Goa Pindul dan River Tubing di Kali oYo : Jogja — The Jewel of Asia


Kereta Ekonomi tiba pukul 07.35 di Stasiun Lempuyangan. Telat 5 menit dari jadwal kedatangan. Bismillahhirrahmanirrahim. Saya melangkah keluar dari gerbong kereta. Sambil menanti jemputan sahabat baik saya dari sleman, saya mencoba menyeruputi teh hangat di salah satu kedai kopi di luar stasiun. Alhamdulillah nikmatnya teh ini Tuhan” Ucap saya dalam hati sambil menghirup aroma teh. It feel like find oasis in the dessert . Benar-benar menyegarkan.

Yogya. Entah sudah berapa kali saya berkunjung kesini. Meski cukup sering, tapi saya tak pernah berhenti dan bosan mengunjungi Yogya. Seolah ada magnet yang menyedot saya untuk melangkahkan kaki disini. The Jewel of Asia. Begitulah julukan yang disematkan orang terhadap Yogya. Tidak hanya memiliki peninggalan budaya yang adi luhung tetapi juga “keadaban” dan kesederhanaan masyarakatnya membuat saya kagum dengan yogya. Dari dulu yogya, kotanya begitu-begitu saja. Meski zaman sudah modern, tetapi pembangunan gedung pencakar langit nyaris tidak ada. Malnya dikit tetapi pasar tradisionalnya banyak. Masyarakatnya bersahaja dan kreatif. Itu yang saya suka dari Yogya. Cukup Jakarta saja yang modern. Dulu teman saya yang asli Yogya sering bilang kalo pembangunan di jogja seolah jalan di tempat. Mal gak ada, tempat hiburan juga dikit dll. Tetapi saya lebih menyukai seperti ini. Saya tidak bisa membayangkan jika Yogya tidak mampu kokoh terhadap arus modernisasi, mungkin kultur masyarakatnya juga bisa ikut berubah. Ciri masyarakat modern yang saya temui dikota-kota besar di Indonesia adalah banyak yang tidak peduli lagi dengan bangunan cagar budaya, bahkan tidak mengenal akar budayanya sendiri sehingga cenderung menjadi masyarakat yang hedonis dan materialistis. Bagi saya ciri kota yang maju itu tercermin dari peradaban masyarakatnya.

10 menit kemudian, stefanus, teman saya datang menjemput. Kita sudah bikin plan kalo hari ini kita mau ke gua pindul dan Pantai Indrayanti. Tempat wisata yang lagi happening di Jogja. Dengan naik motor vixion, kita pergi kearah selatan Yogya. Kabupaten Gunung Kidul. Siapa yang mengira dibalik keringnya dan tandusnya Kabupaten Gunung Kidul, ternyata di balik bukit bukit kapurnya menyimpan gua gua cantik. Belum lagi keindahan pantainya. Sepertiorang bijak mengatakan “di balik kekurangan selalu ada kelebihan”.

Setelah 1,5 jam motoran akhirnya kita sampe di Gunung Kidul. Di salah satu sudut lampu merah, kita bertanya ke salah satu abang yang lagi berdiri malas di pinggir jalanan. Kagetnya ketika kita ingin bertanya dimana tempat wisata Gua Pindul, eh si abangnya malah mau nganterin kita ke tempat wisatanya. Saya menolak tawarannya dan cukup diberitahu petunjuk jalannya saja. Tetapi abangnya bersikeras mengantarkan saya. “wah bayar tip berapa yah nanti” pikir saya dalam hati

“Tenang. Anda tidak usah khawatir. Saya tidak akan menerima tip dari anda”. Kata si abangnya.

Dan 10 menit kemudian akhirnya kita sampe di tempat wisata gua pindul. Ini hari kamis tetapi kok banyak juga yah bus pariwisata berseliweran di parkiran. Segera saya menuju loket pembelian tiket wisata. Disana saya bertemu abang yang nganterin saya tadi.

“Ini pengunjung yang saya antarin” ucap si abang memberitahu ke penjaga loket. Dan sedetik kemudian uang ribuan beberapa lembar melayang di tangan abangnya. Owh rupanya tip nya dibayar oleh pengelola wisata. Baguslah kalo gitu. Ini terasa nyaman bagi pengunjung. Sering saya juga menghadapi di sebuah tempat wisata, seorang guide atau orang-orang di tempat wisata memaksa maksa untuk menggunakan jasa pandu dari mereka. Padahal saya tidak mau. Dan ujung-ujungnya mesti bayar tip. Kalo sistemnya dikelola seperti tempat wisata gunung pindul, mungkin bisa mengurangi budget dari sisi traveler. Dari pengelola wisata sudah ikut berpartisipasi mengurangi dampak pengangguran serta memberi nama baik atas tempat wisata tersebut. Dan bagusnya lagi, gua pindul ini dikelola oleh Karang Taruna masyarakat lokal. Jadi pemuda-pemuda setempat benar-benar diberdayakan bagaimana mengelola sebuah tempat wisata.

IMG_9654

Akhirnya setelah menaruh ransel di loker dan menggunakan life vest, kita dapat giliran bareng rombongan anak-anak sekolah MAN yang datang pake 2 bus. berasa rame beud. tapi Lumayan bisa cuci mata hehe. Dari pos wisata, kita masih jalan lagi sekitar 100 meter untuk menuju Gua Pindul. Disana saya menemukan sebuah kolam kecil yang tak lain adalah sumber air. Disebelahnya lagi terdapat Gua kapur yang mendapat aliran dari sumber air ini. Gua ini adalah Gua Pindul yang sebentar lagi bakal saya eksplor. Sebelum turun ke Gua Pindul, Pemandu mengadakan briefing sejenak mengenai keselamatan di air. Tak lupa juga kita berdoa sebelum merasakan gua pindul

IMG_9503

IMG_9522

Setelah duduk di atas ban karet, kita akan dibawa mas pemandunya ke dalam mulut gua. Di dalam gua tidak terdapat penerangan sama sekali, sehingga hanya mengandalkan lampu senter dari helm yang hanya dipakai pemandu. Kita akan menelusuri lorong gua sepanjang 100 meter. Di dalam gua, kita tidak hanya melihat keindahan Stalagtit dan stalagmit gua pindul tetapi juga pengetahuan mengenai gua-gua di yogya. Sambil gelap-gelapan, pemandu akan menjelaskan dari A sampai z dari penemuan gua ini hingga struktur dinding di dalam gua.

Goa Pindul terbagi menjadi 3 zona, zona terang, zona remang2 dan zona gelap abadi. Di dalam goa terdapat stalagmit yang dipercaya bila seorang laki2 memegang stalagmit ini dapat menambah keperkasaan pria. Gw ngakak pas liat bapak-bapak pada berebutan megang stalagmit ini. Selain itu terdapat juga stalagtit yang juga dipercaya jika seorang cewek melintas dibawah staligtit ini kemudian dia ketetesan air dari stalagtit ini dia bakalan awet muda. Kali ini giliran anak yang cewek-cewek pada berebutan megang

IMG_9545

Ternyata sebelum gua ini dijadikan tempat wisata, gua ini merupakan sarang wallet yang dikelola masyarakat. Melihat adanya potensi untuk dijadikan sebagai tempat wisata, maka karang taruna dan warga setempat bersama-sama menjadikan gua ini sebagai objek wisata dan karena jenis wisata ini belum pernah ada, maka bertualang dengan ban karet di dalam gua, menjadikan gua ini cepat populer di kalangan backpacker terutama mereka yang memiliki minat olahraga yang memacu adrenalin.

 IMG_9584

Setelah selesai menikmati wisata Goa Pindul, kami memutuskan untuk mengambil paket wisata oyo river tubing. sekitar 35 ribu kalo gak salah ingat. Setelah bayar tiket, kita naik pick up sekaligus membawa ban karet. Goa pindul dan oyo river tidak terletak dalam lokasi yang sama dan agak jauh shg harus naik pick up. Sebelum tiba di oyo river, kita melewati hutan pohon penghasil minyak kayu putih. begitu kata guidenya. Sekilas melihat pohonnya aneh banget.

IMG_9593

Tak butuh berapa menit, tiba-tiba kami sudah tiba saja di sungai oyo. Sungai oyo ini memilki Panjang sungai 1500m dg durasi 1 – 2 jam jika diarungi. Sepanjang aliran sungai terdapat tebing-tebing yg indah dan alami khas batuan karst Gunungkidul. Disana kita bisa menikmati keindahan aliran sungai Oyo dengan menggunakan ban karet, seperti halnya di goa Pindul. Dengan ditemani pemandu dan peralatan yang membuat kita aman dan nyaman maka tak perlu takut untuk mengarungi sungai dengan kedalaman 7 – 11 Meter ini. salah satu keindahan mengarungi oyo river selain tebing karstnya adalah air terjun mini yang hampir ditemukan di setiap kelokan tebing karst. Karena hari belum hujan, maka aliran sungai tidak begitu deras. terkadang guidenya yang mendorong ban karet kita.

IMG_9602

IMG_9604

IMG_9639

IMG_9625

beberapa pengunjung mencoba melompat dari tebing ke arah sungai

  IMG_9633

IMG_9650

Setelah mengarungi  oyo river kita akan dijemput lagi dengan pick up di dermaga perhentian. Hari mulai gerimis. saya mulai cemas jika perjalanan ke selatan akan tertunda. Pantai-pantai selatan belum saya jelajahi. Dengan sedikit galau saya naik ke atas bak belakang pick up sambil menenteng ban karet. Perjalanan sekitar 10 menit menuju tempat sekretariat. Sampai disekretariat saya langsung menuju kamar mandi.  sayangnya sudah penuh semua. Saya kemudian mencari rumah warga berharap semoga ada yang berbaik hati menumpangkan kamar mandinya. Akhirnya saya mendapat kamar mandi di sebuah rumah yang hanya ditinggali oleh pasangan lansia. Mereka welcome sekali dengan kunjungan saya.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Goa Pindul dan River Tubing di Kali oYo : Jogja — The Jewel of Asia

  1. Anonim berkata:

    Sugeng rawuh di Jogja

  2. Goa pindul berkata:

    Terimkasih atas kunjungannya mas, kami tunggu kunjungan selanjutnya..:)

  3. Iqbal berkata:

    Cerita Asal USul Kali Oya Nggak Ada Kah ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s