September Ceria di Ranu Kumbolo


10300444_10202828470173820_4244888625761765451_n

Gunung selalu memikat siapa saja. Bagi para pendaki, setiap Gunung menaruh kesan tersendiri dan tak bisa dibanding-bandingkan dengan gunung gunung yang lain yang telah mereka daki. Dan Gunung Semeru tentu memiliki tempat spesial tersendiri di hati mereka. Menyandang status sebagai Gunung tertinggi di jawa, Membuat beberapa orang penasaran untuk menaklukan Gunung Semeru. Yeaah, Penaklukan itu ibarat sebuah Obsesi. Memantik adrenalin dan membuat jiwa bersemangat. Sejarah mencatat bahwa pemimpin di dunia merasa jumawa bila ia semakin bisa memperluas wilayahnya. Ada kepuasan duniawi tersendiri ketika seseorang telah berhasil melakukan penaklukan sebuah daerah. Bahkan tak segan-segan untuk terus menambah petak jajahannya. Begitu Juga seorang pendaki gunung. Begitu ia berhasil menaklukan satu gunung, ia akan terobsesi mencoba untuk menaklukan gunung gunung lainnya. Banyak pengalaman berharga dan pelajaran yang diambil dari setiap perjalanan tersebut. Beberapa orang ada yang tiba-tiba menjadi nasionalis. Mendadak Cinta Tanah air. Mereka yang seumur hidupnya tidak pernah jadi paskibraka, dengan bangga menancapkan tiang dan mengibarkan sang merah putih. Beberapa orang tiba-tiba bisa menjadi sosok yang religius karena mengagumi potret mahakarya Sang Pencipta. Membuat dada mereka sesak akan rasa syukur yang selama ini mungkin sering mereka lupakan secara sadar maupun tidak. Beberapa orang ada yang tiba-tiba hidupnya tercerahkan dan mendapatkan diri bisa berpikir positif tentang kehidupannya. Bahwa dibalik kesulitan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. It’s not about destination but the new seeing of things. Salah seorang peserta tur sempat berkata kepada saya bahwa sejatinya ia tak ingin menaklukan gunung tapi menaklukan ketakutan dalam dirinya. Sebab ketakutan itu sendiri yang membuat orang ragu untuk mengambil langkah. hm bijak juga. Jadi ingat sebuah pepatah inggris “All glory comes from daring to begin”

10603476_554593521335519_3579557883756589598_n

Mendaki gunung atau bukit bukanlah hal yang pertama bagi saya. Saya pernah mendaki gunung lokal di dekat homebase saya, bukit sikunir di dataran tinggi dieng, Gunung Penanjakan dan Gunung Bromo yang termasuk dalam lingkaran sabuk pegunungan Tengger. Bagi sebagian orang Pendaki, tentu gunung-gunung yang telah saya sebutkan barusan bukan termasuk kategori Gunung. Mereka berpendapat bahwa medan yang ditempuh terlalu mudah. Hanya berjalan kaki 10 menit seseorang sudah bisa mencapai puncaknya. Karena itu, teman-teman saya yang hobi naik gunung agak males kalo diajak ke gunung-gunung tersebut. Pengennya yang trekking berkilo-kilometer, bawa ransel gunung dengan segala macam persediaan untuk menyambung hidup beberapa hari di Gunung. Survivor. Sebuah pandangan yang menurut saya terlalu skeptis. Menghayati sebuah perjalanan tidak diukur hanya seberapa banyak kilometer yang kamu tempuh, seberapa banyak tempat yang kau singgahi, tetapi seberapa banyak hikmah yang dapat diambil dari sebuah perjalanan itu. Untuk kemudian direnungkan dan diresapi. Beruntunglah mereka yang menemukan makna dan inspirasi hanya dari sebuah perjalanan yang cukup singkat dan bahkan rileks. Tanpa harus pergi jauh-jauh bahkan ke luar negeri.

Well, Trip kali ini bisa dibilang tidak sengaja dan dadakan. Gara-gara buka facebook, terus baca sebuah status di timeline yang muncul di halaman facebook saya, sebuah trip organizer mengadakan open trip ke Ranu kumbolo tanggal 13 september 2014. Hm..Jujur saja saya belum pernah ikut-ikutan tur. Selain mahal juga karena sering tidak klop dengan itinerary yang dibuat trip organizer. Misal dalam sehari hanya menjelajah 2 tempat wisata, padahal kita bisa menjelajah 4 atau5 tempat wisata yang berdekatan sekaligus dalam sehari dengan tingkat kepuasan maksimal. Saya memang tipe-tipe traveler agak serakah kalo menyangkut destinasi wisata. Biasanya saya merencanakan sendiri perjalanan saya mulai dari transportasi, akomodasi, bahkan memesan penginapan. Semua tidak lain karena dampak dari kemajuan teknologi informasi. Media Sosial. Dan Rentang belahan bumi pun seakan tidak berjarak lagi. Ada beberapa situs yang menyediakan jasa pencarian tiket dan perbandingan harga beberapa maskapai. Bahkan ada yang memberi semacam bantuan kepada traveler bagiamana sebuah perjalanan yang akan direncanakan menjadi efisien dan efektif. Situs jejaring sosial seperti facebook pun telah membuat saya sering bisa menumpang gratis di beberapa rumah orang. Awas lho opsi yang terakhir ini tidak saya rekomendasikan. Kita harus selektif milih-milih. Salah-salah kamu bisa bisa besoknya muncul di headline Koran lokal hi…..

“Ayo Kapanlagi kita bisa naik semeru. Ingat lho kesempatan tidak bisa datang dua kali,” Begitulah pergulatan hati saya waktu itu. Hal yang membuat saya enggan adalah ketakutan saya selama pendakian. Sering saya membaca di Koran-koran, para pendaki hilang tersesat bahkan ada yang mati karena tidak mampu beradaptasi dengan iklim gunung. Takutnya kalo saya tiba ada apa apa di gunung malah membuat peserta tur lain berkurang kenikmatannya. Untuk trekking yang agak menanjak saya sering terkendala oleh fisik. Belum lagi bakal dapat lampu hijau dari ortu.

“Hm eksekusi saja” pikir saya. “Nanti kalo tiba tiba dapat travel warning dari ortu bilang saja sudah terlanjur bayar trip”, mendadak jadi licik hehe . Saya kemudian sms adminnya si trip ini yang bernama “Bolang Trip Organizer”. Alhamdulillah masih tersisa kuota 5 orang. Ya sudah saya ikutan saja.

Gegara kepikiran trip ini, selama 5 hari kerjaan kantor jadi sedikit terabaikan. Laporan yang bisa saya selesaikan 1 hari jadi molor gara gara sering bengong liat gambar semeru di PC. Baca-baca blog tentang pengalaman blogger yang sudah pernah kesana. Kali saja dapat tips and trik mendaki ranu kumbolo. Sampe saya baru sadar bahwa ke Ranu Kumbolo harus bawa jaket gunung, sleeping bag sama matras sendiri sama buat surat keterangan sehat.huaaaaa…….

Langsung saja saya minta anterin teman saya ke puskesmas lokal buat surat keterangan sehat. Alhamdulillah Cuma disuruh bayar 5000 saja. Khawatir kalo ada pungutan liar lagi. Tinggal sleeping bag sama matras dan jaket gunung tidak punya. Mau beli online harganya mahal mahal euy, belum lagi dalam 3 hari ke depan barangnya apa bisa langsung datang. Akhirnya Cari pinjeman ke teman sekantor yang hobi naik gunung. Alhamdulillah dapat semua.

“Yakin ndra kita naik ke ranu kumbolo. dekat-dekat bulan oktober lho. Biasanya suhu semeru agak ekstrim. Saya naik gunung oktober tahun kemaren, di ranu kumbolo, air mineral saya jadi butiran es. “

“Awas lo ndra..nanti bisa tersesat”
“Gila ndra, 6 jam perjalanan tuh ke Ranu Kumbolo dari ranupane”

Haiaaaaa..bukannya disemangatin malah sudah ditakutin sama teman teman sekantor saya.

Jumat malem saya nginap di rumah teman saya di sidoarjo, yang kebetulan rumahnya dekat terminal bungurasih. Semalem itu saya tidak bisa tidur. Insomnia. Masih Kepikiran trip besok. Mendaki gunung “yang bener-bener gunung” membuat dada ini terus berdebar-debar. Rasa cemas melebur jadi satu bersama adrenalin yang meletup-letup. “Bisa tidak yah saya naik gunung. Di bromo saja nginep di homestay saja sering bangun malam malam gara gara kedinginan”.

Akhirnya pagi pagi jam setengah enam saya berangkat ke terminal bungurasih surabaya, naik bus menuju malang. Jam 8 pagi akhirnya sudah tiba di malang. Perjalanan cukup ditempuh dua jam saja. Meeting point di stasiun Malang Baru, dekat taman di depan stasiun. Dari terminal saya naik angkot AL menuju stasiun. Rutenya tidak jauh. cukup 15 menit saya sudah sampai di stsiun. Ketika menuju taman di seberang stasiun, disitu ternyata sudah banyak bergerombol anak-anak yang mau naik gunung semeru. Kelihatan dari ransel gunung mereka. Ada seratus orang. Weitsss. Ternyata mereka yang buka usaha open trip ke semeru, biasanya meeting point disini. Akhirnya saya bergerombol dengan peserta turnya mas bolang trip organizer. Nama aslinya mas agus setiawan asli gresik. Dibandingin trip orgnanizer yang lainnya, paket turnya mas bolang boleh dibilang sangat murah. Pas di kantong. Cocok dengan kita yang pengen backpacker hemat tetapi pelayanan tetap kualitas premium.

 10649455_554593204668884_7316767668700985776_n

Kita berangkat ke Ranu Pane jam 10 pagi dari depan stasiun ke RanuPane naik angkot, Agak molor Dari jadwal itinerary, karena masih nunggu 2 orang peserta tur asal Jakarta. Kita Cuma bertujuh orang. Jauh dari estimasi semula yaitu dengan kuota 15 orang karena ada beberapa yang membatalkan perjalanannya. Awalnya saya agak sangsi dengan peserta turnya. Bayangin saaja yang muda Cuma 3 orang. Lainnya sudah bapak dan emak emak berumur 40 tahun ke atas. Kita naek angkot dan turun di desa jemplang. Disini kita sudah ditunggu dengan jeep yang akan membawa kita ke Ranupani. Berhubung dapat info dari teman sekantor, kalo pemandangan menuju ranupane eksotis, Saya memilih berdiri di bak belakang jeep. Dan beneran ternyata amazing banget landscapenya. Saya bisa menghirup udara segar banyak-banyak. Jalanan cukup sepi and I love the atmosphere here.

Karena masalah akses transportasi yang belum memadai ke semeru, hal inilah yang membuat saya ikutan nimbrung di open trip. Agak malas masih carter kesana kemari. Belum nyari temannya buat sharing cost, so ikutan open trip menurut saya hal yang paling mudah menuju semeru. Ikutan Open trip juga bisa buat nambah jaringan pertemanan. Saya saja juga baru kenal mereka semua. Modal Sok Kenal dan Sok dekat haha. Minimal saya belajar banyak bagaimana bersosialisasi dan memulai bicara. Intinya tidak usah dipikirin bakal bagaimana dengan mereka-mereka. Ngeblend saja. Macan kalau tidak diganggu tidak bakal menggigit juga. Sebuah pepatah yang saya pegang selama pendakian. Ikutan tur juga bisa mengetahui mana anggota tur yang passionnya lebih tertarik wisata gunung, pantai atau sejarah. Lumayan kalau bisa ikutan nebeng di kesempatan jalan jalan lainnya.

Jam 12 siang kita sampe di ranupane. Ranupane ini adalah sebuah desa di kaki gunung semeru sekaligus pintu gerbang bagi pendaki yang ingin masuk ke semeru. Sebelum menuju pintu masuk semeru kita akan menemukan sebuah danau cantik dengan sebuah pura yang terletak tidak jauh dari danau. Cuaca waktu itu lagi agak mendung seakan memberi kesan magis sendiri terhadap pura itu #halah. Masyarakat Ranupane ini juga keturunan suku tengger seperti halnya suku tengger di bromo. Sebagian besar hidupnya ditopang dari industri pariwisata Taman Nasional gunung Semeru.

Buat yang mau mendaki semeru atau yang mendaki sampe Ranu kumbolo, ada baiknya makan siang dulu di Ranupani. Disana ada beberapa kedai makanan. Saya juga baru tahu kalo ke Ranukumbolo jalur trekkingnya 10,5 km. Dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo hanya terpisahkan dengan ketinggian 100 m, tetapi untuk menempuhnya kita butuh berjalan 10.5 km dengan perkiraan tempuh 4-5 jam.

10616084_10205003302432996_928655856499102463_nSelama pendakian ke Ranu kumbolo kita akan melewati empat pos. Dimana setiap pos tersebut ada pondok untuk beristirahat dan ada pedagang lokal yang menjual gorengan atau buah-buahan segar, Salut dah sama pedagang ini, tiap pagi menuju pos-pos tersebut Cuma jual makanan dan minuman buat pendaki. Tidak capek yah setiap hari jalan kaki bolak balik hanya untuk mengisi perut pendaki. Sejenak saya tiba tiba merasa bersyukur karena Saya masih merasa beruntung bahwa di luar radar saya, ternyata masih ada orang yang setiap hari harus berjuang begitu kesusahan untuk sekedar menghidupi keluarganya. I feel Your blessing, God.

10626658_554593561335515_3873515968632685090_n

Kebanyakan yang baru pertama kali naik semeru akan kaget ketika menuju pos 1. jalannya agak menanjak. Disini saya sudah ngos-ngosan. Sepertinya dada ini kehabisan udara. Saya mikir ya ampun jalan menuju pos 1 saja sudah kayak gini, gimana jalur selanjutnya..haha kapok.

Saya lirik peserta tur yang lain, haha ternyata ada yang sama parahnya dengan saya. Tetapi hebatnya mereka tetap bersemangat untuk terus melangkah. Kalo kita trekking di hari sabtu atau minggu ke semeru, kekhawatiran bakal tersesat di gunung kemungkinannya sangat kecil. Karena setiap kali kita jalan, kita akan berpapasan dengan para pendaki baik yang akan turun maupun naik ke semeru. Kecuali kita nyari jalan sendiri atau jalur ayak ayak yang biasanya digunakan oleh porter yang kebanyakan warga lokal. Setiap berpapasan dengan pendaki yang lagi jalan atau istirahat, pasti selalu menyapa atau disapa “Mari mas”, “Permisi mas”, “Semangat Mas” dan sejumlah sapaan motivasi santun lainnya seolah telah menjadi mantra wajib yang senantiasa diucapkan para pendaki disini. Kata teman saya, kalo naik gunung, bisaanya akan kelihatan watak orang teman-temanmu. Banyak kasus beberapa peserta yang terpisah dari rombongannya karena tertinggal sama temannya yang jalan kakinya cepat. Hi serem khan.

10613009_554593601335511_5638695876101115499_n

Dari Pos 1 ke Pos 2 treknya lumayan panjang. agak bersabar yah kalo km masih belum nemu POS 2. Saya sering nanya kepada para pendaki yang lagi turun “Mas pos 2 nya udah dekat ga??”. Mereka pasti serempak bilang, “Jalan bentar lagi udah deket mas”.Padahal aslinya treknya masih jauh. Dari Pos 2 Landengan Dowo ke Pos 3 Watu rejeng treknya sekitar 3 km. Ga terlalu jauh amat. Sampe di Pos 3, kami yang awalnya tujuh orang, jadi sisa 3 orang. Lainnya masih tertinggal di belakang. Karena biar sampe ranu kumbolo tidak terlalu gelap, saya beserta 2 peserta tur lainnya sepakat jalan duluan. Biar tidak tersesat, kita sudah dibekali HT sama mas bolang untuk mengetahui posisi terakhir kita. Jalur pendakian Pos 3 menuju Pos 4 jalannya agak nanjak di awal awal dan licin. Banyak yang kepeleset disini. Sempat saya melihat pendaki yang digendong sama temannya karena kakinya tiba tiba kram setelah terpeleset.

Akhirnya jam 6 malam, saya tiba di Ranu Kumbolo. Disana sudah banyak orang pasang tenda. Karena saya ikutan open trip, tendanya sudah jadi duluan sebelum saya sampe di Ranu Kumbolo. Tendanya sudah dipasang sama orang suruhan trip organizer ini. Jujur saja, saya tidak bisa pasang tenda gunung, Tahunya masang tenda limas pas jaman ikut eskul pramuka SD dulu hehe. Untung dah jadi dan saya gak perlu susah-susah.

Sampe di Ranukumbolo, kita bingung nyari tenda kita. Dari HT yang terhubung dengan mas bolang, kita Cuma dapat hint disuruh teriak manggil nama seseorang yaitu mas andi. Mas Andi ini adalah orang yang pasangin tenda kita. Jadilah kita selama lima belas menit teriak-teriak “ Mas Andiiiii….”. Yang bersangkutan juga belum nyahut. Mana saya kedinginan karena belum sempat pake jaket gunung, Setelah muter muter dari tenda ke tenda lainnya, yang diteriakin belum nongol juga. Akhirnya kita menuju pondokan kayu di dekat Ranu Kumbolo. Pondokan ini bisaanya menjual gorengan ataupun kopi dan the hangat sekaligus tempat berteduh. . Akhirnya kita nemu mas andi di dekat pondokan ini. Huffff.

Di Ranu kumbolo saya kelaparan. Untungnya, mas afif, peserta tur dari magelang sudah bawa kompor dan nesting. Jadinya kita masak duluan sambil nunggu mereka yang lainnya datang. Kita bikin Pop Mie. Dan Hm ternyata makan mie di tengah gunung itu benar benar memberikan sensasi berbeda. What a moment !!!!

Setelah makan malam, saya langsung beranjak tidur karena badan ini sudah capek sekali. Menempuh jarak 10 km dengan carrier benar benar membuat kedua pundak saya menjadi linu. Kalo ditekan rasanya sakit. Dan saya pun langsung terpejam di tenda.

“Tolong…..”Tolong”……“Saya minta tolong” seseorang tiba-tiba memecah keheningan. Ranu Kumbolo sudah hampir memasuki separuh malam. Hampir selama 15 menit orang yang minta tolong berteriak kesana kemari. Tetapi tidak ada satupun orang-orang yang beranjak keluar tenda. Padahal saya masih mendengar orang-orang di tenda kejauhan masih bercakap-cakap atau main kartu di tenda mereka.

“Tolong…Tolong..”

Tiba-tiba bayangan Orang itu mendekati tenda saya.

“Mas agus..mas agus..ini ada orang minta tolong. Dibantu dunk. Kita juga ketakutan”. Teriak mbak andara dari tenda sebelah. Mas agus pun terbangun dan segera keluar tenda. Orang itu tampak menggigil kedinginan. Pucat. Sementara angin lembah terus mendesau begitu kencang. Tanpa Ampun. Mengibarkan bendera di depan tenda yang kepakannya cukup terdengar di dalam tenda

“Mas, nginap di tenda saya saja”.

Akhirnya orang itu masuk dan numpang tidur di tenda saya. Kita buatin teh hangat. Rasanya sedih kalo lihat dia sudah sangat pucat mukanya. Kita juga penasaran kenapa orang ini tiba-tiba minta tolong, di tengah malam buta. Ternyata dia adalah turis Malaysia yang nekad naik ke Ranu Kumbolo tanpa ditemani seseorang pun. Nekad bakal dapat tumpangan tenda, malah gak dapat. Menurutku sih wajar, kalo hampir di semua tenda, tidak ada satupun orang langsung beranjak merespon permintaan tolong dia, seseorang bakal mikir-mikir kalo ada stranger yang gak kita kenal. Malam itu, saya yang harus berbagi tenda bersama 4 orang, terpaksa menambah satu orang, yang akhirnya membuat jatah space tempat tidur berkurang. Malam itu sejak terjaga, saya tidak bias tidur nyenyak. Rasanya sulit memejamkan mata lagi. Entah kenapa.

 

10351237_10205010977744874_2953935895265632703_n10628125_10205003480237441_1222629718735403455_n

Besoknya ketika matahari terbit, saya keluar dari tenda. Cuaca begitu hangat. Di luar sudah cukup banyak orang.  Mereka mencoba mengabadikan sunrise di ranu kumbolo. Pemandangan sunrinse di Ranu Kumbolo cukup spetakuler. Matahari langsung muncul di tengah-tengah dua bukit. Mirip gambar matahari yang terbit dibalik gunung- yang biasa sering kita gambar waktu kecil dulu. Belum salat subuh, saya mencoba mengisi air dari danau ranu kumbolo ke botol kemasan air mineral (Ketauan kalo salatnya telat🙂 ).

11396882_1486849754925628_2736059978341099365_o

Di ranu kumbolo ada larangan mandi atau membasuh muka langsung di danaunya. Hal ini dilakukan agar air tidak tercemar dengan bahan-bahan kimia dimana hampir semua pendaki bergantung pada air ranu kumbolo untuk mencegah kehausan ataupun juga untuk keperluan memasak. Jadi kita baru boleh membasuh setelah kita mengambil beberapa jarak dari tepi danau tersebut.

10352336_1486848884925715_6819191519200017569_n

Meski masih pagi..badai pasir tetap menerjang ranu kumbolo dari semalam. Bahkan kedatangannya tidak pamit dulu. Baru masak masak di nesting buat makan mie, eh tiba-tiba pasir datang bertebangan dan mengotori masakan. Untungnya kita waktu itu gak masak makanan, karena persediaan logistic sisa semalam masih ada. Saya yang bawa sarden, kornet, bawang putih dan cabe, tidak jadi masak. Padahal saya pengen nyoba masak masak di tengah gunung, apalagi sekarang saya lagi hobi-hobinya belajar masak🙂.

10671268_10205011099987930_70975507847289439_n10696447_10205011112748249_2290197233839571111_n10687052_10205003480957459_9192689623910748930_n

Kalo ke Ranu Kumbolo jangan lupa untuk pergi ke tanjakan cinta dan Ora-Ora Ombo. Tanjakannya berada di balik lembah. Mungkin biar popular dan ngangenin, tanjakan ini dibilang tanjakan cinta. Nah di balik tanjakan ini ada padang bunga edelweiss. Sayangnya waktu itu bulan September, Edelweiss kembali hibernasi ke tidur panjangnya. Padang ini biasanya akan bersemarakkan warna ungu ketika memasuki bulan Mei. Buat kamu yang lagi pacaran, bisa tuh jalan-jalan ke Ora-ora ombo, terus yang laki-laki mengambil setangkai bunga edelweiss kemudian merebahkan lututnya ke pasangan ceweknya yang lagi berdiri dan ngeluarin jurus gombal mautnya sampe bikin si ceweknya klepak klepek..So sweet hehehe.

  DSC01848

1924375_346962968804121_9069250943454926088_n     10665832_347890282044723_5240213193957686310_n   10625027_10205011096507843_6608275692149135848_n   10612613_347890338711384_4666250745928224855_n 10419590_10205003460396945_3322427308701942561_n

10616079_10205003477877382_6361215222905600918_n

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di My Adventure dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke September Ceria di Ranu Kumbolo

  1. Avant Garde berkata:

    widih…keren (y)

  2. Anonim berkata:

    Kamu petik bunga sama rebahkan lutut gak ndraaaaa di oro oro ombo xixixix

  3. andara berkata:

    Kamu petik bunga sama rebahkan lutut gak ndraaaaa di oro oro ombo xixixix

  4. Indra berkata:

    bunganya layu semua mbak..gagal jd prince wkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s