejuta Pesona Pulau Randayan : Dalam sebuah Kenangan (2008)


Bersama Keluarga Besar Pak hendrik Virginius

Bersama Keluarga Besar Pak hendrik Virginius

Entah malaikat mana yang merasuki bapak kos, tiba-tiba dia mengajak saya ikutan di acara family gathering-nya di Pulau Randayan. Saya langsung mengiyakan penawaran tersebut. Jujur saja ini tidak terduga. Seminggu sebelumnya, saya sempat membaca artikel perjalanan di Radar Pontianak Post yang waktu itu meliput 3 ekspedisi pulau di kalbar yaitu Pulau Randayan, Pulau Lemukutan, dan Pulau Kabung dalam satu halaman besar. Pulau-Pulau di Kalbar jarang sekali terekpos di media dan diangkat ke dalam blog blog wisata, Padahal tidak kalah memiliki pesona yang menakjubkan dibandingkan pulau-pulau di Kalimantan Timur.  Pesona pulau ini terus terbenam dibawah bayang bayang pesona wisata budaya kota Singkawang yang Oriental taste. Perayaan Imlek dan Cap go meh dianggap lebih menjual daripada wisata ini. Tak heran bila perayaan ini datang, reporter baik dari stasiun tv nasional, tv Luar negeri maupun media cetak meliput peristiwa ini. Pada festival ini juga orang orang tionghoa asli singkawang yang ada di Jakarta, Taiwan, Malaysia dan di berbagai kota pada mudik pulang kampung. Dengan demikian adalah wajar jika pulau-pulau tersebut tidak sempat terpikirkan di benak mereka.

Apib, teman kosan saya tidak mau ikut. Entahlah. Sampe sampe saya ngomporin kalau dia tidak bisa ikut, dia akan menyesal seumur hidup. Saya percaya yang namanya kesempatan tidak pernah akan terulang dua kali. Ketika saya sedang prepare, saya bingung mau bawa apa. Ini adalah perjalanan wisata saya yang first time selama saya bekerja di Singkawang. Itu mengapa saya agak terjebak dalam perasaan haru biru. Haru birunya yah bapak kos ngajak saya kumpul di acara family gatheringnya.  Saya merasa menjadi bagian dari keluarganya. Yang kedua, Saya waktu itu belum memiliki sepeda motor, dan praktis setiap hari sabtu dan minggu saya merenda hari dengan serba monoton. Angkot di Singkawang juga tidak ada. Jadi kesempatan ini begitu berharga di mata saya. Worth it.

Akhirnya saya membawa satu baju dan celana pendek di dalam tas. Entah hantu dari mana yang merasuki Apib, tiba-tiba dia bilang ke saya untuk memutuskan ikut-menjelang 10 menit sebelum berangkat. Syukurlah. Mungkin kalau Apib tidak jadi ikut, saya bakal jadi satu-satunya yang menjadi orang asing di keluarga ini. Secara saya belum terlalu mengenal lebih dalam dengan keluarga Bapak Kos. Baru sebulan tinggal di kosannya. Apalagi kami tidak tinggal dalam satu rumah, karena bapak kos punya rumah tersendiri yang terpisah jauh dengan kosan saya. Untungnya Bapak kos selain sama keluarganya juga bawa semua karyawannya yang bekerja di restorannya. Dan kebetulan Restoran dan Kosan menyatu menjadi satu. So, Saya tidak cemas lagi karena saya bakal punya teman ngobrol dalam perjalanan. Saya kenal semua karyawannya. Tapi kebahagiaan itu terasa ada yang kurang. saya tidak memiliki tustel. Hape saya juga tidak dilengkapi dengan fitur kamera. Saya Langsung terbayang bahwa saya tidak akan memiliki gambar kenangan disana. Sedih. Maklum gaji bulan pertama belum cukup untuk membeli kamera.

Ketika kami hendak berangkat, Total rombongan berjumlah 17 orang. Bapak kos bawa 2 mobilnya yaitu Jepp Feroza sama Sedan. Kebayang kan dengan kapasitas mobil segitu harus ngangkut  sebanyak 17 orang. Dan benar ketika kami sudah masuk ke dalam mobil, keadaan mobil langsung  Load to the fullest. Sebenarnya overload😀 . Belum lagi dengan bekal makanan minuman dan tikar belum masuk ke dalam mobil. Apib dan saya hampir menyerah dan memutuskan tidak ikut karena mobil bener bener overload. Tapi bapak kos tetap maksa kami ikut. Akhirnya ditata kembali posisi kami di dalam mobil. Yang gemuk dan kurus diatur posisinya. Dan heiaaa akhirnya 17 personel bisa berangkat juga ​hehe. Meski harus berdesak-desakan di dalam mobil.

Tak kurang dari sejam, Kami tiba di Pelabuhan Teluk Suak. Disana kami menaiki perahu motor yang akan membawa kami ke Pulau Randayan. Perahu yang kami tumpangi sebenarnya perahu ke arah Pulau Lemukutan dan Pulau-pulau lainnya yang berpenghuni padat. Dan bila ada turis ke Pulau Randayan, Biasanya awak buah kapal mau nganterin turis turun di Pulau Randayan. Saya baru tahu kalo pulau Randayan itu penghuninya sedikit. Disana bahkan cuma ada 3 rumah nelayan. Itu mengapa tidak ada perahu penumpang jurusan Pulau Randayan. Informasi ini saya dapatkan dari obrolan santai dengan penumpang yang merupakan penduduk asli pulau Lemukutan. Saya melihat barang bawaannya yang berupa kardus indomie, gula, sembako, dan snack. Sepertinya dia adalah seorang penjual dan memiliki toko disana. Dari cerita dia pula bahwa Randayan adalah termasuk lima pulau berpenghuni diantara 12 pulau yang tersebar di perairan barat Pulau Kalimantan Barat. Katanya randayan ini dimiliki orang asing dan di bukitnya ada sebuah helipad. Entahlah. Selalu miris bila mendengar pulau-pulau kita dimiliki orang asing. Menguatkan stigma bahwa Negara kita belum sepenuhnya merdeka.

kabung 1

Perjalanan Dari pelabuhan Teluk Suak menuju Pulau Randayan akan memakan waktu sejam lebih. Saya benar benar menikmati perjalanan ini. Perjalanan pertama mengarungi Selat Karimata. Arusnya tidak begitu besar. Padahal sudah masuk musim penghujan. Dan hari ini cuaca begitu cerah. Tuhan sedang berbaik hati rupanya kepada kami. Karena bete harus menunggu lama, saya pergi ke arah buritan perahu. Menyentuh buih ombak yang terbelah oleh kapal. Dingin. Saya segera teringat dengan cerita pada buku laskar pelanginya Andrea Hirata. Teringat petualangan Sociteit de limpai yang katanya sampai terdampar di pulau Lanun Selat Malaka dan bertemu dukun Tuk Bayan Tula. Petualangan untuk mencari sosok A ling. Sempat terpikir saya ingin membantu ikal untuk mencari Aling yang menghilang. Mungkin saja Aling sedang bersembunyi di Pulau Randayan. Bukankah pulau pulau barat kalimantan ini satu gugusan dengan pulau Bangka belitong yang hanya terpisahkan oleh Selat Karimata. Bukankah A ling adalah seorang cina Hokkian, dan Singkawang adalah kota dengan etnis cina hokkian terbesar di Kalimantan barat. Korelasinya begitu tinggi hehe.

Menuju Randayan kami melewati tiga pulau. Pemandangan barisan bagan nelayan tampak memenuhi tepi laut. Anak anak kecil berkulit legam melambaikan tangan dari jendela rumahnya ke arah kami. Senyum mereka mengembang. Perkampungan yang benar benar khas nelayan. Rumahnya tepat di atas perairan. Pemandangan yang langka di Tanah Jawa. Di tempat saya, jarang-jarang nelayan bermukim di tepi pantainya. Mereka lebih memilih tinggal di pesisir yang tidak jauh dari garis pantai.

pantai-pulau-Randayan

“Itu Pulau Randayan” Celetuk salah satu penumpang. “Bagus khan?”

Kami semua menoleh ke arah pulau yang ditunjuk. Hm bagus juga pulaunya. Barisan Pohon kelapa memanjang dengan hamparan pasir putihnya. Tekstur airnya bewarna hijau kebiru-biruan. Menandakan kehidupan bawah lautnya masih terjaga dan tidak tercemar. Rombongan kami berdiri semua. Tidak sabar untuk menjadi orang pertama yang mendarat di pulau ini. Akhirnya perahu kami mendarat di Pulau Randayan. Kami ber 17 turun.  Perahu yang mengangkut kami meninggalkan kami disini karena  perahu akan berlanjut mengantarkan penumpang lainnya di pulau pulau sebelah Randayan. Kami sudah berjanji bahwa Jam 3 sore-kami akan dijemput kembali.

Untuk menuju bibir pantainya, Kami melewati sebuah dermaga menyerupai jembatan memanjang yang lebarnya hanya cukup untuk 1 orang. Jembatannya miring dan pondasinya tidak begitu kokoh. Kami menaiki dengan hati-hati secara bergiliran. Saya terpukau dengan keindahan bawah laut di bawah jembatan. Ikan-ikan tropis dan terumbu karangnya yang masih terawat. Warna air pantainya begitu jernih.

“Ma, ikannya bagus tuh ma” Seru bocah dari salah satu keluarga besar bapak kos

“Yuk kita nanti berenang disini nanti “ Saya menimpali. Padahal saya tidak bisa berenang hihi.

Pulau Randayan 5

Laut sepertinya sedang akan surut. Saya bisa melihat dengan jelas hamparan pasir putih memanjang dari dari ujung ke ujung pulau. di bagian bibir pantainya ada yang membentuk laguna kecil. Laguna ini yang akan kami jadiin tempat bermain nantinya. Ada jaring net untuk bermain voli pantai. Entah siapa yang membuatnya. Sepertnya dibiarkan saja tergeletak dan dihempas angin lautan. Sayangnya saya tidak membawa bola. Padahal pasirnya luas banget ketika surut. Asyik buat guling-gulingan dan rebahan. Membiarkan sebagian badan terkotori oleh pasir. Seolah merasakan pulau benar benar milik pribadi.

Di Randayan ada homestay semacam cottage yang menghadap ke pantai untuk pengunjung. Jumlahnya mungkin cuma empat. Karena kebelet pipis saya berusaha mencari toilet. Ternyata homestay ini tidak ada penjaganya. Lagi-lagi dibiarkan. Mungkin sepi pengunjung. Rumput-rumput liar memenuhi sebagian tempat homestay. Menambah nuansa angker. Ketika ke toilet, tidak ada air. Gelap. Haduh gimana nih… Akhirnya saya mencari sudut sepi di antara semak belukar. Hufff

Randayan-Island-Home-Stay

Sepi, Lengang, Terpencil-mungkin sedikit seram. Ini kesan pertama yang saya lihat dari pulau ini. Tapi selebihnya eksotis. Suguhan pemandangan dan lansekap pantai seakan melupakan keangkeran homestay ini. Barisan pohon pohon kelapa terhampar menyejukkan suasana. Saya leyeh-leyeh di sebuah gazebo sambil menyeruput soft drink bersama karyawan bapak kos. Pikiran akan tugas tugas kantor hilang seketika disini. Kami tak bicara. Mungkin masih terhipnotis dengan keindahan pulau ini. Masing-masing dari kami bengong meresapi keheningan pantai.

16370_1243953309690_7128355_n 16370_1243898308315_6137529_n

Ketika laut benar benar surut, saya ikut bergabung dengan bocah-bocah dari keluarga bapak kos yang sedari tadi bermain di pantai. Try to make a bound.  Mencari batu karang cantik di bibir pantai yang airnya begitu dangkal. Menulis nama saya di atas pasir. Membiarkan kaki terkena hempasan ombak. Saya tidak takut akan terseret ombak. Arusnya begitu tenang dan memang pulau randayan aman dari serbuan ombak besar laut natuna. Begitu yang dikatakan seorang nelayan motor air tadi.

Masing-masing dari kami larut dalam dunianya masing-masing. Andai saya bisa berenang dan bawa alat snorkel, sudah pasti saya akan menyebur ke laut. Mereguk surga bawah laut randayan yang masih terjaga ekosistemnya. Berdasarkan catatan dari berbagai sumber,  Pulau Randayan memiliki karang hidup sekitar 4,50 hektar, karang mati 3,69 hektar, lamun 0,63 hektar, dan pasir seluas 4,77 hektar. Sehingga Kondisi itu sangat memungkinkan bagi siapa pun yang memiliki hobi menyelam untuk mengeksplorasi keindahan alam bawah airnya.

pulau-randayan

Foto kenangan di randayan yang masih terselamatkan

Foto kenangan di randayan yang masih terselamatkan

Rasanya saya belum puas bermain di pantai kalau belum mengelilingi pulaunya. toh Pulaunya kecil. Saya kemudian mengajak apib dan semua karyawan bapak kos yang berjumlah lima orang untuk mengitari pulau ini. Tak lama kemudian saya menemukan daratan tepi pantai yang luas sekali. Hamparan pasirnya begitu panjang menjorok ke laut. Disana kami menemukan tiga rumah penduduk nelayan yang berbentuk panggung di atas pasir pantai. Sebuah perahu tergeletak malas di tiang penyangga rumahnya. Dua kemeja yang kelihatan tampak usang di jemuran tampak berkibar-kibar tertiup angin. Sepi. Tidak ada suara. Hanya bunyi dahan dan daun yang rebah ditiup angin. Iseng saya mencoba mengetuk rumah rumah nelayan tersebut. Tidak ada jawaban sama sekali. Sepertinya rumah ini sudah ditinggal lama oleh penduduknya. Apakah yang mendiami rumah ini adalah suku sawang? Pikir saya. Suku yang sebagian hidupnya dihabiskan di samudera. Yah saya pernah baca di sebuah artikel koran lokal, kalau di Kalimantan barat tidak hanya hidup suku melayu dan dayak, tetapi juga suku lainnya yang hidupnya tinggal di atas perahu. Mereka biasanya kembali ke daratan kalau cuaca benar benar ganas.

Teringat janji saya tadi pada ikal, saya akan mencoba mencari Aling disini. Saya  berteriak.

“Aling…Aling!! seru saya dari halaman rumah. Berharap sekali sosok yang dipanggil itu keluar dari satu pintu diantara tiga rumah ini. Melihat jari-jari cantiknya membuka pintu. Jari yang membuat ikal jatuh cinta untuk pertama kalinya. Tak ada langkah seseorang di dalam rumah. Senyap. Hanya angin yang mendesau.

zzzPantai pulau randayan2

Pyarrrr.,,, Sebuah jendela satu rumah tiba-tiba tertutup dengan kencang. Mungkin tertiup angin. Saya bergidik.

Saya berlarian kecil menyusul apib dan kawan-kawan yang sudah menaiki bukit tebing. Selain memiliki hamparan pasir putih yang lembut, Randayan juga memiliki hamparan bebatuan karang yang memanjang, Sebagian ada yang menjulang menyerupai tebing. Harus hati-hati berjalan di atas karang ini. Saya sempat lecet gara-gara terpeleset. Disini saya benar benar merasakan gemuruh ombak yang memecah tebing. Anginnya begitu kencang. Deburannya begitu syahdu. Karena lengang, tempat ini kelihatan sedikit mencekam.

“ Pib jangan-jangan pulau ini adalah Battle Royale

“Maksudnya?”

“Itu lho film jepang yang ceritanya pulau kosong dijadikan tempat sayembara. Semua kontestan harus saling membunuh dan yang hidup terakhir adalah pemenangnya dan berhak kembali ke daratan.

“Haha lebay banget kamu. Kebanyakan nonton pilem”

“Abis serem disini sih. Itu rumah juga lama ditinggal penghuninya. Sepertinya ada sesuatu disini. Lihat kita Cuma ber 17. Tidak ada lagi selain kita. Benar-benar pulau mati hiiii….”

Bulu kuduk saya berdiri. Saya memandang bukit di atas tebing. Di atas sana pohon-pohon begitu rimbun dengan dahan dan rantingnya yang menjalar tak karuan. Auranya begitu Mistis. Takut tiba-tiba muncul sosok Tuk Bayan Tula, Dukun pulau lanun seperti yang dikisahkan di buku laskar pelangi. Konon katanya bila seseorang bertemu Tuk bayan Tula, dia tidak pernah akan kembali hii.serem kan. Ah! pikiran saya terlalu macem-macem. Saya mencoba mengganti suasana hati dengan bergabung dengan kawanan mas danus dkk yang duduk di tebing memandang lautan. Sejenak saya bisa menghilangkan pikiran-pikiran kotor.

Tak ada yang lebih indah dari ini. Sebuah euforia. Menikmati simponi alam sembari bersyukur. Bersyukur bahwa hari ini saya masih bisa hidup. Bersyukur bahwa hari ini saya masih bisa sehat dan selamat. Bersyukur bahwa saya masih diberi kesempatan untuk menjelajah Bumi-Nya yang begitu luas. You know, Ketika pertama kali datang ke Kalimantan, saya pernah merutuk diri mengapa saya dibuang sejauh ini. Tempat yang begitu jauh dari tanah kelahiran. Tapi Tuhan ternyata malah memberi nikmat dan kasihNya kepada saya melalui keajaibannya disini. Di pulau Randayan. Balasan yang menurut saya lebih bertubi daripada kesedihan yang saya rasakan. Laut Cina Selatan, Selat Karimata, Laut Natuna begitulah orang-orang menyebut perairan ini. Apalah arti sebuah nama. Sejenak saya teringat kenangan di masa SD saya yang begitu suka dengan pelajaran IPS Geografi. Terbayang wajah saya yang selalu ceria ketika membuka atlas Indonesia dan menjawab soal-soal peta buta. Laut natuna, Selat Karimata, Laut cina Selatan, begitulah jawaban yang saya jawab di soal peta buta pulau Kalimantan. Ketika melihat atlas saya selalu berangan bisa menjelajah banyak pulau di Indonesia. Menikmati setiap pesona Indonesia dengan keanekaragamannya. Indonesia memang begitu Indah.

205777_1007592800825_4089_n

      16370_1243895828253_6178556_n

   Sumber Foto :

  1. http://banglongmu.blogspot.com
  2. http://bloomasak.blogspot.com
  3. http://shadow-kingofdark-shadow.blogspot.com
  4. http://www.bloggerborneo.com
  5. http://efprizan.blogspot.com
  6. Sumber Pribadi yang masih terselamatkan

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Sejuta Pesona Pulau Randayan : Dalam sebuah Kenangan (2008)

  1. Ping balik: Jari-Jari Cantik : Christopher Nelwan (Drama Musikal Laskar Pelangi) | Beta Cinta Indonesia

  2. wkwkwkwk …. ada apib, inder…kamu kurus juga ya jaman kuliah🙂

  3. winnymarch berkata:

    bagus banget pulaunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s