Trowulan : a Misty Wonderland (Part 6)


IMG_0324

Setelah dari Candi tikus, kita berlanjut lagi ke Pendopo Agung. Ketika masuk ke pelataran parkir, aura bali begitu terasa. Gapura pintu masuk pendopo mirip gapura masuk ke dalam sebuah pura. Tetapi begitu masuk ke dalam, aura bali berganti nuansa jawa. Di dalam pendopo Agung ini terdapat bangunan menyerupai Joglo yang biasa digunakan pengunjung untuk beristirahat setelah capek menjelajah situs-situs trowulan.

IMG_0336

Patung raden Wijaya yang dinaungi payung akan tampak ketika kita akan memasuki halaman pendopo

Sebelum dibuat pendopo agung pada tahun 1964-1973, Dahulunya disini hanya terdapat deretan umpak batu atau dasar pilar penyangga untuk tiang bangunan. Dengan ditemukannya umpak batu disini, diperkirakan tempat ini merupakan pusat kerajaan/Keraton Majapahit. Tempat dimana Patih Gajah Mada mengangkat sumpah palapa. Sumpah dimana dia tidak akan berhenti berpuasa sebelum bisa menyatukan nusantara.

IMG_0328

Menurut Prapanca dalam kitab Negarakertagama; keraton Majapahit dikelilingi tembok bata merah yang tinggi dan tebal. Di dekatnya terdapat pos tempat para punggawa berjaga. Gerbang utama menuju keraton (kompleks istana) terletak di sisi utara tembok, berupa gapura agung dengan pintu besar terbuat dari besi
berukir. Di depan gapura utara terdapat bangunan panjang tempat rapat tahunan para pejabat negara, sebuah pasar, serta sebuah persimpangan jalan yang disucikan. Masuk ke dalam kompleks melalui gapura utara terdapat lapangan yang dikelilingi bangunan suci keagamaan. Pada sisi barat lapangan ini terdapat pendopo yang dikelilingi kanal dan kolam tempat orang mandi. Pada ujung selatan lapangan ini terdapat jajaran rumah yang dibangun diatas teras-teras berundak, rumah-rumah ini adalah tempat tinggal para abdi dalem keraton. Sebuah gerbang lain menuju ke lapangan ketiga yang dipenuhi bangunan dan balairung agung. Bangunan ini adalah ruang tunggu bagi para tamu yang akan menghadap raja. Kompleks istana tempat tinggal raja terletak di sisi timur lapangan ini, berupa beberapa paviliun atau pendopo yang dibangun di atas landasan bata berukir, dengan tiang kayu besar yang diukir sangat halus dan atap yang dihiasi ornamen dari tanah liat. Di luar istana terdapat kompleks tempat tinggal pendeta Shiwa, bhiksu Buddha, anggota keluarga kerajaan, serta pejabat dan ningrat (bangsawan). Lebih jauh lagi ke luar, dipisahkan oleh lapangan yang luas, terdapat banyak kompleks bangunan kerajaan lainnya, termasuk salah satunya kediaman Mahapatih Gajah Mada. Sampai disini penggambaran Prapanca mengenai ibu kota Majapahit berakhir.

IMG_0332
Sebuah catatan dari China abad ke-15 menggambarkan istana Majapahit sangat bersih dan terawat dengan baik. Disebutkan bahwa istana dikelilingi tembok bata merah setinggi lebih dari 10 meter serta gapura ganda. Bangunan yang ada dalam kompleks istana memiliki tiang kayu yang besar setinggi 10-13 meter, dengan
lantai kayu yang dilapisi tikar halus tempat orang duduk. Atap bangunan istana terbuat dari kepingan kayu (sirap), sedangkan atap untuk rumah rakyat kebanyakan terbuat dari ijuk atau jerami.

Sebuah kitab tentang etiket dan tata cara istana Majapahit menggambarkan ibu kota sebagai: “Sebuah tempat disitu kita tidak usah berjalan melalui sawah”. Relief candi dari zaman Majapahit tidak menggambarkan suasana perkotaan, akan tetapi menggambarkan kawasan permukiman yang dikelilingi tembok. Istilah ‘kuwu’ dalam Negarakertagama dimaksudkan sebagai unit permukiman yang dikelilingi tembok, tempat penduduk tinggal dan dipimpin oleh seorang bangsawan. Pola permukiman seperti ini merupakan ciri kota pesisir Jawa abad ke-16 menurut keterangan para penjelajah Eropa. Diperkirakan ibu kota Majapahit tersusun atas kumpulan banyak unit permukiman seperti ini.  (sumber : wikipedia)

Berdasarkan cerita dari literatur ini, tempat umpak batu ini lebih mendekati untuk dikatakan sebagai tempat keraton kerajaan. Atau bisa juga letak keraton berada di tempat lain yang berdekatan dengan letak pendopo agung ini. Karena berdasarkan deskripsi Mpu Prapanca dalam bukunya, bahwa sebelum masuk istana, kita akan melewati sebuah kolam dan kanal. Nah kebetulan letak kolam dengan tempat umpak batu ditemukan jaraknya tidak terlalu jauh yaitu sekitar 500 meter. Umpak batu ini juga ditemukan di tempat lain di trowulan. Karena itu arkeolog masih susah membuat peta arkeologi reruntuhan kota majapahit. Penggalian saat ini hanya dilakukan di sekitar situs situs yang telah ditemukan seperti candi. Belum lagi saat ini trowulan mulai dipadati rumah penduduk sehingga menyulitkan melakukan penemuan baru benda benda bersejarah.

IMG_0340

Struktur bangunan pendopo ini semuanya berasal dari kayu, hanya bagian dasar pilar yang terbuat dari batu yang tak lain umpak batu di zaman majapahit. Umpak batu yang tidak dipakai dalam kontruksi bangunan pendopo dapat kita temukan di halaman samping Pendopo agung.

IMG_0343

Deretan Umpak Batu

IMG_0349

IMG_0345

struktur atap..sori gambar belum digeser 90 derajat ke kiri

IMG_0341 IMG_0342  IMG_0344

Di bagian belakang pendopo kita akan menemukan relief-relief yang menceritakan keagungan Majapahit. Di relief ini juga terdapat daftar nama raja-raja majapahit dan juga nama nama Panglima Kodam brawijaya dari jaman kemerdekaan hingga sekarang. Jadi setiap ada Panglima Kodam Brawijaya yang diangkat, mereka akan diambil sumpah disini dan untuk selanjutnya namanya dipahat disini. wow

IMG_0325

Adi, mengaku hanya 30 menit perjalanan dari rumahnya ke trowulan, tapi baru kesini seumur hidupnya. Dia mengatakan ini satu hari yang mengubah sejarah hidupnya :p

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Trowulan : a Misty Wonderland (Part 6)

  1. fakhruddin berkata:

    nama-nama raja majapahit kok hanya 7 ya, bukannya dia banyak? hingga raja terakhir brawijaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s