Trowulan : A Misty Wonderland


Jam 6 pagi, bus Mira AC tarif biasa yang saya tumpangi memasuki kawasan wisata arkeologi trowulan. Awalnya ketika sedang menunggu bus, saya sempat ragu menaiki bus ini. Karena di jendela bus terpampang nyata tulisan AC dan di sampingnya tertulis tarif biasa. Keraguan ini muncul karena takutnya bus ini adalah sejenis bus patas yang biasa mematok tarif mahal. Anyway bus ini cocok untuk kalangan backpaker kere seperti saya tapi ingin bisa menikmati cita rasa yang lebih premium. Bayangin aja kertosono-Trowulan hanya 5000 rupiah ber AC pula. Jalur selatan dari surabaya sampai Jogja memang banyak berseliweran bus-bus yang ragam namanya banyak sekali. Karena padatnya penumpang di lintas jalur selatan dan persaingan bus yang kompetitif, menyebabkan bus bus ekonomi berlomba melakukan revolusi dalam pelayanan. Salah satunya menyediakan AC tetapi tetap mematok tarif yang ekonomis. Saya sendiri termasuk yang berkali-kali yang memanfaatkan bus semacam ini tiap kali main ke rumah eyang saya di mojokerto.

“Bang saya turunin di Candi wringin Lawang Trowulan”

“5000 mas”

Dan setelah bus memasuki kawasan Trowulan, saya langsung beranjak ke depan duduk di sebelah supir.

“Bang Candi Wringin Lawang” saya memberitahu kepada kondektur yang sedang berdiri di pintu depan bus.

“Dimana itu dek”

“Katanya dekat dekat komplek wisata trowulan atau perempatan”

“Wringin Lawang” Si kondektur memberitahu si supir. Dan ajaibnya, si supir juga ga ngeh dimana Candi Wringin Lawang.

“Turun dimana dek” Ucap salah satu penumpang yang duduk di bangku depan”

“Candi Wringin Lawang, bu

Dan si ibunya juga kebingungan. Mungkin baru denger kali ya tempat wisata ini. Saya berusaha mengedarkan pandangan saya ke arah luar jendela. Berharap menemukan seonggok candi tergeletak di pinggir jalan. Karena berdasarkan informasi yang saya cari di google, Candi Wringin lawang ini terletak di pinggir jalan dan bisa dilihat dari jalan raya

“Setahu saya Trowulan tempat wisatanya di perempatan lampu merah. Adek kelewatan”

“Hah kelewatan..Stop disini saja pak supir”

Dan bus pun menurunkan saya di Jati Pasar yang terletak di trowulan. Jati Pasar ini merupakan sebuah Pasar Tradisional. Karena kehausan, saya mencoba beli sebotol aqua di pasar. Sekalian bisa tanya orang orang di pasar siapa tahu mereka mengetahui letak Candi  Wringin Lawang.

” Permisi Pak. Bapak tahu letaknya candi Wringin Lawang”

“Itu dek” Tangannya menunjukkan ke arah yang dituju. Tetapi saya masih tidak melihat bangunan candi.

Adek jalan sekitar 100 meter, nanti ketemu jalan kampung. Ga sampe 50 meter masuk sudah ketemu candinya”

“Makasih pak”

Bismillahhirahmanirrahim. Petualangan dimulai. Saya berjalan sendirian. Jam menunjukkan pukul 6.15 pagi, Tetapi trowulan masih berkabut. Karena banyak truk truk ukuran besar dengan muatan raksasa dan bus maupun mobil berseliweran di jalan utama Trans Selatan, saya berjalan lebih ke arah yang sangat pinggir. Tidak ada trotoar. Dan tak lama kemudian saya melihat candi itu dari kejauhan.

Tidak sampai 10 menit akhirnya saya tiba di candi Wringin Lawang. Tidak ada orang disana. Hanya saya sendirian. Saya terkagum dengan bentuk tamannya di sekitar candi. Candi wringin lawang ini biasanya sering menjadi incaran para fotografer. Kalau bromo dan dieng, banyak fotografer mengejar matahari maka disini mereka mengejar kabut di Trowulan. Kabut di Trowulan memang berbeda. Jika hari semakin terang kabut disini bukannya menipis, Tapi justru bertambah tebal kabutnya. Sehingga tak salah bila masih pukul setengah 7 pagi, suasana di candi Wringin lawang masih berkabut tebal. Dengan latar belakang sawah, pepohonan dan sinar matahari dibelakangnya membuat siluet candi yang berpadu dengan kabut menjadi pemandangan yang eksotis tersediri untuk diabadikan dengan lensa kamera. Suasana kabut di Gerbang candinya, seolah mengajak kaki saya masuk dan menyeret ke dimensi lain menuju sebuah negeri dongeng. Yah, absolutely seperti pintu penghubung dua dunia yang berbeda.

Konon, negeri berkabut trowulan memang sengaja dipilih sebagai ibukota majapahit. Kabut pagi yang tebal digunakan sebagai strategi untuk melindungi pemerintahan dari serangan luar. Salah satu yang terkecoh dengan kabut ini adalah tentara mongol yang hendak menyerang majapahit. Itu mengapa di masanya Majapahit adalah Kerajaan Terbesar dan ditakuti karena kepiawaiannya dalam strategi berperang dan menaklukan bangsa lainnya.

Candi Wringin lawang kalo boleh dibilang bukan mirip candi. Tetapi mirip gapura. Seperti yang ada di bali. Jadi diperkirakan masa dibangun gapura ini tidak lebih jauh ketika bangsa majapahit terpencar dan terdesak menuju bali. Seperti candi-candi di Jawa Timur, Candi ini terbuat dari batu bata. Berbeda dengan candi di jawa tengah yang terbuat dari batu andesit sehingga lebih kokoh dibandingkan candi yang terbuat dari batu Bata.

Arti Wringin Lawang sendiri adalah Pintu atau Gerbang Beringin. Dulu di Wringin lawang ini banyak dua pohon beringin yang mengapit gapura ini. Pohon beringin ini telah dibabat. Berani juga yah. Padahal kalo beringin dibabat, mitosnya pembabatnya bisa meninggal dunia gara2 diganggu jin penunggu.

Candi ini ditemukan di Masa penjajahan Inggris. Kita tahu hampir semua candi di Indonesia ditemukan di zaman Sir Raffless. Di zaman Raffles, inilah banyak candi-candi yang diselematkan dari kepunahan dan dipugar kembali. Raffless yang dalam buku sejarah kita dikenal sebagai komandan penjajah dari negara inggris ternyata dibalik sikapnya yang “imperialis” juga memiliki kecintaan terhadap warisan-warisan sejarah bangsa kita. Menyadari negeri kita memiliki ragam flora yang hampir lengkap, membuat dia membangun kebun raya raksasa di negara kita yang kita kenal dengan nama kebun raya bogor. Jadi banyak sekali yah dedikasi Sir Raffless ini yang perbuat untuk negara kita. Gak usah jauh-jauh. Singapura saja bisa maju juga gara-gara Rafless hingga untuk mengenangnya, dia diabadikan dalam bentuk monumen patung di Singapura.

Dalam bukunya, Raffles menulis candi wringin lawang ini dengan nama Gapura Jati Pasar. Tahun 1907, Knebel menulis candi ini dengan nama yang kita kenal sekarang dengan sebutan Gapura Wringin Lawang. Sebelum dipugar, salah satu sisi gapura candi ini telah hancur separuh. Sedang sisi lainnya masih terselamatkan. Dari bentuk arsitekturnya, candi ini termasuk tipe candi bentar yang biasanya berfungsi sebagai gerbang luar dari suatu kompleks candi atau kompleks bangunan lainnya. Di sekitar candi wringin lawang ini juga ditemukan 15 sumur kuno berbentuk segi empat dan silinder. Selain itu di sisi selatan dan utara candi, terdapat sisa struktur bata yang diperkirakan merupakan tembok keliling. Jadi kemungkinan saya, dulu di sekitar candi ini terdapat pemukiman kuno. hm bisa jadi.

IMG_0171

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s