Pura Parahyangan : Kedamaian Tingkat Dewa (Jalan-Jalan ke Puncak Part 3)


IMG_1905  IMG_1914

Hari minggu pagi saya balik ke bogor dari jakarta. Awalnya saya berencana ke Pekan raya Jakarta (PRJ). Tapi berhubung saya sudah beli hape di roxy hari sabtunya, sepertinya shoping di PRJ bakal membuat kantong dompet saya semakin menipis. Apalagi teman2 diklat di bogor yang awalnya hari minggu mau nonton PRJ justru membatalkan acaranya dengan beragam alasan.

Akhirnya minggu pagi itu saya putuskan balik ke bogor naik KRL dari stasiun karet-Bogor. Beragam planning berkelebat di kepala saya ketika duduk di bangku KRL. Rasanya saya tidak mungkin balik saja ke asrama diklat. Masih banyak wisata bogor yang belum saya kunjungi. Salah satunya Pura Terbesar di Jawa dan kedua di Indonesia. Lokasinya berada di Gunung Salak. Inipun hasil tak sengaja searching google tadi malam. Keberadaan Pura ini saya infokan kepada teman asrama saya yaitu Tegdi, Samuel dan Nuzul. Sayangnya  minggu pagi mereka harus ke gereja. So, it’s OK if I try to be Solo backpacker.

Jam 10 pagi ketika sampai di stasiun cilebut, hape saya berdering. Panggilan masuk dari bang samuel. Rupanya mereka telah selesai misa pagi di gereja. Bang samuel dan tegdi rupanya tidak langsung balik ke asrama juga. Dia malah menawari saya bagaimana kalo kita jalan bareng-bareng ke pura. OMG…finally heaven knows..

“Dra cepat balik ke bogor. Aku sama tegdi pengen ke pura yang kamu kasih tau tadi malam”.

Rupanya bang samuel tidak tahu kalau saat itu juga saya sebenarnya sedang balik menuju bogor.

“Saya sudah di dekat bogor. 10 menit lagi sampe stasiun bogor kok. Ketemuan dimana?”

“Ekalosari mall gimana”

“Oke. Tunggu saya disana”.

Sampai di stasiun bogor, saya segera menuju pasar yang berada di dekat stasiun. Saya menuju gerai hape untuk beli kartu memori buat kamera digital. Kartu memori kamera saya ketinggalan di kosan. Setelah memperoleh kartu memori, saya langsung menuju pangkalan angkot. Setelah tanya sana sini akhirnya saya naik angkot yang akan membawa saya ke Ekalosari Mall.

Akhirnya tepat jam setengah 12 saya ketemu bang samuel dan tegdi. Berhubung waktu kita sudah sangat mepet, kita langsung menuju pangkalan angkot yang akan membawa kami ke Ciapus, tempat Pura itu bersemayam.

Karena tanggung dengan waktu dhuhur dan mereka juga belum makan siang, akhirnya kami memutuskan makan soto betawi dulu di salah satu stand PKL di trotoar dekat ekalosari mall. Sambil menunggu hidangan soto, saya meminta izin untuk salat dulu di sebuah masjid yang tak jauh dari tempat kami makan. Selesai makan, Tegdi pengen beli sandal. Sepertinya dia tidak pede traveling dengan sepatu pantovel.

Untuk menuju Pura Parahyangan Agung , Anda bisa naik angkot 13 jurusan Bantar Kemang-Ramayana atau 06 jurusan Ciheuleut-Ramayana dari terminal Baranang Siang. Kemudian turun di Bogor Trade Mall dan disambung dengan angkot 03 jurusan Ciapus-Ramayana arah Warung Loa. Jika Anda naik kereta, dari Stasiun Bogor, naik angkot 02 jurusan Terminal Bubulak/Laladon-Sukasari, turun di Bogor Trade Mall dan disambung dengan angkot 03 jurusan Ciapus-Ramayana arah Warung Loa. (sumber:http://travel.detik.com/readfoto/2012/02/22/081100/1848434/1026/1/rasakan-damai-di-pura-parahyangan-agung-jagatkartta-bogor)

Sesampai di bogor trade mall, kami membeli sandal. s Setelah mendapat sandal di BTM, kami langsung cari angkot jurusan ciapus. Tidak semua angkot berhenti ke ciapus. Karena itu mesti tanya2 apakah angkotnya lewat pura atau gak.

Bogor tampak mendung. Sementara Siluet Gunung salak tampak menawàn dari kejauhan. Disana. Membius siapapun yang memandangnya.

“Mas Indra, Puranya mungkin di Gunung situ yah mas”. Tegdi bertanya kepada saya di sela-sela waktu menanti angkot. Saya mengangguk saja meski saya sebenarnya tidak tahu apakah itu benar-benar gunung salak. Tetapi yang jelas di dalam hati saya berderai kegirangan. Mimpi melihat pura akhirnya kesampaian. Belum pernah ke bali akhirnya mendarat disini juga. Akhirnya setelah menunggu 10 menit, kami dapat angkot menuju kesana. Diperkirakan sejam bakal sampe kesana. Kemudian perlahan Angkot yang kami tumpangi membawa kami ke daerah pelosok bogor. Dimana jaringan selular putus nyambung. Saya menghela nafas. it shall be a remote area there hmm. Menanti lama di dalam angkot terasa begitu membosankan. Entah sudah berapa kalinya saya memandang jam tangan saya. Hingga akhirnya saya menangkap papan penunjuk jalan air terjun di suatu desa. Hm, Ternyata objek wisata pura ini berdekatan sekali dengan wisata curug-curug di bogor sepérti curug nangka, curug luhur dan curug cigamea. Kita tahu bahwa bogor terkenal dengan kekayaan air terjunnya yang begitu melimpah. Karena itu tidak salah bila warga jakarta banyak berlibur kesini. Akhirnya setelah nunggu sejam. kami tiba di Pos jalan menuju pura. Segerombolan tukang ojek menyerbu kami. Pengennya jalan kaki. Tapi begutu dikasih tahu oleh warga sekitar bahwa jaraknya 2 km menuju puranya, akhirnya kami menyerah dan memutuskan naik ojek. Cukup 10 ribu, beuh.

Di Sepanjang perjalanan saya disuguhi pemandangan yang eksotis dan memanjakan mata. Persawahan, bukit, pepohonan serta jalanan yang lengang dan heiyaaa…suasananya benar-benar terasa bali banget. Itulah yang saya rasakan. Sejuk dan sedikit windy. Begitu damai dalam hati. Yeah it is innerpeace within here. Sepertinya membangun pura disini sangat tepat. Sebab menurut saya begitu susah mencari daerah yang mirip-mirip dengan suasana desa seperti di bali.

Begitu sampai di pintu masuk pura, kami melewati jalan menanjak dan akhirnya saya tiba di pos bale-bale/joglo dimana disitu banyak wisatawan berjubel. Tak sedikit pula diantara mereka adalah orang-orang yang akan melakukan sembahyang disini. Pakaiannya begitu khas bali. Pakai peci, baju putih, selendang yang dililitkan di perut dan sarung. Bagi wisatawan wanita yang sedang haid dilarang masuk kompleks pura. Begitu juga wisatawan yang mengenakan rok mini atau hotpant juga dilarang masuk (Ya iyalah masa tempat sembahyang jadi ajang pamer paha hehe). Untuk memasuki puranya kita wajib minta izin dahulu dengan penjaganya. Nanti disana kita diberi selendang kuning atau putih untuk dililitkan di perut. Terus nanti kita dikasih tahu area mana saja wisatawan dilarang masuk. Sebab beberapa area merupakan pusat sembahyang orang hindu. Sehingga hanya orang yang hendak bersembahyang yang boleh memasuki area tersebut.

Camera 360

Camera 360

the Two Bataknese. My dormitory friends

Camera 360

Pura Parahyangan Agung Jagatkarttya Taman Sari Gunung Salak.

Camera 360

Seperti yang kita ketahui, di jaman dulu sedikit sekali umat hindu sunda di Jawa barat yang meninggalkan warisan dalam bentuk bangunan seperti candi atau Pura. Terlebih lagi,  Kita selalu mengenal bahwa hindu selalu identik dengan bali. Berangkat dari masalah itu pemeluk hindu sunda bergotong royong membangun pura tersebut. Selain itu, Pembangunan Pura yang tingginya hampir 5 meter ini juga sebagai sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran terakhir yang memeluk agama hindu. Konon katanya area Parahyangan ini juga adalah tempat Petilasan dan menghilangnya Prabu Siliwangi dan pengikutnya

Camera 360

Adapun penamaan pura ini telah melewati berbagai proses diskusi panjang yang melibatkan seluruh umat hindu Indonesia. Parahyangan adalah tempat Sanghyang Widhi. Agung adalah Mulia. Jagat adalah Bumi dan Kartyya artinya Muncul atau lahir. Jadi kalo digabung, kurang lebih Pura Parahyangan agung jagatkarttya artinya Pura tempat bersemayam Sanghyang Widhi yang Indah dan cantik yang ada di bumi🙂

Camera 360

Wasiat Prabu Siliwangi :

”Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.”

Artinya :
“Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. Dan bahkan berlebihan kalau bicara.”

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Pura Parahyangan : Kedamaian Tingkat Dewa (Jalan-Jalan ke Puncak Part 3)

  1. peci tuh topi sholat, topi hindu namanya udeng

  2. adieriyanto berkata:

    Pengen ah ke sini dan ke curugnya, kayaknya kok tenang banget tempatnya🙂

  3. fulan88 berkata:

    mau nanya dong..kalau pergi kesana nya diatas jam 12 memungkinkan gak ya?kan angkot yg kearah ciapus katanya jarang2..takutnya pas mau pulangnya ga ad angkot lagi..

    • Indra berkata:

      memungkinkan krna prjalanan dr bogor ke ciapus cm sejam aja..tp mending brangkat pagi krn dstu bnyak air terjun seperti curug nangka dan cigamea.

  4. Raras berkata:

    wah, suasananya asik banget, sejuk ya, seneng kalo bisa jalan jalan kesana

  5. Yusuf Ahmad berkata:

    Kayaknya menarik buat ngabur dari sumpeknya Jakarta hmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s