Gunung Tangkuban Perahu, Eksotisme Alam Priangan


Bandung, kota menawan yang selalu merindu. Ketika pertama kali pergi kesana, ke kebun teh ciwidey, kawah putih dan jalanan kota bandung, saya langsung jatuh cinta. Kotanya yang eksotis penuh sejarah dengan balutan panorama pegunungan yang indah membuat saya selalu terbayang ketika sudah berada di Jakarta. Hingga kemudian ada ajakan dari teman satu kosan, bayu, dwi dan mahend untuk jalan jalan lagi ke bandung. saya langsung mengiyakan. Kita mencarter mobil di bintaro. Karena kita kurang pasukan, akhirnya saya mengajak teman yang lain. Saya hubungi teman-teman yang punya hobi traveling. Si subhe anak makasar yang obsesi banget dengan bandung, akhirnya mau ikutan juga. Kemudian saya hubungi dedy teman kelas saya yang anak bandung asli. Pas kutelpon, si dedy lagi mau pulkam bareng ambardi. Langsung saja saya ajak mereka bareng naik mobil carter daripada dia naik mobil travel. Sekalian dedy yang jadi guide petunjuk jalan kita di selama jalan jalan di bandung.

Jadilah kami bertujuh ke bandung. Berangkat jam 7 pagi. Sampe disana jam 9 pagi. Kita yang awalnya berencana mau nginap di hotel murahan, si dedy malah ngajakin nginep di rumahnya. Hoho makasih ya ded. Ntar kamu kalo mw jalan2 ke madura I’ll be the best partner as well as you served me.

Setelah istirahat bentar dan naruh barang bawaan di rumah dedy plus nunggu yoga teman saya anak bandung yang katanya mau ikutan jalan2 juga, kita berangkat ke Tangkuban Perahu. Kita lewat Lembang menuju bandung utara. Tiba-tiba saya teringat film petualangan sherina. Kalo ga salah ada tempat syuting sherina di lembang yang di pinggir jalan banyak hutan pinus berbaris-baris. Tetapi saya belum menemukannya di sepanjang pinggir jalan. Pas saya tanyakan hal ini ke dedy, dia malah bingung. Garuk garuk kepala.

“Aduh dimana itu ya. Ga tau in hehe”.

Raut muka saya menyusut. Masa orang bandung tidak tahu tempat pariwisatanya sendiri. Tiba-tiba yoga di bangku belakang mobil nyeletuk.

“Ini ndra pohon pinusnya”. Saya melongok keluar jendela. Hamparan pohon pinus menghiasi tepi sepanjang jalan. Yup bener sekali tempatnya disini. Persis. Sepi tempatñya. Saya seperti De javu banget. ulu pas nonton film itu pas kelas 6 sd, saya pengen banget ke tempat ini. Eh akhirnya kesampaian

427930_1985475051827_586631971_n

Akhirnya kita sampai juga di Puncak Gunung Tangkuban Perahu. Tempat cerita legenda Seorang anak yang jatuh cinta dengan ibunya sendiri. Ketika saya keluar dari mobil…wuissss angin sejuk pegunungan begitu gahar. Menyentuh lembut hingga terasa ke pori wajah. Suasananya sangat dingin di luar. Saya segera merapatkan resleting jaket yang belum tertutup sempurna. Pipi saya seperti daging sapi yang baru saja keluar dari kulkas. Terasa menyegarkan. Sejauh mata memandang, saya takjub dengan pemandangan di atas sana. Wonderful. Tidak ada kata lain yang bisa disematkan selain kata kata yàng bersaudara dengan keindahan. Sejenak gempuran beban mata kuliah kampus hilang tak berbekas disini. Cmon baby..it’s holiday

tangkuban-perahu-7

Kabut tipis memayungi sekitar kawah. Saya tidak merasakan panas disana. Mungkin begini rasanya musim gugur di belahan bumi utara. Tidak panas tetapi dingin dingin empuk. Seorang pedagang asongan menawarkan syal, topi rajut dan masker. Saya menolak. Jaket tebal musim dingin yang saya bawa dari bintaro, sepertinya sudah cukup bagi saya menahan dingin.

292508_1985475851847_1522302134_n

Gunung Tangkuban Perahu merupakan kawasan cagar alam yang berada di ketinggian 1870 meter dpl. Memiliki 17 kawah yang masih  aktif. Kawah Ratu sendiri adalah kawah yang paling populer di Gunung Tangkuban Perahu. Kawah Ratu dikelilingi pagar kayu untuk menghindari pengunjung nekad turun ke bawah kawah. Meski sudah ada tulisan peringatan, beberapa pengunjung ada yang nekad turun ke tepi kawah. Mereka duduk di dinding tebing yang permukaannya lebih padat. Terus foto foto narsis disana. Seakan tak mau kalah dengan mereka, Saya juga mengambil gambar diri disana. Terus update foto di blackberry dan fb. Alay hehe.

537339_3570865881050_1596145492_n

Untuk menikmati keindahan panorama kawah ratu, disini sudah disediakan beberapa gardu pandang. Ada empat titik sudut pandang untuk melihat panorama di sekitar kawah. Masing-masing sudutnya memiliki lansekap tersendiri yang menarik dan unik. Disana saya masuk ke sebuah gardu pandang bertingkat dua. Biasanya gardu ini digunakan pengunjung untuk beristirahat atau juga mengambil gambar disana. Mata saya jelalatan mencari dataran yang menyerupai perahu terbalik. Saya bingung. Perahu terbalik ini apakah sebuah gunung yang sekarang namanya Tangkuban Perahu atau sebuah daratan di Gunung Tangkuban Perahu itu sendiri?

548446_3570839160382_670355849_n

Well Tangkuban Perahu menurut saya wisata pegunungan yang mungkin sudah terlalu mainstream toh tetap cantik. Pesonanya masih anggun. Mungkin karena sedikit kawah gunung di Indonesia yang bisa diakses sehingga tempat wisata ini masih tetap diminati. Keindahan panoramanya menakjubkan. Benar benar memanjakan mata. Dari gardu pandang, ketika pandangan kita menuju ke arah seberang Gunung tangkuban perahu, kita akan melihat lembah cantik dan bukit bukit Hijàu dengan hutan pinusnya. Alam pegunungan khas tanah priangan. Eksotis seperti yang diceritakan di buku buku sekolah. Kontras dengan suasana di sekitar kawah yang begitu gersang. Andai di bandung bisa turun salju mungkin sekilas alam pegunungan ini akan tampak seperti hutan konifer di dataran siberia. Daun daun pinus dipenuhi bulir bulir salju. Beruang terlelap hibernasi dan kawanan serigala kutub dengan bulunya yang tebal sedang mencari makan. Amboi, so christmas-surrounding. Ah Sepertinya saya terlalu banyak berandai andai daritadi hehe.

Kita pindah ke gardu pandang yang lain. Eh disana saya bertemu dengan 3 biksu budha lagi menenteng Kamera DLSR. Mereka mengambil gambar panorama disana. Saya takjub. Saya pikir seorang biksu tidak terlalu tertarik dengan hal yang keduniawian. Ketika melihat pakaiannya, sepintas kok mirip pakaian ihram yah. Mungkin hanya perbedaan warnanya saja. Selebihnya hanya satu kain panjang yang meliliti tubuhnya. saya bilang ke teman-teman untuk ngajak foto bareng sama biksu, tapi teman-teman saya menolak. Sungkan katanya. Ya sudah akhirnya saya sendiri yang samperin biksu tersebut. Waktu itu biksunya dah selesai ngambil gambar dan hendak turun dari gardu pandang. Saya langsung mencegatnya.

“Maaf pak. Apa saya boleh foto dengan bapak?
“Oh boleh”

Akhirnya dapat juga foto sama biksu. Eh temanku yang lain malah pengen minta foto juga sama biksu. Padahal tadi gak mau, beuh. Somplak.

403936_3570867281085_1735996272_n

Kita turun lagi naik mobil menuju lereng. Pas lewat gerbang kawah domas, teman teman memutuskan tidak pergi kesana. Padahal saya pengen merasakan sensasi merebus telur disana. Yah beginilah kalo trip dengan banyak orang. Terkadang kita gak bisa memilih tempat wisata yang sesuai keinginan diri sendiri. Setiap orang punya passion berbeda. Anak anak dah ngebet pengen shopping di sekitaran jalan riau.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Gunung Tangkuban Perahu, Eksotisme Alam Priangan

  1. dingin brrr …. makanya tuh biksu pake bajunya rapet

  2. Ping balik: Jam Dinding Valentino Rossi - Tips Barang Rumah dan Hadiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s