Jalan-Jalan ke Puncak Part 1


Dulu waktu esde kalo baca buku cerita petualangan, piknik di perpus hampir kata Puncak sering muncul dalam buku bacaan selain cibubur. Cibubur memang dari dulu terkenal menjadi tempat bumi berkemah anak-anak pramuka dan perayaan Jambore nasional. kalo musim liburan panjang, hampir dah semua presenter stasiun televisi pada mewartakan macetnya jalan menuju puncak. Sampe saya bingung sendiri emang puncak ada apanya ya??Bagus ga sih dsana? Apa puncak tuh daerah yang bener2 berada di puncak pegunungan.

Aniweiii beidewey..ternyata puncak tuh kata temen gua, ga beda jauh sama Batu di Malang. Banyak villa, kolam air hangat, air terjun dan wisata panorama pegunungan yang memanjakan mata. Kalo jawa barat punya bogor, maka di jawa timur punya malang. Kata temen gua, di puncak banyak yang namanya kebun teh. trus kalo kalian nonton FTV di sctv, banyak setting filmnya yang ngambil di daerah puncak. Dari film itu gw jadi tahu keindahan alam priangan jawa barat. Kalo buka peta, kita bisa liat kalo Jawa barat merupakan salah satu provinsi yang lebih dari separuh daerahnya memiliki kontur khas pegunungan.

Dan tara…. Jumat kemaren pas saya lagi  selesain tugas di kantor, gua tiba-tiba dapat telpon entah darimana.

“Selamat sore. Dengan bapak Indra??” Dengan menjawab setengah males gua jawab iya. Sebenarnya Saya sudah agak bosen terima telepon dari rekanan yang ngajuin tagihan, menawarkan pengadaan dll. Padahal itu bukan urusan gw.

“Apakah bapak bisa datang di acara diklat bendahara pengeluaran”eh ga salah denger yah gua tiba-tiba dipanggil acara diklat. Dalam hati berdoa, semoga tempat acaranya di BDK Manado, Medan kalo ga makasar. Secara gua belum pernah kesana. Panggilan diklat bagi gua adalah alternatif untuk melakukan kegiatan traveling. Udah lama kaki ini gatel pengen backpackeran lagi.

“emang acaranya dimana pak?”
“Gadog”
“Hah?? daerah mana itu?” Suer gw langsung jleb denger nama daerah antah berantah itu. Gua pikir tuh tempat terpencil di suatu pulau ga terkenal and gua bersama makhluk lainnya disekap disana. Jadi teringat film battle royale.

“Itu daerah di Puncak, Pak. Pusdiklat Anggaran”
“What…… Oke pak insyaAllah bisa datang”.

Akhirnya….setelah berumur sekitar dua puluhan, gua bisa merasakan hawa dingin puncak. Lama juga gua ga pernah merasakan naik gunung lagi. Dua tahun kuliah di Jakarta gua belum pernah nyempatin wisata ke Puncak. Cuma baru ke kota bogor aja. itupun cuma ke kebun raya bogor yang bikin gua jadi songong karena ga melihat bunga bangkai disana. Jelas aja panggilan diklat ke puncak adalah berita baik buat gua. Secara gua baru diangkat seminggu jadi bendahara. Dan gua baru menyadari kalo pekerjaan bendahara tuh bener-bner menguras tenaga. So I need some fresh air. Pengen rasanya menghilang dulu di suatu tempat dimana gua ga dicari-cariin orang sebelum gua balik lagi ke wujud asli gua sebagai bendahara. what the fuck nya, kerjaan kantor belum banyak gua selesain. Baru aja tutup bulan dan tanggal 2 Juni gw tiba-tiba sudah harus mendarat di Puncak. Langsung aja gw kebut kerjaan kantor. Dan pas pulang kantor, di kosan gw bingung sendiri. Secara di lemari gua ga punya celana training. Baju juga numpuk di ember kotor. Jaket ketinggalan di rumah. Wah mesti pulkam neh ke sumenep besok sebelum berangkat ke puncak. Secara gua orangnya ga tahan dingin apalagi kalo  sudah dingin hawanya, badan ini bawaannya mau pilek dan asma. Pas besok sampe rumah. Gua langsung bergegas nyiapin kaos, celana pendek dan celana panjang berjumlah 6 biji ke dalam koper saking takutnya gua sama hawa dingin puncak. Di  bromo saja pas nginap di motel aja gua ga bisa tidur sampe subuh gara-gara cuma menahan dingin. So, ini merupakan antisipasi gua untuk melawan semua ketidakmungkinan cuaca. Tiba-tiba sms masuk ke handphone gua.

Indra, kamu kapan berangkat ke bogor. Aku sama bang samuel janjian di cengkareng  gmna? kebetulan kita bertiga dipanggil diklat juga

gua baru ngeh kalo diantara 34 peserta diklat itu ada dua temen kuliah gua. Aku bales iya. Dan anyway kita bikin planning sampe Cengkareng maksimal jam 12 siang hari minggu. terus sewa taksi ke bogor. Karena kata kasubag gua, jalanan puncak sering buka tutup karena banyaknya kendaraan umum yang melintasi jalanan puncak. Dan biasanya Jam 3 sore, jalanan menuju puncak sudah ditutup untuk kendaraan yang berangkat dari Jakarta. Gua langsung ngebayangin seramai itukah puncak?? Padahal gw ngarepnya di Puncak tuh bener-bener sepi, jauh dari kebisingan. Biar gua sejenak bisa melupakan pekerjaan kantor.

Akhirnya jam 3 sore kita sampe di Puncak. Saya dibangunin teman gua di mobil. Kaget gua pas ngeliat keluar jendela. Ternyata Puncak tidak sama dengan bayangan gua. Puncak sudah cukup rame dengan pertokoan, hotel, villa dan restoran di pinggir jalan. Kebun teh pun gua tidak melihatnya. Kata teman gua, Gadog Puncak masih termasuk bagian lerengnya. So wajarlah kalo gua ga nemuin namanya kebun teh. Akhirnya setelah muter dan sempat kesasar nyari Kantor Pusdiklat Anggaran, akhirnya kita sampe juga disana. Kesan pertama gw dengan tempat diklatnya, hmm so hommy. Banyak fasilitas olahraga dan sarana outbound disana. Terus Rindang dengan pepohonan khas pegunungan. Banyak warga sekitar yang menghabiskan sore disini. Ibu-ibu bergerombol dengan menggelar tikar. Muda-mudi remaja berlarian memutari kompleks pusdiklat. Hal yang berbeda dengan Balai Diklat Keuangan Palembang pas diklat prajabatan kemaren. Gua baru nemu yang namanya tempat diklat tapi suasananya benar-benar rumahan. Tidak seperti sedang berada di sekolah. Dan akhirnya saya dapat Kamar F Asrama Dahlia. Terpisah dengan teman-teman gua. Dari balkon asrama, gua bisa melihat Puncak Gunung Salak dan Gunung Gede Pangarango. Pengen rasanya besok weekend liat curug-curug di balik gunung itu. Di asrama ini Gua bakal seasrama dengan Rama anak pematang siantar, Riski dari Tanjung Balai Karimun, Agiel dari entikong dan Hamid dari Sorong. Kebetulan saya datang pertama kali di Asrama. Jadi tidak sabar melihat kawan baru gua dan berbagi cerita dengan mereka ketika mereka datang nanti.

Suasana di Pusdiklat Anggaran

Suasana di Pusdiklat Anggaran

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jalan-Jalan ke Puncak Part 1

  1. Avant Garde berkata:

    nice😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s