Summer Scent In Pantai Luna : Sumenep Diamond in The Sky (Part 2)


Awan mendung sedang menggelayut di kaki langit. Saya yang sudah lebih sejam  motoran, belum sampe juga di pantai badur. Kalo sampe hujan, perjalanan mencari pantai-pantai cantik di madura bakal sirna. Tapi tak apalah kalo hujan. Bukankah hujan juga adalah karunia tuhan. Mungkin rumput di padang sabana yang tampak disekeliling samping saya — sudah merindu akan tarian hujan. Daun-daun siwalan pun tampak menguning di atas bukit. Menyanyikan lagu kekeringan. Kapankah kemarau akan segera berakhir? bukankah lebih baik hujan turun hari ini?

Stok bahan bakar mulai menipis. Sementara kios bensin  belum saya temukan juga. ah kenapa gak di pom bensin kota tadi ngisinya.  Saya merutuk dalam hati. Kulajukan kecepatan motorku. Tak kupedulikan lagi berapa gas yang akan terbuang sia-sia sebab harapan masih menggantung di langit — ada sebagian yang tidak tertutup mega mendung. Mungkin daerah yang tidak tertutup mendung itu adalah daerah kawasan pantai badur.  Semoga. Dan toh kalopun saya tiba-tiba di mogok didaerah remote seperti ini, saya masih bisa minta tolong warga lokal. Entah bagaimana bentuk bantuannya. Mungkin bisa saja tiba-tiba motorku diangkut dalam truk terbuka — Bergumul satu dengan sayur-sayuran ataupun hewan ternak. Sudah lama sekali saya merindukan sebuah momen-momen seperti itu. Atau yang lebih sederhana mungkin sekedar bercengkerama ataupun menyeruput kopi pahit di gubuk-gubuk sederhana warga setempat. Hm…what a wonderful life. Kalo ayah masih ada, mungkin ia orang yang pertama kali senang melihat anaknya yang manis ini tersesat disini. 17 tahun lalu saya pernah diajak ayah menyuluh di daerah terpencil ini. Ketika Musim liburan sekolah. Sayang hanya sedikit ingatan yang masih tersimpan di memori otak saya. Selebihnya yang saya ingat adalah saya merengek sepanjang jalan karena waktu pulang tidak kunjung2 sampe rumah. Jalanan dulu tidak sebagus ini–meski sebenarnya jalanan ini tampak tidak banyak yang berubah. Setidaknya masih lebih baik dibanding 17 tahun silam.

Perjalanan ini
Trasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk
Disampingku kawan

Banyak cerita Yang mestinya kau saksikan

Motor terus melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Tak kupedulikan lagi rasa sakit di perut yang terasa seperti dililit sesuatu. Terseok-seok di lubang jalanan. Entah berapa km lagi saya akan menemukan jalan beraspal mulus. Hawa panas menyerang pipi. Terasa seperti terbakar. Untung ini masih belum api neraka. Ah kenapa pulak neraka berada di pikiranku sekarang??Bukankah aku akan mencari surga?

Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang Dihempas batu jalanan
Hati tergetar menatap kering rerumputan
Perjalanan ini pun
Seperti jadi saksi

Akhirnya perjalanan yang melelahkan ini terbayar juga begitu melihat bentangan garis pantai yang memanjang. Begitu menyejukkan. Melihat dari ketinggian, laut tampak membiru. Indah. Ingin sekali kaki ini turun ke pantai.  Setelah menemukan daratan yang agak landai kuputuskan untuk singgah di sebuah tepi pantai. Entah apa nama pantainya. Meski tidak begitu luas tapi pemandangan di sekitar cukup mengendorkan syaraf dan ototku yang menegang selama berkendara.

995784_10201813619572918_1481613319_n

What an amazing beach!!

1000584_10201813588652145_1270511595_n

Mendung di atas pantai

Karena tak bisa kutemukan seseorang disini dan bisa kutanyai nama pantai ini, aku menamakan sendiri pantai ini dengan sebutan pantai Luna. Meski tidak terlalu luas pantainya tetapi pantai ini cocok sekali buat family camp atau gathering sambil bakar-bakar ikan dan duduk di atas lesehan tikar. Masyarakat madura biasanya suka gathering makan-makan di pantai ketika lebaran ketupat. Itu mengapa kalo lebaran ketupat pantai tampak rame sekali. Oh ya penanggalan lebaran ketupat di madura berbeda dengan lebaran di jawa. Kalo di jawa, hari lebaran idul fitri langsung makan ketupatan, di madura justru hari ke 7  baru makan ketupatan.

IMG-20141013-WA003

1098537_10201813583732022_1726354947_n

Pasirnya halus berwarna krem dengan taburan polesan warna kuning

1146655_10201813597132357_1339193147_n

994866_10201813624653045_678842722_n

Kalo pantai lagi sepi, pekerjaan apa coba yang paling enak?? kalo saya memilih lari-lari di tepi pantai..kayak pemeran baywatch

pantai ini kuberikan nama pantai Luna sesuai dengan nama keponakanku. Lagian juga kan jarang warga kota yang tahu pantai ini selain warga lokal. di blog-blog juga gak ada yang bahas pantai ini. Jadi bisa dipastikan pantai ini adalah pantai tidak bernama. maksa mode on haha. hai luna manis. ini om hadiahkan kamu sebuah pantai. seperti nama indahmu. nanti kalo luna sudah gede, om akan ajak luna kesini. Katanya luna penasaran dengan burung camar hehe.

Well Kalo lihat pantai ini, saya jadi teringat film night at rodanthe. itu lho film romantis yang dibintangi Richard Gere. Ah besok klo sudah tua, coba beli sejengkal tanah di pantai-pantai kayak gini aja deh di utara pulau madura. terus Pengennya bangun rumah kayak rumahnya Adrienne Willis (Diane Lane) di film night at rodanthe. Pasti happy forever hehe

Rodanthe_house

contoh rumah yang pengen saya bangun. Mimpi mode on🙂

rodanthe

Feel Cozy and Romantic

images2

trus di pinggir pantai dibangun jembatan kayak gini. Di madura utara hanya bisa lihat sunset seperti halnya pantai kuta. Jadi pas sekali. Kalo abis petang bisa bikin beach party kecil-kecilan seperti barbeque party dan ngajak warga lokal atau lansia yang berpasangan. Maenin musik biola, dentingan gitar country atau reggae. Ngedance kayak orang Carribbean atau Jamaica. Pasti seru suasananya. Well semoga anak-anakku kelak suka dengan kehidupan seperti ini. Everyday is always be summer🙂

images

Killing Time Kayak gini serasa Forever Young

Killing Time Kayak gini serasa Forever Young

 

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure. Tandai permalink.

3 Balasan ke Summer Scent In Pantai Luna : Sumenep Diamond in The Sky (Part 2)

  1. Avant Garde berkata:

    keren banget nama pantainya, ada makna khususkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s