Dingin-dingin di Masjid Atta awun (Jalan Jalan ke Puncak Part 5)


3 hari lagi diklat bendahara pengeluaran di bogor akan usai. Tapi saya belum pernah sampai daerah puncak bogor tepatnya daerah puncak pass. Apalagi tempat diklatku di Daerah Gadog dekat sekali dengan kawasan wisata puncak. Belum lagi angkot-angkot berseliweran di depan pusdiklat dengan trayek tujuan puncak atas. Akhirnya hari senin siang setelah selesai diklat, aku mengajak satu teman diklatku asal makassar. kebetulan dia hobi traveling juga. Setelah berhasil ngomporin anak satu asrama, akhirnya aku berhasil mengajak 4 orang lagi hehe. Jadi total kami berangkat sebanyak 6 orang. Untungnya diantara kami berenam, salah satu dari kami ada yang sudah pengaslaman ke Puncak Pass yaitu mbak lisa. Padahal hari minggu kemaren dia sudah jalan-jalan ke puncak pass. Hari seninnya malah dia mau ikut menemani kita gara-gara kemarennya dia ga terlalu menikmati liburannya di Puncak Pass. Salah satu tempat tujuan wisata kami adalah Masjid Attaawun. Masjid ini terkenal karena ada jam raksasanya.

Sayang hari itu mendung. belum dapat angkot tetapi bumi telah basah dengan rinai-rinai hujan. Gerimis. Rencananya kita mau nyewa angkot yang sekali langsung menuju masjidnya. Kalo diliat aturan trayek, sebenarnya kami harus ngangkot dua kali untuk menuju masjid Atta awun. Untung abang angkotnya mau nganterin sampai puncak pass. Dan anyway selama perjalanan, hujan begitu deras. Hawa Kawasan Puncak semakin menunjukkan dominasinya. Kami yang di dalam angkot merasa kedinginan. Tapi entah kenapa aku lebih menyukai melihat kawasan puncak ketika hujan turun. Khayalanku akan kawasan puncak yang berkabut seakan tampak nyata di luar angkot. Ketika kita mengobrol di dalam angkot, mulut atau hidung kita tampak seperti mengeluarkan uap. Mirip seperti yang kusaksikan di film-film, ketika bule-bule ngobrol di  musim winter di negeri 4 musim sana.

941948_10201358704960337_1886964327_n

Kurang lebih sejam akhirnya kita melintasi perkebunan teh. Karena hari hujan, kabut tampak melapisi permukaan perkebunan teh. Begitu menawan bagi siapapun yang memandangnya. Luar biasa pemandangannya. Saya pernah melihat kebun teh di ciwidey Tapi gak seindah kawasan kebun teh puncak ketika hujan. Anyway when it’s rainy, scenery of raws of tea plantation seems more beautiful and great.

Perjalanan sekitar 1,5 jam ini untungnya tak terasa membosankan di dalam angkot. Seperti biasa, mbak lisa anak asli lampung yang bawel di kelas, jadi tukang ngeramein suasana.  Apalagi pas beliau sharing pengalaman hidup sehari-harinya dan kerjanya di Tual. Menyeramkan. Ada yang tahu tual?? Kalo liat dari peta, pulau ini terletak di selatan laut arafuru dan dekat dengan perbatasan australia. Mana lagi pulaunya sendirian. Yah termasuk pulau-pulau terluar Indonesia. Jadi penasaran sama Tual, secara Indonesia timur saja yang belum kujelajahi. Beruntungnya mbak lisa cepat menemukan jodohnya di Tual. Seorang perwira angkatan laut anak lampung yang sama bekerja di Tual. Mendengar kisah beliau, dalam hati saya tak berhenti bersyukur bahwa ternyata ada juga yang lebih jauh penempatan kerjanya daripada saya. Ada yang lebih tidak beruntung daripada saya. Bisa pulang ke kampung halaman.

Akhirnya kita sampe juga di masjid atta awun. Karena hujan masih deras, kami memutuskan  untuk istirahat sejenak di sebuah riung depan masjid. Kita memesan mie rebus dan segelas teh hangat. Makan dan minum yang anget-anget ketika hujan, apalagi di kawasan puncak yang begitu dingin seperti es benar-benar memberi sensasi tersendiri bagi saya. beban dan segala kepenatan dan rasa lelah tampak hilang begitu saja. Yah untuk sementara aku bisa melupakan sejenak apa yang sudah kulakukan selama dua minggu berkutat dengan angka, jurnal dan peraturan perbendaharaan. I feel more relaxing. Itu mengapa setiap manusia butuh liburan dan taking get away.

Setelah hujan reda dikit kita naik ke masjid Atta awun. Kupikir masjidnya megah sekali. Tetapi tidak. Meski begitu kesederhanaan ini justru membuat masjid ini tampak anggun di tengah kepungan bukit-bukit teh. Karena pemandangan disini benar-benar memanjakan mata, banyak pengunjung mengambil foto disini atau sekedar melihat-lihat. Saya melihat lokasi masjid ini strategis banget. Apalagi kawasan puncak terkenal dengan buka-tutup jalan untuk mengurai kemacetan. So masjid ini sering jadi tempat persinggahan sementara setelah orang-orang terjebak macet di kawasan puncak. Kalo kita melihat ke bukit di bagian atas masjid, kita akan mendapatkan sebuah spot yang biasa digunakan untuk paralayang. Orang sini biasanya menyebut Bukit Gantole.

945932_10201358722480775_1648409148_n

1013089_10201358720840734_1066237439_n

Masjid Atta’awun merupakan bangunan berlantai dua yang dibangun di kawasan Puncak, Kecamatan Cisarua, Bogor, pada 1997 atas prakarsa Gubernur Jawa Barat R. Nuriana, dan diresmikan pada 25 Maret 1999. Lantai bawah digunakan untuk jamaah pria, dan lantai atas dipakai untuk jamaah wanita.

994272_10201358720440724_1621615946_n

Masjid Atta’awun berada pada ketinggian 2000 mdpl. Tempat parkirnya luas, namun sebagian tersita oleh pedagang yang menjual makanan dan aneka suvenir. Untuk menuju masjid, pengunjung harus melalui 40 undakan. Ruangan utama Masjid Atta’awun tidak memiliki pilar, sehingga terkesan luas. Lantai, mihrab dan bagian bawah lantai atas berlapis kayu. Dinding Masjid Atta’awun berupa kaca tembus pandang, sehingga dari dalam masjid pengunjung bisa melihat pemandangan kebun teh yang menyejukkan.

996792_10201358725840859_1647599201_n

Masjid Atta’awun memiliki menara tunggal dengan bentuk kubah utama menyerupai sebuah payung jamur yang besar. Disekeliling Masjid Atta’awun terdapat kolam ikan yang dipenuhi ikan hias koi.  dan di bagian belakang Masjid kita akan menemukan sebuah curug mini (air terjun). Dan anyway salah satu bangunan ikonik di Masjid atta awun menurut saya adalah sebuah jam raksasa yang terletak di taman dekat pintu masuk masjid AttaAwun. Tapi sayangnya agak susah mengambil foto dengan jarak dekat dengan jam raksasa ini. huaaaaaaaaaa….aaa.a..

Pas kita lagi liat hasil display foto diri dengan latar belakang bukit teh, hasilnya seperti berada di tengah musim winter. Bukit-bukit teh serasa bersalju. Dan jujur saja, diantara kami berenam, kostum mbak lisa cucok banget. Jaket winter bergaya korean style. btw doi emang niat banget pas mau ke masjid attaawun. Secara kemaren pas hari minggu mbak lisa ga berhasil mengambil gambar karena masjid attaawun penuh dengan kerumunan manusia. So buat kamu yang pengen kesini kalo bisa jangan pas hari libur. dijamin ramai banget disini.

936119_10201358705040339_897307099_n

Biar lagi mengandung 7 bulan, mbak lisa ini ternyata cukup energik diajak jalan-jalan.

  931302_10201358706720381_1653597795_n       1001471_10201358722800783_498258335_n 1004597_10201358719320696_601477193_n 1004734_10201358720320721_1123414640_n 1010247_10201358705760357_1446965138_n 1011138_10201358719600703_405609375_n944713_10201358718680680_419588413_n

7258_10201358705080340_1387358247_n

We might forget the days but we always remember the Moments

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

5 Balasan ke Dingin-dingin di Masjid Atta awun (Jalan Jalan ke Puncak Part 5)

  1. Avant Garde berkata:

    mirip kayu aro …

  2. Dede ruslan berkata:

    kangen sama kabutnya di puncak, dingin gmana gitu apalagi kalo pas tengah malah brrr dinginnya

  3. Anonim berkata:

    ya allah.. dra tks ya………. u orang mang berkesan bgt buat gw……… hehehehe.. kangenn dechhhhhhhh….

  4. angkisland berkata:

    wah keren mas smga bisa deh sampe sana aamiin

  5. Anonim berkata:

    keren bnget ya…kpn bsa ke stu….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s