Imlek : Gusdur Dan Kota Singkawang


Setiap mendengar perayaan Imlek, satu hal yang terkenang oleh saya adalah Almarhum Bapak presiden Gus Dur dan Kota Singkawang. Kota Seribu kuil. Begitu julukan yang disematkan oleh situs Wikipedia mengenai kota Singkawang. Ada yang melebih-lebihkan lagi sampe bilang Kota Sejuta Kuil. Dan nyatanya di Kota Singkawang memang bertebaran kuil di setiap sudut kotanya. Bahkan setiap masuk gang gang rumah penduduk selalu ada kuil tempat pemujaan. Selalu hidup dengan asap dan aroma dupanya yang menusuk hidung.

Kenangan Imlek di Singkawang

Kenangan Imlek di Singkawang

Bila mengingat semuanya, saya jujur terlalu surprise bisa mendapat penempatan kerja pertama kali di Kota Singkawang. Surprise yang horrific, so terrible karena penempatannya jauh banget dari kampung halaman. Tetapi juga Surprise yang menyenangkan karena impian mengunjungi kota singkawang akhirnya menjadi kenyataan. Saya bisa ikut menikmati hingar-bingarnya perayaan Imlek langsung dari kota yang mayoritasnya penduduknya merupakan etnis Tionghoa. Dulu perayaan Imlek memang tidak menjadi hari libur. Baru setelah zamannya Bapak Presiden Gus Dur, Imlek dijadikan hari libur.  Ini merupakan momentum kemajuan yang patut diapresiasi dalam toleransi keberagaman. Bukankah Negara kita berbhineka tunggal Ika. Biar kita berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Saya tidak terlalu mengidolakan Gus Dur tetapi ada beberapa pemikiran beliau yang saya sangat kagumi terutama dalam memandang kemajemukan dalam keseragaman. Gus Dur dikenal sebagai  tokoh yang akomodatif terhadap hak-hak kaum minoritas. Contohnya yah menjadikan Tahun Baru Imlek menjadi hari libur. Padahal di zaman rezim orde baru, etnis tionghoa dilarang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Cina yang dilakukan di Indonesia. Larangan dalam bentuk Intruksi Presiden ini menurut saya sangat diskriminatif sekali. Padahal dulu di sekolah kalau dapat pelajaran PPKN, dalam bacaannya, kita pasti menemukan poin dimana kita dilarang bersikap diskriminatif dalam konteks SARA. Karena hal ini bisa memicu polemik  dan berujung ke arah “chaos” yang bisa mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. PPKN saja sudah ngomong gitu dari dulu, kenapa yah dulu-dulu kaum terpelajar kita gak demo cabut Inpres ini. Butuh 50 tahun lebih setelah Indonesia merdeka dan menunggu Sosok Gus Dur menjadi presiden, baru Inpres ini benar-benar dicabut. Tak heran bila Gusdur disebut sebagai Bapak Bangsa, Guru Bangsa atau ada juga yang bilang Bapak Pluralisme, Bapak Tionghoa Indonesia karena kegigihannya membela hak-hak kaum minoritas etnis tionghoa untuk mendapat perlakuan hak yang sama sebagai warga Negara Indonesia. Gus Dur dianggap sosok yang mampu menampilkan wajah islam yang ramah yang sangat menghargai toleransi dan perdamaian. Sosok Gus Dur seperti inilah mengingatkan saya dengan sosok Mahatma Gandhi, Tokoh perjuangan dari India yang membela keadilan dengan anti kekerasan. Sayangnya, Gus Dur hidup di zaman transisi dimana Indonesia masih sangat represif terhadap SARA dan prasangka terhadap keberagaman masih sangat tinggi sehingga tak jarang  beliau mendapat kecaman dari musuh-musuh yang berseberangan secara ideologi dan politik. Baru setelah beliau wafat, saya menyadari bahwa semangat toleransi yang beliau perjuangkan ternyata masih relevan sampai saat ini. Kita tahu saat ini Indonesia mengalami masa-masa berat dengan bermunculannya konflik SARA di berbagai daerah. Bahkan tak jarang kekerasan yang mengatasnamakan agama. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa persoalan pluralisme di Negara kita masih rentan konflik dan perlindungan terhadap kaum minoritas masih lemah.  Pemerintah kita sekarang pun sepertinya tidak terlalu tanggap dalam masalah ini, sehingga tak salah bila dalam situasi seperti ini saya sangat merindukan sosok Almarhum Gusdur.  Apa Kabar Gus Dur, hari ini kamu mau bagi angpau apa ke saya?

Gusdur

Alm Gusdur

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Story dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Imlek : Gusdur Dan Kota Singkawang

  1. isna saragih berkata:

    gus dur juga ada lho di sunagi penuh, jadi nama jembatan ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s