Taman Eden Jakarta : Situlembang – Menteng – Suropati


Berhubung tinggal sehari lagi gw di jakarta, gw sama teman2 coba puas-puasin dulu sebelum hengkang dari jakarta. Dan kali ini destinasi yang gw tuju adalah taman kota. Kenapa taman kota? gw juga gak ngerti kenapa pilih ini hihi. Padahal seumur-umur tinggal di jakarta, banyak lho destinasi yang belum gw kunjungi. pulau seribu aja belum pernah. Mau pergi kesana sudah mepet sekali. Kota tua dah sering, museum, nih apalagi. Terus gw gak sengaja baca blog teman gw tentang pengalamannya menjelajah taman kota di ibukota Jakarta yang super zuper padat ini hehe.

60645_10200982120025949_1837012502_n

Taman kota? hm jarang orang indonesia yang menjadikan tempat publik ini sebagai tujuan wisata. Itu mengapa kehadiran taman kota di jakarta tidak seantusias di kota paris. Di paris, taman adalah sebuah nyawa yang terus berdenyut dalam kehidupan warganya. Taman memegang peranan penting dalam menopang sektor pariwisata di kota mode itu. Makanya tidak jarang kalo paris disebut-sebut kota romantis sedunia. Keindahan tamannya bak sebuah taman eden, surga pencari cinta. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah Prancis sudah bikin konsep kota dengan banyak tamannya. Bahkan untuk membangun taman kota sampe diadain lomba desain antar arsitek/seniman.

Hal yang berkebalikan bila dibandingkan dengan kota jakarta. Disini Banyak lahan hijau yang sudah beralih fungsi menjadi mall, apartemen, dan hotel, dimana semua pembangunannya banyak menyalahi tata kota yang baik. Makanya gak heran semakin hari jakarta semakin panas dan kerap menjadi langganan banjir karena kurangnya daerah resapan air. Sementara itu di suatu tempat yang jauh dari ibukota,  kita malah cukup beruntung. Terutama untuk daerah di luar jakarta. Dengan pengaruh islam yang masuk ke indonesia, hampir di dekat masjid agung selalu ada alun-alun yang berwujud taman kota. Di malang, sumenep, Pamekasan, Tuban hampir masjid agungnya berdekatan dengan alun-alun taman kota. Keberadaan alun-alun kota ini biasa dijadikan tempat mangkal orang yang ngabuburit. Menghabiskan senja sambil menunggu bedug magrib. Bahkan di negara asalnya yaitu arab, alun-alun biasa dijadikan tempat berbuka puasa bersama keluarga atau sesama komunitas  muslim. Mereka menggelar tikar dan bercengkerama dengan keluarga sambil menanti detik detik berbuka puasa.

Dari surfing di internet, akhirnya gw memilih 3 taman yang bakal gw datangi. Tempat pertama yang gw sambangi adalah Taman Situlembang. Tempat ini sengaja saya pilih sebagai tempat pertama karena dekat dengan stasiun cikini. Berhubung gw naik KRL dari bintaro, makanya gw nyari stasiun yang terdekat dengan Taman Situlembang dan stasiun ini adalah stasiun Cikini. Jam 10 pagi, saya sampe di Stasiun Cikini. Gw bareng 2 teman kampus gw yaitu arie, anak pontianak dan husni, arek purworejo. Sebenarnya gw pengen solo trip mengingat medan menuju 3 taman tersebut cukup berjauhan. Kalo ngajak teman, gw takutnya mereka capek di jalan dan rencana menjelajah 3 taman kota takut tidak terselesaikan semua. Tapi si arie dan husni sudah bikin promise duluan ke gw kalo nanti capek atau ga capek, 3 taman itu harus dijelajahi.

Sampe di Cikini, kita makan dulu di sebuah warung padang. setelah makan, kita keluar dan  mulai tanya orang2 yang kita temui di pinggir jalan mengenai jalan menuju taman Situlembang. Setelah mendengar rutenya, akhirnya kita mulai perjalanan trip ini. Rata-rata dari mereka bilang, “wah itu jauh mas”. gw yang malam sebelumnya sudah buka jakarta map di google tidak serta merta mempercayai hal tersebut. Jarak stasiun cikini sampe Taman Situlembang cuma sekilo. Bener2 dekat. Coba saja deh kalo tidak percaya.

552848_10200982111945747_235622678_n

Sebelum sampe ke Taman Situlembang, kita melewati kios-kios di pinggir jalan yang menjual aneka barang antik. Ada juga handicraft Indonesia hand made. Pokoknya yang segala berbau kuno dapat ditemukan disini. Jam antik, Radio Kuno, dan Sepeda ontel kuno dapat dengan mudah dibeli disini. Gw sampe curiga jangan2 barang-barang antik milik eyang subur semua beli disini hehe. Sepanjang perjalanan, kita juga melewati banyak Kantor Kedutaan Besar Asing. Semuanya siaga dengan satpam lokal di depan halaman Kedutaan. Rata-rata dengan pagar yang terkunci dan mata “awas” dari sang satpam.

Dari cikini menuju Situlembang kita mesti rajin tanya orang di jalan. soalnya letaknya cukup tersembunyi di tengah hunian rumah warga menteng. Gw ada tanya sebanyak 4 kali, untuk menemukan Taman Situlembang. Setelah lewat jalan raya, kita masuk ke kompleks Perumahan Menteng. Menurut gw, rumah di sekitar menteng sudah cukup memenuhi standar hunian untuk iklim tropis. Rumah-rumah di sekitar menteng meski terkesan kuno tapi menurut gw lebih go green. Terus pohon-pohon di depan rumah yang banyak berkanopi meneduhkan perjalanan kami sehingga gw tidak merasa kehausan karena terik matahari. Pas sampe di Situlembang, gw dan teman-teman langsung ternganga seperti pengembara yang menemukan oase di tengah gurun. Tempatnya begitu rindang dengan kolam air mancurnya. Feel like at village. Teratai-teratai tampak menggantung di permukaan kolam semakin menasbihkan pesona danau situlembang. Pas gw sampe kesana, banyak orang yang sedang memancing. Ada juga pegawai kantoran yang mungkin sengaja melakukan meeting disini. Setelah dipikir-pikir, meeting kantor yang dilakukan di taman bisa menghemat anggaran kantor juga lho. Selain suasananya yang sejuk, hommy tentu memberi sensasi yang berbeda ketika rapat diadakan di sebuah taman.

553991_10200982111745742_1189801761_n

Setelah dari Taman Situlembang, kita menuju Taman Menteng. Disini kita melewati Kedubes Mesir, Slovakia, Brunei dan Ingggris Diplomat Residence. Ga sampe 10 menit kita sudah mendarat di Taman Menteng. Kesan pertama, tamannya biasa saja. Gak ada yang spesial. Masih bagus Taman Situlembang. Cuma disini banyak sarana olahraga seperti futsal, Taekwondo dan Taman bermain anak-anak. Salah satu keunikan lainnya di Taman menteng, yaitu terdapat bangunan yang semua full kaca. gw pikir ini sebuah bangunan green house. Pas gw melongok ke dalam bangunan kaca, eh malah ga ada apa2nya di dalamnya. Sayang sekali bangunan dengan kaca futuristik ini hanya sebuah pajangan tanpa ada manfaat yang bisa kita petik.

547513_10200982115425834_407358535_n

555817_10200982117905896_1572030001_n

150480_10200982117425884_1046692951_n

534285_10200982122626014_2094909264_n

529433_10200982117065875_1077555480_n

546004_10200982120225954_225556493_n

ada yang tau gak ini bunga apa?

Langit masih mendung. Kita bertiga cukup lama leyeh-leyeh di bangku taman sambil ngobrol ngalor ngidul. Sedih rasanya mengetahui besok kita semua bakal meninggalkan kota jakarta, entah untuk berapa tahun. Oh ya pas gw lagi leyeh-leyeh, ga jauh dari tempat kami, ada presenter tv one lho lagi bikin liputan disini. Kita bertiga udah siap-siap kalo di antara kita bertiga bakal diwawancarai. dan eeeaaaaaaa, ternyata mbak presenter tak juga mendatangi bangku kita. Sejam di Taman menteng, kita berangkat lagi menuju Taman Suropati. Sebelum sampe Taman Suropati, kita melewati dahulu Taman Kodok. Taman ini beneran banyak kodoknya lho. Tapi gak usah takut. kodok disini sudah dikutuk oleh bandung bandawasa jadi patung. Kalo ga salah hitung, ada 6 patung kodok yang berjaga di depan taman ini.

625476_10200982122106001_1338135386_n

549759_10200982123706041_187936667_n

Tidak jauh dari Taman Menteng, sekitar 500 meter jalan kaki ke sisi selatan, akhirnya kita menemukan Taman Suropati. Kalo di Taman Situlembang terkenal dengan danau, Taman menteng dengan bangunan kacanya, di Suropati ini cuma hanya ada deretan pohon-pohon yang sudah ratusan umurnya. Kanopinya merindangi seluruh area taman. Disini juga banyak merpati jinak berkeliaran. Berhubung gw sudah browsing duluan di internet kalo disini banyak merpati, maka gw sudah membeli selembar roti  di jalan pas ketemu tukang roti. Di Taman Suropati ada 2 kandang merpati. Sayang merpati disini gak sejinak merpati-merpati yang biasa gw liat di film2 eropa. Begitu ada orang yang mendekat ke arah merpati yang lagi merumput, merpati itu terbang lagi balik ke kandangnya. Padahal gw pengen foto dengan gaya berdiri terus merpati2 tersebut menari di sekitar kaki-kaki gw. Untung si merpati ini mudah dirayu. Begitu gw melempar butir-butiran roti, baru deh merpati ini hinggap di dekat kaki gw. Itupun mereka masih setengah ketakutan mendekati arah gw.

Setiap hari sabtu dan minggu disini biasanya tempat ngumpulnya komunitas pecinta biola. Buat orang tua yang ingin anaknya belajar biola, cukup saja gabung dengan komunitas tersebut. Kalo ga salah denger, pelatihannya gak dipungut biaya sepeser pun. Mereka bakal diajari kakak-kakak di komunitas ini. Taman memang pas buat sarana belajar bermain biola. Coba kalo gw datangnya kesana dan ada bocah-bocah  lagi memainkan biola , pasti syahdu suasananya. Ikut hanyut dalam melodinya.

  480178_10200982124626064_1948540213_n     551511_10200982127666140_531117891_n      563667_10200982257069375_466333887_n

73193_10200982126946122_2107571097_n

Patung Lesbianisme

Spot selanjutnya kita menuju Masjid Sunda Kelapa. Ketika gw mau nyebrang ke arah bappenas, eh di tengah jalan ada taman bunga berwarna warni. Mirip taman bunga tulip di belanda. Feel like spring here. Dan gw pun nyangkut disini meski cuma sekedar berfoto ria. Di taman ini juga ada Patung Diponegoro lengkap dengan kudanya yang lagi berdiri merangkak.

561881_10200982154386808_1289370962_n

Jam 1 siang akhirnya kita sampe di Masjid Sunda kelapa. Gw sudah kehausan banget. Eh ga sengaja pas di dalam masjid nemu dispenser yang telah diisi air segalon. Dan sialnya, pas masukin air ke dalam botol, airnya justru panas. Padahal gw sudah tekan tombol biru. Terus air itu gw buang lagi, dan sekarang pake tombol merah. Dan iya saudara saudara, ternyata meski udah pencet tombol lain, tetep air panas yang masuk ke dalam botol. Dispensernya lagi out of order. Untung masih ada satu dispenser lagi disini yang masih berfungsi. Di dalam masjid sunda kelapa ini kita bisa leyeh-leyeh sambil tidur siang. Suasananya adem seperti hawa gunung karena ber AC. Meski ada larangan dilarang tidur di dalam masjid, toh masih banyak jamaah yang selesai salat lohor langsung tidur ngorok di masjid.

561237_10200982258189403_363621000_n

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Taman Eden Jakarta : Situlembang – Menteng – Suropati

  1. Avant Garde berkata:

    nice share … itu bunga merah banyak di sungai penuh
    I will miss you too nder, hiks …
    selamat menempuh kantor baru nder, semoga betah di pamekasan
    *teringat suka duka jalan2 di jakarta …. hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s