Sekelumit Cerita Dunia Tenis di Mata Saya


Kalo ditanya, Olahraga apa yang kamu sukai. Saya pasti punya dua jawaban. Badminton dan Tennis. Dua olahraga ini memiliki rentang berbeda kapan saya mulai menyukainya. Olahraga Badminton saya mulai menyukainya ketika saya umur 7 tahun. Waktu itu bapak saya membelikan raket untuk saya. Sejak saat itu saya belajar mengayunkan raket. Kalo tennis saya mulai mengenalnya tahun 1997 pas liat team srikandi Indonesia main di Sea Games. Saya masih ingat jelas waktu itu saya sama kakak saya, suka banget liat Liza Indriyani maen. Cantik item manis dengan rok mininya hehe. Tahun 1998,  saya baru mulai menyukai tennis. Waktu itu yang membuat saya jatuh cinta sama tenis adalah artikel yang memuat Mpok Rena dan Mpok Venus di majalah B*ola. Di artikel itu diceritakan Mpok venus petenis rangking 5 dunia  adalah kakak dari Mpok Rena petenis yang nangkring di 100-an dunia waktu itu. Foto dalam artikel itu, Mpok Venus dan Rena keliatan akrab dan kompak banget sesaudaraan. Gaya rambut dan pakaiannya, cuman rena waktu itu gendut banget ​​hehehe. Berawal dari artikel majalah itu, saya mulai menongkrongi dunia tenis. Australia Open 1999 adalah turnamen Grand Slam pertama yang saya ikuti beritanya. Salah satu pertandingan yang saya sukai waktu itu adalah Steffi Graf VS Monica Seles. Dua Ratu tenis era 90-an sebelum Martina Hingis merajai di tahun 1997-an.  (Kalo nyebut tahun tahun dari tadi, jadi ketauan betapa tuanya saya sekarang🙂

Venus dan Serena

Venus dan Serena

Zaman tahun 90-an belum ada yang namanya nonton streaming-streamingan kayak sekarang atau nonton pake TV kabel. Untuk mengupdate berita terbaru mengenai tennis, saya selalu membaca koran. Kadang mama saya selalu bawa koran Radar S*rabaya dari kantor beliau. Maklum kantornya langganan koran. Dan begitu lewat 3 hari dari tanggal terbit, biasanya mama bawa koran itu ke rumah ​hehe.

Di sekolah setiap jam istirahat saya biasanya mampir ke perpus cuma baca koran J*wa Pos. Kalo sudah buka koran, pasti yang dibuka dulu berita berita olahraga. Kalo baca, biasanya urutannya baca berita tennis, trus badminton baru baca sepakbola. Euforia Tennis memang berbeda dengan Sepakbola. Sepakbola selalu dipasang sebagai headline news dan beritanya bisa makan lebih dari 1 halaman. Meski begitu, berita tennis terkadang dapat porsi 1 halaman juga. Itupun karena gambar petenis yang dipajang adalah ukuran gede. We know, faces of Tennis Player is always very cute. Anna Kournikova, Gabriela Sabatini, Martina Hingis, Jelena dokic etc. Hampir semua petenis tennis adalah pesolek hehe. Sayang pemain yang cantik tetapi moncer prestasinya cuma martina Hingis. That’s why till now, she is a legend and easy remembered.

Gara-gara hobi sama tennis, setiap jam 21.15 saya selalu mantengin siaran dunia dalam berita di TVRI. Biasanya 10 menit sebelum usai, ada siaran Olahraga di Acara dunia dalam berita. Maklum daerah saya waktu itu cuma bisa nangkap TVRI😉 . Dari situ saya jadi tahu result pertandingan tennis dan nama-nama petenis WTA atau ATP dan siapa saja yang menjadi juara pada turnamen tersebut. Sehari melewatkannya bisa membuat saya gundah.

patrick rafter

Pengejaran saya tentang dunia tennis gak berhenti disitu. Hari Jumat biasanya kalo abis turun dari terminal pas sepulang sekolah, saya mampir bentar ke kios pak samak. Pak Samak ini agen koran dan majalah satu-satunya di kalianget waktu itu. Nah tiap mampir kesitu saya biasanya pinjam bentar majalah b*la. Kadang juga sesekali baca majalah b*bo dan f*ntasi. Untung pak samak ini baik hati ​sama saya heheu. Biasanya kalo ada orang baca lama-lama di kiosnya pasti disuruhnya untuk beli. Majalah b*la ini salah satu majalah yang menurut saya all sports. Semua olahraga pasti diliput di majalahnya. Gak cuma bola terkadang juga taekwondo, catur, Volley dan tentunya tennis. Nah majalah b*la ini ulasannya lumayan lengkap apalagi kalo menyangkut statistik. Hal-hal yang remeh temeh pun diangkatnya. Misal Profil Ratu tenis dan rekor rekor dalam dunia tenis. Saya jadi tahu yang namanya margareth court, Billie Jean King, Christ Evert dan Martina Navratilova, Ivan Lendl, Rod Laver, Bjorn Borg, and John McEnroe. Tak jarang nama mereka menjadi nama arena di grand slam misal Rod Laver Arena di Aussie. Kebayang gimana kalo lapangan tennis indoor di Gelora Bung Karno dikasih nama Yayuk Basuki Arena atau Susi Susanti Arena untuk bulutangkis. Pasti cetar membahana hehe.

Dari kegemaran membaca berita tenis, sempat terpikirkan pengen nyoba main tennis. Dari keluarga saya memang ga ada yang bisa main tennis. Mama sama Papa cuma bisa main badminton. Di benak mama dan papa, tennis masih tergolong olahraga kaum elite. Itu mengapa papa dan mama menolak ketika saya minta dibelikan raket tennis. Mahal katanya. Belum kalo sewa lapangan. Berbeda dengan badminton, yang lebih mendunia hingga ke kampung. Lapangannya juga banyak. Apalagi di rumah rumah kampung yang memiliki halaman luas, banyak yang memanfaatkannya sebagai lapangan badminton. Terlebih setelah Susi dan Ricky/Rexy jadi juara olimpiade, virus badminton dengan cepat menyebar di kalangan bocah hingga remaja kampung. Yayuk basuki yang merupakan srikandi tennis Indonesia belum mampu menjadikan olahraga tennis menjadi olahraga rakyat. Padahal waktu itu Yayuk basuki jadi juara asian games dan sering tembus sampe QF atau SF turnamen WTA maupun grand slam.

Di Kalianget sendiri ada 2 lapangan tennis. Untuk ukuran desa, ini sudah tergolong wow banget di masanya. Biasanya Fasilitas Olahraga yang lengkap hanya dimiliki di kota-kota. Tapi di kalianget lengkap banget. Ada kolam renang, Tennis lapangan, Badminton, Sepak bola dan belum lagi sarana publik lainnya. Itu semua bisa didapatkan karena kalianget adalah bekas kota kolonial di jaman belanda (nanti saya jelasin di postingan terpisah tentang cikal bakal kota tua kalianget). Nah di lapangan tennis ini saya pernah nyambi menjadi ballboy bersama teman saya sehabis pulang ngaji dari TPA jam 4 sore. Gak lama sih meski cuma seminggu. Kebetulan letak TPA dan Lapangan tennisnya dekat. Cuma 100 meter. Lapangan tennis ini ekslusif hanya untuk pegawai Perusahaan Negara Garam Kalianget dan koleganya. Disana saya mengejar bola-bola tennis yang menggelinding di lapangan. Dulu  ngarepnya pas jadi ballboy,  saya bisa dipinjemin raket tennis dan lapangan meski cuma sebentar pas mereka lagi rehat atau break sebentar. Hm Ternyata yang namanya mukul bola tennis tuh mesti pelan-pelan. Pernah pas nyoba drive, saya mukulnya kayak mukul bola kasti. Alhasil bolanya terpental ke luar lapangan melintasi atas pagar kawat ​yang mengelilingi kompleks lapangan tennis. Bolanya masuk ke dalam genangan air laut. kebetulan sekali letak lapangannya di pinngir pantai. Untungnya saya gak kena semprot hehehe. Menjadi ballboy ternyata tidak mengubah nasib saya menjadi petenis profesional. Beda dengan Om Roger Federer yang menjadi ballboy pas masa kecilnya, dan besarnya malah menjadi petenis number one🙂 . Such a sweet destiny. Tapi meski begitu pengalaman 7 hari menjadi ballboy dan belajar tennis sendiri adalah pengalaman masa kecil berharga yang tak terlupakan oleh saya. Percayalah bahwa setiap momen sebenarnya adalah mengukir hari anda. Sebab momen adalah kenangan dimana ketika anda menyelaminya kita seolah merasa haru biru bercampur aduk ketika mengingatnya. Melambungkan semua asa di dalam dada.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sekelumit Cerita Dunia Tenis di Mata Saya

  1. isna saragih berkata:

    kirain baru aja kamu doyan maintenis🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s