Pengalaman Pertama Naik Kereta


“Siapa yang pernah naik Kereta?? Tunjukkan tangannya.” Tanya Pak Tarmuji kepada murid muridnya

“Saya”

“Saya pak!!!

Hampir seisi kelas pada ngacungin tangan. Entahlah mereka pada jujur atau mungkin ada yang gengsi. Di sisi lain ada beberapa juga yang belom pernah ngerasain naik kereta. Bisa dihitung dengan jari. Salah satunya adalah saya. Kelas 5 sekolah dasar saya belom pernah naik kereta.

“Inge, roda kereta terbuat dari apa?” Tanya guru saya

“Karet pak”

Gubrakkk. Kelas Hening

“Hwahahahha…h..ha… “

Seisi kelas pada ketawa. Ngakak sambil guling-guling. Akhirnya ketahuan kalo si inge boong. Padahal dia barusan ngacung. Saya saja yang ga pernah naik kereta pasti tahu kalo rodanya tuh dari besi.

Bagi saya naik kereta masih jauh dari mimpi. Kalo mudik ke mojokerto, dari Madura selalu naik bus. Mampir dulu di surabaya dan kemudian oper bus yang jurusannya ke arah madiun, kediri atau yogya. Mau naik kereta, kata papa ribet. Ke stasiunnya mesti ganti angkot berkali-kali. Belom lagi kalo mudik bawa barang banyak. Pasti rempong ​hehe.

Akhirnya impian naik kereta menjadi nyata ketika pas saya mau daftar kuliah di malang. Tau sendiri kan di tahun 2006 ada bencana lumpur lapindo.  Nah jalan yang melewati jalur Surabaya-Malang terkena imbas lumpur. Katanya bus bus yang melewati jalur ini antreannya panjang. Jadilah saya sama teman2 memilih naik kereta dari stasiun Wonokromo Surabaya menuju Stasiun Malang.

Pas saya bayar tiket kereta ekonomi di loket, saya kaget ditagih 3000 rupiah.

“hah”

“Iya dik. Kurang Mahal”??

Asem. Gerutu saya dalam hati. Sebenernya saya kaget. 3000 rupiah hanya untuk rute sby-malang 60 km. Padahal di tempat saya sumenep kalianget yang cm 10 km angkotnya minta 5000 rupiah. Belom lagi di pikiran saya waktu itu-tiket ekonomi kereta lebih mahal daripada tiket bus. Eh gak taunya malah lebih murah. Tiket kereta Sby malang hanya separuh harga tiket bus sby malang yang cuma 7000 rupiah.

Pas duduk di dalam kereta, kesan pertama kali yang saya rasakan, ternyata kereta tuh suka goyang goyang. Gludak gluduk. Gitu dah bunyinya. Terus agak lemot. Apa karena naek ekonomi ya? Mana suka berhenti di tiap tiap stasiun. Kaget juga di desa yang terpencil ada juga stasiun. Gudlah.

Rame. Ini kesan kedua saya. Pengamen silih berganti mengais rezzeki. Ga mau kalah sama suara pengasong. Pengamen dan pengasong tuh bikin ribeet kalo penumpang sudah sesak padat berdiri. Menerobos kerumunan penumpang.

Overload. Ini kesan ketiga saya. Wajar yang namanya ekonomi. Dengan tiket yang murah meriah sudah pasti bisa mengundang banyak penumpang. Untung saya dapat tempat duduk. Dekat jendela lagi. Pas ketika sudah sampe di porong, semua mata tertuju pada telaga lumpur lapindo. Waktu itu masih belum dibangun tanggul tinggi seperti sekarang ini. Orang-orang yang pada penasaran dengan bencana pada menghampiri jendela. Takjub mungkin. Mengerikan. Seperti panci besar yang mendidih di neraka. Tapi ini masih di dunia. Asapnya terus mengepul. hi…

hm Salah satu kenikmatan naik kereta, kalo pas keretanya lewat desa-desa. Membelah persawahan, menaiki celah bukit yang rawan longsor, lewat hutan jati dan lain lain. Sering membayangkan bagaimana kalo di kereta ada sound speaker yang muter lagu desaku yang kucinta dan bisa terdengar oleh semua penumpang di kereta. Pasti mereka akan membayangkan masa kecilnya. Menghayati kembali ke masa silam.

Desaku yang kucinta
Pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda
Dan handai tolanku
Tak mudah kulupakan
Tak mudah bercerai
Selalu kurindukan
Desaku yang permai

Itu mengapa kereta termasuk transportasi favorit saya. Dibanding pesawat, saya lebih suka naik kereta. Saya seperti ngerasa menemukan semangat baru kalo melihat pemandangan gunung, bukit dan persawahan yang membentang luas. Terasa damai di hati. Sejuk. Petani petani menanam padi, Menghalau burung pemakan padi, membajak sawah dengan kerbau.  Ibu-ibu petani wanita di kebun teh dengan dengan bakul dan topi caping khasnya. Lengkap dengan sampirnya lagi. Mengingatkan saya dengan iklan teh sosro ​hehe. Tapi sebenarnya yang selalu dirindukan saya setiap naik kereta adalah Senja. Senja dimana-mana selalu indah. Kalau matahari sudah jatuh di titik horison, Di saat itulah senja menampakkan wajahnya yang begitu anggun. Suasana yang pas buat tadabur diri. Terkadang semua siluet yang tersaji itu bak sebuah potret yang mengingatkan saya ketika masih kecil. Saya suka dibawa ke sawah oleh eyang kalo pas lagi berlibur di rumahnya. Jadi ingat pas saya tercebur ke sungai gara gara mandiin kerbaunya. Amboiiii….masa lalu memang selalu indah dikenang. Andai waktu bisa berputar mundur, alangkah indahnya kembali ke masa kanak-kanak. Masa yang penuh canda tawa dan keceriaan. Masa dimana kita polos-polosnya dan masih suka merengek haha.

Setelah naik kereta Surabaya-malang, Selama 4 tahun sejak itu, saya belom pernah naik kereta lagi. Baru di awal tahun 2011, saya naik kereta lagi. Kereta eksekutif Gumarang Jurusan Jakarta-Surabaya dari Stasiun Gambir. Bersih. Bersejarah. Begitulah kesan yang saya tangkap ketika melihat suasana di Stasiun Gambir. Langit-Langitnya melengkung dan terkesan luas. Bernuansa kolonial. Ada eskalatornya lagi. Sial saya gak bawa makanan ke dalam kereta. Pas ketika salah satu pramugari menawarkan makan malam nasi goreng dan Jus, saya tolak. Saya cuma bawa duit 50.000 rupiah yang masih tersisa di dompet. Takutnya dengan uang segitu malah gak cukup buat bayar menunya. Masih trauma gara gara beli makanan di dalam pesawat pas bulan ramadhan tahun lalu. Mahal.

Jam 8 malam perut saya sudah keroncongan pengen minta jatah. Saya mencoba menghubungi temen saya yang bernama adie. Kebetulan dia lagi OL di fb. Segera saya tanya dia via chatting

“Pernah naik kereta?

“Hahaha”

“Kok tertawa. Ciyus mas”

“Aneh pertanyaanmu. Kirain mw nanya apa. Emang kenapa..pernahlah.”

“Saya mw tanya harga nasi goreng sama nasi bistik daging berapa?

“OOOoo nanya itu to”

“Aq makan paling cuma 40-an itu dan sama minumnya.”

“Wah mahal juga ya”

“Iya..saya pesan yang ada bistiknya. Sebenarnya eneg juga sama harganya dengan porsi segitu”

“Iya porsi nasinya sepiring aja-gak penuh”

“Tetapi gak papa kok kalo km mw beli. Ga ada salahnya kan mencoba hal hal yang baru”

“Hu uh”

Akhirnya saya pesen nasi bistik..Lumayan disuruh bayar 34 ribu kalo ga salah. Lupa saya. Bener kata adie, harga segitu kelewat mahal. Padahal kalo saya kirain sendiri harganya, paling mahal menu segitu harusnya 20 rb aja. Dagingnya juga ga besar amat, beuh. Masih kalah dengan nasi chicken morazela salad di solaria yang cuma 20-an tp komplit dan daging ayamnya jumbo banget.

Nah setelah nyoba naik kereta ekonomi dan Eksekutif akhirnya saya berkesempatan bisa naik KRL alias kereta listrik. Kesempatan ini saya peroleh ketika mengenyam kuliah lagi di Jakarta. Teman yang mengenalkan saya dengan KRL adalah Isna . Kebetulan hobi kita sama. Traveling. Cuma dia lebih cenderung ke wisata sejarah. Naik KRL sungguh menyenangkan. Bersih dari sampah. Ber AC. Bebas macet. Cepat sampai tujuan. Naik KRL saya serasa naik kereta di bumi Nihon. Eh ternyata saya baru sadar kalo KRL kita adalah pemberian hibah dari jepang. Kalo kita jeli melihat dindingnya, kita bisa melihat ada tulisan aksara jepang disana. Ada juga yang tertera jelas dengan huruf latin bahwa kereta Listrik ini adalah hibah dari Jepang.

Hibah. hm…sejenak pikiran saya melanglang buana di jalanan jakarta. Kendaraan begitu banyak, bahkan melebihi kapasitas jalan itu sendiri. Mobil pun juga sama. Dulu pernah naik kopaja dari kantor pusat ke hotel penginapan yang jaraknya cuma 1 km harus ditempuh 2 jam lebih. Semua gara-gara macet. Arrgghh.

Setelah melihat tulisan hibah di KRL, saya berpikir bahwa Hibah bisa jadi salah satu unsur biang kemacetan. Meski keliatan invisible tetapi pengaruhnya terasa begitu kuat. oke Saya mencoba menjelaskan fenomena hibah ini. Setidaknya saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran setelah belajar mikroekonomi maupun makroekonomi di kampus hehe. Berbicara Hibah, ternyata tak selamanya pemberian hibah itu tulus. Beda banget kalo ibu ngasih hadiah ke anaknya. Anggapan yang salah bila suatu negara donor menggelontorkan dananya ke negara penerima begitu saja tanpa mengharap apapun. Tidak ada makanan siang yang gratis di dunia. Selalu ada motif ekonomi politik di belakangnya.  Mereka negara pendonor biasanya mencoba menanamkan power/kekuatan dan interest/kepentingan/tujuan. Power biasanya diwujudkan dengan bentuk pengendalian kepada negara penerima hibah. Tak jarang negara penerima hibah selalu menjadi negara boneka. Menjadi suporter  kepentingan politik negara pendonor dalam masalah hubungan internasional. Penanaman power terkadang disertai ancaman dan perampasan hak hak yang cenderung pada kekuatan militer. Kita bisa lihat Amerika sering memberi warning mengembargo senjata militer kepada negara kita. Yang kita sering dengar saat ini adalah ancaman embargo militer Amerika kepada Iran. Syukurnya tidak terjadi perang. Meski begitu toh Iran tidak bergeming karena dia sudah memiliki investasi di bidang hankam yang kuat.

Kedua, Motif ekonomi. Motif ekonomi biasanya ditunjukkan dengan terjaminnya keberlangsungan ekonomi negara pendonor yang sustainable dalam jangka panjang. Hibah semacam ini yang kelihatan begitu dominan di negara kita. Sebagai ganti balasan hibah ini, Negara penerima donor (Indonesia) diharapkan memberi dukungan dan kelancaran serta Jaminan atas investasi negara pendonor di Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana Jepang selalu menjadi pendonor bagi negara kita. Jaminannya adalah Investasi mereka di Indonesia terutama otomotif tetap terjaga. Memang Jaminan ini tidak diterangkan secara blak-blakan oleh perwakilan jepang kepada Perwakilan Indonesia ketika menggalang kerjasama. Tetapi sebagai penerima hibah kita sudah tahu motif apa dibaliknya hehe. Ini gak melulu jepang yah. Negara lain juga ada yang melakukan hal yang sama meski dengan cara yang berbeda. Grant trap.

Ketika televisi nasional sering menjadikan kemacetan sebagai headline beritanya, saya sering mendengar wacana bahwa untuk mengatasi macet perlu dilakukan pembatasan konsumsi mobil dan kendaraan. Beranikah negara kita? Kita tahu bahwa Jepang salah satu pendonor dan investor terbesar di negara kita. Dan hebatnya jepang belum lama mendiversifikasi hibah dan investasinya tidak melulu di sektor ekonomi, tetapi juga di sektor pendidikan.  Dalam jangka panjang kita akan menjadi negara yang terjajah dengan kepentingan asing.  UU BP Migas yang baru saja selesai diuji di Tingkat MK, ditengarai ada intervensi pihak asing. Entahlah. Kalaupun benar, berarti Kedaulatan Ekonomi sudah berada di titik nadir.  Kemaren pas saya nonton film habibie ainun, sempat nyesek pas lihat adegan pak habibie yang hanya bisa memandang melas kepada pesawat ciptaannya yang tak lebih dari onggokan mayat di Garasi Pesawat PT Dirgantara. Sementara pesawat boeing amerika berseliweran di penjuru langit negara kita. Miris dan Ironis. Belum lama ini juga kita mendengar bahwa Indonesia menerima hibah bantuan luar negeri dari world bank. Kalo tidak disikapi hati-hati ini bisa menjadi  debt trap dimana suatu saat nanti negara kita bisa memiliki semacam ketergantungan terhadap utang. Kita bisa berkaca pada sejarah negara kita yang pernah terlilit utang IMF. Belum lagi IMF yang turut campur masalah perekonomian kita. Hufff

Serem juga yah efek bantuan asing. Kedaulatan politik terancam. Kedaulatan ekonomi juga. Hm Anyway, Hutang dan hibah tak selamanya buruk lho. Hibah juga bisa dikaitkan dengan transfer teknologi. Sejarah melihat bahwa manajemen pengelolaan hutang dan hibah yang baik justru membuat negara semakin berkembang maju. Dalam menyikapi bantuan asing ,Tugas kita adalah selektif terhadap bantuan asing. Bantuan yang diterima harus selaras dengan kebutuhan relatif negara. Contoh Alutsista. Kita menyadari investasi kita di bidang pertahanan sangat minim. Terkadang kebutuhan ini sempat diabaikan dalam APBN kita sejak dahulu dan tidak menjadi prioritas. Kalo ga salah kemarin Negara Australia ngasih hibah pesawat militer ke Negara kita. Tapi sayang katanya barang bekas. Padahal yang namanya bekas pasti banyak kebutuhan ekstra perawatan dan pemeliharaan. Belum onderdilnya yang hanya dimiliki negara pendonor. Ujung-ujungnya kita jadi konsumen konsumtif. Dan hal ini yang sering tidak disadari kita. Miris juga kalo masyarakat kita malah konsumtif terhadap produk-produk asing.

Well Berkaca dari sejarah dan pengalaman di atas, kita sebagai Bangsa Indonesia yang pernah memiliki sejarah kejayaan kita di Masa sriwijaya dan Majapahit sudah saatnya meningkatkan daya saing kita di mata Internasional. Membangun Keunggulan dan kemandirian sesuai karakter bangsa kita. Mulailah dari hal-hal yang kecil seperti mencintai produk produk dalam negeri. Tidak mustahil bila kelak Indonesia akan menjadi negara besar. Kita Belum merdeka.

btw sori yah tiba-tiba mau bahas pengalaman naik kereta, ujung-ujungnya malah bahas hibah. hadeh. Namanya juga tangan tiba-tiba ngetik begitu saja🙂 . Selamat menikmati

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pengalaman Pertama Naik Kereta

  1. Ilman Muttaqin berkata:

    Nice
    (ilmanmuttaqin.student.ipb.ac.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s