Melipir ke Solo (Part 1)


Melipir ke solo ini acaranya dadakan sekali..baru diputuskan di last minutes. Awal mei kan ada 3 hari libur berturut-turut pas weekend. Rencana semula saya mau ke bawean island. Tapi teman saya batalin. Sebagai gantinya, dia nginvite saya ke rumahnya di solo. Langsung saya iyain. Solo merupakan salah satu kota yang belum saya jelajahi. Cuma sering lewat saja kalo pergi liburan ke yogya.

Jujur saya belum punya referensi tetntang wisata solo. Saya tahunya di solo ada 2 keraton kerajaan dan salah satu keratonnya adalah keraton yang memiliki raja kembar yang konfliknya belum selesai gara gara rebutan tahta. hmm..

Saya masih ingat, sebelum berangkat ke solo, kamis malamnya saya masih lembur di kantor. Di kantor sepi. semuanya dah p
ada mudik ke jawa pas sore harinya. Jam 9 mlam akhirnya kerjaan saya selesai. Langsung pulang ke kos. Leyehan dulu di kasur untuk lurusin punggung sejenak. what a hectic day. Setelah agak lumayan punggung saya, saya masukkan baju, perlengkapan ke ransel. Jam 11 malam saya harus sudah tiba di terminal buat ngejar bus ke surabaya. Saya pikir kalo agak tengah malam, di bungurasih pasti dah sepi orang. tapi saya kecele..biar weekend ini bertepatan dengan hari buruh sedunia dan berpikir bahwa ga mungkin kalo buruh buruh diaspora tiba tiba penuhin terminal bungur buat balik ke kampung, karena besoknya mereka pasti ada longmarch untuk menyambut hari May day seperti biasanya. Tapi malam itu biar udah jam 2 malam, terminal masih dipadatin penumpang yang hendak pulang kampung. Brhubung saya udah rencanain trip ini murah meriah alias budget traveler, maka haram saya naik bus patas ke arah jogja. sebagai gantinya saya ngincer bus ekonomi AC tarif biasa. Bus Sugeng rahayu. Berkali-kali berjibaku dan berdesak-desak dengan penumpang utk masuk ke dalam bus, berkali-kali juga saya gagal. Saya ga dapat kursi dan terpaksa turun lagi dari bus, siapa tahu rezeki saya ada di bus belaknagnya. Rasanya ga memungkinkan kalo tetiba berdiri di bus dari surabaya sampe ke solo. bisa gempor kaki.

Akhirnya bus sugeng rahayu datang lagi. Percobaan ke empat kali saya ga dapat tempat duduk. kalah gesit dengan penumpang lain. krena sudah setengah jam-an d terminal, saya memutuskan untuk tetap naik bus meski harus berdiri. siapa tahu nanti dari mojokerto atau jombang ada penumpang turun dan saya dapat kursi. Bner seperti dugaan saya, setelah sampe mojoagung, bapak di sebelah saya mau turun. akhirnya dapet kursi juga hufff.

Langsung malem itu saya langsung merem, melanjutkan tidur yang tertunda. Entah kenapa malam itu, tidur saya awet sekali. Jam 9 Pagi tiba di solo. Kondektur membangunkan saya ketika sampai di jebres.

sesampai di pertigaan jebres saya mencegat sebuah becak untuk membawa saya ke Pasaer Gede. Begitu arahan yang diterima dari teman saya. Hari itu saya janjian dengan teman saya Halim di Pasar Gede. Sesampai di Pasar, teman saya belum muncul. Katanya masih mau mandi dulu begitu sms yang saya terima. Saya disarankan muter muter dulu di Pasar Gede. Pasar sembako terbesar di Solo. Pasar Gede ini melting pot berbagai etnis. Disini banyak juga pedagang tionghoa jualan di pasar. Kondisi yang tidak saya temukan di kota saya. Mata saya tertuju pada etalase sebuah gerobak. Tekstur dagingnya berbeda. Setelah lihat kacanya, saya baru ngeh itu daging babi. Daging Babi dijual bebas dan cukup banyak berjejalan di etalase gerobak kios kios penjual daging. Jadi ingat pas di singkawang dulu. Camilan dan penganan tradisional juga banyak ditemukan disini. Uniknya di Pasar gede, Harga-harga sembako dan daging semuanya sama antara pedagang satu dengan pedagang lainnya. Sebelum masuk ke Pasar Gede, di pintu masuknya ada running text LED Display yang memuat harga terkini sembako yang dijual di pasar ini. Jadi konsumen sebelum membeli sudah punya patokan harga. Karena iseng, saya mencoba menawar ke salah satu pedagang beras. Tanya sekilo berapa? saya coba kroscek dengan pedagang sebelah eh ternyata harganya sama.

Setelah nunggu 15 menit, halim datang ke Pasar Gede. Saya bertemu di pelataran Pasar Gede. Ketika ditanya mau kemana saja di solo, saya ga ngerti. Belum sempat googling juga . Saya bilang ke halim untuk membawa ke tempat wisata di solo yang lagi ngehits dan ga bikin bete. Pokoknya 3 hari harus dapat kepuasan maksimal jalan jalan di solo.

 download

Kami kemudian menyusuri sudut belakang pasar gede. Dimana pas pojokan ada pedagang timlo. Salah satu makanan khas solo. Hari itu ramai sekali. Untung saya dapat meja. Awalnya saya ngira timlo itu sejenis ketan ketanan klo ga singkong. Tapi begitu dihidangkan di meja, trnayata timlo berbeda dg yang saya bayangkan. Timlo kurang lebih mirip sup. Ada irisan sosis solo, jamur, irisan telur dan entahlah saya sudah lupa. Mengingat kejadian ini sudah 3 bulan yang lalu ketika tulisan ini ditulis. Yang jelas enak sekali dan berbeda. Ini pertama kali saya makan timlo.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Melipir ke Solo (Part 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s