3 idiot : Backpacking India


Setelah menyusun budget perjalanan ke india, estimasi biaya perjalanan dengan gaya solo traveling tidak memberi gap terlalu besar dengan perjalanan secara berkelompok kalau seandainya hanya mengeksplore wilayah rajasthan. Karena, di itinerary saya ada kota srinagar maka saya harus mencari teman sharing cost. Mengingat disana saya akan rent a car to gulmarg. Pertimbangan lainnya, untuk memurahkan biaya transportasi ketika naik tuktuk selama di rajastan. Tuktuk ini bisa muat 4-5 orang. Tergantung besar ukuran badan penumpang.

Karena anggota cewek pada batal berangkat, alhasil saya mencoba mengompori teman teman kantor saya. Dua orang yang menjadi korban adalah arif dan risya. Mereka adalah anak baru fresh graduate dan baru bekerja di tempat kantor saya bekerja. Biar berasa lebih beragam dan kuat ngomporinnya, perjalanan ke india ini akan ditambah bonus day trip di kuala lumpur dan 2 hari di singapore. Kuala lumpur menjadi tempat transit sementara karena pagi hari saya landing di KL sebelum malam harinya berangkat menuju jaipur. Sementara singapore menjadi destinasi istirahat setelah dari India dan sebelum balik menuju surabaya. Jadi ini merupakan backpacking 3 negara sekaligus. Memanfaatkan waktu transit.

Wilayah rajashtan yang akan saya eksplor sudah memiliki moda transportasi yang maju. Ada bus, kereta atau sewa mobil pribadi untuk perjalanan antar kotanya. Bebeapa turis menyebut kota kota di rajastan dg julukan kawasan setigitiga emas. Karena di rajashtan terdapat new delhi, jaipur dan agra yang kesemuanya banyak memiliki tempat destinasi menarik. Untuk keliling kota cukup mengandalkan naik tuktuk. Ini pun harus bargaining dengan supir bajajnya. Karena untuk turis, harganya sering dinaikkan 2x lipat oleh supirnya. So sebelum ke india ada baiknya memiliki catatan biaya transportasi bajaj. Sehingga kita bisa menawar harga sesuai yang kita inginkan. Saya banyak terbantu untuk urusan ini dengan membaca blognya mbak winny marlina. Disitu lengkap sekali transportation costnya selama di India. Tarif bajaj ini tergolong murah. Lebih murah dari gojek di indonesia.

Estimasi keseluruhan biaya perjalanan india saya sekitar 8 juta. Ini sdh termasuk oleh-oleh, tiket pesawat dan visa. Idealnya 7,5 juta utk budget backpacker 8 hari. Saya telat memesan pesawat lokal delhi ke srinagar dan srinagar ke amritsar. Saya kena charge mahal karena memesan tiket di menit menit akhir. Bagian terbesar yang menguras kantong adalah tiket masuk tempat wisata. Rata rata di atas 100 ribuan. Taj mahal saja tiket masuknya rp 210.000. Untuk makanan agak sedikit boros. Sekali makan diatas 40-80 rb per orang. Karena banyak makan di fastfood macam KFC dan Mcd dan restoran kashmiri. Sebab ada teman saya yang alergi dengan bumbu masakan india. Sementara di fastfood bumbunya agak light dan bisa dinetralisir dengan cocolan saus sambal dan saus tomat. Lainnya yang mahal adalah visa masuk india sebesar 700 ribu.

Perjalanan ke india kali ini sudah penuh drama sejak dari kuala lumpur. Sambil menunggu waktu transit 9 jam sebelum ke india, kami memutuskan city tour ke kuala lumpur. Keluar dari airport jam 9.45 waktu malaysia. Beli tiket kereta KLIA transit di counter ticket. Kami transit dulu di putrajaya station . Rencananya sightseeing putrajaya, karena di putrajaya banyak gedung pemerintahan yang megah, masjid indah dan danau buatan yang cantik. Setiba disana, saya batalkan sightseeing putrajaya karena jadwal bus sightseeiing tidak menguntungkan. Jam 10 pagi dan jam 3 sore. Sightseeing ini minimal 3 jam. Padahal kami baru sampe putrajaya jam 10 lewat. Kami ketinggalan jadwal pertama. akhirnya kita bersih bersih cuci muka di toilet stasiun, kemudian kami berangkat lagi naik kereta menuju KL sentral. Kita beli tiket kereta di vending machine. Di dalam kereta si risya nanyain. “mas ini malaysia kok banyak sekali orang indianya. Di dalam bandara, di kereta juga. Turis??”

“Malaysia adalah negara dengan didiami 3 ras yang dominan. Melayu, chinese dan India. Warga india keturunan ini termasuk kasta kelas ketiga di malaysia.” Jelas saya.

Turun di KL sentral, Kemudian kami lanjut naik kereta menuju masjid jamik dan tiba pukul 11.30 wita. Kami jalan jalan dulu di bazar depan masjid jamik. Banyak tenda yang jualan aneka cemilan dan makanan berat. Saya memilih makan kwetiaw dan nugget, sosis. Sambil nongkrong di taman river of life. Dari taman ini, masjid jamik yang kecil kelihatan indah dengan pancuran fountainnya ke sungai. Masjid jamik sudah banyak berubah dibandingkan waktu saya mengunjunginya 2 tahun yang lalu. Kami cukup lama nongkrong di taman. Yang membuat saya salah perhitungan adalah waktu shalat jumat. Di Kuala Lumpur shalat jumat bermula pukul 13.30 tapi khutbah mulai jam 2 siang. Ini yang tidak saya antisipasi. di Kuala lumpur kami memilih jalan jalan dulu ke masjid jamik, nongkrong di river of life, shalat jumat, lanjut dataran merdeka dan terakhir petronas tower. Idealnya petronas tower dulu, dataran merdeka baru ke masjid jamik sekalian shalat jumat. Alhasil di masjid jamik kita menunggu 2,5 jam sampai shalat berakhir jam setengah 3 sore. Mau jalan lagi tetapi hari masih panas. Jam 3 sore di malaysia sama dengan jam 2 siang waktu indonesia bagian barat. Meski malaysia dekat dwngan sumatra, zona waktu malaysia mengikuti zona WITA.

Keluar masjid jamik ada unjuk rasa damai di depan masjid jamik yang diliput oleh stasiun televisi malaysia. Massa menyebar poster dengan tulisan nada protes atas pencalonan mr xxxx. Saya tidak mengerti situasi politik malaysia terkini. Untungnya demo simpatik. Jadi kami tidak perlu mengambil rasa waspada. Dari masjid jamik, kita bergegas menuju dataran merdeka. Lagi lagi di dataran merdeka ada panggung besar dan tenda tenda. Sepertinya ntar malam ada konser. Membuat kawasan dataran merdeka tidak bagus untuk difoto. Jadinya kita foto di depan KL city gallery. Setelah mengambil gambar disana, kami lanjut lagi masuk lagi ke stasiun masjid jamik, lanjut naik kereta ke KLCC. Jam sdh menunjukkan pukul setengah 4 sore. Keluar stasiun KLCC langsung kita tanya orang arah menara kembar. Ini stasiun KLCC jadi satu tempat dengan mallnya. Untuk foto dengan menara kembar kita harus Keluar mall dulu. Ternyata kita salah jalan. Kita malah keluar mall disambut kolam yang ada air mancurnya. Sepertinya mas mas yang tadi saya tanyakan di dalam mall salah paham dengan pertanyaan saya. Tanya pak polisi yang berwajah india. Alhamdulillah ketemu itu menara kembar. Saya menyuruh arif dan risya untuk mengambil gambar. Sementara saya cari money changer menukar sisa ringgit ke rupee india. Agak lama nukarnya. Pas keluar mall, si arip dan risya bukannya malah foto2 dengan menara kembar. Tapi masih duduk manis di teras mall.
“Kalian belum foto??”
“Belum mas. Tadi kita foto mobil F1 dulu di dalam. Terus duduk duduk disini sambil nunggu mas indra” Jawab risya dengan wajah innocent. Sementara waktu mendekati kehimpitannya. Jam sudah menunjukkan jam 4 sore.
“Arghh…ayok foto”.
“Di sela sela foto, banyak sales yang nawarin alat bantu kamera semacam fish eye dan produk hp iphone. Hp iphone dibandrol 2,5 juta. Siapa yang ga mupeng. Secara harga aslinya masih di atas 6 juta. Tetapi kami tidak jadi membeli karena takut barang recondition. Kelar foto foto, arif dan risya beli coklat berlys di mall KLCC. Waktu sdh menunjukkan jam stgh 5 sore. Ketika hendak bayar di kasir, si kasir dengan innocent asik telponan dengan hapenya, padahal kami sudah menunggu 3 menit. Ingin rasanya menggebrak mejanya. Hari pertama sungguh penuh emosi. Padhal jam 7 malam pesawat sudah take off ke jaipur. Selesai membayar, kami langsung membeli tiket kereta menuju KL sentral. Di KL sentral sdh pukul 5 sore.
“jalannya sedikit dipercepat.” Saya mencoba menegur dua bocah teman saya yang masih tampak tenang dan ayem jalannya.
“Ini ranselnya berat mas”. Entah sudah berapa kali arif dan risya sering mengeluh begitu berat tasnya. Saya berjalan mendahului mereka. Di pikiran saya yang penting segera bayar tiket dulu utk 3 orang begitu menemui counter ticket. Saya baru ingat, ternyata saya hanya memiliki sedikit ringgit. Karena asumsi awalnya saya mau naik kereta KLIA transit. Di papan pengumuman tertera bahwa train KLIA transit masih 20 menit lagi brangkat. Train KLIA ekpress 2 menit lagi berangkat.
“Kita harus naik ekpress. Waktu kita semakin mepet.
“Berapaan mas??ucap arif.
“Mahal. 55 RM. Setara 170 ribu kalau dirupiahin. Kalo naik KLIA transit bisa separuhnya. Tapi akan lama sampai di airport karena di setiap stasiun akan transit.”
Arif merogoh dompetnya. Dia hanya punya 23 myr. Saya sendiri punya 52 myr. Untung si risya Ringgitnya masih banyak. Pake adegan sedikit lama bayarnya di depan counter karena kita harus mengumpulkan 165 myr dengan mata uang kertas dan recehan koin2 yang tersisa.

Bayang bayang ketinggalan pesawat mulai memenuhi benak saya. Tepat kami masuk ke dalam kereta, kereta langsung berangkat. Alhamdulillah tidak ketinggalan kereta. Jam stgh 6 sore sampai di airport. Kita salat asar dulu di musala bandara. Jam 17.55 kita masuk imigrasi. Antrian panjang sekali. Padat merayap. Mengular. We still have one hour guys.

“Ini tidak akan terkejar” begitu ucap dalam hati saya melihat antrian membludak. Sementara sisi hati yang lain mencoba menyemangati. “Look, dont you remember the last time when you went to korea two years ago indra. You just have several minutes but u can catch the plane still”.

Saya memilih diam sambil mengantri. Saya mencoba sekuat tenaga untuk tetap berpikiran positif. Risya dan arif masih mengoceh tentang cewek india cantik yang juga antri di imigrasi. Candaan mereka sedikit menghibur hati.

“Can you do me favor?.Im in a hurry bla bla bla” Di belakang saya, seorang pemuda meminta izin menyerobot antrian imigrasi karena pesawatnya bakal terbang. Saya tidak mempedulikannya. Pesawat yang akan saya naiki juga sedang boarding saat itu, sementara saya masih juga antri di imigrasi. “How dare you guy ask for favor?” . Salah sendiri pemuda ini tidak antisipasi waktu. Padahal kami juga antri. Beuh.

Saya menunggu dengan cemas agar antrian bisa kelar terurai sambil sesekali melirik jam di tangan. Sekuat tenaga juga utk menahan emosi. takut tiket jadi hangus. Untungnya counter meja imigrasi yang kosong kedatangan petugasnya lagi. Semoga saja kami tidak ketinggalan pesawat. Pemuda di belakang saya kembali mencoba menyerobot sebelah kanan saya, segera saya menghadangnya sebagai bentuk ketidaksetujuan saya. Karena putus asa, Alhasil si pemuda keluar lewat garis tali antrian dan langsung menuju barisan terdepan. Beuh.

Segera setelah mendapat cap imigrasi. Saya langsung scanning bagasi. Begitu clear, saya check pintu gate keberangkatan di boarding pass. Gate P. Saya masih awam dengan gate P. Biasanya saya sering mendapat gate K dan L. Tak banyak pikir saya mencoba berlari kecil sambil Memanggul ransel berat dan mencari gate P dari papan sign. Teman saya dibelakang menyusul. Dua turis berwajah china berhasil mendahului kami. Dari paspornya yang dia genggam, mereka berasal dari tiongkok.

“Rip, itu dua turis cewek yang lari di depan kita, pergi ke jaipur juga??”
“Iya mas. Tadi saya tanyain jawab begitu.”
“Weh. Ayo kita lari juga”
Segera saya ambil langkah seribu. Sementara turis china itu sudah jauh meninggalkan saya. Ternyata gate P masih jauh. Belum nampak di hadapan saya. Padahal sudah lari 200 meter. Ini kenapa bandara luas sekali. Saya merutuk dalam hati. Turun eskalator, berkali kali saya berteriak dengan sopan agar orang menghadang saya didepan minggir . “Let me pass, Give me pass, Im in a hurry”. Tetapi percuma karena kerumunan yang berada di eskalator juga penuh. Ternyata turun eskalator masih ada pos scanning bagasi kabin. Buka lagi jaket, tas, antre lagi sambil nahan pipis. Saya sudah kehausan sekali. Keringat bercucuran deras karena saya lari lari sambil masih mengenakan jaket thermal winter. Selesai scanning bagasi, saya lari lagi sampai saya sudah tidak kuat berlari lagi. Teman saya arif sudah mendahului saya. Sementara risya masih tertinggal jauh di belakang. What an amazing race. Saya cari kran drinking water dulu. Mau minum. Saya sudah kehausan sekali. Berkali kali air kran tumpah luput memenuhi mulut botol kosong saya. Saya kehilangan konsentrasi. Tangan gemetar. Sementara bibir dan air liur sudah kering.

“Are you fine sir??that’s hot water”. Kata orang di sebelah saya yang masih mengisi botol minumannya dengan cold water.
“Be careful sir”
Saya mengangguk. Saya sudah kehausan sangat. Botol minuman yang masih terisi separuh dengan air hangat, segera saya campur dengan cold water.

Alhamdulillah..nikmat. air membasahi kerongkongan. Nikmat mana yang bisa didustakan. Saya mendapat energi baru kembali. Saya isi kembali botol minuman saya sebagai cadangan nanti di kabin pesawat selama perjalanan ke india. Saya lanjutkan lagi lari lari. Masih dengan ransel berat di bahu saya. Gate P sudah mulai nampak di hadapan saya. Saya check lagi boarding pass saya. GATE P 12. ternyata gatenya masih jauh dipojokan sendiri. Sampai di gate P12, penumpang sudah nihil. Sudah masuk dalam pesawat. Untungnya pesawat belum take off.

Saya kasih boarding pass dan paspor saya. Petugas gate masih meminta visa india saya. Bongkar lagi tas dan menunjukkannya. Jam sudah menunjukkan jam 7 malam. Seharusnya kami sudah ketinggalan pesawat. Air asia saat itu tidak sedang on time. Di dalam kabin pesawat sudah penuh dengan penumpang. Dua turis china yang tadi berlarian juga bersama saya tersenyum mengembang ke arah saya. Memberi jempol. Tuhan ternyata masih bersama para backpacker. 🙂

Alhamdulillah..India, I’m coming.

Tentang Indra

Civil Servant and Independent Traveler
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke 3 idiot : Backpacking India

  1. Avant Garde berkata:

    fotonya kagak ada yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s