West Borneo : Istana Kadriah


07122010534

Masjid Jami Syarif Abdurrahman

Permukaan sungai tampak mengkilat ditempa matahari. Bagai ladang emas disepuh senja. Riuh anak tepian kapuas berenang kesana kemari terdengar bergemuruh. Ah begitu cerianya. Tak ada pemandangan yang lebih indah di kapuas di kala sore hari. Sebuah sepit melintas lebih cepat dari sepit yang saya tumpangi. Amboi cantik nian dare melayu dengan baju kurungnya yang duduk di buritan sepit. Rambutnya tergerai berkibar ditiup angin barat. Sayangnya sepit itu mendarat jauh dari dermaga sepit yang bakal saya singgahi. Setiap kampung di tepian kapuas banyak memiliki dermaga sepit. Di Pontianak, jalur transportasi sungai memang sangat populer dan berusia lebih tua dari pada tranporatsi modern lainnya. Hal ini bisa dimaklumi, karena satu-satunya jalur yang bisa menghubungkan semua kabupaten di Kalbar adalah sungai. Terutama sungai Kapuas yang  menjadi jantung kehidupan penduduk Kalimantan Barat.

131222_1709740314074_1947006_o

Finally my dream comes true..naik sepit🙂

rute penyeberangan yang saya lewati merupakan rute favorit warga di sekitar Masjid Jami’ –yakni kampung Arab, kampung Beting, dan kampung Bugis—yang ingin menuju pusat kota ataupun juga sebaliknya. Lewat jalur darat harus memutar jauh lewat tol kapuas sehingga tidak efisien. Disamping lebih praktis dan lebih cepat, naik sepit atau ferry juga sangat murah. Cukup dengan uang seribu rupiah penumpang bisa menikmati penyebrangan berdurasi dua sampai tiga menit dengan sampan bermotor atau dua ribu rupiah untuk yang memilih naik ferry. Meski kaya akan sungai dan sudah dialiri air bersih dari PDAM, namun untuk minum, sebagian besar penduduk Pontianak masih mengandalkan air hujan. Jangan heran, jika di halaman rumah sebagian besar penduduk akan dijumpai bak-bak penampungan air berukuran besar. Beruntung curah hujan di kota terbilang cukup tinggi.

Hiat…sekali ayun kaki, akhirnya saya mendarat di kota pontianak. Kota yang dulu katanya banyak dihuni oleh hantu kuntilanak. hi..serem. Masih jelas di ingatan saya, 2 tahun yang lalu ketika pertama kali kaki saya mendarat di kota pontianak. Supir travel yang duduk disebelah saya, yang menjemput di bandara supadio, dan hendak membawa saya ke kota singkawang – bercerita banyak kepada saya.

“Abang kan orang asli sini. Tau ga kenapa kota ini diberi nama pontianak??” Tanya saya berbasa-basi sok akrab. Setidaknya percakapan ini bisa menjadi adaptasi saya yang pertama ketika bertemu warga lokal.

“Pontianak itu nama lain hantu kuntilanak. Untungnya sultan Alqadrie kita bisa menumpas mereka. Kata orang2 jaman dulu disini memang sarang kunti.hihihi..tiba-tiba abangnya bersuara menirukan nada kikikan hantu kunti.

“Ah Abang ini leluconnya gak asik..saya baru mendarat dari bandara sudah dikasih cerita yang menyeramkan”

“hahahaha”

Dari banyak sumber yang saya baca, Kata Pontianak ini sendiri berasal dari nama hantu wanita dalam bahasa Melayu, yang di Jawa dikenal dengan Kuntilanak. Konon ketika tengah menyusuri sungai kapuas untuk membuka kerajaan baru, di suatu tempat yang kini bernama Batulayang, rombongan kapal Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie diganggu hantu-hantu wanita tersebut. Sultan pun menghentikan rombongan dan memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Setelah kurang lebih lima malam berada di selat yang berada antara Batulayang dan pulau kecil di tengah sungai, putra Syarif Husein bin Ahmad Iftah Shiddiq Alkadrie, mufti kerajaan Mempawah, itu memerintahkan anak buahnya mengisi seluruh meriam dengan peluru. Menjelang subuh, ulama muda itu memerintahkan agar meriam ditembakkan ke tepian sungai.

Selama beberapa waktu suara dentuman meriam menghujani hutan belantara yang berada di sepanjang tepi sungai. Bersamaan dengan berhentinya dentuman meriam, hilang pula gangguan hantu pontianak dan suara-suara aneh dari hutan. Syarif Abdurrahman kemudian memerintahkan untuk menembakkan meriam sekali lagi untuk mencari lokasi pembangunan masjid. hm, Jadi kesimpulannya untuk mengusir hantu tidak perlu pasukan pemburu hantu ataupun jampi-jampi. Dengan mengandalkan suara yang berisik ala bunyi meriam, kuntilanak pun menghilang ketakutan.

Setelah matahari terbit puluhan anak buah menantu raja Mempawah yang juga menantu raja Banjar itu membabat hutan mencari peluru meriam. Ternyata peluru ditemukan dibawah sebuah pohon besar yang di salah satu dahannya terdapat ayunan bayi. Oleh Syarif Abdurrahman pohon itu lalu dibersihkan kulitnya dan dijadikan tiang utama masjid. Rombongan itu lalu bahu membahu membangun bagian-bagian masjid yang seluruhnya berbahan kayu. Usai pembangunan masjid, Syarif Abdurrahman kembali menembakkan meriam. Di lokasi jatuhnya meriam kedua itu lalu dibangun komplek istana Kadriah.

Pontianak memang begitu adanya. Yang sedikit unik, mungkin sultan alkadrie adalah satu diantara banyak pemimpin di dunia, yang berani menamakan kotanya dengan nama musuhnya. Apalagi nama horor macam hantu kuntilanak. Setidaknya nama pontianak masih enak didengar. Coba kalo ada sebuah kota yang banyak dihuni vampir, kemudian diganti namanya lampir, pasti dah banyak yang takut duluan sebelum benar-benar menginjak kotanya hehe.

MesjidJami

MesjidJami

131222_1709740194071_3615731_o

Melihat Sepit ini teringat bukunya tere liye

Karena belum salat ashar, saya singgah dulu di masjid jami yang tidak jauh dari istana kadariah. Masjid ini terletak di daerah kampung dalam bugis pontianak Timur. Lokasinya cukup strategis berada di garis pertemuan antara sungai kapuas dan Sungai Landak. Terbuat dari hampir seluruhnya kayu, bangunan ini masih bertahan hingga 300 tahun lamanya. Bercirikan khas melayu dengan atap atapnya yang tersusun bertingkat-tingkat, masjid ini juga dikenal masjid kesultanan  Syarif Abdurrahman, sultan yang pernah memerintah kota pontianak dari tahun 1770 hingga 1808 M.

132662_1709724233672_5324887_o

Setelah salat, saya pergi ke istana kadariah yang jaraknya hanya terpaut 50 meter. Begitu masuk lewat pintu gerbangnya, Pemandangan yang tersaji disana begitu memilukan. Sebuah bangunan istana seperti tak tersentuh perawatan. Warna kuning tampak mendominasi arsitektur istana yang berbentuk panggung ini seperti halnya rumah khas orang melayu. Model rumah berbentuk panggung ini bisa ditemukan juga di Taman Mini Indonesia Indah di anjungan Kalimantan Barat. Rumah adat kalbar di TMII memang persis adanya dengan istana kesultanan Kadariah. Sayangnya kemegahan istana tak sebanding dengan kondisi bangunannya yang mulai rapuh. Terbuat dari kayu belian , catnya banyak yang kusam dan luntur disana sini.

gapura istana kadriah kesultanan pontianak

Pintu Gerbang istana kadriah kesultanan pontianak

p472fde547c709

Pintu istana kadriah

Di teras, saya ditemui oleh salah satu kerabat istana. Kemudian kerabat itu mempertemukan saya dengan Ratu Perbu Wijaya, putri sultan abdurrahman yang masih hidup berumur 100 tahun. Wow. Meski sudah renta, ingatan sejarah nenek ini dibilang cukup jempol. Semua jawabannya sama persis dengan catatan sejarah yang dibingkai di dinding istana.

travel_aci_155439

Photo0132

Di dalam Istana ini terdapat banyak peninggalan-peninggalan kuno dari zaman kesultanan ini berdiri hingga sekarang seperti kursi singgasana, pakaian, cermin pecah seribu, foto keluarga,keris, meja giok, meriam dan hadiah dari Negara lain atau tetangga. Ada satu barang yang dipajang di keraton yang membuat saya tertarik, yakni cermin seribu atau a thousand mirror. Cermin seribu ini tidak lain Dua cermin yang sama diletakkan berhadapan di ruang lobi keraton, jika kita bercermin, maka bayangan kita akan terpantulkan oleh cermin dibelakang kita sehingga akan nampak banyak bayangan. Inilah alsan mengapa cermin itu disebut cermin seribu. Berdasarkan informasi yang tertulis di bawahnya, cermin ini merupakan hadiah dari perancis sebagai hadiah untuk sang Sultan.

135793_1709729233797_2297731_o

135793_1709729273798_4216124_o

135075_1709737634007_5664152_o

Cermin Seribu

Didalam Istana Kadriah juga ada catatan sejarah mengenai Sultan Hamid II. Sultan Hamid II merupakan keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (pendiri kesultanan / kota Pontianak). Sultan Hamid II ini adalah orang yang pertama mendesain lambang negara Republik Indonesia, yaitu lambang burung Garuda versi awal/asli. Astaga, dari sini saya baru sadar ternyata menteri Negara RIS Sultan Hamid II berasal dari pontianak. Padahal dulu ngiranya berasal dari Sumatra.

Sultan-Hamid-II

Sultan-Hamid II

Photo0128

Sayangnya, walaupun pernah diangkat sebagai Menteri oleh Presiden Soekarno dalam kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), keterlibatan Sultan Hamid II dalam pemberontakan dan percobaan kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) pada tahun 1950 membuatnya pernah ditahan dan semasa orde baru kiprahnya dalam merancang lambang negara pun jarang diekspos..

135075_1709737674008_6564890_o

Meriam pengusir Kuntilanak

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke West Borneo : Istana Kadriah

  1. Avant Garde berkata:

    persis di taman mini

  2. Dede Ruslan berkata:

    melayu banget yaa istananya warna kuning mendominasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s